| Judul | Harga Beras Naik Gegara Lonjakan Harga Plastik dan Gabah |
| Tanggal | 13 April 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | 10 |
| Kata Kunci | Beras |
| AKD |
- Komisi VI |
| Isi Artikel | Jika plastik kemasan beras langka, distribusi beras bisa terhambat dan harga beras bisa melonjak semakin tinggi. Oleh Hendriyo Widi JAKARTA, KOMPAS — Harga beras medium dan premium mulai meningkat akibat lonjakan harga plastik kemasan dan gabah kering panen di tingkat petani. Di sisi lain, pelaku industri perberasan mengkhawatirkan terjadinya kelangkaan plastik kemasan yang dapat menghambat distribusi dan melambungkan harga beras. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), per 10 April 2026, harga rerata nasional beras medium I dan II di pasar rakyat masing-masing Rp 16.050 per kilogram (kg) dan Rp 15.900 per kg. Dalam sepekan, harga beras medium I naik 0,63 persen, sedangkan medium II 0,32 persen. Adapun harga rerata nasional beras premium atau kualitas super I dan II masing-masing Rp 17.300 per kg dan Rp 16.850 per kg. Dalam sepekan, harga beras kualitas super I dan II masing-masing naik 0,58 persen dan 0,6 persen. Harga kedua jenis beras itu berada di atas harga eceren tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah berdasarkan zonasi. HET beras medium dipatok Rp 13.500-Rp 15.500 per kg, sedangkan beras premium Rp 14.900-Rp 15.800 per kg. Direktur PT AB2TI Petani Sejahtera Nusantara Masroni, Minggu (12/4/2026), mengatakan, kenaikan harga beras dipengaruhi lonjakan harga kemasan plastik dan gabah petani. Hal itu terjadi sekitar dua pekan lalu. Ia mencontohkan, harga karung kemasan plastik kapasitas 50 kg naik dari Rp 1,9 juta per bal (berisi 1.000 lembar) menjadi Rp 3,15 per bal. Harga kantong plastik kapasitas 5 kg juga naik dari Rp 2.560 per lembar menjadi Rp 5.020 per lembar. Kenaikan harga karung plastik itu membuat biaya pengemasan beras medium dan premium naik dari Rp 55 per kg menjadi Rp 100-Rp 150 per kg. Mau tidak mau, kedua jenis beras itu juga turut naik Rp 100-Rp 150 per kg. ”Sementara kenaikan harga kantong plastik 5 kg menyebabkan harga beras medium dan premium naik Rp 1.000 per kemasan,” ujar Masroni ketika dihubungi dari Jakarta. Menurut Masroni, kenaikan harga beras juga dipicu kenaikan harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani. Dalam dua pekan terakhir, harga GKP merangkak naik dari Rp 6.800 per kg menjadi 7.300 per kg. Kenaikan harga GKP itu di pengaruhi berakhir puncak panen raya padi musim tanam I. Selain itu, ada kekhawatiran pelaku perberasan terhadap potensi terjadinya kemarau panjang akibat El Nino. El Nino dapat menurunkan produktiitas padi dan produksi beras turun. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan El Nino berpotensi berkembang sepanjang paruh kedua 2026. Intensitas El Nino diperkirakan berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80 persen. Kemungkinan kecil, yakni kurang dari 20 persen, El Nino bisa berkembang menjadi kategori kuat (Kompas, 10/4/2026). Ucok (42), pemilik toko kelontong di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, menuturkan, harga beras premium kemasan 5 kg merek Sania dan Raja Ultima sudah naik dari Rp 75.000 menjadi Rp 80.000. Kenaikan harga beras itu diduga dipengaruhi oleh kenaikan harga kemasan. ”Untuk beras literan, harganya masih beragam, yakni Rp 10.000-Rp 13.000 per kg bergantung kualitas. Meskipun harga kantong plastik kresek naik hampir dua kali lipat, saya belum menaikkan harga beras eceran itu,” tuturnya. Kompas
