Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul (Tanpa) Wadah Beras
Tanggal 14 April 2026
Surat Kabar Kompas
Halaman -
Kata Kunci Industri
AKD - Komisi VI
Isi Artikel

Bagaimana peluang dan tantangan Indonesia mengatasi potensi krisis plastik kemasan, termasuk wadah beras?

Oleh hendriyo widi

Produksi dan stok beras Indonesia pada dasarnya berlimpah. Namun, apa jadinya jika harga wadah dari plastik naik? Bagaimana peluang dan tantangan Indonesia dalam mengatasi potensi krisis plastik kemasan, termasuk wadah beras?

Pada 2025, Indonesia mampu merealisasikan swasembada beras. Waktu itu, produksi beras nasional mencapai 34,69 juta ton. Pada 2026, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pun memperkirakan produksi beras Indonesia bisa tembus 36 juta ton. Hingga Januari-Mei 2026, potensi produksi beras nasional mencapai 16,57 juta ton.

Dengan skala produksi beras yang berlimpah itu, sektor perberasan nasional, dari hulu hingga hilir, membutuhkan wadah yang cukup. Untuk sampai ke tangan petani, misalnya, benih padi butuh wadah. Biasanya, wadah itu menggunakan kantong kemasan plastik berkapasitas 5 kilogram (kg).

Kala musim panen padi, petani, pedagang perantara, dan penggilingan padi juga butuh wadah gabah untuk dibawa dari sawah ke rumah petani atau penggilingan padi. Wadah itu berupa karung kemasan dari anyaman plastik berkapasitas 50 kg.

Karung kemasan dari anyaman plastik berkapasitas 50 kg juga dibutuhkan untuk wadah beras. Dari penggilingan padi, beras-beras dalam wadah itu didistribusikan ke pasar-pasar tradisional dan grosir-grosir beras.

Perkembangan produksi dan proyeksi beras 2024-Mei 2026
Sumber: BPS/Perkembangan produksi dan proyeksi beras 2024-Mei 2026

Selain itu, penggilingan padi berskala menengah dan besar juga membutuhkan kantong kemasan plastik untuk menjual beras. Ukuran wadah itu cukup beragam, mulai dari kemasan berkapasitas 1 kg hingga 5 kg.

Bahkan, para konsumen beras, mulai dari skala rumah tangga, pedagang kaki lima, hingga usaha mikro dan kecil juga membutuhkan kantong beras sesuai kebutuhan. Konsumen beras rumah tangga kelas menengah dan bawah, misalnya, acap kali membeli beras eceran atau literan.

Tak berhenti di situ. Pupuk yang merupakan bagian utama dari komponen produksi beras juga membutuhkan wadah. Kantong plastik yang digunakan sebagai wadah pupuk juga beragam, yakni mulai dari ukuran kecil hingga jumbo atau berkapasitas 1 kg hingga 50 kg.

Kini, harga aneka wadah dari plastik melonjak. Harga karung kemasan plastik berkapasitas 50 kg, misalnya, naik dari Rp 1,9 juta per bal (berisi 1.000 lembar) menjadi Rp 3,15 juta per bal. Harga kantong plastik kapasitas 5 kg juga naik dari Rp 2.560 per lembar menjadi Rp 5.020 per lembar.

Kenaikan harga karung plastik itu membuat biaya pengemasan beras medium dan premium naik dari Rp 55 per kg menjadi Rp 100-Rp 150 per kg. Kenaikan harga kantong plastik 5 kg juga menyebabkan harga beras medium dan premium naik Rp 1.000 per kemasan (Kompas, 12/4/2025).

Pelaku usaha perberasan nasional juga tengah mengkhawatirkan potensi terjadinya kelangkaan plastik beserta bahan bakunya. Jika plastik benar-benar langka, perdagangan dan pendistribusian beras nasional bisa terganggu atau terhambat.

Ekonomi plastik dunia

Perang Amerika Serikat-Israel versus Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz menjadi biang keladi lonjakan harga plastik beserta bahan bakunya. Apa kaitan antara konflik di Timur Tengah tersebut dan kenaikan harga plastik?

