| Judul | Penggulingan Maduro Disambut Berbeda Diaspora Venezuela |
| Tanggal | 05 Januari 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Amerika |
| AKD |
- Komisi I |
| Isi Artikel | Penculikan Maduro belum tentu membawa Venezuela kembali ke jalan demokrasi. Diaspora Venezuela di Eropa dan Amerika mengutarakan harapan dan kekhawatiran mereka. Oleh Laraswati Ariadne Anwar embahas masalah pengungsi, masyarakat Indonesia mungkin lebih kenal dengan kasus para pengungsi dari Suriah, Palestina, dan Rohingya di Myanmar. Padahal, di Benua Amerika, Venezuela merupakan bagian dari persoalan pengungsi global yang juga sangat serius. Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat, Venezuela adalah negara sumber pengungsi kedua terbesar sesudah Suriah. Sebanyak 7,7 juta atau 20 persen dari warga Venezuela mengungsi. Gelombang ini berawal dari tahun 1998 ketika Hugo Chavez terpilih sebagai presiden. Gelombang membeludak pada 2014, yaitu ketika Nicolas Maduro memimpin Venezuela, meneruskan Chavez yang meninggal akibat kanker. Melihat peta persebaran diaspora Venezuela juga menarik. Mayoritas pengungsi Venezuela kini tinggal di negara-negara Amerika, antara lain Amerika Serikat, Kolombia, dan Peru. Kolombia menampung 2,8 juta imigran Venezuela dan Peru menampung 1,6 juta orang. Akan tetapi, pengungsi dari kelas menengah ke atas atau yang terpelajar mayoritas berada di Spanyol. Jumlah mereka ”hanya” 600.000 orang. Perang melawan kelas atas Kisah mereka bermula pada 1998 ketika Hugo Chavez terpilih menjadi Presiden Venezuela. Ia membawa visi dan misi Bolivarianisme. Ideologi ini diciptakan oleh Simon Bolivar (1783-1830), Bapak Bangsa Amerika Latin. Bolivar adalah pembebas negara-negara di Amerika Latin, yaitu Venezuela, Bolivia, Panama, Peru, Ekuador, dan Kolombia, dari penjajahan Spanyol. Dari namanya, di Amerika Latin berkembang ideologi Bolivarianisme. Pemaknaannya bervariasi, tergantung dengan negaranya. Benang merah dari Bolivarianisme ini adalah pandangan sosialis yang menentang imperialisme. Dalam kacamata Bolivarianisme, suatu negara harus bisa mandiri dan berswasembada. Melansir Boston Globe, 17 Desember 2002, Chavez dalam kampanye politiknya membuat pemaknaan Bolivarianisme-nya sendiri yang kemudian dikenal dengan pandangan Chavista. Ia memaknainya sebagai pandangan ekstrem kiri, di antaranya anti-imperialisme dan kuatnya peran negara. Ketika memenangi pemilihan umum, ia mengamendemen konstitusi Venezuela. Dalam Undang-Undang Dasar 1999, nama Venezuela pun resmi menjadi Republik Bolivar Venezuela. Namun, terlepas dari indahnya ideologi tersebut, dalam pelaksanaannya, Chavez otoriter. Lawan-lawan politik dipenjarakan. Rakyat tidak bisa mengemukakan kebebasan pendapat. Lambat laun, sebagian rakyat Venezuela pun terbangun dari angan-angan Chavista. Chavez melanjutkan nasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak di Venezuela. Hal ini sejatinya sudah dilangsungkan sejak tahun 1976. Akan tetapi, pendekatan Chavez berbeda. Ia memilih jalan keras dan mengusir perusahaan–perusahaan asing sebagai ekspresi melawan dominasi asing. Padahal, di pemerintahan sebelumnya, diterapkan skema kerja sama antara badan usaha milik neg Akibat keputusan Chavez dan hengkangnya perusahaan asing—termasuk dalam sektor energi—arus investasi ke Venezuela macet. Padahal, 93 persen ekonomi Venezuela bergantung pada ekspor minyak. Produksi minyak pun anjlok dari 3 juta barel per hari menjadi 1 juta barel. Bersama itu, anjlok pula perekonomian negara dan kesejahteraan masyarakat.
