| Judul | Sederet Pertimbangan Mobil Listrik untuk Taksi ”Online” |
| Tanggal | 28 Agustus 2025 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Pengangkutan |
| AKD |
- Komisi V |
| Isi Artikel | Apakah hadirnya mobil listrik berharga sangat kompetitif akan meningkatkan animo konsumen untuk memilikinya, terutama untuk bisnis taksi daring? Oleh Yohanes Advent Krisdamarjati asukknya BYD Atto 1 di pasar Indonesia menambah segmen pasar baru mobil listrik dengan harga kurang dari Rp 200 juta. Kisaran harga ini beririsan dengan segmen harga low cost green car atau LCGC yang gemuk pangsa pasarnya di Indonesia. Salah satu kelompok terbesar pengguna LCGC adalah para pengemudi taksi online. Lantas, apakah hadirnya mobil listrik berharga sangat kompetitif ini juga akan menyurutkan minat terhadap LCGC, terutama untuk bisnis taksi daring? Dengan harga relatif terjangkau, mobil tipe LCGC menjadi primadona masyarakat Indonesia hingga saat ini. Data penjualan mobil dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) periode Januari-Juli 2025 menunjukkan 48 persen penjualan mobil nasional berasal dari tipe mobil LCGC. Segmen kedua ditempati mobil tipe berpenggerak 4x2 sebesar 33 persen proporsi penjualannya. Besarnya animo konsumen terhadap jenis mobil tersebut membuat LCGC sangat jamak ditemui di jalanan. Bahkan, para pengemudi taksi online pun menggunakan mobil jenis ini karena dinilai dari segi harga relatif terjangkau dan biaya operasionalnya terbilang hemat. Apalagi, para pengguna LCGC untuk taksi daring ini lebih mengutamakan fungsi untuk modal kerja, bukan sebagai simbol gaya hidup. Ada beberapa varian LCGC yang laris di pasaran nasional, seperti Toyota Calya, Toyota Agya, Daihatsu Sigra, dan Daihatsu Ayla. Ada satu lagi kelas LCGC dari Honda, yaitu Honda Brio Satya, tetapi penjualannya jauh lebih sedikit dibanding LCGC keluaran Toyota maupun Daihatsu.
Calya dan Sigra bagaikan saudara kembar yang sama-sama tujuh tempat duduk dan berpenggerak roda depan. Modelnya pun mirip. Begitu pula Agya dan Ayla, mobil konfigurasi lima penumpang dengan model yang serupa. Mobil LCGC di Indonesia memiliki rentang harga per unit Rp 130-an juta hingga Rp 260-an juta, tergantung pada model, varian kapasitas mesin, dan kelengkapan asesori yang terdapat pada mobil. Kelas mobil ini cenderung menangkap peluang pasar bagi para pemilik pemula, yakni pengguna mobil pertama yang berpindah dari sepeda motor ke mobil. Seturut dengan perkembangan dunia usaha transportasi daring atau online, mobil LCGC menjadi andalan para pengusaha taksi online. Alasannya, harganya yang relatif terjangkau, konsumsi bahan bakar yang bisa dibilang irit, dan biaya perawatan serta suku cadang yang terjangkau. Intinya, para pengemudi taksi online mengedepankan faktor biaya yang lebih efisien ketika menggunakan LCGC untuk berbisnis transportasi. Perbandingan biaya energi mobil BBM dengan mobil listrik Belum lama ini, produsen mobil listrik BYD mengeluarkan varian baru seri Atto 1 yang harganya relatif terjangkau, yakni di bawah Rp 200 juta. BYD Atto 1 ini kian menyemarakkan pasar mobil listrik varian rendah yang juga diisi produsen lainnya, seperti dari Wuling seri AirEv Lite dan Vinfast seri VF3 yang juga memiliki rentang harga mulai dari di bawah Rp 200 juta. Penawaran produk dari sejumlah produsen tersebut dapat menjadi stimulan untuk dilirik oleh para pengguna pemula mobil listrik ataupun para pelaku bisnis taksi online. Apalagi, daya jual yang selalu dikampanyekan oleh produsen mobil listrik selama ini adalah pada aspek kehematan biaya operasional. Meski demikian, menikmati kehematan operasional kendaraan dan insentif pajak dari pemerintah bagi pemilik kendaraan listrik tidaklah mudah mengingat harga mobil listrik sebelumnya cenderung relatif mahal. Harganya kurang lebih setara dengan mobil konvensional kelas medium di atas Rp 300 jutaan. Oleh karena itu, kehadiran mobil listrik kelas entry level di bawah Rp 200 juta itu berpeluang besar kian menarik minat konsumen untuk meminang kendaraan ramah lingkungan. Selain itu, tidak tertutup kemungkinan menarik animo para pelaku usaha sebagai alat kerja taksi online. Memang, saat ini kendaraan listrik untuk taksi daring sudah mulai marak digunakan, tetapi umumnya berupa kendaraan yang berukuran cukup besar dengan harga yang relatif tidak murah. Jarang sekali ditemukan taksi online yang menggunakan