Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Swasembada dan Situasi Pangan 2026
Tanggal 15 Februari 2026
Surat Kabar Kompas
Halaman 7
Kata Kunci Swasembada Pangan
AKD - Komisi IV
Isi Artikel

Sudah barang tentu kita berharap El Nino tidak terjadi. Meskipun demikian, Indonesia perlu menyiapkan diri dan mengambil skenario terburuk.

Oleh Andreas Dwi Santosa

Pada 7 Januari 2026 Presiden Prabowo secara resmi mengumumkan Indonesia telah mencapai swasembada pangan saat kegiatan panen raya di Desa Kertamukti, Karawang, Jawa Barat. Suatu prestasi yang perlu disyukuri oleh seluruh rakyat Indonesia.

Swasembada pangan berdasarkan definisi akademik tercapai apabila nisbah swasembada pangan (food self-sufficiency ratio/SSR) sama atau lebih besar satu, dalam arti pangan yang diproduksi oleh sebuah negara sama atau lebih besar daripada yang dikonsumsi. Ukuran lain dari swasembada pangan adalah dietary energy production (DEP) per kapita. Jika sebuah negara mampu memproduksi pangan lebih dari 2.500 kilokalori (kcal) per kapita per hari, negara tersebut berhasil mencapai swasembada pangan.

Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia.

Impor 12 komoditas pangan utama yang volume impornya lebih dari 100.000 ton per tahun, yaitu gandum, kedelai, gula tebu, beras, jagung, daging sapi/kerbau, susu, bawang putih, ubi kayu, kacang tanah, kentang dan bawang bombay dalam 10 tahun terakhir melonjak dari 22,6 juta ton (2014) menjadi 34,4 juta ton (2024) (Pusdatin Kementan berbagai tahun).

Selama 10 tahun terakhir (2015-2024) produksi padi menurun rata-rata 1,04 persen per tahun (BPS dan sebelum 2018 Citra Satelit). Meskipun produksi rata-rata turun, kita berhasil mencapai swasembada beras di 2017, 2019, 2020, 2021 dan 2022. Adapun di luar tahun-tahun tersebut Indonesia harus mengimpor beras umum untuk konsumsi masyarakat.

Pada 2025 produksi beras melonjak dari 30,62 juta ton (2024) menjadi 34,71 juta ton (2025) atau meningkat sebesar 13,36 persen, tertinggi kedua selama 25 tahun terakhir. Produksi beras pernah mencapai titik tertinggi pada 2016, yaitu sebesar 35,43 juta ton (Citra Satelit dan BPS).

Prestasi lainnya di 2025 adalah penurunan impor pangan yang tajam. Apabila diambil data Januari-November (Pusdatin Kementan dan BPS) impor menurun tajam dari 31,32 juta ton (2024) menjadi 25,29 juta ton, mirip posisi impor pada 2022 (25,18 juta ton). Penurunan impor terbesar dikarenakan Indonesia berhasil mencapai swasembada beras lagi sehingga tidak ada impor beras umum di 2025. Sebagai catatan, Indonesia selalu impor beras khusus, misalnya japonica, basmati, menir, untuk industri yang impornya tiap tahun 300.000-400.000 ton.

Selain itu, defisit neraca perdagangan komoditas pertanian tanpa perkebunan juga menurun tajam dari 17,11 miliar dolar AS menjadi 12,28 miliar dolar AS. Jika perkebunan dimasukkan, terjadi lonjakan surplus perdagangan lebih dari dua kali lipat dari 9,97 miliar dolar AS menjadi 20,02 miliar dolar AS (hingga November) yang disumbang terutama oleh penurunan tajam impor pangan dan kenaikan harga minyak nabati dunia.

Dikarenakan proporsi impor pangan Indonesia masih besar, istilah swasembada pangan kurang tepat meskipun terjadi perbaikan yang besar pada 2025.

Situasi pangan dunia 2025 dan 2026

Salah satu komoditas pangan terpenting adalah serealia yang menyusun konsumsi karbohidrat hampir seluruh penduduk dunia dan sumber utama pakan ternak yang kemudian menjadi sumber protein terestrial. Serealia terdiri dari gandum, beras, dan biji-bijian kasar (coarse grains), terutama jagung.

