| Judul | Harga Plastik Meroket, Es Teh hingga Ayam Geprek di Semarang Ikut Naik Harga |
| Tanggal | 14 April 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Industri |
| AKD |
- Komisi VI |
| Isi Artikel | Pelaku UMKM makanan dan minuman hingga produsen tempe di Semarang, Jateng menjerit karena terdampak kenaikan harga plastik. Mereka terpaksa ikut menaikkan harga. Oleh Kristi Dwi Utami SEMARANG, KOMPAS — Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di Kota Semarang, Jawa Tengah, mengeluhkan harga plastik yang terus meroket. Untuk menekan kerugian, pelaku UMKM, seperti penjual es teh, ayam geprek, hingga produsen tempe terpaksa menaikkan harga jual. Dua pekan terakhir, harga plastik melonjak akibat perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Kondisi itu membuat para pelaku UMKM di Kota Semarang resah. Anik (47), penjual es teh jumbo di Kecamatan Semarang Selatan, mengeluh harga gelas plastik hingga sealer cup atau plastik penutup gelas naik. "Kalau cup (gelas) naik dari sebelumnya Rp 14.000 per pak (isi 50 gelas) menjadi Rp 22.000 per pak. Kemudian, sealer cup satu gulung (untuk sekitar 1.000 gelas) naik dari sebelumnya Rp 35.000 menjadi Rp 41.000," kata Anik, Selasa (14/4/2026). Tak hanya itu, kenaikan juga terjadi pada kantong plastik. Jika biasanya satu pak kantong plastik isi 50 lembar harganya Rp 7.500, dalam dua pekan terakhir harganya naik menjadi Rp 15.000 per pak. "Harga plastik tahun ini naiknya gila-gilaan. Bisa dibilang ganti harga malah. Kalau harga naik kan paling Rp 1.000 - Rp 2.000, ini sudah dua kali lipat, ganti harga," ucapnya. Selama berjualan es teh jumbo sejak 2020, Anik menyebut, kenaikan harga plastik tahun ini menjadi yang tertinggi. Seingat Anik, harga plastik terakhir kali naik pada tahun 2022. Kala itu, kenaikan harga yang terjadi sebesar Rp 500 per pak. Pada pekan pertama April, Anik berupaya untuk mempertahankan harga es teh jumbonya, yakni Rp 5.000 per gelas. Namun, tiga hari terakhir, Anik menyerah. Ia terpaksa menaikan harga es teh jumbo yang ia jual menjadi Rp 6.000 per gelas untuk menekan kerugian. Keluhan serupa juga disampaikan oleh Reni Astuti (45), penjual ayam geprek di Kecamatan Candisari yang membungkus dagangannya dengan styrofoam. Biasanya, Reni membeli styrofoam satu pak berisi 100 buah sebesar Rp 25.000. Kini, harganya melambung hingga Rp 38.000 per pak. Sama dengan Anik, Reni pun akhirnya menaikkan harga dagangannya sebesar Rp 1.000 supaya tidak terlalu merugi. Ayam geprek yang dijual paling murah Rp 11.000 per porsi kini dijual Reni dengan harga Rp 12.000. "Risikonya ya banyak pelanggan yang protes. Naik Rp 500 saja biasanya kan sudah terasa sekali bagi pembeli, ini saya terpaksa naik sampai Rp 1.000 per paket. Penjualan jadinya juga sedikit menurun. Biasanya sehari bisa 50-60 paket, sekarang paling cuma 40-45 paket," ujar Reni. Tak hanya pedagang minuman dan makanan, produsen tempe di Kota Semarang juga ikut menanggung dampak kenaikan harga plastik. Akibat kenaikan harga plastik, harga pokok penjualan (HPP) yang harus ditanggung para produsen tempe juga melambung. "Harga plastik untuk bungkus tempe naik hingga lebih dari tiga kali lipat. Yang biasanya Rp 550.000 per gulung, sekarang sudah tembus Rp 1.750.000 per gulung. Ini bikin kami kaget, karena sebelumnya tidak pernah kami prediksi ada kenaikan HPP karena plastik, biasanya kan karena kedelai," kata Adi Muharam (22), produsen tempe di Kecamatan Gayamsari. Di samping kenaikan harga plastik, Adi juga terpukul oleh kenaikan harga kedelai. Kendati demikian, kenaikan harga kedelai yang terjadi, disebut Adi tidak setinggi kenaikan harga plastik. "Kalau kedelai itu naiknya bertahap, pelan-pelan, per Rp 200 per kg dari awal tahun. Dulu Januari masih di harga Rp 8.000 per kilogram (kg) sekarang ini sudah di angka Rp 10.250 per kg," ucapnya. Meski diimpit oleh kenaikan harga plastik dan kedelai, Adi memutuskan untuk tidak menaikan harga tempe yang diproduksinya. Sebagai gantinya, Adi mengurangi gramasi setiap tempe yang diproduksi. Untuk tempe dengan harga Rp 5.000 misalnya, yang semula beratnya 450 gram, kini dikurangi menjadi 400 gram. Ke depan, jika harga-harga terus naik, Adi mengaku bakal menaikkan harga tempe yang dijualnya. Itu merupakan upaya terakhir untuk menekan kerugian. Adi menyebut, plastik merupakan pembungkus tempe yang paling praktis dan relatif terjangkau. Pengemasan tempe menggunakan daun menurutnya lebih mahal dan membutuhkan lebih banyak tenaga kerja dibanding dengan pengemasan menggunakan plastik yang bisa dibantu mesin. Anik, Reni, dan Adi berharap, ke depan, situasi di Timur Tengah bisa segera membaik. Sehingga, distribusi minyak bumi, sebagai bahan baku plastik juga bisa kembali lancar. Dengan begitu, harga plastik yang melambung bisa kembali turun. Signifikan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jateng July Emmylia menyebut, kenaikan harga plastik dipicu gangguan pasokan global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan naptha, bahan baku pembuatan plastik yang merupakan turunan minyak bumi, dinilai signifikan, dari sebelumnya sekitar 600 dollar AS per ton menjadi 900 dollar AS per ton. "Tekanan yang paling berat itu adalah di industri kecil dan menengah maupun usaha kecil dan menengah sektor pangan, karena penggunaan plastik sangat intens sebagai kemasan utama. Sektor lain seperti furnitur dan tekstil tetap terdampak, namun tidak sebesar industri makanan dan minuman," ujar Emmylia. Untuk mengatasi persolan tersebut, Pemerintah Provinsi Jateng menyiapkan sejumlah upaya, yakni jangka pendek, menengah dan panjang. Upaya jangka pendek yang bakal ditempuh adalah pemantauan dan pengawasan untuk mencegah penimbunan plastik. Upaya itu bakal dilakukan bersama dengan kepolisian. Seiring dengan upaya itu, Pemprov Jateng disebut Emmylia akan menggencarkan kampanye pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Masyarakat diajak beralih menggunakan barang-barang yang tidak sekali pakai dan selalu membawa barang-barang, seperti botol minuman, wadah makanan, hingga kantong belanja dari rumah. "Untuk jangka menengah dan panjang, Pemprov Jateng akan mendorong penggunaan bioplastik, salah satunya berbahan baku pati singkong. Meski harganya lebih mahal dibanding plastik berbasis petrokimia, penggunaan bioplastik perlu mulai dicoba secara bertahap. Untuk substitusi awal bisa dilakukan sekitar 20 hingga 30 persen, sebelum beralih secara lebih luas," katanya.
|
| Kembali ke sebelumnya |