| Judul | Kapan Curah Hujan Tinggi Pemicu Bencana di Sumatera Berakhir? |
| Tanggal | 01 Desember 2025 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Curah Hujan |
| AKD |
- Komisi V |
| Isi Artikel | Curah hujan tinggi dan degradasi lingkungan memicu bencana alam di Sumatera. Kapan curah hujan tinggi di wilayah tersebut berakhir? Oleh Tim Redaksi Kompas Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menunjukkan bahwa potensi hujan deras masih akan mengguyur wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh hingga awal Desember, yang dipicu oleh aktivitas siklon tropis Senyar. Para ahli menegaskan, skala kerusakan bencana hidrometeorologi ini tidak hanya disebabkan faktor cuaca, tetapi juga diperparah oleh degradasi lingkungan dan alih fungsi lahan yang masif di area hulu. Akibatnya, tanah kehilangan kemampuan menyerap air. Di tengah lonjakan korban jiwa yang hingga Minggu (30/11/2025) mencapai 442 orang, fokus utama penanganan darurat saat ini adalah menembus isolasi di wilayah-wilayah yang akses daratnya terputus total akibat longsor dan jembatan putus. Apa yang Anda dapat pelajari dari artikel ini? Sampai kapan potensi hujan lebat dan cuaca ekstrem diprediksi akan terus mengguyur wilayah Sumatera? Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan berlangsung setidaknya hingga awal Desember. Secara spesifik, hujan lebat diprediksi masih akan mengguyur wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada 29-30 November serta 1 Desember. Sementara itu, untuk wilayah Aceh, potensi hujan kategori sedang hingga lebat diprediksi terjadi pada 1 Desember. Cuaca ekstrem ini tidak hanya terjadi secara lokal, tetapi juga dipengaruhi fenomena atmosfer skala regional yang lebih besar. Pemicu utama dari intensitas hujan yang tinggi ini adalah keberadaan siklon tropis. BMKG mendeteksi adanya aktivitas siklon tropis Senyar yang memengaruhi pola cuaca di wilayah tersebut.
Pusat sirkulasi siklon Senyar terpantau berada di Laut China Selatan dengan pergerakan ke arah timur laut, yang membawa dampak signifikan berupa hujan lebat disertai angin kencang di wilayah Sumatera dan sekitarnya. Keberadaan sistem tekanan rendah ini memperpanjang durasi dan meningkatkan intensitas curah hujan di area bencana. Menurut data BMKG, siklon Senyar telah memicu hujan ekstrem di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan intensitas di atas 300 milimeter (mm) per hari. Curah hujan tertinggi tercatat di Kecamatan Kuala, Bireun, dengan intensitas 411 mm per hari pada 25-26 November 2025, seperti disampaikan Kepala Stasiun Klimatologi Aceh Muhajir. Terkait upaya operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengurangi intensitas hujan, menurut Direktur Meteorologi BMKG Andri Ramdhani, sistem bibit siklon tropis ataupun siklon tropis tidak dapat ditangani secara efektif melalui OMC. Hal ini disebabkan ukuran dan kekuatan sel konvektifnya yang sangat besar. ”OMC hanya dapat dilakukan setelah siklon menjauh dan difokuskan pada tahap evakuasi serta pemulihan pascasiklon untuk mengurangi intensitas hujan sisa yang masih berpotensi menimbulkan genangan atau banjir,” katanya. Mengapa curah hujan kali ini memicu dampak bencana banjir bandang dan longsor yang begitu massif? Meskipun curah hujan tinggi menjadi pemicu utama, para ahli menegaskan bahwa skala kerusakan yang masif ini merupakan bukti nyata adanya degradasi lingkungan yang parah. Pakar hidrologi Universitas Padjadjaran, Chay Asdak, menjelaskan bahwa banjir besar yang membawa material lumpur dan kayu-kayu dari hulu tidak mungkin terjadi hanya karena faktor alam semata, melainkan diperparah oleh alih fungsi lahan. Kawasan yang seharusnya berfungsi sebagai resapan air di pegunungan dan perbukitan telah beralih fungsi menjadi area perkebunan, pertanian, dan pertambangan. Alih fungsi ini membuat tanah kehilangan kemampuannya menahan laju air. Heri Andreas, pakar dari ITB, menambahkan, banjir