| Judul | Mewaspadai Bencana Hidrometeorologi di Akhir Tahun |
| Tanggal | 24 Desember 2025 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Bencana alam |
| AKD |
- Komisi V |
| Isi Artikel | Tak sekadar liburan, akhir tahun juga menjadi momentum untuk tetap mewaspadai bencana hidrometeorologi. Oleh Andreas Yoga Prasetyo Mayoritas bencana di Indonesia didominasi hidrometeorologi. Informasi dari Geoportal Data Bencana Indonesia di laman Badan Nasional Penganggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan, sejak 1 Januari 2025 hingga 17 Desember 2025 sudah terjadi 3.116 bencana di Indonesia. Bencana tersebut mengakibatkan sedikitnya 1.498 orang meninggal, 264 orang hilang, 7.751 orang luka-luka, dan 10,27 juta orang mengungsi. Dari 3.116 bencana di Indonesia tersebut, mayoritas (99 persen) merupakan bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan cuaca ekstrem. Bencana hidrometeorologi merupakan bencana alam yang terjadi akibat adanya fenomena meteorologi atau cuaca, seperti curah hujan, kelembaban, temperatur, dan angin. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya bencana banjir, tanah longsor, puting beliung, gelombang tinggi, gelombang panas, kekeringan, serta kebakaran hutan dan lahan. Tren dominannya bencana hidrometeorologi ini terpantau sedikitnya sejak satu dekade terakhir. Data BNPB juga memperlihatkan sejak 2015 hingga 2025, bencana hidrometeorologi selalu dominan terjadi dengan persentase di atas 97 persen. Lainnya merupakan bencana geologi, seperti gempa bumi atau erupsi gunung api. Dominannya bencana hidrometeorologi juga terjadi pada masa akhir tahun (Desember). Pada Desember 2024, misalnya, terjadi 226 bencana yang dominan merupakan bencana hidrometeorologi (99,12 persen). Bencana paling banyak terjadi ialah banjir, yakni 147 kejadian, disusul cuaca ekstrem (50 kejadian) dan tanah longsor (24 kejadian). Hal serupa terjadi pada Desember 2023. Terjadi 201 bencana dengan urutan terbesar ialah banjir (121 kejadian), cuaca ekstrem (48 kejadian), dan tanah longsor (27 kejadian). Tren bencana yang sama juga muncul sejak 2016. Pada Desember 2016 terjadi 187 kejadian bencana dengan jenis terbanyak ialah puting beliung, tanah longsor, dan banjir. Selanjutnya pada Desember 2017 terjadi 192 bencana, Desember 2018 (255 bencana), serta Desember 2019 (337 bencana) dengan kejadian terbanyak ialah puting beliung, tanah longsor, dan banjir. Bencana hidrometeorologi juga masih mendominasi pada Desember 2022 (234 kejadian bencana), selanjutnya Desember 2021 (406 bencana), dan Desember 2020 (259 bencana). Tiga bencana terbanyak sepanjang 2020-2022 tersebut ialah banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor. Hanya saja, bencana yang terjadi tiap Desember tersebut bukanlah yang terbesar pada setiap tahunnya. Merujuk laman Geoportal Data Bencana Indonesia BNPB, sejak 2015 hingga 17 Desember 2025, bencana terbanyak yang terjadi di Indonesia lebih sering terjadi pada bulan Februari dan Januari. Musim hujan di akhir tahun Meski tidak selalu menjadi bencana yang paling banyak terjadi pada setiap tahunnya, munculnya kejadian bencana di akhir tahun (Desember) patut untuk diwaspadai. Beberapa bencana besar di Indonesia terjadi pada akhir tahun seperti gempa disertai tsunami Flores (Desember 1992) dan gempa yang diiikuti tsunami Aceh-Nias (Desember 2004). Tahun ini, sejumlah banjir besar telah melanda pada Desember 2025 ini, seperti banjir di sekitar obyek wisata Guci, Tegal (Jateng), Bima (NTB), dan Bolaang Mongondow (Sulut). Datangnya musibah hidrometeorologi ini tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya