| Judul | Ratusan Korban Bencana Alam di Sumatera Belum Ditemukan, Apa Kendalanya? |
| Tanggal | 03 Desember 2025 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Bencana alam |
| AKD |
- Komisi V |
| Isi Artikel | Ratusan korban bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat belum ditemukan. Mengapa pencarian korban sulit dilakukan? Oleh Redaksi Apa yang Bisa Anda Pelajari dari Artikel ini? 1. Bagaimana perkembangan terbaru dalam pencarian korban hilang di dalam bencana alam Sumatera? Upaya pencarian korban hilang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus berlangsung di tengah kondisi lapangan yang sangat menantang. Hingga Senin (1/12/2025) malam, Aceh masih mencatat 204 warga hilang, bersamaan dengan 173 korban tewas dan lebih dari seribu orang luka-luka. Laporan kehilangan bertambah setiap hari, terutama dari Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Aceh Tengah, daerah yang terdampak paling besar oleh banjir besar dan longsor beruntun. Pemerintah Aceh melalui Pos Komando Tanggap Darurat membuka layanan pengaduan agar warga bisa menyerahkan data anggota keluarga yang belum diketahui keberadaannya. Situasi serupa terjadi di Sumatera Utara. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan 182 warga masih hilang, terutama di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Dua wilayah ini merupakan zona yang mengalami kerusakan infrastruktur paling masif sehingga banyak warga terjebak tanpa komunikasi sejak hari pertama bencana. Angka ini belum final karena sejumlah daerah masih terputus dari jaringan transportasi maupun telekomunikasi. Di Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Agam, banjir bandang atau galodo menyebabkan perubahan lanskap dalam sekejap. Permukiman rata dengan tanah, fondasi rumah hilang, dan ratusan warga tersapu aliran air bercampur kayu gelondongan. Hingga 1 Desember 2025, 114 warga di Sumbar tetap berstatus hilang, sementara Tim SAR terus menyisir sungai dan bekas permukiman. Situasi ini menegaskan bahwa pencarian masih jauh dari selesai. Dalam skala nasional, catatan BNPB menunjukkan lebih dari 476 warga Sumatera belum ditemukan. Angka ini bukan hanya statistik, tetapi gambaran kerusakan wilayah yang luas dan kompleks, yang membuat proses pencarian membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan dengan operasi darurat pada umumnya. 2. Mengapa pencarian korban sulit dilakukan dalam bencana alam di Sumatera? Kesulitan pencarian korban hilang di berbagai wilayah Sumatera bertumpu pada satu faktor utama, yaitu kerusakan infrastruktur dan kondisi medan yang ekstrem. Banyak ruas jalan utama terputus akibat longsor besar, seperti jalur vital KKA–Bener Meriah di Aceh yang tertutup material tanah hingga puluhan meter. Jalan yang sebelumnya menjadi akses distribusi logistik kini menyempit, berlubang, atau bahkan tak bisa dilalui sama sekali. Upaya pembersihan dengan alat berat pun baru dapat menjangkau sebagian titik. Selain itu, sebagian besar lokasi terdampak berada di tepian atau lereng Pegunungan Bukit Barisan, kawasan yang mengalami deforestasi dan alih fungsi lahan dalam satu dekade terakhir. Hilangnya tutupan hutan membuat tanah kehilangan daya serap, sehingga air hujan meluncur deras membawa lumpur dan batang kayu besar yang kemudian memicu galodo di Sumatera Barat. Permukiman yang hancur total menyebabkan tim SAR kesulitan menentukan titik awal pencarian, karena rumah, jalan, dan batas-batas desa lenyap seketika di bawah material bencana. Faktor lain yang memperparah keadaan adalah gangguan jaringan komunikasi. Banyak warga hilang kontak selama lebih dari seminggu karena jaringan telepon seluler dan internet lumpuh total di sejumlah daerah. Hal ini membuat laporan orang hilang tidak dapat disampaikan secara cepat sehingga proses verifikasi dan pencocokan data berjalan lambat. Di Aceh, pemerintah mengakui bahwa data hilang dapat terus bertambah karena ada wilayah yang sama sekali belum memberikan laporan. Cuaca yang tidak stabil turut menyulitkan operasi. Hujan berulang di daerah pegunungan meningkatkan risiko longsor susulan dan banjir baru, membuat tim SAR harus menghentikan atau memindahkan operasi ke titik lain. Sungai-sungai besar seperti Batangtoru, Alas, dan aliran di Agam membawa arus kuat yang menghalangi penyisiran. Bahkan, beberapa korban diperkirakan terseret hingga kilometer jauhnya, memperluas cakupan pencarian secara signifikan. Kombinasi faktor geografi, kerusakan ekosistem, kondisi cuaca, dan keterbatasan akses ini membuat pencarian korban hilang di Sumatera menjadi operasi yang kompleks. 