Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Hasil TKA dan Krisis Berpikir Kritis
Tanggal 03 Januari 2026
Surat Kabar Kompas
Halaman -
Kata Kunci Pendidikan
AKD - Komisi X
Isi Artikel

Hasil tes kemampuan akademik memotret masalah serius mutu pembelajaran dan cermin masalah sistemik pendidikan yang belum mampu membangun kemampuan berpikir kritis.

Oleh MB Dewi Pancawati

Hasil tes kemampuan akademik jenjang sekolah menengah atas atau kejuruan dan yang sederajat yang telah dirilis dan dapat diakses per 26 Desember 2025 melalui laman tka.kemendikdasmen.go.id/hasiltka merupakan cermin jujur mutu pembelajaran di Tanah Air.

Dari rentang nilai 0-100, tiga mata pelajaran inti atau wajib yang diujikan mencatatkan nilai rata-rata di bawah 60, bahkan dua mata pelajaran nilainya mengkhawatirkan, yaitu di bawah 40.

Secara nasional dengan menggabungkan sekolah negeri dan swasta, capaian nilai rata-rata Bahasa Indonesia adalah 55,38, Matematika hanya 36,10, dan Bahasa Inggris lebih rendah lagi di angka 24,93.

Dari sekitar 3,5 juta siswa kelas 12 SMA/K dan sederajat yang mengikuti tes, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia sebanyak 81,4 persen masuk kategori ”istimewa” dan ”baik” dengan proporsi yang hampir seimbang di kisaran 40 persen. Sebanyak 15 persen lainnya dikategorikan ”memadai” dan hanya 3,6 persen yang masuk kategori ”kurang”.

Hal sebaliknya terjadi pada mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris. Distribusi capaian nilai Matematika hampir separuh (44,7 persen) siswa berada di kategori ”kurang”, sebanyak 33,9 persen ”memadai”, lalu 19,2 persen di kategori ”baik”, dan hanya 2,2 persen yang mencapai nilai ”istimewa”.

Demikian pula dengan capaian nilai Bahasa Inggris, sebanyak sepertiga (33,8 persen) siswa masuk kategori ”kurang”, kemudian 39,5 persen yang ”memadai”, 26 persen di kategori ”istimewa”, dan ”baik” dengan masing-masing di kisaran 13 persen.

Artinya, delapan dari sepuluh siswa tidak mencapai kategori baik dan istimewa pada mata pelajaran Matematika, sedangkan untuk Bahasa Inggris proporsinya tujuh dari sepuluh siswa.

Ketimpangan capaian antarmata pelajaran ini menegaskan persoalan struktural dalam sistem pendidikan nasional yang belum mampu menguatkan literasi, numerasi, dan bahasa asing secara merata.

Pemetaan hasil TKA

Rendahnya skor bukan sekadar persoalan rata-rata, melainkan merupakan gambaran masalah massal yang dialami mayoritas siswa. Hal ini juga terpotret ketika data dibedah dan dibandingkan antara capaian siswa sekolah negeri dan swasta.

Berdasarkan status sekolah, perbedaan capaian nilai antara sekolah negeri dan swasta memang ada, tetapi tidak cukup signifikan untuk menutup persoalan utama.

Secara umum, capaian nilai ketiga mata pelajaran wajib hampir seimbang dengan nilai sekolah negeri di atas sekolah swasta. Pada Bahasa Indonesia, nilai rata-rata sekolah negeri 56,42 sementara sekolah swasta 53,91.

Sementara pada pelajaran Matematika, rata-rata sekolah negeri 36,62, hanya sedikit lebih tinggi dibandingkan swasta 35,36. Bahasa Inggris pun serupa, nilai 25,15 di sekolah negeri dan 24,61 di sekolah swasta.

Fakta ini penting karena menunjukkan rendahnya capaian bukan semata persoalan pengelolaan sekolah tertentu, melainkan problem sistemik lintas jenis sekolah.

Persoalan sistemik itu juga tecermin dalam peta antardaerah. Jika ditelisik lebih dalam capaian nilai per provinsi, terlihat provinsi-provinsi di Pulau Jawa seperti Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jakarta, dan Jawa Tengah berada di tiga besar papan atas untuk nilai Matematika.