armada kendaraan listrik kategori entry level. Meskipun demikian, tak tertutup kemungkinan dalam beberapa waktu ke depan akan marak penggunaan mobil listrik versi termurah untuk angkutan daring. Kemungkinan ini didasarkan pada sejumlah varibel yang menunjukkan penggunaan kendaraan listrik sangat efisien dan menghemat biaya operasional. Simulasi perhitungan yang dilakukan Litbang Kompas menunjukkan, dalam kurun waktu empat tahun masa penggunaan, biaya operasional yang bisa dihemat dengan mengadopsi mobil listrik bisa mencapai lebih dari 52 persen. Data yang digunakan sebagai perhitungan simulasi diperoleh melalui wawancara sejumlah pengemudi taksi online di Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut pengakuan para pengemudi, dalam setahun setidaknya mereka menempuh perjalanan rata-rata 70.000 kilometer. Angka tersebut diperoleh dari pengemudi yang menjadikan taksi online sebagai pekerjaan utama, bukan sebagai pekerjaan sambilan. Mengacu dari jarak tempuh tersebut, dapat dihitung simulasi biaya operasional kendaraan setiap tahunnya. Komponen operasional mobil bermesin pembakaran dalam (konvensional) atau dengan BBM meliputi biaya bahan bakar, ganti oli dan filter, ganti ban, serta penggantian komponen lainnya. Dimulai dari komponen energi. Dalam setahun, konsumsi bahan bakar mencapai 5.000 liter Pertalite seharga Rp 10.000 per liter. Akumulasi biaya BBM setahun mencapai Rp 50 juta. Angka tersebut diperoleh dari rata-rata konsumsi bahan bakar 1 liter untuk jarak tempuh 14 kilometer dengan situasi perjalanan beragam, kombinasi arus lalu lintas lancar dan macet.
Selanjutnya, perhitungan konsumsi energi mobil listrik disimulasikan secara campuran antara pengisian di rumah dan harga listrik diskon dengan di stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Tarif pengisian daya di rumah Rp 1.190 per kWh harga diskon dan Rp 1.700 per kWh harga normal. Sementara itu, tarif SPKLU Rp 2.466 per kWh. Di atas kertas, mobil listrik membutuhkan energi rata-rata 1 kWh untuk menempuh jarak 6,5 kilometer. Artinya, untuk menempuh jarak 70.000 kilometer per tahun dibutuhkan daya sekitar 10.769 kWh. Untuk keperluan simulasi, daya listrik tersebut dalam setahun diandaikan 80 persen pengisian dilakukan di rumah dan 20 persen di SPKLU. Hasilnya biaya energi mobil listrik untuk setahun penuh mencapai sekitar Rp 19 juta. Ditilik dari komponen energinya, mobil BBM membutuhkan biaya Rp 50 juta per tahun, sedangkan mobil listrik hanya menghabiskan biaya Rp 19 juta per tahun. Artinya, bisa memangkas biaya energi hingga 62 persen. Perbandingan biaya perawatan mobil BBM dengan mobil listrik Selain energi, ada komponen lainnya lagi yang dapat diperbandingkan, yakni komponen biaya perawatan dan suku cadang. Perkiraan secara umum, mobil listrik disusun dari sekitar 600-1.000 komponen. Sementara itu, mobil bermesin pembakaran dalam bisa mencapai lebih dari 3.000 komponen. Terhitung mulai dari rangka, panel badan mobil, komponen penggerak, kelistrikan, hingga komponen terkecil, seperti mur dan baut. Berkaca dari angka tersebut, semakin banyak komponennya, titik rentan aus dan perlu penggantian juga semakin banyak lagi. Risiko malafungsi pada komponen bersangkutan juga akan banyak. Komponen pada mobil listrik yang banyak disorot oleh calon pengguna adalah pada bagian baterai. Alasannya, harga baterai mencakup 40-50 persen harga mobil. Menjawab kekhawatiran ini, pihak produsen kini semakin banyak yang turut memberikan garansi baterai untuk jarak tempuh 160.000 kilometer atau 8 tahun, mana yang tercapai lebih dahulu. Jaminan tersebut dengan syarat daya kesehatan baterai atau state of health (SOH) tidak boleh kurang dari 70 persen. Mengacu pada data simulasi jarak tempuh taksi online sejauh 70.000 kilometer setahun, artinya batas garansi baterai akan terlampaui hanya dalam waktu 2 tahun lebih beberapa bulan. Hal ini tentu saja akan menjadi pertimbangan penting bagi para pengguna mobil listrik yang ditujukan bagi keperluan bisnis taksi online. Penurunan kualitas baterai pada kegiatan taksi daring ini akan sangat signifikan dari segi waktu. Tak sampai delapan tahun masa pakai, kualitasnya sudah menyusut karena waktu operasionalnya sangat tinggi. Hal tersebut perlu disiasati pihak produsen dengan memberikan skema jaminan yang lebih menarik. Utamanya, ditujukan bagi para pengguna mobil listrik dengan kilometer terbilang tinggi