Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Krisis Iklim Memicu Ekstrem Baru, Panas ataupun Dingin
Tanggal 31 Januari 2026
Surat Kabar Kompas
Halaman -
Kata Kunci Iklim
AKD - Komisi V
Isi Artikel

Dunia tengah memasuki fase baru krisis iklim, yaitu gelombang panas mematikan dan gelombang dingin yang sama brutalnya, serta hujan yang kian ekstrem.

Oleh Ahmad Arif

Dunia memasuki fase baru krisis iklim, yaitu gelombang panas mematikan dan gelombang dingin yang sama brutalnya, serta hujan kian ekstrem. Fenomena yang tampak seperti anomali cuaca regional sejatinya merupakan gejala sistemik planet yang kehilangan keseimbangan iklimnya.

Benua Australia saat ini mengalami gelombang panas ekstrem. Menurut data Biro Meteorologi (BOM) Australia, kota-kota Mallee, Hopetoun, dan Walpeup terpapar suhu panas hingga 48,9 derajat celsius pada Selasa (27/1/2026) siang. Suhu ini melampaui rekor suhu sebelumnya, yaitu 48,8 derajat celsius, yang tercatat di Hopetoun pada 7 Februari 2009.

Suhu panas ini diperkirakan berlanjut pekan ini. Sebagian wilayah barat New South Wales dan Queensland diprediksi mencapai suhu mendekati 50 derajat celsius, dan berpotensi kembali memecahkan rekor suhu tertinggi pada bulan Januari, bahkan rekor suhu tertinggi sepanjang masa di wilayah tersebut.

Prakiraan cuaca menunjukkan, untuk daerah yang jauh dari pantai, suhu panas akan bertahan hingga akhir pekan, yang oleh BOM Australia digambarkan sebagai gelombang panas ”bersejarah dan memecahkan rekor”.

Situasi berkebalikan terjadi di Amerika Utara. Jutaan orang di area ini mengalami gelombang dingin luar biasa dan tercatat sebagai salah satu yang terpanjang dalam beberapa dekade. Lebih dari 200 rekor suhu dingin harian bisa dipecahkan mulai Jumat hingga Senin di seluruh bagian timur Amerika Serikat seiring gelombang udara dingin.

Gelombang dingin ini diperkirakan terus berlanjut. Suhu pada akhir pekan ini dapat turun lebih dari 30 derajat di bawah normal di banyak tempat, terutama di Selatan dan Timur.

Badai musim dingin ini menyebabkan setidaknya 85 kematian di AS, menurut laporan Associated Press. Lebih dari 250.000 rumah dan bisnis di wilayah Selatan yang terjebak dalam cuaca dingin ekstrem tak memiliki aliran listrik hingga Kamis (29/1/2026), menurut PowerOutage.us. Beberapa di antaranya telah tanpa listrik selama lima hari setelah badai.

Kutub menghangat, dunia membeku dan terbakar

Salah satu penjelasan kunci terhadap terjadinya ekstrem yang berlawanan di Benua Australia dan Amerika saat ini yakni melemahnya polar vortex dan jet stream (arus jet) akibat pemanasan Arktik yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan wilayah lain. Fenomena ini dikenal sebagai Arctic amplification.

Polar vortex merupakan area tekanan rendah di troposfer atau atmosfer level atas yang terbentuk di dekat daerah kutub, bisa kutub utara atau selatan. Umumnya yang paling berpengaruh terhadap dinamika cuaca di Amerika adalah vortex kutub utara. Sementara di Australia, cortex kutub selatan.

Peneliti iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Siswanto, mengatakan, polar vortex erat berhubungan dengan pola ulangan anomali iklim lainnya seperti osilasi Arktik, osilasi Atlantik Utara, yang digolongkan sebagai kejadian variabilitas iklim alami.

”Ini sama halnya dengan El Nino dan La Nina di Samudra Pasifik, yang memengaruhi cuaca Indonesia,” katanya.

Ketika Osilasi Arktik berada dalam fase positif, pusaran kutub berupa lingkaran udara dingin yang rapat dan dibatasi oleh angin jet stream yang kuat. Ketika Osilasi Arktik berada dalam fase negatif, pusaran tersebut bergelombang dan dibatasi oleh angin jet stream yang lemah.
 

NOAA

Ketika osilasi Arktik berada dalam fase positif, pusaran kutub berupa lingkaran udara dingin rapat dan dibatasi oleh angin ”jet stream” yang kuat. Ketika osilasi Arktik berada dalam fase negatif, pusaran tersebut bergelombang dan dibatasi oleh angin ”jet stream” yang lemah.

Ketika polar vortex melemah akibat perbedaan suhu antara kutub dan lintang menengah menyempit, arus jet menjadi lebih bergelombang dan melambat. Akibatnya, sistem cuaca ”terkunci” lebih lama di satu wilayah, memicu gelombang dingin ekstrem di Amerika Serikat bersamaan dengan panas ekstrem di belahan dunia lain.