Marah dikritik karena kekeliruannya menangani ekonomi, Chavez menyatakan perang terhadap kelas menengah dan kelas atas Venezuela pada 2010. Chavez menuduh, justru kelas borjuislah yang menjadi penyebab lebarnya jurang kesenjangan sosial. Situasi ini yang kemudian membuat semakin banyak warga Venezuela kelas menengah dan atas meninggalkan tanah airnya. Mereka awalnya pelan-pelan mulai pergi pada tahun 1999. Pada 2002, ada kudeta gagal terhadap Chavez. Sikap Chavez pun semakin keras terhadap kalangan menengah dan atas. Mereka memilih berimigrasi ke Spanyol. Alasannya, karena Venezuela berbahasa nasional bahasa Spanyol sehingga tidak perlu menyesuaikan pola komunikasi. Selain itu, warga yang berpindah ke Spanyol umumnya dari kalangan terdidik. Di Spanyol, mereka bekerja antara lain sebagai wartawan, guru, dan insinyur.ara dengan perusahaan asing. Dalam artikel harian El Pais, 22 Januari 2020, komunitas Venezuela pertama yang bermigrasi ke Spanyol adalah para insinyur, terutama di bidang perminyakan. Per 2008, mayoritas dari mereka bekerja di perusahaan minyak Tecnicas Reunidas. Jumlah diaspora Venezuela di Spanyol adalah nomor dua terbanyak setelah Maroko. Fakta bahwa mayoritas bekerja di sektor formal berarti mereka memiliki daya beli yang cukup. Artikel El Pais itu menceritakan Jose Luis Marin dan menantunya, Fernando Rodriguez. Keduanya adalah imigran dari Venezuela dengan keahlian membuat keju. Pada 2008, mereka masih menjual keju langsung ke komunitas-komunitas Venezuela di Madrid. Pada 2020, mereka memiliki perusahaan pembuat keju dengan jumlah pegawai 120 orang. Mereka memasok keju ke sejumlah pasar swalayan, antara lain Carrefour dan El Corte. Perbedaan reaksi Situasi yang berbeda dialami diaspora Venezuela di Amerika. Penelitian Universitas Vanderbilt mengenai imigran Venezuela di AS, Kolombia, dan Peru mengungkapkan, sebagian besar tidak mampu mengakses pekerjaan formal. Walhasil, mereka harus berjuang keras memenuhi kebutuhan hidup. Apalagi, di AS, sejak Donald Trump menjadi presiden untuk masa jabatan 2025-2029, ia mencabut hak suaka untuk 600.000 diaspora Venezuela. Mereka terancam dideportasi ke Venezuela. Puncak gelombang migran Venezuela dimulai pada 2014, setelah kematian Chavez. Chavez menunjuk Nicolas Maduro sebagai penggantinya. Sikap otoriter Maduro melebihi Chavez, sampai-sampai rakyat cilik tidak tahan. Perekonomian yang karut-marut mendorong rakyat kecil berusaha mencari penghidupan yang lebih baik di luar negeri. Eksodus pengungsi Venezuela pun dimulai. Mereka menyeberangi hutan dan sungai demi mencapai negara-negara tetangga. Organisasi Migran Internasional (IOM) menyoroti ketidakadilan yang dialami para migran Venezuela. Di Benua Amerika, mereka menyumbang setidaknya 10,6 miliar dollar AS meskipun tidak dalam sektor formal. Mereka membanting tulang, tetapi tidak bisa mengakses pendidikan, perbankan, layanan kesehatan, dan asuransi yang layak. Kajian IOM ini mencakup Kolombia, Panama, Ekuador, Chile, Kosta Rika, Republik Dominika, Aruba, dan Peru. Terungkap, rata-rata migran Venezuela menyumbang 3 persen pendapatan negara. Sejumlah migran berhasil mengembangkan usaha menengah, terutama di bidang kuliner. Di Panama, rumah-rumah makan Venezuela mempekerjakan total 40.000 orang. Ketika Maduro jatuh oleh serangan AS, tanggapan dua kelompok diaspora Venezuela itu berbeda. Di AS dan Kolombia, diaspora Venezuela bersukacita mendengar Maduro ditangkap oleh militer AS pada Sabtu (3/1/2026). Mereka turun ke jalan dan merayakannya dengan mengibarkan bendera Venezuela dan AS. Banyak pula yang membawa spanduk bertuliskan ”Gracias, Trump” (terima kasih, Trump). Mereka mengatakan, lengsernya Maduro memberi harapan bagi diaspora Venezuela bisa kembali ke tanah air. Keinginan mereka ialah pemerintahan baru segera dibuat. Kalau bisa, pemerintahan ini dipimpin oleh Edmundo Gonzalez Urrutia, pemenang sah pemilu 2024 yang diserobot oleh Maduro. ”Saya punya tiga anak yang lahir di AS. Saya akan segera membeli tiket pesawat dan membawa mereka pulang ke Venezuela supaya mereka tahu kampung halaman,” tutur Nora Villamarin, imigran Venezuela di Miami, Florida, AS, kepada media WLRN. Sebaliknya, di Spanyol, antara lain dilaporkan oleh Telecinco dan La Nacion, diaspora Venezuela cenderung menahan euforia atas penangkapan Maduro. Mereka merayakannya, tetapi tidak mau terlalu tinggi menggantungkan harapan. ”Pembebasan Venezuela ini tidak dilakukan secara gratis oleh AS. Trump pasti menginginkan sesuatu dari Venezuela,” kata Emirbis Garcia, diaspora Venezuela, kepada kantor berita ANSA. Pemikiran itu membayangi komunitas diaspora Venezuela di Spanyol. Mereka mengatakan tidak menyiapkan rencana untuk pulang ke tanah air sampai situasi politik benar-benar aman dan stabil. Ukurannya bukan hanya dari ketenangan, tetapi juga kepastian bahwa demokrasi dan kebebasan berekspresi diterapkan. Jika ketengangan diperoleh melalui kesepakatan Trump dengan rezim Chavista, bagi diaspora Venezuela, ini masih percuma. Sementara itu, di Caracas, ibu kota Venezuela, tidak ada suasana bersukacita seperti di luar negeri. Jalanan sepi. Warga hanya pergi ke pasar, toserba, atau tempat pengisian bensin. Tidak ada yang nongkrong di kafe atau jajan di kios-kios sepanjang trotoar. Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez, yang menjadi presiden interim, mengajak Trump berunding. Sebelumnya, Trump mengancam menyerang Venezuela lagi jika tidak mematuhi kemauan AS. Awalnya, Rodriguez menolak tunduk, lalu berubah sikap dengan mengajak Trump bertemu. Dunia tidak melihat ini berarti Venezuela berubah 180 derajat dan demokrasi kembali bersemi. Mengingat watak Trump sebagai seorang pengusaha dan Rodriguez bersama jajaran pejabat adalah Chavista garis keras, Washington dan Caracas akan melakukan tawar-menawar. Hasilnya kemungkinan besar tidak sepenuhnya memenuhi keinginan rakyat Venezuela.
|
| Kembali ke sebelumnya |