Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Serangan AS Ungkap ”Hubungan Gelap” Kuba-Venezuela Sejak Castro-Chávez
Tanggal 08 Januari 2026
Surat Kabar Kompas
Halaman 4
Kata Kunci Amerika Serikat
AKD - Komisi I
Isi Artikel

Venezuela-Kuba punya ”hubungan gelap” dalam militer. Itu baru ketahuan setelah Kuba membuka identitas 32 personel militer yang tewas saat serangan AS ke Venezuela.

Oleh Luki Aulia

Setelah invasi Amerika Serikat ke Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro, terungkap hubungan rahasia intelijen dan militer antara Venezuela dan Kuba. ”Hubungan gelap” ini sudah terjalin sejak era mendiang Presiden Venezuela Hugo Chávez dan Presiden Kuba Fidel Castro atau setidaknya selama 20 tahun.

Kuba mengakui ada 32 personel militernya yang tewas. Dari sisi Venezuela, ada 24 aparat yang tewas.

Personel militer Kuba itu berasal dari Angkatan Bersenjata Revolusioner dan Kementerian Dalam Negeri Kuba, dua lembaga keamanan utama Kuba. Ini mengungkap keterlibatan Kuba selama bertahun-tahun secara diam-diam dalam struktur intelijen dan militer Venezuela.

Kantor berita Associated Press, Rabu (7/1/2026), menyebutkan, Kuba memublikasikan nama, pangkat, dan usia 32 personel militer yang tewas di Venezuela. Mereka berpangkat kolonel, letnan, mayor, dan kapten. Ada pula beberapa tentara cadangan berusia 26-60 tahun.

Kuba tidak menyebutkan di mana mereka ditempatkan saat AS menyerang. Media Pemerintah Kuba hanya memublikasikan informasi dan foto mereka yang mengenakan seragam militer hijau zaitun.

Banyaknya jumlah warga Kuba yang tewas menunjukkan betapa besarnya ketergantungan Maduro pada agen dari negara lain untuk melindungi dirinya. Selama beberapa dekade semasa Perang Dingin, agen intelijen Kuba berjaya. Mereka berhasil menggagalkan rencana pembunuhan Fidel Castro, merekrut pejabat senior Pemerintah AS, dan melindungi para kepala negara dari Angola hingga Panama.

Sebagai sekutu ekonomi dan politik, Kuba-Venezuela memiliki kesepakatan di berbagai bidang. Kerja sama terentang dari bidang keamanan hingga energi dengan penjualan minyak bersubsidi Venezuela ke Kuba sejak tahun 2000.

Namun, hubungan kerja sama militer mereka jarang dilaporkan. Kuba, Minggu, akhirnya mengakui personel militer yang ada di Venezuela itu bagian dari perjanjian kedua negara.

BBC menyebutkan, Kuba selama bertahun-tahun telah menyediakan pengawal pribadi bagi Maduro dan menempatkan personel di seluruh tubuh militer Venezuela. ”Kuba memberikan perlindungan kepada Maduro dan istrinya atas permintaan Venezuela,” kata Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel.

Namun, María Werlau, penulis buku Intervensi Kuba di Venezuela, mengatakan, intelijen dan protokol keamanan Kuba ternyata lemah karena gagal melindungi Maduro. Harian The Wall Street Journal menganalisis, kelemahan intelijen Kuba di Venezuela dapat melemahkan rezim Kuba secara internal, terutama jika Kuba kehilangan bantuan ekonomi Venezuela dan diskon harga minyak yang diterima selama ini.

Setelah Uni Soviet runtuh, kekayaan minyak Venezuela menjadi jalur ekonomi vital bagi Kuba. Harian The New York Times, 26 Januari 2019, menyebutkan, Venezuela memasok minyak mentah bersubsidi sekitar 100.000 barel per hari.

Kuba memurnikan minyak itu dan menjualnya kembali ke pasar internasional. Namun, setelah kini gagal melindungi Maduro, timbul pertanyaan apakah Kuba dapat mempertahankan hubungan kedua negara seiring perubahan lanskap politik Venezuela.

Perjanjian rahasia

Investigasi kantor berita Reuters yang diterbitkan pada Agustus 2019 menemukan dua perjanjian rahasia yang ditandatangani pada 2008. Isi perjanjiannya memberi Kuba akses luas ke angkatan bersenjata dan dinas intelijen Venezuela.

Para pejabat Kuba diberi wewenang untuk melatih pasukan Venezuela, merestrukturisasi badan intelijen, dan membantu membangun sistem pengawasan internal yang berfokus pada pemantauan militer Venezuela.

Perjanjian itu berperan mengubah badan kontra-intelijen militer Venezuela, Direktorat Jenderal Kontra Intelijen Militer (DGCIM) menjadi kekuatan yang dirancang untuk mendeteksi perbedaan pendapat, menanamkan rasa takut di jajaran militer, dan memastikan loyalitas kepada pemerintah.

