Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Imbas Proyek Kereta Cepat Whoosh, Wika Merugi Sekitar Rp 6,1 Triliun
Tanggal 14 November 2025
Surat Kabar Kompas
Halaman 10
Kata Kunci Kereta Api
AKD - Komisi V
Isi Artikel

Dalam proyek kereta cepat, Wika berperan sebagai investor dan kontraktor lokal. Dari sisi konstruksi, perusahaan pelat merah itu masih bersengketa dengan KCIC.

Oleh Yosepha Debrina Ratih Pusparisa

JAKARTA, KOMPAS – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau Wika masih menunggu keputusan pemerintah bersama Badan Pengelola Investasi Danantara terhadap tindak lanjut utang Whoosh. Perusahaan konstruksi tersebut merugi sekitar Rp 6,1 triliun, dampak keterlibatannya dalam megaproyek ini.

Polemik Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh masih bergulir. Pembiayaan untuk melunasi utang proyek PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) masih dibahas pemerintah dan sejumlah pemangku kepentingan lain.

Tiap anggota konsorsium badan usaha milik negara (BUMN) yang tergabung dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) memiliki beban atas proyek KCIC dengan besaran berbeda-beda. Salah satunya adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau Wika, pemegang saham kedua terbesar, yang terbebani Rp 6,1 triliun. Beban tersebut berimbas pada kinerja keuangan perusahaan pelat merah itu.

Saat ini, Wika masih menunggu keputusan pemerintah bersama BPI Danantara untuk menutup utang Whoosh. Hal ini diungkapkan dalam paparan publik Wika di Jakarta, Rabu (12/11/2025), dikutip dari kantor berita Antara.

Direktur Utama Wika Agung Budi Waskito mengemukakan, pihaknya sedang menunggu keputusan terkait tindak lanjut utang Whoosh. Entah bentuknya akan berupa restrukturisasi utang pada KCIC atau pengambilalihan investasi saham BUMN oleh pemerintah.

Dalam proyek KCIC, PSBI berkontribusi terhadap pendanaan dengan proporsi 60 persen. Sisanya sebesar 40 persen ditanggung konsorsium China yang terdiri atas lima perusahaan yang tergabung dalam Beijing Yawan HSR Co Ltd.

Konsorsium PSBI terdiri dari KAI yang menguasai saham 58,5 persen, disusul Wika sebesar 33,4 persen, PT Jasa Marga Persero (Tbk) sebesar 7,1 persen, serta PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) sebesar 1,03 persen.

Agung mengatakan, upaya pemerintah bersama Danantara untuk mengambil alih penyelesaian utang proyek KCIC akan berdampak positif bagi Wika. Sebab, perusahaan konstruksi itu masih menanggung rugi lebih dari Rp 6,1 triliun atas keterlibatannya pada proyek tersebut.

”Kalau ini (utang) diambil oleh pemerintah, akan berdampak positif buat Wika. Tadi kami sampaikan bahwa eksposur Wika di dalam kereta cepat sebaga investor kira-kira Rp 6,1 triliun. Belum lagi terkait dengan dispute (sengketa) konstruksi kami yang masih mengalami kerugian,” tuturnya.

Keterlibatan Wika dalam proyek KCIC terdiri atas dua bentuk, yakni sebagai investor dan kontraktor lokal. Sebagai penyuntik modal, Wika menanamkan Rp 6,1 triliun. Kerugian kereta cepat sejak beroperasi pada akhirnya berdampak pula pada keuangan perusahaan pelat merah tersebut.

”Secara otomatis, setiap akhir tahun atau setiap triwulanan, kami akan membukukan kerugian dari efek (proyek) kereta cepat,” ucap Agung.

Wika merupakan satu-satunya kontraktor lokal yang tergabung dalam Konsorsium Kereta Cepat atau High Speed Railway Contractor Consortium (HSRCC) bersama enam kontraktor asal China. Ia berkontribusi terhadap 25 persen pekerjaan yang meliputi konstruksi bawah, antara lain fondasi, timbunan, dan galian tanah.

