Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Mereka yang Memilih Mudik Lebih Awal
Tanggal 11 Maret 2026
Surat Kabar Kompas
Halaman 15
Kata Kunci Pengangkutan
AKD - Komisi V
Isi Artikel

 Sebagian masyarakat memilih mudik lebih awal untuk menghindari kemacetan. Selain itu, harga tiket lebih mahal saat puncak arus mudik.

Oleh Fakhri Fadlurrohman

Mudik sudah menjadi tradisi yang tidak dapat dilepaskan dengan perayaan Lebaran. Hiruk pikuk di simpul transportasi seperti bandara, stasiun, pelabuhan, dan terminal serta kemacetan menjadi pemandangan umum saat arus mudik tiba. Untuk menghindari itu semua, sebagian warga memilih untuk mudik lebih awal.

Witri (45) tak henti-henti melihat ke arah kedatangan bus, menunggu bus yang akan mengangkutnya ke Padang, Sumatera Barat, tiba. Tidak berselang lama, kondektur memanggil namanya bersama kedua anak dan suaminya untuk segera bersiap. Tumpukan barang seperti koper, kardus, dan tas pun segera ia rapikan untuk dimasukan ke dalam bagasi bus.

Hampir setiap tahun Witri selalu memilih mudik lebih awal bersama keluarganya. Setiap hari ia bekerja di bidang konfeksi. Saat menjelang Lebaran seperti ini adalah musim sibuk bagi Witri. Namun, ia bisa pulang lebih awal karena semua pesanan sudah ia kerjakan sejak sebelum Ramadhan.

”Biasanya saya sudah selesaikan semua pekerjaan dua pekan sebelum Lebaran karena kami harus siap-siap untuk mudik,” ujar Witri saat ditemui di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta, Selasa (3/10/2026).

Ia memilih mudik lebih awal sebelum puncak arus mudik untuk menghindari kemacetan. Normalnya, perjalanan Jakarta-Padang bisa mencapai 30-35 jam. Selain menghindari kemacetan, Witri juga mengantisipasi kenaikan harga tiket saat mendekati hari-H Lebaran.

Tidak hanya Witri, penumpang lain, Juang (31), bersama kedua adik, anak, dan istrinya memilih mudik lebih awal. Tahun ini untuk pertama kalinya ia merasakan mudik lebih awal. Biasanya Juang dan keluarga mudik pada H-4 atau H-3 Lebaran.

”Ini kebetulan lagi ada acara keluarga di kampung. Jadi, kami pilih sekalian mudik lebih awal,” ujar Juang, yang akan berangkat menuju Muara Bungo, Jambi.

Ia merasa lebih nyaman dengan mudik lebih awal. Selain menghindari kemacetan dan terminal yang riuh dengan pemudik, harga tiketnya pun belum terlalu mahal. Untuk perjalanan ke kampung halamannya, Juang harus membayar Rp 1,25 juta per orang dengan bus premium. Saat mendekati hari-H Lebaran, harganya bisa naik sekitar 20 persen.

Komandan Regu Terminal Kampung Rambutan Efriandi mengatakan, kenaikan jumlah penumpang di Terminal Kampung Rambutan sudah mulai terlihat. Berdasarkan data 1-9 Maret 2026, terdapat kenaikan jumlah total penumpang mencapai 10 persen. Pada 9 Maret, jumlah penumpang 1.136 orang, dengan jumlah penumpang tiba 611 orang dan penumpang berangkat 525 orang. Puncak arus mudik di Terminal Kampung Rambutan diprediksi akan dimulai pada 13-14 Maret untuk gelombang pertama dan 17-18 Maret untuk gelombang kedua.

 

  Kembali ke sebelumnya