3. Apa upaya pemerintah dan regu penyelamat untuk mencari korban dalam bencana Sumatera? Di tengah tantangan yang besar, pemerintah pusat dan daerah melakukan berbagai upaya untuk mempercepat pencarian korban hilang maupun evakuasi korban selamat dan meninggal. Pemerintah Aceh membuka Layanan Pengaduan Orang Hilang di Media Center Kantor Gubernur. Layanan ini menjadi pusat informasi untuk menerima laporan warga dan meneruskannya ke tim lapangan. Layanan ini beroperasi setiap hari selama masa tanggap darurat dan menjadi rujukan utama bagi keluarga korban. Di seluruh wilayah terdampak, Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan sukarelawan melakukan penyisiran manual, pencarian melalui sungai, serta pengerahan alat berat untuk memindahkan material longsor. Di Agam, Sumbar, tim bahkan menyusuri Sungai Nanggang sejauh beberapa kilometer untuk menemukan korban yang diperkirakan terseret arus galodo. Dokumentasi lapangan menunjukkan tim berjalan kaki melintasi medan curam dan licin, sambil memeriksa material yang menumpuk di dasar sungai. Pemerintah pusat melalui Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa semua sumber daya negara dikerahkan. Selain operasi pencarian, pemerintah juga menyiapkan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk pembangunan hunian sementara, perbaikan jaringan listrik dan komunikasi, serta pemulihan fasilitas publik. Tahap ini dirancang berlangsung paralel dengan tanggap darurat agar kebutuhan dasar warga dapat segera terpenuhi. Upaya membuka kembali akses jalan menjadi prioritas utama karena tanpa itu, logistik dan personel sulit masuk. Di Aceh, jalur KKA sudah mulai dapat dilalui kendaraan meskipun dengan lebar jalan terbatas dan risiko amblas. Pembukaan akses ini secara langsung mempercepat penyaluran bantuan dan mempermudah mobilitas tim evakuasi. Sementara itu, rumah sakit, puskesmas, dan posko darurat menjadi pusat identifikasi jenazah. Setiap korban yang ditemukan didata, difoto, dan dicatat ciri-cirinya untuk memudahkan keluarga melakukan pencocokan. Hal ini dilakukan, misalnya, di Puskesmas Koto Alam, Sumbar, yang menjadi titik transit jenazah sebelum dibawa ke RSUD Lubuk Basung. Operasi pencarian dipastikan berlangsung setiap hari tanpa jeda. Pemerintah memastikan bahwa pencarian tidak akan dihentikan hingga seluruh laporan warga mendapatkan klarifikasi. 4. Apa yang dilakukan oleh warga untuk mencari keluarga mereka yang hilang dalam bencana Sumatera? Di tengah keterbatasan informasi, warga di Aceh, Sumut, dan Sumbar mengembangkan berbagai cara untuk menemukan anggota keluarga mereka. Di Aceh dan Sumut, ratusan warga membentuk grup Whatsapp pencarian orang hilang, yang dalam waktu dua hari telah berisi lebih dari seribu anggota. Foto korban, lokasi terakhir, dan permintaan bantuan terus dikirimkan selama 24 jam. Bagi banyak keluarga, ruang digital ini menjadi satu-satunya cara untuk mencari kabar setelah komunikasi di wilayah mereka terputus. Banyak warga juga mendatangi posko satu per satu, membawa data identitas dan ciri fisik anggota keluarga yang belum ditemukan. Laporan ini membantu petugas menelusuri apakah ada korban yang telah ditemukan, tetapi belum teridentifikasi. Antrean warga untuk melapor di Posko Tanggap Darurat Aceh menunjukkan betapa tingginya kecemasan masyarakat terhadap keselamatan keluarga mereka. Di Sumbar, upaya warga difokuskan pada pencarian langsung di lapangan. Kisah Abdul Gani menjadi gambaran bagaimana keluarga korban berkeliling dari satu lokasi ke lokasi lain sambil membawa foto anggota keluarga yang hilang. Gani mendatangi posko kecamatan, puskesmas, hingga titik evakuasi untuk melihat setiap jenazah yang masuk, berharap menemukan kepastian tentang istrinya, Marsoni. Banyak keluarga korban galodo melakukan hal serupa, berjalan kaki melintasi lumpur dan reruntuhan demi mencari petunjuk. Sebagian warga juga secara mandiri menyusuri sungai atau area permukiman yang telah rata dengan tanah. Meski tanpa perlengkapan memadai, mereka tetap membantu tim SAR mencari tanda-tanda keberadaan anggota keluarga. Motivasi mereka sederhana, tetapi penuh keteguhan, yakni menemukan keluarga mereka apa pun kondisi akhirnya agar dapat dimakamkan dengan layak. Bersama-sama, warga, sukarelawan, dan pemerintah membangun jaringan pencarian terbesar sepanjang bencana hidrometeorologi tahun ini. Meskipun dihadapkan pada situasi yang sangat sulit, harapan untuk menemukan keluarga tetap menjadi kekuatan utama yang mendorong upaya pencarian di seluruh Sumatera.
|
| Kembali ke sebelumnya |