Dalam konstruksi tersebut, Wika mengalami perselisihan dengan KCIC. Proses penyelesaiannya masih berlangsung. Pihaknya berisiko mencatat kerugian besar dari sisi kontraktual jika sengketa tersebut tidak mencapai kesepakatan.

Berdasarkan data terakhir, nilai awal proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) tercatat 6,07 miliar dollar AS atau Rp 101,17 triliun (kurs Rp 16.664 per dollar AS). Dari jumlah itu, sebanyak 75 persen dibiayai oleh Bank Pembangunan China (CBD) sebesar 4,55 miliar dollar AS atau Rp 75,82 triliun.

Sisanya berasal dari setoran ekuitas pemegang saham sebesar 1,52 miliar dollar AS yang setara dengan Rp 25,33 triliun. Para pemegang saham ini adalah konsorsium perusahaan asal China dan konsorsium BUMN Indonesia, dengan saham terbesar dipegang PT KAI.

Biaya itu belum termasuk tambahan pembengkakan biaya sebesar 1,2 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 20 triliun. Nilai tambahan ini disepakati pada Februari 2023.

Mengutip arsip pemberitaan Kompas, CBD akhirnya mematok bunga pinjaman 3,4 persen, lebih tinggi dari ekspektasi pemerintah yang sebesar 2 persen. Pemerintah pun akhirnya diminta menjamin pembayaran cicilan melalui APBN, yakni lewat PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) (Kompas, 17/10/2023).

 

<p>Infografik Kompas.id Kereta Cepat Jakarta-Bandung Grafik 1 Pemegang Saham dan Rencana Awal Pembiayaan Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung</p>
 

Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Pengoperasian Whoosh

Sebelumnya, Ketua Forum Transportasi Perkeretaapian dan Angkutan Antarkota Masyarakat Transportasi Indonesia Aditya Di Laksana menilai, pengoperasian Whoosh masih di bawah target atau kondisi ideal.

Saat ini, rata-rata okupansi harian Whoosh belum menyentuh 20.000 penumpang. Angkanya masih di bawah target 30.000 penumpang. Angka itu merupakan perhitungan potensi menurut studi Pusat Pengujian, Pengukuran, Pelatihan, Observasi, dan Layanan Rekayasa Universitas Indonesia (Polar UI). Kapasitas maksimum Whoosh mencapai 36.000 penumpang per hari.

Dalam siaran pers KCIC, jumlah penumpang Whoosh naik 6,3 persen selama Januari-Oktober 2025 dengan mengangkut 5,1 juta penumpang. Artinya, rata-rata hampir 17.000 penumpang diangkut per hari.

Angka kumulatif selama 10 bulan pertama itu lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024, dengan melayani 4,8 juta penumpang. Alhasil, sejak beroperasi komersial pada Oktober 2023, Whoosh baru mengantarkan 12,2 juta penumpang.

General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengatakan, kenaikan jumlah penumpang ini ditengarai naiknya minat masyarakat terhadap Whoosh yang didukung konektivitas antarmoda yang makin baik. Tiap stasiun Whoosh kini terkoneksi dengan moda transportasi, antara lain kereta pengumpang, lintas rel terpadu (LRT), kereta komuter, bus, dan taksi. Alhasil, pihaknya menambah jadwal menjadi 62 perjalanan per hari.

Guna mengoptimalkan operasi Whoosh, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membangun jalan layang (flyover) Nurtanio. Infrastruktur ini diharapkan mengurai arus lalu lintas di Jalan Dr Abdurrahman Saleh, Jalan Garuda, dan kawasan Andir, Bandung. Selain itu, jalan ini juga berpotensi menghilangkan penundaan akibat pelintasan sebidang.

Jalan layang Nurtanio memiliki panjang 550 meter yang akan menambah kapasitas yang sudah ada, dari empat lajur menjadi enam lajur. Pelintasan sebidang juga akan ditutup. Kawasan tersebut kerap menjadi titik kemacetan karena pertemuan arus kendaraan dari empat arah sekaligus, belum lagi tingginya frekuensi perjalanan kereta api, dikutip dari Antara.

  Kembali ke sebelumnya