berkaitan erat dengan bagaimana permukaan tanah mengelola air yang turun. Ketika tutupan vegetasi alami, seperti hutan, hilang, kemampuan tanah untuk menyerap air (infiltrasi) menurun drastis. Kondisi ini mengakibatkan air hujan langsung mengalir cepat di permukaan tanah (runoff) menuju sungai sehingga debit air melonjak tiba-tiba dan memicu banjir bandang. Konsentrasi air yang tinggi pada lahan curam yang gundul ini kemudian membuat tanah menjadi jenuh dan sangat rentan terhadap longsor. Kondisi ini diperburuk kebijakan tata guna lahan yang kurang memperhatikan aspek pengendalian bencana. Izin pemanfaatan lahan untuk sektor kehutanan, pertanian, dan pertambangan sering kali berjalan tanpa pengawasan ketat terhadap dampak lingkungannya. Bencana ini menjadi peringatan keras bahwa program pembangunan nasional harus dijalankan dengan prinsip kehati-hatian agar tidak menumpang aktivitas yang justru merusak ekosistem penyangga kehidupan masyarakat. Bagaimana kondisi terkini para korban dan seberapa besar eskalasi jumlah jiwa yang terdampak? Data korban jiwa terus bergerak naik seiring dengan meluasnya jangkauan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR). Hingga Minggu (30/11/2025) sore, data BNPB mencatat jumlah korban meninggal mencapai 442 orang. Selain itu, 402 orang masih dinyatakan hilang. Lonjakan angka ini terjadi karena tim SAR mulai bisa menembus wilayah-wilayah yang sebelumnya terisolasi total sehingga pendataan korban menjadi lebih akurat. Dampak kemanusiaan dari bencana ini sangat luas, mencakup tiga provinsi sekaligus. Di Sumatera Utara, sebanyak 217 orang meninggal dan 209 orang masih hilang, di Aceh tercatat 96 jiwa meninggal dan 75 jiwa hilang, dan di Sumatera Barat 129 jiwa meninggal dan 118 hilang. Dilaporkan, puluhan ribu warga masih mengungsi dalam kondisi yang memprihatinkan karena rumah mereka rusak berat atau tertimbun material longsor. Tantangan terbesar saat ini adalah nasib warga di wilayah yang masih terisolasi (terkurung). Gubernur Aceh Muzakir Manaf mengungkapkan kekhawatirannya bahwa warga di wilayah Aceh Timur dan Gayo Lues mungkin mulai mengalami kelaparan karena akses bantuan terputus total selama berhari-hari. Bencana ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga melumpuhkan sendi kehidupan sosial masyarakat karena banyak warga yang kehilangan anggota keluarga dan tempat tinggal secara bersamaan. Langkah apa yang sedang diprioritaskan pemerintah untuk menembus isolasi dan memulihkan akses? Merespons kondisi darurat ini, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan pengerahan seluruh kekuatan nasional untuk fokus pada evakuasi dan pemulihan infrastruktur vital. Prioritas utama saat ini adalah menembus isolasi daerah terdampak mengingat banyak jalan nasional dan jembatan yang putus total, seperti jalur Banda Aceh-Lhokseumawe dan jalur Sibolga-Tarutung. Kementerian Pekerjaan Umum dikerahkan untuk melakukan normalisasi jalan menggunakan alat berat secara masif. Karena akses darat sulit ditembus, pemerintah menggunakan strategi ”jembatan udara” untuk penyaluran logistik. TNI telah mengerahkan pesawat angkut Hercules, pesawat Cessna Caravan, dan helikopter untuk mendistribusikan bantuan makanan, tenda, dan obat-obatan langsung ke titik-titik yang terisolasi. Di Aceh, bantuan bahkan dijatuhkan langsung dari udara (airdrop) ke titik yang dijaga prajurit TNI untuk kemudian dibagikan kepada warga guna memangkas waktu distribusi. Selain transportasi, pemulihan komunikasi juga menjadi fokus penting karena jaringan telekomunikasi terputus di banyak lokasi bencana, yang menghambat pendataan dan koordinasi. Sebagai solusi darurat, BNPB dan pemerintah daerah memasang perangkat internet satelit Starlink di posko-posko penanganan darurat dan titik pengungsian. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat aliran informasi mengenai kebutuhan korban dan status keamanan di lapangan.
|
| Kembali ke sebelumnya |