Temuan Reuters diperkuat Misi Pencarian Fakta Internasional Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Venezuela. Mereka meninjau nota kesepahaman tahun 2008 antara Kuba dan Venezuela.

Perjanjian itu mengatur pengawasan penasihat Kuba dalam restrukturisasi intelijen militer Venezuela. Caranya mencakup pembentukan badan-badan baru, pelatihan petugas kontra-intelijen, serta bantuan dalam teknik pengawasan dan infiltrasi.

Mantan pejabat Venezuela yang dikutip Havana Times dan El Toque menyebutkan, para penasihat dari Kuba ditempatkan di sejumlah lembaga paling penting. Mereka tersebar di dinas intelijen sipil SEBIN, DGCIM, kementerian pertahanan, pelabuhan dan bandara, serta sistem identifikasi nasional Venezuela.

PBB mendokumentasikan pola eksekusi di luar hukum, penahanan sewenang-wenang, dan penyiksaan saat unjuk rasa massal di Venezuela pada 2014 dan 2017. Pada waktu itu, pasukan keamanan Venezuela menangkapi pengunjuk rasa dan memperlakukan mereka dengan kekerasan.

Para penasihat Kuba itulah yang membantu melatih personel militer Venezuela, khususnya metode melacak, menginterogasi, dan menekan lawan politik. Selain militer, Kuba menangani masalah-masalah, seperti penyelenggaraan pemilu dan membangun pengaruh diplomatik dengan negara lain.

Analis politik Venezuela, Jorge Jraissati, kepada Fox News, menjelaskan, peran intelijen Kuba penting untuk konsolidasi kekuasaan pertama Chávez lalu Maduro.

Sejak 1998

Maduro tidak yakin siapa yang dapat diandalkan di dalam negeri ketika AS membangun kehadiran militernya di Karibia. Untuk itu, ia semakin bergantung pada Kuba yang dikenal punya personel militer yang terlatih dan efisien.

The New York Times, Senin (5/1/2026), menjabarkan sejarah hubungan Venezuela-Kuba. Kedua negara mulai menjalin hubungan dekat saat terpilihnya Chávez pada 1998.

Hubungan itu didorong oleh persahabatan yang mendalam antara Chávez dan Castro. ”Mereka sangat dekat, seperti hubungan ayah dan anak,” kata Guru Besar Ekonomi Kuba di Universitas California Richard Feinberg.

Ketika Chávez yang berhaluan sosialis sempat digulingkan dalam kudeta 2002, ia meminta bantuan Kuba. Kuba turun tangan, mengirimkan perwira intelijen militer dan jenis bantuan lainnya.

Tujuannya membantu mempertahankan rezim sosialis lainnya agar tetap berkuasa. Kuba berulang kali berhasil menggagalkan upaya AS menjatuhkan Castro.

Tak hanya membantu Venezuela, Kuba membantu melindungi presiden pertama Angola, Agostinho Neto, pada 1970-an. Mereka juga membantu melatih dan melengkapi pengawal pribadi Salvador Allende, Presiden Chile sayap kiri yang meninggal saat kudeta yang didukung AS.

Maduro, yang menjabat pada 2013 setelah kematian Chávez, sebenarnya punya ikatan lebih kuat dengan Kuba daripada Chávez. Sebagai sopir bus muda di Venezuela, Maduro ke Kuba untuk pelatihan sebagai pemimpin buruh. Ia menghadiri institut pelatihan Partai Komunis yang dikenal sebagai Sekolah Ñico López.

”Ini berawal dari hubungan pribadi hingga menjadi hubungan kelembagaan antarnegara, di mana warga Kuba memberi dukungan penting dalam segala hal yang berkaitan dengan militer dan sistem aparat keamanan Venezuela. Setelah kudeta itulah Chávez benar-benar mulai mengonsolidasikan kekuasaannya,” kata Frank O Mora, mantan pejabat senior Departemen Pertahanan AS yang kini Guru Besar di Florida International University.

Hanya, hubungan Maduro dengan Kuba belakangan ini tak sehangat dulu. Kuba dilaporkan sering mengeluh karena Maduro tak mau mendengarkan para penasihat politiknya dari Kuba meski mereka saudara seperjuangan secara ideologis dan sama-sama melawan AS.

”Karena tak lagi hangat, Maduro sangat khawatir bisa dikudeta,” kata Wakil Direktur Pusat Keamanan dan Kerja Sama Internasional di Universitas Stanford dan ahli Venezuela Harold Trinkunas.

Kini, Maduro dipenjara di AS setelah pengawalnya gagal melindungi dia dari penculikan. Wakil Maduro yang kini jadi Presiden Sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, dilaporkan mulai berunding dengan AS.

  Kembali ke sebelumnya