Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul TB Simatupang Jakarta, dari Jalan Pinggiran Jadi Simbol Kemacetan Baru
Tanggal 21 Agustus 2025
Surat Kabar Kompas
Halaman -
Kata Kunci Pekerjaan umum
AKD - Komisi V
Isi Artikel

Ruas Jalan TB Simatupang menjadi simbol pertumbuhan Jakarta yang terimpit krisis mobilitas akibat minim transportasi publik dan tata kota tak seimbang.

Oleh Yohanes Mega Hendarto

alan TB Simatupang di Jakarta Selatan kini kerap disebut sebagai salah satu ruas paling macet di ibu kota. Namun, di balik kepadatan yang membuat pengendara frustrasi, jalan ini menyimpan sejarah panjang transformasi kota. Dari koridor pinggiran yang tenang pada 1950-an, jalan ini menjelma menjadi pusat bisnis modern sekaligus simbol kemacetan baru Jakarta.

Jalan TB Simatupang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang Jakarta sebagai ibu kota sejak 1950. Setelah pusat pemerintahan dipindahkan dari Yogyakarta, Jakarta mengalami ekspansi ruang yang masif ke selatan, timur, dan barat. Jalur TB Simatupang dibuka sebagai bagian dari lingkar luar selatan, menghubungkan Cilandak, Jagakarsa, hingga Pondok Indah.

Nama jalan ini diberikan untuk mengenang Letnan Jenderal Tahi Bonar Simatupang, tokoh militer yang pernah menjadi Kepala Staf Angkatan Perang pada awal 1950-an.

Penamaan itu sekaligus melanjutkan tradisi Jakarta yang menempatkan nama pahlawan nasional pada jalan-jalan utama. Pada 1970-1980, TB Simatupang masih berfungsi sebagai koridor pinggiran dengan perumahan menengah dan industri ringan.

Masuk dekade 1990-an, pembangunan Jalan Lingkar Luar Jakarta (JORR) mulai mengubah posisi strategis jalan ini. TB Simatupang menjadi penghubung penting antara Jakarta dan Depok sekaligus pintu masuk ke kawasan perumahan elite Pondok Indah. Meski lalu lintas bertambah, jalan ini masih mampu menampung volume kendaraan karena kepemilikan mobil belum sepadat saat ini.

Pada era 2000-an, wajah TB Simatupang berubah drastis. Kawasan yang tadinya semi-perumahan berkembang menjadi koridor bisnis baru, disebut sebagai ”segitiga emas selatan” setelah Sudirman-Thamrin-Kuningan. Perusahaan minyak, bank, teknologi, dan industri kreatif mulai membangun kantor modern di sepanjang jalur ini.

Lonjakan pembangunan perkantoran berdampak besar pada arus lalu lintas harian. Ratusan ribu pekerja keluar masuk kawasan ini setiap hari menggunakan kendaraan pribadi. Seiring meningkatnya apartemen dan pusat belanja, TB Simatupang bertransformasi dari jalan pinggiran menjadi simpul aktivitas metropolitan.

Namun, transformasi itu membawa konsekuensi berat. Kapasitas jalan tidak pernah diperluas secara signifikan untuk menampung pertumbuhan kendaraan. Ketidakseimbangan ini menjadi akar dari persoalan kemacetan yang kian hari kian parah.

Infografik Perkembangan Ruas Jalan TB Simatupang
 

Infografik

Tambal sulam solusi

Kemacetan di Jalan TB Simatupang merupakan hasil akumulasi faktor struktural dan situasional yang berlangsung puluhan tahun. Pertumbuhan pesat gedung perkantoran, apartemen, dan pusat belanja tidak diimbangi perhitungan kapasitas jalan. Ditambah arus kendaraan dari Depok dan Jagakarsa yang bercampur dengan lalu lintas lokal, beban ruas jalan ini jauh melampaui rancangan awalnya.

Ketiadaan moda transportasi publik massal langsung di jalur Simatupang memperparah ketergantungan pada kendaraan pribadi. MRT hanya melintas di Fatmawati-Lebak Bulus, tanpa akses langsung ke perkantoran di Simatupang. Transportasi umum yang ada pun belum terintegrasi secara efektif sehingga mobil dan sepeda motor tetap menjadi pilihan dominan pekerja.

Hambatan juga muncul dari aktivitas komersial di tepi jalan, seperti ruko, restoran, dan akses parkir gedung yang sering menimbulkan antrean. Persimpangan rapat di sekitar Fatmawati dan pintu tol menambah perlambatan arus.

Kondisi makin rumit ketika proyek infrastruktur jangka panjang, mulai dari pemasangan pipa hingga galian utilitas, mengurangi jumlah lajur aktif dan menekan kecepatan kendaraan hingga 5-10 kilometer per jam.

Di atas semua itu, lemahnya koordinasi lintas instansi membuat masalah tak kunjung terselesaikan. Rambu yang minim, pengerjaan proyek yang tidak sinkron, dan pengawasan lalu lintas yang tidak konsisten memperkeruh keadaan.

Jalan TB Simatupang pun berubah menjadi kawasan bisnis modern yang paradoksal; menjadi simbol pertumbuhan ekonomi, sekaligus titik macet permanen yang menggerus efisiensi kota.

