| Judul | Bencana Siklon Tropis Senyar: Peringatan Lemahnya Mitigasi dan Efek Degradasi Alam di Sumatera |
| Tanggal | 01 Desember 2025 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Bencana alam |
| AKD |
- Komisi V |
| Isi Artikel | Bencana yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi peringatan untuk meningkatkan mitigasi terhadap ancaman siklon tropis di masa depan Oleh Debora Laksmi Indraswari Indonesia pada dasarnya bukanlah negara yang rentan terhadap ancaman siklon tropis. Akan tetapi, kondisinya telah berubah seiring tren pembentukan siklon tropis yang terus meningkat. Bencana yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi peringatan untuk meningkatkan mitigasi terhadap ancaman siklon tropis di masa depan. Siklon tropis Senyar yang menghantam wilayah perairan hingga daratan Sumatera sehingga menyebabkan bencana hidrometeorologis besar memang bukanlah hal yang wajar. Sebab, secara geografis, kemungkinannya relatif sangat kecil siklon tropis itu terbentuk di wilayah perairan sekitar Indonesia. Indonesia yang terletak di garis ekuator memiliki potensi efek gaya Coriolis yang sangat kecil. Menurut Emilya Nurjani, ahli iklim dan lingkungan Universitas Gadjah Mada, dalam paparannya, gaya Coriolis merupakan syarat terbentuknya siklon tropis. Gaya Coriolis ini menyebabkan angin bergerak membelok serta turut membentuk pusaran air yang terangkat mengikuti gerakan angin. Adapun pembentukan gaya Coriolis di area latitudo kurang dari 5 derajat dari ekuator sangat kecil kemungkinannya sehingga menyebabkan siklon tropis sulit terbentuk. Berdasarkan penelitian berjudul Tropical Cyclones: Trends, Forecasting and Mitigation, setidaknya ada 80 siklon di perairan tropis di seluruh dunia setiap tahunnya. Beberapa yang paling banyak terjadi di wilayah barat laut Samudra Pasifik dan sebagian utara Samudra Hindia. Sejumlah negara yang rentan terhadap ancaman siklon tropis di area lingkar utara Samudra Hindia adalah Bangladesh, Myanmar, Sri Lanka, dan India. Meski berbatasan langsung dengan Samudra Hindia bagian timur, wilayah Indonesia bagian barat tergolong tidak rentan terhadap ancaman siklon.
KOMPAS/NOVAN Siklon Tropis Senyar dan Anomali Cuaca Hanya saja, bukan berarti hal itu membuat wilayah Indonesia terbebas dari bencana akibat siklon tropis. Nyatanya, siklon Senyar hadir dengan membawa curah hujan tinggi sehingga menimbulkan bencana banjir dan longsor di sebagian wilayah Sumatera. Kejadian ini memang termasuk anomali, tetapi tetap menjadi penanda bahwa fenomena siklon tropis mulai sering terjadi di wilayah Indonesia. Peristiwa ini mengikuti sejumlah siklon tropis yang sebelumnya juga sempat diwaspadai menerjang sebagian wilayah Indonesia. Misalnya, siklon Seroja yang terbentuk di perairan Pulau Rote dan membuat NTT dihantam hujan lebat, banjir, dan tanah longsor pada tahun 2021 silam. Siklon itu menyebabkan 181 orang meningggal dan lebih dari 40.000 orang terdampak. Siklon tersebut hanyalah satu dari puluhan siklon tropis yang terbentuk di Indonesia dan sekitarnya. Menurut penelitian The influence of El Niño-Southern Oscillation (ENSO) on the characteristics of tropical cyclones in Indonesia waters, dalam kurun waktu 50 tahun, yakni dari 1973-2022, terdapat 2.885 siklon tropis. Bila di rata-rata, terdapat 57 siklon setiap tahun di wilayah Indonesia dan sekitarnya. Sebaran siklon tropis itu terbagi di empat wilayah di Indonesia. Wilayah pertama berada di perairan di dekat Aceh dan Sumatera Utara. Wilayah kedua merupakan daerah dengan kemunculan siklon tropis paling sering, yakni berada di sekitar perairan Laut China Selatan hingga barat Samudra Pasifik. Wilayah ketiga berada di pesisir barat Sumatera hingga Jawa bagian barat dan kawasan terakhir berada di sebagian besar Jawa-Bali hingga Indonesia timur.
