| Judul | Megaproyek Whoosh Gerogoti Empat BUMN |
| Tanggal | 14 November 2025 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Kereta Api |
| AKD |
- Komisi V |
| Isi Artikel | Setidaknya empat BUMN terdampak negatif karena tergabung dalam konsorsium Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Dampak sistemik ini perlu segera diatasi. Oleh Yosepha Debrina Ratih Pusparisa JAKARTA, KOMPAS — Utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh berdampak negatif terhadap empat badan usaha milik negara yang terlibat. Jika tidak segera diatasi, kondisi keuangan perusahaan-perusahaan pelat merah itu akan makin tergerus. Pengajar Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, Jumat (14/11/2025), mengatakan, konsorsium BUMN pemilik PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang disebut PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) mengalami kemerosotan keuangan akibat proyek Whoosh. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau Wika, misalnya, sebelumnya adalah BUMN dengan kinerja keuangan dan operasional yang sangat baik. Namun, kerugian Whoosh membalikkan situasi. Tiap tahun, Whoosh akan membukukan defisit arus kas (cash flow) sekitar Rp 1,5 triliun. Puncaknya akan tercapai pada titik sekitar Rp 5 triliun saat KCIC sudah mulai membayar pokok utangnya. Sebanyak 60 persen dari defisit tersebut akan ditanggung PSBI. ”Dengan kondisi keuangan saat ini, BUMN-BUMN pada 2026 tersebut berpotensi kesulitan cash flow dan berisiko bangkrut. Jadi, solusi penyelesaian utang idealnya disepakati dan mulai dieksekusi awal tahun 2026,” ujar Wijayanto. Konsorsium PSBI terdiri atas empat BUMN. KAI menguasai mayoritas saham, yakni 58,5 persen. Berikutnya adalah Wika sebesar 33,4 persen, PT Jasa Marga Persero (Tbk) sebesar 7,1 persen, dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero) sebesar 1,03 persen. Solusi terbaik, menurut Wijayanto, melakukan pembagian (split) pembayaran utang. Utang terkait prasarana atau infrastruktur ditanggung pemerintah. Utang terkait sarana dan lain-lain (rolling stock dan operasional) dibebankan operator, yakni BUMN atau Badan Pengelola Investasi Danantara. Cara ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Dalam konteks Whoosh, pemerintah menanggung 80 persen utang porsi PSBI. Sementara, 20 persen sisanya dibebankan Danantara. Pembicaraan soal restrukturisasi utang perlu dibahas antara KCIC dan Bank Pembangunan China (CDB). Saat KCIC tersandung isu lain dengan perusahaan penyokongnya, hal itu perlu dibicarakan terpisah. Wijayanto menduga, utang KCIC ke CBD bisa jadi lebih besar dari yang selama ini diberitakan. Ada pula utang tambahan ke sejumlah kontraktor yang belum dibayar. Namun, hal ini perlu dicermati lebih mendalam. Setidaknya perlu tiga macam negosiasi dalam penyelesaian masalah utang Whoosh. Pertama, negosiasi KCIC dengan CDB. Kedua, negosiasi Danantara dan Kementerian Keuangan mengenai pembagian beban utang. Ketiga, negosiasi KCIC dengan vendor-vendor yang belum dibayar. Rugi Direktur Utama Wika Agung Budi Waskito dalam paparannya secara hibrida, Rabu (12/11/2025), mengatakan, pihaknya masih menanggung rugi lebih dari Rp 6,1 triliun atas keterlibatannya pada proyek Whoosh. Belum lagi persoalan sengketa kontruksi dengan KCIC. Berdasarkan data terakhir, nilai awal proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung tercatat 6,07 miliar dollar AS atau Rp 101,17 triliun (kurs Rp 16.664 per dollar AS). Dari jumlah itu, 75 persen dibiayai oleh CDB atau senilai 4,55 miliar dollar AS atau Rp 75,82 triliun. Sisanya berasal dari setoran ekuitas pemegang saham senilai 1,52 miliar dollar AS atau setara Rp 25,33 triliun. Para investor ini adalah konsorsium perusahaan asal China yang memegang 40 persen saham dan konsorsium BUMN Indonesia dengan 60 persen saham. Biaya itu belum termasuk tambahan pembengkakan biaya senilai 1,2 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 20 triliun. Nilai tambahan ini disepakati pada Februari 2023.
Infografrik Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, mengatakan, proyek Whoosh berdampak sistemik, terutama bagi BUMN-BUMN yang tergabung dalam PSBI. Dampaknya berbeda-beda, tetapi seluruhnya merugikan. KAI dinilai paling berat. Selain perusahaan tersebut merupakan pemimpin konsorsium yang bertanggung jawab terhadap pinjaman, KAI juga harus menutup biaya operasional Whoosh. Wika sebagai pemegang saham terbesar kedua dalam PSBI berpotensi harus menambah modal. Jika tidak, sahamnya akan terdelusi. Wika juga tersandung tagihan terkait penambahan biaya atau cost overrun hingga Rp 6,1 triliun. Pencatatan piutang Wika berpotensi tidak tertagih karena masih bersengketa dengan KCIC hingga saat ini. Sementara PT Jasa Marga (Persero) Tbk dan PT Perkebunan Nusantara VIII atau PT PN VIII tetap terdampak negatif ketika mendapat tambahan modal. Saat KAI mendapat suntikan penyertaan modal negara, maka pihaknya akan menambahkan modal pada KCIC. Alhasil, saham-saham Jasa Marga dan PT PN VIII akan terdelusi. ”Dampak sistemik oleh BUMN sebagai pemegang saham Whoosh sangat berbeda, tetapi semua tentu akan berdampak negatif,” kata Herry. Ia mengingatkan bahwa skenario Danantara melunasi utang akan menentukan langkah selanjutnya. Restrukturisasi yang dilakukan KCIC tidak bisa parsial, seperti hanya merestrukturisasi pinjaman. Sebab, hal itu dinilai sia-sia jika operasional Whoosh pun masih merah dilihat dari jumlah penumpang yang masih jauh dari target.
|
| Kembali ke sebelumnya |