Infografik-Rata-Rata Nilai TKA Tiga Mata Pelajaran Utama Tingkat SMA dan Sederajat
Dimas/Infografik

DIY mencatatkan nilai Matematika tertinggi dengan rata-rata 41,14, diikuti Jakarta 38,79, kemudian Jawa Tengah 37,56. Hanya sedikit (12 provinsi) yang mencapai nilai di atas rata-rata nasional untuk Matematika, demikian pula untuk capaian nilai Bahasa Inggris. Tiga provinsi dengan nilai tertinggi untuk Bahasa Inggris yaitu Jakarta (31,87), Bali (28,86), dan DIY (28,36).

Di sisi lain, provinsi-provinsi di kawasan timur Indonesia menghadapi tantangan berlapis. Nusa Tenggara Timur (NTT), misalnya, hanya mencatat rata-rata 31,82 untuk Matematika, bahkan terendah untuk Bahasa Inggris di nilai 19,19.

Papua Pegunungan berada pada titik terendah pelajaran Bahasa Indonesia dengan skor 42,08, di samping itu nilai Matematika dan Bahasa Inggrisnya juga rendah.

Di NTT, rendahnya nilai Matematika dan Bahasa Inggris bisa jadi dipengaruhi oleh rendahnya indeks literasi. Indeks literasi untuk tingkat SMA tahun 2024 pada kategori baik hanya 24,7 persen sekolah, kategori sedang 25,80 persen, kategori kurang 25,36 persen, dan kategori paling rendah dari semua kategori 24,15 persen.

Rendahnya literasi di NTT terlihat pada temuan masih banyak siswa yang hingga SMA belum lancar membaca. Kondisi tersebut membuat siswa mengalami kesulitan untuk memahami konteks soal-soal Matematika maupun Bahasa Inggris.

Infografik-Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tiga Mata Pelajaran Utama
Dimas/Infografik
 
Refleksi kebijakan

Ketimpangan dan capaian hasil TKA semakin menguatkan temuan berbagai asesmen internasional, seperti Programme for International Student Assessment (PISA). Meski tidak bisa dibandingkan karena berbeda tujuan dan cakupan, hasil TKA bisa dianggap sebagai cerminan atau konfirmasi dari hasil PISA.

Selama lebih dari dua dekade pelaksanaan PISA, secara konsisten menunjukkan kelemahan Indonesia pada literasi Matematika. Kelemahan itu terutama pada aspek penalaran, pemahaman konteks, dan pemecahan masalah nonrutin.

PISA 2022, misalnya, kembali menegaskan bahwa sebagian besar siswa Indonesia masih berada pada level kemampuan dasar, bahkan kesulitan memahami teks sederhana dan menerapkan konsep numerasi dalam konteks sehari-hari.

Kelemahan berulang yang terpotret dari hasil PISA tersebut semestinya sudah menjadi bahan evaluasi dan pembenahan mutu pembelajaran dua dekade terakhir.

Alih-alih mempercepat penguatan literasi numerasi dan bahasa serta mendorong reformasi pembelajaran, temuan hasil PISA belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kebijakan yang menyentuh akar persoalan, misalnya dengan investasi serius pada guru, kurikulum yang fokus pada kompetensi dasar, dan pemerataan kualitas sekolah.

Pemerintah sebenarnya telah memiliki instrumen diagnosis melalui Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), yang dirancang untuk memotret mutu satuan pendidikan melalui Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), survei karakter, dan survei lingkungan belajar.

Infografik-Perbandingan Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA)
Dimas/Infografik

ANBK juga menempatkan literasi dan numerasi sebagai fondasi, sejalan dengan pendekatan PISA. Namun, capaian literasi dan numerasi khususnya pada individu masih menjadi ”pekerjaan rumah” yang harus terus diperbaiki.

Temuan hasil TKA 2025 menjadi alat refleksi kebijakan, terutama memperbaiki persoalan di hulu, seperti ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah. Dalam kondisi seperti ini, standar yang sama pada pelaksanaan TKA tidak otomatis menghasilkan keadilan, justru semakin menampakkan jurang kesenjangan.

Ke depan, TKA perlu diiringi dengan kebijakan yang memperkecil kesenjangan wilayah. Selain itu, membangun sistem pendidikan yang berpihak pada pemahaman untuk membentuk budaya berpikir rasional dan analitis.

Karena ketika masih banyak peserta didik yang merasa asing dengan soal berbasis penalaran, itu pertanda bahwa proses belajar di sekolah belum sepenuhnya membangun kemampuan berpikir kritis.

TKA semestinya dipahami sebagai cermin pembelajaran nasional untuk melihat di mana sistem pendidikan kita belum berhasil membangun kemampuan berpikir kritis. Dengan begitu, TKA dapat menjadi alat perubahan yang berharga. (LITBANG KOMPAS)

 

  Kembali ke sebelumnya