Produksi serealia dunia pada 2025 mengalami pertumbuhan tertinggi selama lima tahun terakhir, yaitu sebesar 4,4 persen (FAO, November 2025). Peningkatan produksi serealia yang tajam terjadi di Asia Timur Jauh (termasuk Asia Tenggara) untuk seluruh tanaman. Tiga wilayah eksportir pangan dunia juga mengalami pertumbuhan produksi yang tinggi, yaitu Amerika Utara (9,8 persen), Amerika Selatan (9,5 persen), dan Eropa (8,5 persen). Produksi serealia meningkat dari 2.862,8 juta ton menjadi 2.989,6 juta ton. Produksi beras juga meningkat dari 549,8 juta ton menjadi 556,4 juta ton. Nisbah stok dan konsumsi (stock-to-use ratio) meningkat 5,1 persen dari 29,6 persen menjadi 31,1 persen yang menandakan situasi pangan dunia 2025 sangat aman.

Peningkatan produksi tecermin dalam penurunan indeks harga serealia sepanjang 2025 (FAO Food Price Index, Februari 2026). Indeks harga serealia mencapai puncak tertingginya pada Februari 2025 sebesar 112,6 dan terus mengalami penurunan hingga mencapai titik terendah di Oktober 2025 sebesar 103,6. Dua bulan selanjutnya terjadi sedikit kenaikan menjadi 105,5 (November) dan 107,3 (Desember).

Harga serealia dunia berpengaruh terhadap komoditas pangan lainnya kecuali minyak nabati. Indeks harga minyak nabati di awal tahun 2025 sebesar 153,0 dengan kecenderungan terus mengalami kenaikan dan mencapai titik tertingginya di Oktober (169,4). Hal ini sangat menguntungkan bagi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia sehingga surplus perdagangan komoditas pertanian 2025 melonjak cukup tajam.

Produksi gandum masih akan mengalami kenaikan tajam dari 800,8 juta ton (2024/2025) menjadi 842,2 juta ton (2025/2026) atau sebesar 5,17 persen (USDA, Januari 2026) demikian juga biji-bijian kasar meningkat 5,23 persen dari 1.511,5 juta ton menjadi 1.590,6 juta ton. Produksi beras dunia diperkirakan stabil, yaitu 541,3 juta ton menjadi 541,2 juta ton (2025/2026).

Produksi biji-bijian untuk menghasilkan minyak nabati diperkirakan mengalami kenaikan 1,29 persen dari 684,3 juta ton menjadi 693,1 juta ton (2025/2026) sehingga harga minyak sawit dunia kemungkinan masih akan tetap stabil tinggi.

Produksi komoditas pangan dunia tersebut belum memperhitungkan prognosis produksi di semester II-2026 yang di beberapa negara kemungkinan akan terdampak oleh fenomena iklim.

Situasi pangan Indonesia 2026

Apa yang dilakukan Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Pertanian, mengalami perubahan yang signifikan melalui peningkatan produksi padi yang tajam, cadangan beras pemerintah yang mencapai rekor tertinggi, dan penurunan impor komoditas pangan.

Tahun 2026 bisa menjadi tahun penuh tantangan. Dari rilis berbagai lembaga iklim internasional, kemungkinan besar El Nino (iklim kering berkepanjangan) akan terjadi lagi di 2026. Dari berbagai penghitungan titik awal terjadinya El Nino diperkirakan antara Maret dan Mei 2026. El Nino menguat di sekitar bulan Juli-Agustus 2026 dan bisa berlangsung hingga satu tahun (ECMWF Projects, IRI Enso Forecasts, Severe Weather Europe, US NOAA).

Infografik riset ketahanan pangan, produksi padi Indonesia (1995-2025).
KOMPAS/GUNAWAN/Infografik Riset Ketahanan Pangan, Produksi Padi Indonesia (1995-2025)

Sudah barang tentu kita berharap El Nino tidak terjadi. Meskipun demikian, Indonesia perlu menyiapkan diri dan mengambil skenario terburuk. Apabila El Nino terjadi, produksi tiga komoditas diperkirakan akan menurun, yaitu padi, jagung, dan tebu; sedangkan produksi hortikultura, terutama buah-buahan, meningkat. Dengan demikian, upaya untuk mempertahankan produksi, terutama padi, menjadi kunci untuk menyelamatkan pangan kita, bahkan hingga 2027.