”Ketika perbedaan suhu lebih kecil, arus jet melemah, dan mudah dibelokkan. Arus jet yang tak stabil bisa memerangkap sistem cuaca, termasuk gelombang panas dan gelombang dingin, di tempatnya untuk waktu amat lama,” kata ahli meteorologi Woodwell Climate Research Center, Jennifer Francis, dalam pernyataan.

Temuan ini sejalan dengan literatur ilmiah terbaru. Studi-studi atmosfer menunjukkan bahwa melemahnya gradien suhu kutub–tropis meningkatkan frekuensi peristiwa ekstrem dan memperpanjang durasinya, terutama di wilayah yang dilintasi jet stream.

Laporan IPCC Artikel 6 juga menegaskan bahwa perubahan iklim tidak menghapus cuaca dingin, tetapi membuatnya lebih jarang dan lebih ekstrem, dengan dampak sosial yang jauh lebih besar.

Hujan ekstrem di Indonesia

Cuaca ekstrem yang melanda Amerika Serikat dan Australia saat ini bukan cerita yang jauh. Ia adalah bagian sistem iklim sama yang memicu banjir bandang di Sumatera, longsor di Jawa. Dunia sedang berubah dengan cara yang tak stabil, dan Indonesia berada di garis depan dampaknya.

Indonesia memang tidak mengalami badai salju atau gelombang panas. Namun, ketidakstabilan iklim global menjelma dalam bentuk lain, yaitu hujan ekstrem, banjir bandang, longsor, gelombang panas lembab, dan kenaikan muka laut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa Indonesia memasuki puncak musim hujan dari November 2025 hingga Februari 2026 dengan peningkatan risiko bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan longsor, karena intensitas hujan yang tinggi.

Adapun BMKG juga melaporkan bahwa suhu udara Indonesia pada 2024–2025 berada di atas normal, dengan anomali hingga di atas 0,6 derajat celsius di sejumlah wilayah, termasuk Jawa, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Tahun 2024 bahkan tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern Indonesia, melampaui ambang batas yang disepakati dalam Perjanjian Paris.

Ketika atmosfer global makin tidak stabil, Indonesia menjadi wilayah yang sangat rentan karena kombinasi iklim tropis, degradasi lingkungan, dan tata ruang yang rapuh.

Curah hujan ekstrem pada November 2025 di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara mencapai lebih dari 400 milimeter dalam 24 jam, menjadi salah satu yang tertinggi dalam enam tahun terakhir dan memicu bencana besar.

Sejumlah daerah juga makin kerap mengalami hujan dengan intensitas yang memecahkan rekor tertinggi. Misalnya, Jakarta pada 1 Januari 2020 mengalami hujan dengan intensitas 377 mm per hari, merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah pencatatan. Rekor ini bukan tidak mungkin kembali terlampaui.

Hari-hari ini banyak wilayah Indonesia juga mengalami hujan berkepanjangan dengan intensitas tinggi, menyebabkan banjir melanda berbagai daerah. Bahkan, Jakarta meliburkan sekolah tatap muka untuk mengantisipasi cuaca ekstrem.

Kita menyaksikan tak ada yang luput dengan dampak iklim memicu cuaca ekstrem. Namun, perbedaan penting antara negara maju dan Indonesia terletak pada daya tahan sosial. Di Amerika Serikat atau Australia, badai salju dan gelombang panas menyebabkan kerugian ekonomi besar, tetapi relatif terbatas pada gangguan infrastruktur.

Infografik Potensi Cuaca Ekstrem di Wilayah Jawa
 

Ismawadi/Infografik Potensi Cuaca Ekstrem di Wilayah Jawa

Di Indonesia, hujan ekstrem berarti kehilangan rumah, lahan pertanian rusak, wabah penyakit, kemiskinan baru, bahkan juga kematian massal. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana hidrometeorologi kini mendominasi lebih dari 90 persen kejadian bencana di Indonesia, dan trennya terus meningkat seiring perubahan iklim.

Apa yang dulu disebut anomali kini menjadi ”normal baru”. Kita harus bersiap menghadapi cuaca ekstrem yang lebih sering, lebih intens, dan lebih mahal secara sosial dan ekonomi. Ini berarti urgensi ganda, adaptasi terhadap perubahan iklim dan mitigasi bencana.

Mitigasi berarti kita mesti turut menekan emisi gas rumah kaca agar kenaikan suhu bumi tidak terus meninggi. Sementara adaptasi menuntut perbaikan tata ruang, sistem peringatan dini, dan perlindungan kelompok rentan.

Selain itu mitigasi menuntut keberanian politik untuk mengurangi emisi, menghentikan deforestasi, dan mengakhiri ilusi bahwa pertumbuhan bisa terus berjalan dengan mengabaikan batas ekologis.

  Kembali ke sebelumnya