dan berorientasi pada kegiatan ekonomi, khususnya taksi online. Apabila hal ini dapat dilakukan, tentu saja daya tarik mobil listrik untuk kegiatan bisnis sangatlah tinggi. Selain itu, ada pula cara lain dengan penyediaan baterai lebih ekonomis sehingga tidak ada kekhawatiran terkait harga ketika konsumen akan mengganti baterai yang kualitasnya sudah menurun. Misalnya, melalui skema produksi baterai kendaraan listrik di dalam negeri sehingga biaya atau harga jual baterai menjadi lebih murah daripada produk impor. Saat ini, di Indonesia terdapat pabrik baterai mobil listrik yang salah satunya dimiliki perusahaan gabungan Hyundai, LG, dan Indonesia Battery Corporation (IBC) yang berada di Kawasan Artha Industrial Hills, Karawang, Jawa Barat. Pada tahap awal, produsen baterai kendaraan listrik ini akan menyuplai kebutuhan baterai bagi produsen mobil Hyundai. Selain itu, Indonesia juga tengah membangun jaringan industri baterai di Kendal, salah satunya adalah LG Energy Solution di Batang, Jawa Tengah. Presiden Prabowo pun pada 29 Juni 2025 lalu telah meresmikan dimulainya pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi Konsorsium ANTAM-IBC-CBL di Karawang, Jawa Barat. CBL merupakan perusahaan Hong Kong dengan nama perusahaan di Indonesia, yaitu PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co, Ltd. Dengan dukungan industri baterai di dalam negeri serta berkembangnya investasi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai di Indonesia, harapannya biaya produksi kendaraan listrik semakin murah. Dengan demikian, harga kendaraan ramah lingkungan ini kian terjangkau oleh masyarakat Indonesia, termasuk harga baterai listrik berikut suku cadangnya. Dengan demikian, isu penggantian baterai kendaraan listrik yang relatif mahal akan kian tertepis. Apakah mobil listrik bisa jadi pilihan? Diasumsikan, ke depan biaya baterai tidak lagi krusial secara harga karena diperkirakan produsen mobil listrik dan juga baterai kendaraan listrik akan kian kompetitif. Kemungkinan kondisinya tak berbeda jauh dengan maraknya kompetisi kendaraan bermesin konvensional saat ini. Dengan harga suku cadang baterai yang semakin murah, efisiensi kendaraan listrik akan semakin tinggi lagi. Disimulasikan perbandingan operasional mobil listrik lebih efisien 52 persen dibanding mobil bermesin pembakaran dalam (konvensional). Dengan catatan, simulasi ini mengesampingkan faktor penggantian baterai yang saat ini masih tergolong relatif mahal. Khusus biaya operasional, sepanjang empat tahun ongkos energi dan perawatan mobil BBM konvensional mencapai Rp 224 juta. Nominal ini terpaut jauh dengan estimasi biaya operasional mobil listrik yang mengabiskan ongkos sekitar Rp 106 juta dalam kurun waktu yang sama. Bila dilihat dari sudut pandang pengemudi taksi online, pengematan 52 persen tersebut setara dengan nominal sekitar Rp 25 juta per tahun. Nominal ini tergolong cukup besar karena dapat dibelanjakan untuk biaya sekolah anak, menabung, atau sebagai tambahan modal mengembangkan usaha lainnya. Simulasi tersebut menggambarkan bahwa mobil listrik bisa menjadi alternatif pilihan bagi pengemudi taksi online. Hanya saja, ada sejumlah catatan yang perlu diperhatikan terkait mobil listrik versi termurah saat ini. Umumnya, mobil listrik entry level yang harganya setara LCGC ini memiliki konfigurasi kursi yang terbatas untuk 4-5 orang berpostur rata-rata masyarakat Indonesia. Keterbatasan ruang ini linier dengan dimensi mobil listrik level bawah yang umumnya lebih kecil dari mobil konvensional. Merujuk dari keterangan pengalaman pengemudi taksi online, mobil 5 penumpang terbilang kurang populer dibanding mobil dengan 7 penumpang. Maka dari itu, dibutuhkan produsen yang mau merilis mobil listrik dengan konfigurasi 7 penumpang, tetapi dengan tingkatan harga selevel LCGC. Selain itu, bagi konsumen yang berkepentingan terhadap harga yang kompetitif saat dijual nanti juga perlu memperhatikan kelemahan kendaraan listrik ini. Rata-rata di pasar mobil bekas, mobil listrik ditawarkan hingga 50 persen dari harga barunya. Itu pun dengan usia mobil relatif muda. Dengan kata lain, apabila pengemudi taksi online berorientasi pada nilai jual kembali, mobil listrik bukan menjadi pilihan. Relatif masih murahnya mobil listrik bekas ini mengindikasikan bahwa daya tarik konsumen Indonesia masih minim. (LITBANG KOMPAS) |
| Kembali ke sebelumnya |