Beberapa kebijakan perlu diambil untuk mengatasi potensi El Nino 2026-2027. Pertama, air menjadi kunci penting. Pembagian pompa air untuk petani perlu dikonsentrasikan di wilayah-wilayah sekitar sungai besar, sedangkan di luar wilayah tersebut lebih baik dengan membangun sumur-sumur bor sesuai potensi air tanah di wilayah tersebut.

Kedua, meningkatnya anggaran subsidi pupuk, penurunan harga sebesar 20 persen, dan perbaikan distribusi pupuk sebagaimana yang saat ini dilakukan menjadi sangat penting. Hal tersebut perlu dilanjutkan dengan rekomendasi pupuk spesifik wilayah sehingga peran pupuk untuk menggenjot produksi bisa terwujud yang dibarengi dengan sosialisasi dan adopsi teknologi pertanian cerdas.

India mengeluarkan skema ”Soil Health Card” berbasis analisis jutaan sampel tanah di seluruh India untuk menetapkan kebutuhan pupuk di setiap wilayah yang berlaku setiap tiga tahun. Thailand memiliki program ”Soil Doctor” dengan laboratorium tanah berjalan (mobil) yang masuk ke wilayah-wilayah perdesaan dan pertanian untuk menganalisis tanah dan memberikan rekomendasi pemupukan. Di tingkat lokal terdapat 65.000 hingga 80.000 sukarelawan “Soil Doctor” yaitu petani yang telah mendapatkan pelatihan dan membantu petani lainnya untuk memahami tanah, pemupukan, dan pertanian berkelanjutan.

Ketiga, benih menjadi salah satu kunci terpenting yang memengaruhi produktivitas padi. Hingga saat ini, hanya tiga varietas paling menonjol yang ditanam petani, yaitu Inpari 32, Ciherang, dan Mekongga, di antara lebih dari 500 varietas padi yang sudah dilepas oleh pemerintah. Dari ketiganya, yang paling muda adalah Inpari 32, yang dilepas pada 2013, sedangkan Mekongga sudah 22 tahun yang lalu, sementara Ciherang 25 tahun yang lalu. Kemungkinan ini yang menyebabkan produktivitas padi hampir tidak mengalami peningkatan. Produktivitas padi 13 tahun lalu sebesar 5,10 ton gabah kering giling (GKG) per hektar dan sekarang 5,13 ton GKG/ha (2025).

Sejak 2000, produktivitas padi Indonesia sudah dilampaui Vietnam yang saat ini berada di 6,0 hingga 6,2 ton GKG per hektar. Penelitian untuk mendapatkan varietas baru berproduksi tinggi yang rasanya disukai konsumen, memiliki karakter yang digemari penggilingan padi dan pedagang beras, serta bisa diterima petani menjadi kunci untuk peningkatan produksi padi.

Keempat, petani-petani yang tergabung di AB2TI melaporkan serangan hama dan penyakit yang mulai muncul di berbagai daerah. Hal ini perlu diantisipasi sejak dini sehingga serangan bisa dikendalikan serta tidak meluas dan berpotensi menurunkan produksi padi pada 2026. Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu yang dulu pernah dilakukan perlu digiatkan kembali.

Kelima, pencetakan sawah di lahan-lahan rawa yang sudah dilakukan Kementerian Pertanian, terutama di Kalimantan dan Sumatera, akan mendapat momentumnya jika El Nino benar-benar berlangsung. Pemanfaatan lahan-lahan rawa sangat berpotensi untuk menopang produksi saat El Nino berlangsung.

Akhir kata, semoga pemerintah dan petani bersama-sama mampu mengatasi ini sehingga produksi meningkat dan impor pangan terus menurun sehingga cita-cita besar untuk mencapai swasembada, bahkan kedaulatan pangan, bisa terwujud dan berkelanjutan.

Dwi Andreas Santosa, Kepala Biotech Center IPB University, Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) dan Research Associate CORE Indonesia

 

  Kembali ke sebelumnya