| Judul | Superflu yang Mendunia |
| Tanggal | 03 Januari 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | 13 |
| Kata Kunci | Flu |
| AKD |
- Komisi IX |
| Isi Artikel | Varian virus penyebab flu makin beragam. Kini, ramai diberitakan jenis flu yang cepat menular dibandingkan flu umumnya. Media asing menyebutnya superflu. Oleh Redaksi Superflu bukan istilah medis resmi. Sejumlah media asing di Amerika Serikat dan Inggris menyebutnya superflu untuk menggambarkan flu jenis ini lebih cepat menular ke banyak orang di banyak negara. Kegelisahan publik sempat muncul karena warga dunia berpengalaman dengan pandemi Covid-19 tahun 2020-2023 yang menyebabkan banyak kematian. Di kalangan medis, superflu yang banyak diperbincangkan masyarakat itu masih tergolong penyakit influenza atau flu. Virus influenza menyebabkan infeksi pernapasan akut. Penyakit influenza ini menyebar secara global dan berjangkit sepanjang tahun. Di daerah beriklim sedang, influenza musiman biasanya mencapai puncaknya selama bulan-bulan musim dingin. Di daerah tropis, virus influenza dapat beredar sepanjang tahun dengan musim dan intensitas yang bervariasi di beberapa negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, terdapat empat tipe virus influenza, yaitu tipe A, B, C, dan D. Virus influenza A dan B menyebabkan epidemi penyakit musiman. Virus influenza A diklasifikasikan ke dalam beberapa subtipe. Saat ini yang menular ke manusia adalah virus influenza subtipe A(H1N1) dan A(H3N2). Subtipe virus influenza ini diklasifikasikan lagi ke dalam beberapa klad dan subklad. Virus A(H3N2) adalah virus yang terus berevolusi dari waktu ke waktu. Penyebab superflu yang sekarang sedang ramai diberitakan adalah virus influenza A(H3N2) subklad K. Influenza A(H3N2) subklad K mulai terdeteksi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) pada Agustus 2025. Sejak itu, WHO mencatat peningkatan pesat kasus ini di beberapa negara. Influenza A(H3N2) subklad K sudah terdeteksi di 80 negara. Adapun di Asia, penyakit ini telah dilaporkan di China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Thailand, dan Indonesia. Di Indonesia, hingga 31 Desember 2025, tercatat 62 kasus influenza A(H3N2) subklad K yang tersebar di delapan provinsi. Jumlah kasus terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasus dialami perempuan dan anak-anak (Kompas, 2/1/2026). Meskipun subklad K ini menunjukkan evolusi yang signifikan di antara virus influenza A(H3N2), data epidemiologi terkini yang dimiliki WHO tidak menunjukkan peningkatan keparahan penyakit. Gejala penyakit yang muncul di Indonesia, seperti diungkapkan pejabat Kementerian Kesehatan, dapat dibilang tergolong ringan seperti gejala flu biasanya. Gejala yang muncul di antaranya demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan. Oleh karena itu, kita tidak perlu panik dengan berita merebaknya superflu. Meskipun demikian, penyakit ini tidak bisa juga dipandang remeh. Influenza mudah menular antarmanusia ketika batuk atau bersin. Penyakit influenza dapat menyebabkan penyakit mulai dari yang bergejala ringan hingga berat. WHO mengingatkan, meskipun sebagian besar individu dapat sembuh tanpa perawatan, influenza dapat menyebabkan komplikasi serius termasuk kematian. Komplikasi serius dapat terjadi terutama di antara kelompok berisiko tinggi, seperti anak-anak, kelompok lansia, perempuan hamil, dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Pengalaman Covid-19 memberi pelajaran bagaimana kita mencegah penyakit dari virus yang mudah menular. WHO tetap menyarankan imunisasi influenza sebagai perlindungan terbaik bagi masyarakat untuk terhindar dari penyakit flu. Kemenkes perlu terus mengedukasi masyarakat tentang perkembangan penyakit menular ini. Kita juga dapat menjalankan imbauan Kemenkes agar menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga daya tahan tubuh, serta menggunakan masker jika sakit flu.
|
| Kembali ke sebelumnya |