| Judul | Seberapa Menjanjikan Minyak Venezuela? |
| Tanggal | 08 Januari 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | 1 |
| Kata Kunci | Minyak,Amerika Serikat |
| AKD |
- Komisi I |
| Isi Artikel | Biaya tinggi dan waktu lama menjadi tantangan AS menyerap minyak Venezuela. Produksinya anjlok tajam dalam 20 tahun terakhir. Oleh Irene Sarwindaningrum WASHINGTON, RABU — Amerika Serikat bergerak cepat untuk menguasai minyak Venezuela. Meski cadangan besar, pemulihan sektor minyak Venezuela terhambat infrastruktur rusak, biaya produksi tinggi, dan sanksi AS. Produksi minyak Venezuela telah menurun sekitar 70 persen sejak akhir 1990-an. Pada Rabu (7/1/2026), Presiden AS Donald Trump mengumumkan Caracas akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak ke Washington DC. ”Minyak ini akan dijual dengan harga pasar dan uangnya akan dikendalikan saya, sebagai Presiden AS,” tulisnya di media sosial. Reuters menyebut, minyak Venezuela akan dibawa ke kilang-kilang AS. Trump juga dijadwalkan bertemu para eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih, diperkirakan pada Jumat (9/1/2026). Agenda utamanya adalah membahas cara mempercepat pemulihan industri minyak Venezuela yang terpuruk. Langkah ini menjadi prioritas Trump setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam operasi militer di Caracas pada akhir pekan lalu. Sementara ABC News melaporkan, AS menetapkan syarat kalau Venezuela mau minyaknya terjual. Pertama, Venezuela berhenti berhubungan dengan China, Iran, Kuba, dan Rusia. Kedua, Venezuela hanya menggandeng AS untuk menambang minyak dan memprioritaskan penjualan minyak ke AS. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Ketua Komite Pertahanan Senat AS Roger Wicker menyebut, Venezuela tidak akan punya pilihan selain mematuhi tuntutan AS. Caracas, kata Rubio dan Wicker, cuma punya beberapa minggu untuk bertahan sebelum kehabisan uang. Seluruh tanker Venezuela dan mitranya sudah penuh. Mayoritas tidak bisa mengantar minyak akibat blokade total AS sejak November 2025. ”Pemerintah (AS) berniat mengendalikan minyak, mengurus kapal, tanker,” kata Wicker seraya menyatakan AS tidak perlu mengirim prajurit untuk menguasai fasilitas produksi dan distribusi minyak Venezuela. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, tetapi produksinya anjlok tajam dalam 20 tahun terakhir. Sanksi AS ikut jadi penyebab utama penurunan itu. Berbagai peralatan untuk fasilitas produksi dan distribusi minyak tidak bisa dibeli karena sanksi AS. Ekspor minyak Venezuela kini turun di bawah 1 juta barel per hari, dari sedikitnya 3 juta barel per hari sekitar 20 tahun lalu. Infrastruktur ladang minyaknya rusak parah akibat minim perawatan, pembatasan teknologi, dan kekurangan modal. Pembicaraan antara Caracas dan Washington menjadi sinyal pertama bahwa Pemerintah Venezuela mematuhi tuntutan Trump. Sebelumnya, Trump menekan pemerintahan baru di Caracas untuk memberikan akses penuh kepada perusahaan minyak AS. ”Saya ingin mereka memberikan akses penuh kepada Amerika Serikat dan perusahaan-perusahaan swasta,” katanya ditujukan kepada Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez. Pengalihan dari China Sejalan dengan tekanan politik tersebut, pejabat pemerintah di Caracas dan Washington membahas ekspor minyak mentah Venezuela ke AS. Lima sumber dari kalangan pemerintah, industri, dan pelayaran mengatakan, kesepakatan ini berpotensi mengalihkan pasokan minyak Venezuela dari China ke pasar AS. Selama sekitar 10 tahun terakhir, China menjadi pembeli utama minyak Venezuela, terutama sejak AS menjatuhkan sanksi pada perdagangan minyak Venezuela pada 2020. ”Trump ingin ini dipercepat sehingga bisa disebut kemenangan besar,” kata salah satu sumber industri