Kekhawatiran kelangkaan plastik Kenaikan harga plastik dan bahan baku plastik merupakan dampak perang Amerika Serikat-Israel versus Iran. Sejak perang di Timur Tengah meletus pada 28 Februari 2026, harga minyak mentah bergejolak di rentang 67 dolar AS hingga 112 dolar AS. Konflik Amerika Serikat-Israel versus Iran itu juga memicu penutupan Selat Hormuz. Kenaikan harga minyak mentah turut memengaruhi lonjakan harga plastik beserta bahan bakunya, terutama polietilen dan polipropilen. Ini mengingat kedua bahan baku plastik kemasan makanan, kantong plastik, botol, dan pipa tersebut berasal dari olahan minyak bumi. Trading Economics mencatat, harga polietilen di China pada awal Maret 2026 hingga 11 April 2026 bergerak di kisaran 6.500 yuan per ton hingga 9.500 yuan per ton. Padahal, pada awal Januari 2026 hingga akhir Februari 2026, harga polietilen hanya bergerak di kisaran 6.200 yuan per ton hingga 6.900 yuan per ton. Di sisi lain, kenaikan harga plastik beserta bahan bakunya juga dipengaruhi terhambatnya jalur perdagangan maritim di Selat Hormuz. Selama ini, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 25 persen dari ekspor polietilen dan polipropilen dunia. Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab tercatat sebagai negara produsen kedua komoditas di kawasan itu. KOMPAS/NOVAN
Editor ICIS Chemical Business, Joseph Chang, mengatakan, negara-negara Teluk menyumbang sekitar 25 persen dari bahan kimia dan plastik yang diperdagangkan di seluruh dunia. Sebagian besar perdagangan barang tersebut, yakni sekitar 60 persen, dipasarkan di Asia. Penutupan Selat Hormuz menyebabkan negara-negara di Asia kekurangan bahan baku plastik. Beberapa perusahaan petrokimia Asia, termasuk The Polyolefin Co Singapura, Rayong Olefins Thailand, dan PT Chandra Asri Pacific Indonesia, terpaksa mengurangi produksi. ”Hal itu berpotensi memicu kenaikan dan kelangkaan produk plastik. Harga kemasan makanan-minuman olahan akan naik. Pada akhirnya, harga makanan-minuman olahan juga turut terpengaruh,” kata Chang (China Daily, 28/3/2026). ID Food, perusahaan perdagangan dan distribusi pangan milik Pemerintah Indonesia, tengah kesulitan mendapatkan plastik. Padahal, plastik itu dibutuhkan untuk mengemas sejumlah komoditas pangan pokok, termasuk beras dan minyak goreng. Direktur Utama ID Food Ghimoyo mengatakan, saat ini, ID Food kesulitan mendapatkan plastik kemasan. Ini lantaran pabrik-pabrik pengolahan plastik kemasan kesulitan memperoleh bahan baku plastik akibat dampak perang di Timur Tengah. Padahal, plastik sangat dibutuhkan untuk berbagai keperluan, seperti pengemasan beras dan pembuatan botol kemasan minyak goreng. bahkan, plastik, terutama karung berbahan plastik, juga dibutuhkan untuk mengemas pupuk. ”Problem ini cukup krusial karena mencakup pangan dan pupuk yang membutuhkan aneka kemasan dari plastik,” katanya dalam rapat kerja dan dengar pendapat Komisi VI DPR dengan pemerintah dan badan usaha milik negara di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada 7 April 2026. Sementara itu, Masroni mengatakan, untuk saat ini, karung dan kantong plastik kemasan beras masih relatif mudah didapat. Hanya saja, harganya melonjak sehingga memengaruhi harga beras dari tingkat penggilingan hingga konsumen. ”Saya khawatir ke depan plastik kemasan beras menjadi langka. Jika hal itu terjadi, distribusi beras bisa terhambat. Harga beras juga bisa melonjak semakin tinggi,” kata Masroni.
|
| Kembali ke sebelumnya |