Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Sentimen Warganet terhadap Mudik Lebaran 2025, Lalu Lintas Lancar hingga Kendala Ekonomi
Tanggal 15 April 2025
Surat Kabar Kompas
Halaman -
Kata Kunci Pengangkutan
AKD - Komisi V
Isi Artikel

Arus mudik Lebaran berjalan lancar. Hanya saja, warganet mengeluhkan mahalnya biaya mudik dan melemahnya daya beli masyarakat akibat gejolak ekonomi saat ini.

Oleh Yohanes Advent Krisdamarjati

Mudik Lebaran 2025 berlangsung relatif memuaskan di mata warganet. Dibandingkan dengan tahun kemarin, Lalu lintas kendaraan dinilai lebih lancar serta intensitas kejadian kecelakaan menyusut. Hanya saja, di sisi lain, muncul keluh kesah warganet tentang mahalnya biaya mudik dan melemahnya daya beli masyarakat akibat gejolak ekonomi saat ini.

Fenomena tersebut tertangkap dari pantauan percakapan warganet di media sosial pada periode 24 Maret-10 April 2025 yang dilakukan oleh Litbang Kompas. Media sosial yang dimonitor terdiri dari beragam platform, seperti Tiktok, Instagram, Facebook, dan X atau Twitter. Topik yang dipantau khusus seputar mudik Lebaran 2025. Monitoring ini bertujuan mengukur sentimen warganet dan mengetahui topik yang menjadi pembahasan semasa mudik Lebaran 2025.

Hasil pengamatan itu menunjukkan bahwa secara keseluruhan sentimen warganet dalam hal mudik Lebaran 2025 cenderung positif. Rinciannya, sebesar 56 persen berupa sentimen positif, 17 persen warganet mengekspresikan sentimen negatif, dan sisanya ada 27 persen yang berada di kubu sentimen netral.

Sentimen positif dari warganet salah satunya muncul pada topik ”pengalaman lalu lintas lancar” dengan nilai mencapai 94 persen. Unggahan dengan nada positif ini didominasi oleh cerita pengalaman perjalanan yang lancar tanpa mengalami kemacetan panjang. Kebanyakan cerita pengalaman ini berasal dari para pemudik yang berada di Pulau Jawa.

Kelancaran arus mudik diungkapkan oleh salah satu warganet yang melakukan perjalanan dari Kota Bandung, Jawa Barat, menuju Yogyakarta melalui jalan tol. Jalan bebas hambatan yang dimaksud adalah ruas Tol Purbaleunyi yang kemudian bergabung dengan Tol Trans-Jawa yang saat periode Mudik Lebaran 2025 sudah mencapai Pintu Tol Prambanan, perbatasan Jawa Tengah-Daerah Istiwewa Yogyakarta. Bahkan, pada masa Lebaran 2025, pintu tol telah dibuka secara fungsional hingga gerbang Tamanmartani, Kabupaten Sleman, guna mengakomodasi para pemudik yang keluar di wilayah Yogyakarta.

Infografik riset 10 Topik Percakapan Warganet Seputar Mudik Lebaran 2025
 

Kelancaran perjalanan mudik juga diungkapkan oleh warganet dengan mencuplik informasi dari hasil survei Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tentang proyeksi pergerakan masyarakat di masa Mudik Lebaran 2025. Pemilik akun X @sardiggory mengunggah ujaran ”Pemudik turun 25%, pas mudik kemarin gue cuma kena macet di Karawang - Majalengka, sisanya lancar, ampe gue heran orang-orang pada kemana”.

Pada masa Lebaran tahun ini, Kemenhub mencatat jumlah pergerakan selama periode Lebaran 2025 turun 4,69 persen dibandingkan dengan periode tahun lalu. Jumlah perjalanan intra dan antarprovinsi selama Lebaran 2025 tercatat 154,6 juta orang. Jumlah ini lebih rendah 4,69 persen dari Lebaran 2024 yang mencapai 162,2 juta orang. 

Mudik butuh banyak biaya, tetapi daya beli lemah

Fenomena menurunnya kepadatan arus mudik, oleh warganet disangkut-pautkan dengan situasi ekonomi Indonesia yang sedang mengalami guncangan. Pemberitaan mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK) bermunculan di sejumlah media massa dan media sosial.

PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara yang ada di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menyatakan pailit dan tutup per 1 Maret 2025. Dampaknya, lebih dari 10.000 pekerja mengalami PHK pada saat menjelang Lebaran.

Kabar PHK juga muncul dari Kabupaten Tangerang, Banten. PT Adis Dimension Footware yang memproduksi sepatu merumahkan sekitar 1.500 pekerjanya dengan alasan permintaan produksi terus menurun. Selain itu, masih ada sederet daftar perusahaan lainnya yang melakukan PHK pada awal tahun 2025 dan kabarnya muncul di berbagai kanal media.