minyak. Saat ini, Venezuela memiliki jutaan barel minyak yang telah dimuat di kapal tanker dan tersimpan di tangki. Akan tetapi, minyak yang menumpuk ini tidak dapat dikirim akibat blokade ekspor oleh AS sejak pertengahan Desember 2025. Tanpa pembukaan jalur ekspor segera, perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, terpaksa memangkas produksi lebih banyak karena kehabisan tempat penyimpanan. Gedung Putih, Pemerintah Venezuela, dan PDVSA belum memberikan komentar resmi. Trump menyadari pemulihan sektor minyak Venezuela membutuhkan dana sangat besar. Untuk mengatasinya, ia menyatakan, Pemerintah AS membuka kemungkinan menalangi sebagian biaya yang dikeluarkan perusahaan minyak. ”Biaya sangat besar, perusahaan minyak akan membiayai, lalu kami akan ganti atau melalui pendapatan,” kata Trump kepada NBC News. Trump juga mengklaim perusahaan minyak AS dapat memperluas operasi mereka di Venezuela dalam waktu relatif singkat. ”Industri AS bisa memperluas operasi di Venezuela dalam waktu kurang dari 18 bulan,” ujar Trump. Saat ini, aliran minyak Venezuela ke AS sepenuhnya dikendalikan oleh Chevron, mitra usaha patungan utama PDVSA. Operasi ini di bawah izin khusus Pemerintah AS. Chevron mengekspor sekitar 100.000 barel hingga 150.000 barel per hari minyak Venezuela ke AS. Chevron menjadi satu-satunya perusahaan yang dapat terus memuat dan mengirim minyak tanpa gangguan di tengah blokade AS. Namun, belum jelas bagaimana PDVSA akan menerima pembayaran dari penjualan minyak tersebut. Sanksi AS membuat PDVSA terputus dari sistem keuangan global, rekening banknya dibekukan, dan tidak dapat melakukan transaksi dalam dolar AS. Rodriguez pun berada di bawah sanksi AS sejak 2018 karena dituduh merusak demokrasi di Venezuela. Menurut dua sumber Reuters, pembicaraan pekan ini juga mencakup mekanisme penjualan minyak. Ini termasuk kemungkinan lelang kargo agar pembeli AS dapat mengajukan penawaran, serta penerbitan lisensi AS bagi mitra bisnis PDVSA. Lisensi semacam itu sebelumnya memungkinkan mitra usaha patungan dan pelanggan PDVSA mengakses minyak Venezuela untuk diolah atau dijual kembali ke pihak ketiga. Lisensi ini di antaranya pernah diperoleh Chevron, Reliance Industries dari India, China National Petroleum Corporation (CNPC), serta perusahaan Eropa Eni dan Repsol. Selain pembicaraan teknis, AS dan Venezuela membahas kemungkinan penggunaan minyak Venezuela untuk cadangan minyak AS di masa depan. Trump menegaskan, peningkatan produksi minyak Venezuela akan berdampak langsung pada harga energi di dalam negeri AS. ”Kami punya banyak minyak untuk dibor, yang akan menurunkan harga minyak,” ujar Trump dalam pernyataannya kepada anggota DPR AS. Sejumlah ahli dan eksekutif industri meragukan pernyataan Trump. Infrastruktur minyak Venezuela dinilai sangat merosot dan membutuhkan investasi miliaran dolar AS serta waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan. Selain itu, minyak Venezuela termasuk yang paling mahal dikembangkan karena sangat kental dan membutuhkan peralatan khusus. Dengan harga minyak global sekitar 60 dolar AS per barel, perusahaan energi cenderung memprioritaskan cadangan yang lebih murah dan mudah dikembangkan. ”Sulit membayangkan peningkatan lebih dari 300.000 barel hingga 400.000 barel per hari dalam setahun ke depan, mengingat kondisi infrastruktur yang terdegradasi, terutama fasilitas peningkat kualitas minyak,” kata Daan Struyven dari Goldman Sachs. Meski demikian, pasar minyak langsung bereaksi positif terhadap kabar negosiasi tersebut. Selisih harga beberapa jenis minyak berat di Pantai Teluk AS turun sekitar 50 sen dolar AS per barel. Penurunan ini mencerminkan ekspektasi masuknya tambahan pasokan minyak Venezuela. (REUTERS)
|
| Kembali ke sebelumnya |