| Judul | Pemanfaatan Informasi Geospasial untuk Memperkuat Mitigasi Bencana Belum Optimal |
| Tanggal | 12 Desember 2025 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Bencana alam |
| AKD |
- Komisi V |
| Isi Artikel | Bencana di Sumatera sangat mematikan dan merusak. Korban jiwa mendekati 1.000 orang. Ini jadi momentum mengoptimalkan informasi geospasial untuk memperkuat mitigasi. Oleh Tatang Mulyana Sinaga JAKARTA, KOMPAS — Informasi geospasial menunjukkan terjadi alih fungsi lahan di sekitar kawasan terdampak bencana banjir dan longsor di Sumatera. Kawasan hutan yang beralih fungsi mengurangi kemampuan infiltrasi (menyerap air) sehingga rentan memicu banjir. Sayangnya, pemanfaatan informasi geospasial untuk memperkuat mitigasi bencana belum optimal. Koordinator Tim Riset Pusat Riset Analisis dan Penerapan Informasi Geospasial (Center for Analysis and Applying Geospatial Information/Cenago) Institut Teknologi Bandung Heri Andreas mengatakan, bencana yang menerjang wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pada akhir November lalu bukan semata-mata bencana alam. Sebab, ada kontribusi aktivitas manusia yang membuat dampaknya sangat besar. ”Dari analisis sementara, bencana ini disebabkan kombinasi faktor alam dengan ulah manusia. Makanya disebut sebagai hybrid disaster (bencana campuran),” ujarnya dalam diskusi kelompok terpumpun ”Membaca dan Memahami Banjir Sumatera 2025 untuk Evaluasi Upaya Mitigasi dan Early Warning Bencana yang Lebih Baik”, di Jakarta, Jumat (12/12/2025). Faktor alam turut dipicu oleh siklon Senyar yang menjadi anomali di kawasan ekuator. Presipitasi akibat siklon ini dapat menyebabkan curah hujan ekstrem (150-300 milimeter) hingga sangat ekstrHeri menuturkan, penyerapan air di kawasan terdampak bencana disinyalir tidak maksimal. Imbasnya, run off (air mengalir di permukaan) menjadi sangat besar. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya banjir. Alih fungsi lahan juga memicu peningkatan sedimentasi. Hal ini mengurangi kapasitas daya tampung, baik itu sungai, danau, maupun obyek penampung air lainnya. Aliran air pun meluap ke permukiman warga.em (di atas 300 mm). ”Di sini hipotesis kuat dapat dibuat berkaitan dengan banjir besar yang disertai longsor di Sumatera, yaitu melibatkan cuaca ekstrem akibat siklon Senyar serta kurangnya infiltrasi dan daya tampung akibat alih fungsi lahan. Makanya, banjir ini bukanlah bencana alam,” jelas Heri. Alih fungsi lahan itu sejalan dengan temuan analisis Tim Jurnalisme Data Kompas yang mengungkap hutan di Aceh, Sumut, dan Sumbar menyusut 1,2 juta hektar atau lenyap hampir 100 hektar setiap hari selama tiga dekade. Selama 1990-2024, hilangnya hutan di tiga provinsi itu rata-rata 36.305 hektar per tahun. Jika dikonversikan per hari, ditemukan angka sekitar 99,46 hektar hilang per hari (Kompas, 12/12/2025). Penyusutan hutan menjadi 690.777 hektar lahan sawit, kawasan tambang 2.160 hektar, kawasan perkotaan 9.666 hektar, hutan tanaman industri (HTI) 69.733 hektar. Sisanya, sekitar 1 juta hektar, merupakan lahan seperti pertanian, hutan bakau, dan karamba. Informasi geospasial yang diperoleh melalui citra satelit dan berbagai sumber lainnya menggambarkan alih fungsi hutan tersebut dari waktu ke waktu. Data ini sebenarnya dapat diguTim Cenago juga melakukan uji petik di beberapa lokasi terdampak bencana. Sampel pada 2019 menunjukkan daya infiltrasi lahan yang masih hijau yang didominasi kawasan hutan mencapai 70-80 persen. Akan tetapi, tiga tahun berselang, terjadi alih fungsi lahan yang cukup masif sehingga daya infiltrasinya menurun drastis menjadi 20-30 persen. Pada 2023, alih fungsi lahan semakin meluas sehingga menjadi indikator kerentanan terhadap banjir dan longsor.nakan untuk memetakan risiko bencana di kawasan sekitar daerah aliran sungai. ISMAWADI Peta Tutupan Lahan Hutan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat Tahun 2024 ”Semoga, ini bisa menjadi momentum memanfaatkan informasi geospasial lebih luas lagi untuk memperkuat mitigasi bencana. Sebab, berbagai data yang berkaitan dengan faktor risiko bencana bisa digambarkan dengan jelas,” ucapnya.
Prakirawan senior Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Muhammad Hakiki, menyebutkan, informasi geospasial sangat penting untuk menggambarkan potensi bencana hidrometeorologi di suatu kawasan. Ia berharap informasi itu dapat dimaksimalkan untuk menyusun langkah-langkah mitigasi bencana. ”Kami di BMKG juga selalu menginformasikan potensi cuaca ekstrem yang mungkin bisa memicu bencana. Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat terkait risiko bencana ini harus terus ditingkatkan,” katanya. Hingga Jumat pukul 19.30, bencana di Sumatera telah merenggut lebih dari 900 korban jiwa dan lebih dari 200 orang belum ditemukan. Bencana ini juga merusak ratusan ribu rumah, 219 fasilitas kesehatan, 581 fasilitas pendidikan, dan 145 jembatan. |
| Kembali ke sebelumnya |