curah hujan pada akhir tahun. Data prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) selalu memberikan alarm adanya peningkatan curah hujan pada Desember-Februari. Pada periode Desember 2020-Februari 2021, misalnya, BMKG telah memberikan sinyal kewaspadaan akan bencana hidrometeorologi pada akhir tahun hingga awal Tahun Baru. Saat itu BMKG memberikan prediksi dampak curah hujan tinggi akibat musim hujan dan pengaruh La Nina. Pada Desember 2020 terjadi 111 banjir dan 65 tanah longsor. Beberapa kejadian banjir besar saat itu melanda Kabupaten Lombok Barat (NTB), Kabupaten Kolaka Utara (Sultra), lima kabupaten di Aceh, tiga daerah di Sumut, serta Cirebon dan Bandung Raya (Jabar). Demikian pula pada periode Desember 2022. BMKG mengeluarkan peringatan akan intensitas hujan tinggi terutama di sebagian wilayah Banten, Jabar, Jateng, Kalbar, dan Sulsel. Adanya fenomena La Nina membuat curah hujan semakin tinggi dengan puncak musim hujan terjadi pada pekan ketiga Desember 2022. Kondisi ini menyebabkan terjadinya 116 banjir dan 26 kejadian tanah longsor sepanjang Desember 2022. Bencana lanjutan terpantau masih terjadi pada Januari 2023 dengan 117 kejadian banjir dan 77 tanah longsor. Ismawadi Infografik Desember 2025 ini, BMKG mengeluarkan peringatan serupa. Menurut prakiraan cuaca BMKG, pada Desember 2025-Januari 2026 fase puncak musim hujan akan terjadi di wilayah Indonesia, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulsel dan Kalimantan. Dinamika atmosfer mulai dari aktifnya monsun Asia dan bibit siklon tropis berpotensi meningkatkan intensitas hujan. Para pelaku perjalanan perlu mewaspadai hujan lebat yang diperkirakan terjadi pada 15-22 Desember 2025 atau bertepatan dengan pergerakan arus mudik Natal dan Tahun Baru. Curah hujan diperkirakan kembali meningkat pada 29 Desember 2025-10 Januari 2026 yang bersamaan dengan momentum arus balik liburan Natal dan Tahun Baru. Kewaspadaan akan terjadinya bencana, terutama hidrometeorologi, pada akhir tahun perlu terus ditingkatkan mengingat tingkat risiko bencana di kabupatan/kota di Tanah Air. Indeks Risiko Bencana Indonesia 2024 yang disusun BNPB menyebutkan terdapat tiga jenis bencana dengan risiko tinggi di Indonesia, yakni kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, serta banjir. Secara khusus untuk banjir, terdapat 321 kabupaten/kota atau 62 persen wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat risiko tinggi terjadinya bencana banjir. Data kejadian bencana dan tingkat risiko bencana tersebut memperlihatkan Indonesia merupakan negara yang rentan mengalami bencana alam. Tingkat kerawanan bencana ini menuntut upaya memperbaiki aspek kerentanan (vulnerability) terutama dari sisi lingkungan. Kondisi ekosistem dan degradasi lingkungan harus lebih banyak dipulihkan untuk mencegah datangnya bencana yang mematikan. Dalam konteks masa healing akhir tahun yang berdekataan dengan masa libur Natal dan Tahun Baru, kerentanan bencana ini juga harus menjadi momentum untuk tetap mewaspadai datangnya bencana hidrometeorologi. BNPB pada 8 Desember 2025 telah memberikan alarm agar pelaku perjalanan libur Natal dan Tahun Baru meningkatkan kewaspadaan di lokasi wisata terutama di kawasan pantai, sungai, dan pegunungan. Kerawanan bencana yang harus terus dipantau ialah potensi kenaikan debit air sungai, banjir kiriman, gelombang tinggi, hingga tanah bergerak. Mitigasi dan kecermatan memilih tempat liburan juga diperlukan agar momentum kebersamaan keluarga dapat dilakukan secara aman tanpa gangguan bencana dan kesehatan. (LITBANG KOMPAS) |
| Kembali ke sebelumnya |