Dimas
Sejumlah Siklon Tropis dan Dampaknya di Indonesia 2021-2025 Peningkatan kesiapan mitigasi bencana siklon tropis Banyaknya fenomena siklon tropis yang muncul di perairan Indonesia tidak selalu menimbulkan bencana besar seperti yang sering terjadi di Bangladesh, Myanmar, Sri Lanka, dan India. Namun, siklon Seroja (2021) yang menghantam NTT dan Senyar (2025) yang menyebabkan bencana hidrometeorologis di Sumatera harus menjadi perhatian serius untuk dilakukan langkah mitigasi secepatnya. Kesiapan mitigasi bencana dalam menghadapi siklon tropis perlu ditingkatkan karena pengetahuan masyarakat terkait ancaman siklon ini tergolong minim. Sejauh ini, BMKG memang sudah aktif memberikan peringatan dini akan keberadaan siklon tropis di perairan Indonesia termasuk dengan potensi dampak yang dihasilkan siklon. Namun, informasi peringatan dini yang diberikan belum benar-benar tersampaikan dengan baik. Masyarakat tampaknya masih awam dengan munculnya siklon tropis di Indonesia. Biasanya, hanya warga di pesisir yang sudah mengenal adanya ancaman siklon itu sehingga nelayan-nelayan untuk sementara akan berhenti melaut untuk menghindari gelombang tinggi dan badai. Belajar dari negara-negara yang rentan terhadap bencana siklon tropis tersebut, ternyata penyampaian informasi peringatan dini sangat perlu dilakukan secara masif dan lebih sering. Studi berjudul A Great Escape from the Bay of Bengal ”Super Sapphire–Phailin’’ Tropical Cyclone: A Case of Improved Weather Forecast and Societal Response for Disaster Mitigation mengungkapkan keberhasilan model prediksi dan penyebaran informasi siklon tropis di India. Selain meningkatkan kualitas model prediksi siklon tropis, penyebaran informasi tentang siklon juga dilakukan secara lebih intens. Informasi yang diberikan mencakup tingkatan dampak kerusakan yang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah. Hal ini membantu masyarakat di daerah bersangkutan untuk dapat memperkirakan besaran ancaman dari siklon tropis itu. Peringatan juga dilakukan setiap tiga jam bahkan setiap jam ketika siklon mendekati daratan. Informasi ini disebarkan melalui banyak media mulai dari televisi, media sosial, bahkan sms. Diseminasi informasi tersebut juga dilakukan melalui multiplatform, seperti radio frekuensi tinggi hingga satellite-based cyclone warning dissemination system (CWDS) agar informasi tetap tersampaikan, bahkan jika jaringan terrestrial rusak. Konferensi pers oleh institusi yang memantau pergerakan siklon dilakukan secara berkala setiap harinya selama periode pergerakan siklon di sekitar daratan India. Tidak hanya itu, Pemerintah India juga meningkatkan kapasitas manajemen bencana hingga tingkat distrik serta membangun ratusan selter khusus untuk menghadapi bencana siklon. Upaya tersebut terbukti mampu mengevakuasi hampir 1 juta orang di Odisha dan Andra Pradesh dari siklon tropis Phailin pada tahun 2013. Jumlah korban jiwa menurun drastis apabila dibanding kejadian akibat supersiklon Orisha pada tahun 1999 di mana kedua jenis siklon ini memiliki tingkat bahaya yang sama. Meminimalisasi faktor risiko lain Selain memperkuat mitigasi bencana, kesiapan menghadapi siklon tropis juga perlu dilakukan dengan meminimalisasi faktor risiko bencana lainnya, salah satunya menjaga lahan hijau dan mengurangi deforestasi. Apalagi, daya dukung lingkungan di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sudah dalam kondisi kritis akibat deforestasi hutan, pembalakan liar, dan alih fungsi lahan secara masif. Fenomena turunnya daya dukung lingkungan tersebut telah berdampak pada timbulnya bencana banjir bandang dan tanah longsor di sebagian wilayah bersangkutan. Misalnya, pada Maret 2024, banjir dan longsor melanda 12 daerah di Sumatera Barat akibat curah hujan tinggi dan degradasi lingkungan. Penurunan daya dukung lingkungan itu semakin meningkatkan faktor risiko bencana di wilayah Sumatera bagian utara yang termasuk zona paling rawan bencana hidrometeorologis. Berdasarkan Indeks Risiko Bencana 2024, kawasan Sumatera bagian utara, seperti sejumlah daerah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, termasuk dalam 10 besar daerah yang paling rawan terhadap banjir, tanah longsor, dan gelombang ekstrem. Kombinasi kerawanan itu kian memperparah dampak yang dapat ditimbulkan dari bencana siklon tropis, sama seperti yang terjadi saat ini, yakni tingginya curah hujan akibat siklon Senyar menyebabkan banjir dan longsor besar di tiga daerah tersebut. Dalam aliran banjir dan longsor itu, banyak potongan kayu besar yang ikut hanyut yang mengindikasikan masifnya pembalakan hutan di sana. Melihat tren siklon tropis yang kian sering terjadi dan menimbulkan bencana hidrometeorologis di Indonesia, upaya mitigasi bencana badai ini perlu diperkuat. Upaya preventif ini seiring dengan ancaman siklon yang kian nyata di Indonesia. Sama seperti bencana alam lainnya, sosialisasi informasi dan peringatan dini tentang munculnya siklon tropis perlu diperkuat. Upaya ini perlu dijalankan bersamaan dengan peningkatan kesiapan pemerintah daerah beserta masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana itu. Tidak kalah penting, aktivitas ekonomi yang merusak lingkungan dan meningkatkan risiko bencana alam juga harus dicegah dan ditindak secara tegas. Siklon tropis memang tidak dapat dihindari karena skala badainya besar dan kuat. Namun, dengan kesiapan dan mitigasi bencana yang menyeluruh seperti yang telah dilakukan pemerintah India, dampak dari bencana siklon dapat diminimalkan. (LITBANG KOMPAS) |
| Kembali ke sebelumnya |