Dengan kondisi berlapis itu, TB Simatupang menjadi salah satu jalan ”horor” di Jakarta Selatan. Perjalanan pendek bisa memakan waktu berjam-jam, menimbulkan frustrasi bagi pengendara. Kawasan yang dulu menjadi simbol modernisasi kini identik dengan stagnasi.

Pemerintah Provinsi Jakarta mencoba menawarkan sejumlah solusi untuk meredam kemacetan. Rekayasa lalu lintas dilakukan dengan penempatan petugas dinas perhubungan di pagi dan sore hari. Dilengkapi juga dengan spanduk jalur alternatif dipasang untuk mengarahkan pengendara mencari rute lain.

 

Selain itu, pemprov mengimbau masyarakat beralih ke transportasi umum. TransJakarta, Royaltrans, dan rute pengumpan MRT dipromosikan sebagai pilihan pengganti kendaraan pribadi. Namun, integrasi moda belum sepenuhnya berjalan sehingga daya tariknya masih terbatas.

Gubernur Jakarta Pramono Anung turut menyoroti persoalan ini. Dirinya meminta kontraktor proyek mengecilkan area bedeng agar tidak memakan badan jalan.

Surat resmi akan dikirim ke pemerintah pusat untuk meminta sinergi dalam menangani dampak Proyek Strategis Nasional. Upaya ini dimaksudkan untuk mempercepat penyelesaian proyek sekaligus mengurangi penyempitan ruas jalan.

Beberapa usulan jangka panjang juga mengemuka. Pelebaran ruas jalan di titik sempit, penerapan sistem satu arah di jam sibuk, hingga electronic road pricing masuk dalam rencana kebijakan. Konsep transit-oriented development (TOD) juga didorong untuk mengintegrasikan hunian dan perkantoran dengan moda transportasi massal.

Namun, sebagian besar solusi itu masih bersifat tambal sulam. Pemprov dan dinas terkait sering bereaksi setelah masalah muncul, bukan mencegah sejak awal. Hal ini menimbulkan kesan bahwa kebijakan transportasi di TB Simatupang lebih bersifat reaktif ketimbang proaktif.

Warga berharap ada keberanian politik yang lebih besar. Tanpa pembatasan kendaraan pribadi dan pembenahan tata ruang, kemacetan akan terus menjadi status quo. Kemacetan panjang yang terus terjadi di Jalan TB Simatupang bisa dianggap sebagai ”monumen kegagalan” tata kota Jakarta.

Alarm kota global

Kasus Jalan TB Simatupang memperlihatkan paradoks pembangunan Jakarta. Pertumbuhan ekonomi berjalan pesat, tetapi mobilitas warganya semakin terhambat. Kota ini membiarkan pasar bisnis menentukan arah pengembangan ruang tanpa menyiapkan transportasi publik sebagai penopang.

Kemacetan bukan sekadar masalah teknis lalu lintas, melainkan refleksi dari tata kota yang abai pada keseimbangan. Setiap gedung baru yang dibangun membawa ribuan kendaraan tambahan, sementara kapasitas jalan tetap stagnan. Akhirnya, jalan yang dirancang untuk memperlancar arus justru berubah menjadi simpul stagnasi.

Jika pola pembangunan seperti ini berlanjut, kemacetan di TB Simatupang akan terus memburuk. Solusi jangka pendek hanya akan meredakan gejala, bukan menyentuh akar masalah. Jalan ini akan menjadi peringatan bahwa pembangunan tanpa perencanaan mobilitas adalah jalan buntu.

TB Simatupang seharusnya menjadi pelajaran bagi perencana kota. Perlu ada integrasi nyata antara tata ruang, transportasi publik, dan kebijakan pembatasan kendaraan pribadi. Tanpa itu, Jakarta hanya akan mengulang kesalahan yang sama di koridor lain.

Kondisi TB Simatupang adalah cermin wajah metropolitan yang terjebak dalam logika pertumbuhan tanpa kendali. Kawasan ini berkembang pesat dalam ekonomi, tetapi macet dalam mobilitas.

Ironisnya, jalan yang dulu dibangun untuk memperlancar arus ibu kota kini menjadi simbol kepadatan yang menguras emosi, tenaga, dan waktu warganya.

Fenomena kemacetan di Jalan TB Simatupang sesungguhnya mencerminkan tantangan Jakarta dalam menjaga posisinya di Indeks Kota Global. Sejumlah studi internasional menempatkan kualitas infrastruktur transportasi sebagai indikator utama daya saing kota.

Jika kawasan bisnis strategis seperti ruas Jalan TB Simatupang terjebak kemacetan kronis, citra Jakarta sebagai pusat investasi regional akan tergerus oleh kota lain yang lebih efisien, seperti Kuala Lumpur atau Bangkok.

Pemprov Jakarta perlu ingat bahwa indeks kota global juga mengukur keterhubungan antarwilayah metropolitan sebagai faktor kunci pertumbuhan ekonomi.

Kemacetan berlarut di Jalan TB Simatupang memperlihatkan ketidakseimbangan antara ekspansi ruang komersial dan kapasitas mobilitas publik.

Kondisi ini menegaskan bahwa tanpa perbaikan transportasi massal dan tata kelola lalu lintas yang modern, Jakarta sulit memperbaiki peringkatnya dalam kompetisi global urban yang semakin ketat. (LITBANG KOMPAS)

 

  Kembali ke sebelumnya