Beredarnya kabar PHK berbagai perusahaan itulah yang dipersepsikan oleh warganet sebagai salah satu penyebab menurunnya keramaian mudik Lebaran 2025. Lesunya ekonomi menjadi faktor penyebab turunnya pemudik Lebaran tahun ini. Secara lugas pandangan warganet tecermin dari topik ”mudik lancar karena daya beli lemah”. Topik tersebut bermuatan 48 persen sentimen negatif dan hanya 3 persen saja yang positif. Artinya, ada sinyal kekhawatiran warganet tentang kondisi ekonomi Indonesia yang tersirat dari perbincangan mengenai mudik Lebaran.

Topik melemahnya daya beli tersebut berkaitan erat dengan sejumlah topik lainnya, seperti salah satunya tentang ”mudik butuh banyak biaya”. Perjalanan mudik memang menelan banyak biaya untuk ongkos perjalanan, ongkos hidup sehari-hari, hingga ongkos sosial selama berada di kampung halaman.

Berkaitan dengan fenomena tersebut, dalam hasil jajak pendapat Litbang Kompas yang dilakukan pada  4-7 Maret 2025 mengungkap bahwa responden yang mengaku tidak mudik saat Lebaran sebesar 16,8 persen, di antaranya beralasan karena tidak memiliki biaya yang cukup. Pandangan warganet tentang adanya sebagian masyarakat yang tidak mampu mengeluarkan biaya mudik dikuatkan oleh hasil jajak pendapat itu.

Kecelakaan turun dan apresiasi untuk Polri

Menurunnya jumlah pemudik pada Lebaran 2025 ternyata berdampak pula pada angka kecelakaan lalu lintas yang tercatat menurun. Dikabarkan bahwa Korlantas Polri mengklaim angka kecelakaan selama arus mudik dan arus balik Lebaran 2025 turun sekitar 30 persen dibandingkan dengan Lebaran sebelumnya. Selain itu, korban jiwa juga ikut turun dengan kisaran 47 persen. Laporan tersebut berdasar dari pelaksanaan Operasi Ketupat 2025 yang dimulai sejak 26 Maret-8 April 2025.

Oleh warganet, melalui topik obrolan ”angka kecelakaan turun” didapati apreasiasi masyarakat tentang kondisi yang dinilai lebih baik dari tahun lalu. Terbilang 69 persen unggahan dari warganet yang mengomentari soal angka kecelakaan pada Lebaran 2025 bernada positif.

Kesuksesan pemerintah dalam menyelenggarakan angkutan perjalanan mudik Lebaran salah satunya diukur dari seberapa tinggi angka kasus laka lantas yang terjadi. Selain itu, kelancaran arus lalu lintas juga menjadi acuan penilaian keberhasilan.

Tingginya penggunaan kendaraan pribadi untuk mudik Lebaran membuat unggahan konten dan komentar tentang perjalanan melalui jalan tol ataupun ruas jalan raya menjadi mendominasi. Akibatnya, dalam pantauan percakapan di media sosial, didominasi oleh para pemudik yang bermoda kendaraan pribadi.

Masifnya penggunaan transportasi darat yang didominasi kendaraan pribadi itu membuat atensi warganet cenderung mengarah pada pengaturan lalu lintas. Dalam hal ini, pihak kepolisian yang turut bertanggung jawab atas kelancaran arus pergerakan masa Lebaran memperoleh apresiasi positif dari warganet.

Topik perbincangan ”apresiasi kepada Polri” memuat 72 persen sentimen positif yang ditujukan pada institusi Bhayangkara. Konten yang diunggah kebanyakan berupa ucapan terima kasih atas jasa para petugas kepolisian yang membantu kelancaran arus mudik dan arus balik.

Secara khusus topik perbincangan ”polisi mengatur lalu lintas” bahkan cukup signifikan dan muncul sebagai salah satu topik yang ramai diperbincangkan warganet. Topik tersebut berisi 60 persen sentimen positif yang menceritakan temuan dan kesaksian pemudik tentang kerja-kerja petugas kepolisian di area lalu lintas pemudik.

Lebaran telah berlalu, arus balik telah usai. Pengalaman arus mudik dan balik yang dipandang lebih baik dibandingkan dengan waktu sebelumnya bisa menjadi hadiah berkesan yang bisa dirasakan oleh para pemudik dan para petugas yang bersiaga di lapangan. Harapannya, penyelenggaraan angkutan Lebaran pada tahun mendatang semakin baik dan minim kecelakaan sehingga perjalanan masa hari raya kian aman dan menyenangkan. (LITBANG KOMPAS)

  Kembali ke sebelumnya