Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Diplomasi Indonesia di Tengah Gejolak Venezuela
Tanggal 07 Januari 2026
Surat Kabar Kompas
Halaman 4
Kata Kunci Diplomasi
AKD - Komisi I
Isi Artikel

Di tengah ketegangan di Caracas, hubungan Indonesia–Venezuela kini berada dalam mode "wait and see". Prioritas utama memastikan keselamatan seluruh WNI.

Oleh Irene Sarwindaningrum

Dentuman keras membangunkan ibu kota Venezzuela, Caracas, pada pukul 02.00, Sabtu (3/1/2026). Dari apartemennya, Adzikra Yastadzi Sidik, diplomat Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Venezuela, merasakan bangunan bergetar. Ketika ia membuka jendela, langit tampak memerah.

”Awalnya, saya kira kembang api. Masih suasana Tahun Baru,” kata Adzikra, Sekretaris Ketiga Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya (Pensosbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Caracas, saat dihubungi dari Jakarta, Senin (5/1/2026). ”Tetapi, tidak ada kembang apinya,” ujarnya.

Dari apartemennya, Adzikra merasakan tiga hingga empat kali dentuman. Di grup percakapan KBRI, pesan bersahutan. Salah satu staf yang berada lebih dekat ke lokasi kejadian mengirimkan video yang menunjukkan kebakaran dan asap hitam, memastikan peristiwa tersebut bukan perayaan, melainkan serangan.

Dengan kepastian itu, KBRI Caracas pun segera mengaktifkan langkah perlindungan warga negara Indonesia (WNI) sebagai prioritas utama. Semua staf KBRI dihubungi, lalu pengecekan diperluas kepada WNI yang berada di Caracas. Total terdapat 37 WNI, termasuk staf KBRI. ”Kondisinya aman semua, alhamdulilah,” ujar Adzikra.

KBRI kemudian mengeluarkan imbauan resmi agar WNI tidak bepergian terlebih dahulu sembari memantau situasi keamanan dan menjaga komunikasi dengan perwakilan RI.

Di Jakarta, beberapa jam setelah serangan ke Caracas, Juru Bicara Kemenlu RI Yvonne Mewengkang menyatakan, Indonesia menyerukan kepada semua pihak untuk mengedepankan penyelesaian damai melalui de-eskalasi dan dialog dengan tetap memprioritaskan perlindungan warga sipil.

Pagi hari setelah serangan, tutur Adzikra, aktivitas di Caracas sempat tersendat. Apotek dan swalayan tutup. Baru berkisar pukul 10.00–11.00 toko-toko mulai beroperasi dengan pembatasan pengunjung. Kepanikan belanja mulai muncul, tetapi mereda pada hari berikutnya. Penerbangan yang sempat ditutup pada akhir pekan kembali dibuka pada Senin. ”Hari Senin ini, kami sudah buka,” katanya.

Dampak serangan juga terasa pada infrastruktur. Adzikra menuturkan, sejumlah wilayah di Caracas sempat mengalami pemadaman listrik. Namun, sebagian besar sudah kembali menyala. Pemadaman hanya tersisa di sekitar titik-titik militer dan keluarga presiden.

 

Hingga beberapa hari setelah kejadian, operasionalisasi KBRI Caracas masih mengandalkan genset. Hingga awal pekan ini, situasi Venezuela dinilai cukup kondusif sehingga evakuasi belum diberlakukan.

Menunggu

Di balik ketegangan dini hari itu, hubungan Indonesia–Venezuela kini berada dalam mode wait and see, menunggu situasi.

Adzikra mengatakan, Kedutaan Besar RI telah merencanakan pertemuan Pemerintah Venezuela dalam waktu dekat. ”Untuk tahun ini memang kita masih menunggu, tetapi sudah direncanakan pertemuan dengan Pemerintah Venezuela. Mudah-mudahan, setelah pertemuan tersebut, kerja sama Indonesia dan Venezuela bisa dilanjutkan lagi,” ujarnya.

Salah satu agenda kerja sama tahun 2026 adalah renovasi Unidad Educativa Nacional Republica de Indonesia (Sekolah Republik Indonesia/SRI) di Caracas. Sekolah ini salah satu simpul diplomasi sosial-budaya Indonesia di Venezuela.

Awalnya, sekolah tersebut merupakan sekolah negeri Venezuela. Sekolah itu diresmikan Duta Besar Republik Indonesia dan hingga kini siswanya didominasi warga Venezuela. Melalui kerja sama Indonesia-Venezuela, Caracas kemudian menyematkan nama SRI.

Meski berstatus sekolah publik setempat, keberadaan SRI berfungsi sebagai ruang perjumpaan budaya Indonesia di Caracas. Selain menjalankan fungsi pendidikan, sekolah itu aktif dalam kegiatan kebudayaan.

Para siswa memiliki kelompok musik angklung yang kerap tampil dalam berbagai kegiatan KBRI, baik resepsi diplomatik maupun acara-acara ASEAN di Venezuela. Dalam penampilan tersebut, para siswa membawakan lagu-lagu Indonesia dan Venezuela.

Pangan dan energi

Indonesia dan Venezuela sebelumnya menegaskan komitmen memperdalam kerja sama ekonomi. Fokusnya pada ketahanan pangan dan energi.

Salah satunya diperkuat dalam pertemuan bilateral Menteri Luar Negeri Sugiono dengan Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil Pinto di sela Sidang Umum PBB di New York, September 2025, seperti dikutip dari Kantor Berita Antara.

Kerja sama energi Indonesia–Venezuela telah dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) kerja sama minyak dan gas bumi. Berdasarkan siaran pers Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kerja sama ditandatangani Menteri ESDM Arifin Tasrif saat melawat ke Caracas pada 18 Januari 2024.

Venezuela diwakili Menteri Perminyakan Venezuela Pedro Rafael Tellechea, yang saat itu juga menjabat presiden perusahaan minyak negara Venezuela, Petroleos de Venezuela (PDVSA).

MoU mencakup kerja sama bisnis hulu migas. Di bawah payung perjanjian itu, PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina International EP (PIEP) diharapkan dapat menjajaki peluang mengakuisisi blok-blok migas baru di Venezuela.

Menurut Adzikra, ekstraksi minyak di Venezuela sudah pernah dilakukan. Pada masa pemerintahan mantan Presiden AS Joe Biden sempat ada pengiriman minyak dari Venezuela ke Indonesia.

Namun, pengiriman bergantung pada lisensi yang harus terus diperbarui. Pergantian kekuasaan di AS akhirnya membuat proses terhambat. Situasi semakin dipengaruhi dinamika kebijakan AS setelah serangan AS ke Venezuela.

Trump memberlakukan kembali embargo minyak terhadap Venezuela secara penuh. Untuk saat ini kelanjutan kerja sama di sektor energi masih menunggu perkembangan.

Hubungan dagang Indonesia–Venezuela tetap berjalan meski skalanya terbatas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada 2024 nilai ekspor Indonesia ke Venezuela mencapai 48,8 juta dolar AS, sementara impor dari Venezuela sebesar 20,3 juta dolar AS.

Data UN Comtrade 2023 menunjukkan, impor Indonesia dari Venezuela didominasi biji kakao dan kopi. Adapun ekspor Indonesia ke Venezuela di antaranya sabun dan produk pembersih, minyak kelapa sawit dan turunannya, produk kimia, serta suku cadang kendaraan dan mesin.

  Kembali ke sebelumnya