| Judul | Penutupan Selat Hormuz dan Perang Berlarut Iran-AS-Israel |
| Tanggal | 27 Maret 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | 7 |
| Kata Kunci | Hubungan ekonomi internasional |
| AKD |
- Komisi I |
| Isi Artikel | Apabila perang atrisi terjadi di Iran dan Selat Hormuz tetap ditutup, Indonesia bisa masuk ke dalam situasi darurat energi sebab tidak ada jalur alternatif. Oleh Marsetio Perang Iran melawan Ameruka Serikat dan Israel belum memperlihatkan tanda-tanda akan segera berakhir, malah sebaliknya makin meluas dengan kemampuan Iran melancarkan serangan ke pangkalan militer AS di Diego Garcia. Iran meluncurkan rudal balistik ke basis militer AS-Inggris di Samudra Hindia yang jaraknya 4.000 km dari Iran. Selain itu, Iran menutup Selat Hormuz, membuat 20 persen aliran pasokan minyak dunia kini tersendat sehingga harga minyak mulai melambung tinggi. AS dan Israel tampaknya keliru dalam memperkirakan kekuatan dan daya tahan Iran. Semula AS-Israel memperkirakan dapat mengalahkan Iran dalam waktu singkat melalui pertukaran rezim setelah pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, gugur pada hari pertama perang. Harapan AS-Israel meleset, bahkan kondisi itu membuat Iran kini bersiap untuk berperang secara atrisi (attrition warfare) menghadapi AS-Israel dan sekutu-sekutunya di kawasan Teluk. Dalam perang atrisi, Iran yang kekuatan persenjataannya tidak mampu menandingi kedigdayaan AS-Israel memilih strategi perang berlarut untuk menguras perekonomian AS dan Israel dalam membiayai perang. Iran melancarkan serangan bertubi-tubi memakai drone berharga murah, sekitar Rp 400 juta/drone ke Israel dan berbagai aset AS di Teluk. Serangan Iran itu ditangkis rudal Patriot yang harganya Rp 60 miliar/rudal. Di antara serangan drone, Iran meluncurkan rudal balistik dan rudal jelajah (ICBM) yang mampu menembus pertahanan Israel maupun AS. Jangkauan rudal Iran yang bisa menjangkau Diego Garcia membuat perang ini semakin meluas. Meski tidak ada kerusakan berarti dan tanpa korban jiwa, karena rudal balistik Khorramshahr-4 milik Iran berhasil dilumpuhkan oleh rudal dari kapal perang AS, serangan itu merupakan pesan penting terhadap AS-Israel bahwa Iran mampu menjangkau tempat-tempat yang jauh dari daratan Iran. Itu berarti, AS harus membagi sistem pertahanan udaranya ke berbagai tempat yang berada dalam radius jangkauan rudal Iran. AS-Israel sudah pasti tidak menginginkan perang atrisi di Iran, mengingat mahalnya biaya perang yang berkepanjangan. Selain itu, perang rudal dan serangan udara menggunakan pesawat tempur tidak pernah bisa menundukkan sebuah negara tanpa mengirimkan pasukan darat. Sejatinya, sebuah perang baru bisa dimenangi apabila pasukan darat menguasai fisik wilayah dengan mengalahkan tentara musuh. Dalam konteks seperti itu, AS kini menyiapkan 2.500 pasukan marinir, setidaknya untuk membebaskan lebih dulu Selat Hormuz yang dikunci Iran. AS juga membombardir Pulau Kharg yang terletak di Teluk Persia, 25 km dari daratan Iran dan 483 km di barat laut Selat Hormuz. Pulau itu merupakan pusat penyaluran minyak menuju pasar ekspor tertentu Iran. Setiap serangan ke sana ditanggapi Iran dengan ancaman akan membalasnya. Iran berjanji menggempur pangkalan militer AS di Uni Emirat Arab yang diduga sebagai tempat asal mula serangan. Menguasai Pulau Kharg bisa berarti memotong urat nadi pendapatan Iran dari ekspor minyak yang hampir 50 tahun diembargo AS bersama sekutunya. Apabila pertempuran darat benar-benar terjadi, barangkali inilah titik kulminasi peperangan yang sesungguhnya. Iran tampaknya sudah memperkirakan kondisi itu dan telah melancarkan perang urat syaraf melalui pemberitaan: sudah menggali 5.000 kuburan bagi tentara AS-Israel jika perang darat betul-betul terjadi. Daratan Iran yang luas dengan medan pegunungan yang sangat sulit dilalui merupakan tantangan tersendiri bagi AS-Israel apabila harus mengirim tentara daratnya bertempur ke Iran. Dampak perang bagi Indonesia Perang Iran-AS-Israel, terutama dengan ditutupnya Selat Hormuz, tentu berdampak bagi ketahanan energi Indonesia. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia mengimpor 55-65 persen kebutuhan minyak dalam negeri dengan asumsi harga 70 dolar AS per barel, padahal kini sudah menembus 116 dolar AS. Simulasi Celios menunjukkan, setiap kenaikan 1 dolar, akan menambah beban negara Rp 10,3 triliun, yang berarti beban tambahannya mendekati Rp 475 triliun. Apabila perang atrisi terjadi di Iran dan Selat Hormuz tetap ditutup, Indonesia bisa masuk ke dalam situasi darurat energi, sebab tidak ada jalur alternatif yang bisa menggantikan Selat Hormuz. Kapasitas pipa bypass Arab Saudi dan Uni Emirat Arab hanya mampu menggantikan 15-20 persen volume normal via Selat Hormuz. Untuk mengantisipasi perang atrisi, Indonesia perlu segera mendiversifikasi jalur dan sumber energi secara darurat, di antaranya dengan segera mengintensifkan negosiasi dengan produsen alternatif—Amerika Latin, Afrika Barat, Amerika Serikat—dan mengeksplorasi rute-rute pengiriman yang tidak bergantung pada Selat Hormuz. Dalam kapasitas diplomatik, Indonesia harus aktif mendorong resolusi Dewan Keamanan PBB yang mewajibkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian tindakan permusuhan—bahkan dengan mekanisme Uniting for Peace jika veto AS menghalangi Dewan Keamanan PBB. Selanjutnya, Indonesia perlu segera memosisikan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebagai jalur alternatif yang sah dan aman. ALKI I, II, dan III adalah aset strategis yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan. Dalam situasi gangguan Selat Hormuz, kapal-kapal yang mencari rute alternatif ke pasar Asia Timur berpotensi beralih melewati perairan Indonesia. Ini adalah peluang ekonomi sekaligus tanggung jawab keamanan maritim yang harus diantisipasi oleh Indonesia. Marsetio, Guru Besar Universitas Pertahanan; Mantan Kepala Staf Angkatan Laut |
| Kembali ke sebelumnya |