Perang di kawasan itu telah membuat harga minyak mentah dan gas alam bergejolak di atas harga normal. Gejolak abnormal harga energi dari fosil itu turut mengerek kenaikan harga plastik beserta bahan bakunya.

Ini mengingat bahan baku plastik, terutama bijih plastik polietilen (PE) dan polipropilen (PP), berasal dari olahan minyak dan gas bumi. Kedua komoditas itu merupakan bahan baku plastik kemasan makanan, kantong plastik, botol, dan pipa.

Trading Economics mencatat, per 13 April 2026, harga PE di China mencapai 8.383 yuan per ton atau naik 9,24 persen secara tahunan. Adapun harga PP mencapai 8.928 yuan per ton atau meningkat 24,28 persen secara tahunan.

Di sisi lain, kenaikan harga plastik beserta bahan bakunya juga dipengaruhi oleh terhambatnya jalur perdagangan maritim di Selat Hormuz. Selama ini, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 25 persen dari ekspor PE dan PP dunia.

Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab tercatat sebagai negara produsen PE dan PP di kawasan tersebut. Arab Saudi juga menjadi negara produsen plastik terbesar ketiga dunia setelah China dan Amerika Serikat.

Negara-negara produsen plastik polimer terbesar dunia pada 2024.
Sumber: Zero Carbon Analytics/Negara-negara produsen plastik polimer terbesar dunia pada 2024.

Berdasarkan data Zero Carbon Analytics yang dirilis pada Agustus 2025, produksi plastik global berkisar antara 400 juta ton dan 450 juta ton per tahun. Produksi plastik global tersebut didominasi segelintir negara, yakni China (34 persen), AS (13 persen), Arab Saudi dan Korea Selatan (5 persen), India (4 persen), Jepang (3 persen), dan Jerman (2 persen).

Badan Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) mencatat, produksi dan perdagangan plastik dunia pada 2023 masing-masing sebesar 436 juta ton dan senilai 1,1 triliun dolar AS. Perdagangan plastik tersebut mewakili sekitar 5 persen perdagangan global.

Adapun merujuk data Fortune Business Insight, pangsa pasar plastik global pada 2025 diperkirakan senilai 533,59 miliar dolar AS. Nilai pangsa pasar tersebut diproyeksikan tumbuh dari 560,38 miliar dolar AS pada 2026 menjadi 832,62 miliar dolar AS pada 2034. Dalam rentang waktu itu, rerata tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 5,1 persen.

Asia Pasifik mendominasi pangsa pasar plastik global. Pada 2025, nilai pangsa pasar plastik di kawasan itu sebesar 283,66 miliar dolar AS atau sekitar 53,2 persen pangsa pasar global. Pada 2026, nilai pangsa pasar tersebut diperkirakan mencapai 300,38 miliar dolar AS.

Pertumbuhan pangsa pasar itu dipicu urbanisasi yang pesat, industrialisasi, dan pertumbuhan kelas menengah, terutama di China, India, dan sejumlah negara di Asia Tenggara. Pertumbuhan tersebut juga ditopang oleh peningkatan permintaan plastik industri pengemasan, konstruksi, otomotif, makanan-minuman, mainan, tekstil, dan olahraga.

Peluang-tantangan Indonesia

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Mordor Intelligence menyebutkan pangsa pasar plastik di Indonesia pada 2025 sebesar 7,37 juta ton. Pada 2030, pangsa pasar plastik tersebut diperkirakan meningkat menjadi 9,31 juta ton dengan CAGR sebesar 4,78 persen.

Pertumbuhan pangsa pasar plastik itu berbarengan dengan pertumbuhan populasi, industri kemasan, makanan-minuman, dan kendaraan listrik, serta e-dagang. Di sisi lain, penambahan kapasitas industri listrik masih belum mampu menutup kebutuhan plastik dan bahan baku plastik nasional.

Mordor Intelligence memperkirakan, pada 2025-2030, CAGR plastik untuk barang konsumen cepat laku (FMCG) atau produk kebutuhan sehari-hari di Indonesia sebesar 1,2 persen, otomotif 0,4 persen, dan logistik e-dagang 0,8 persen. Sementara itu, CAGR pertumbuhan industri plastik nasional hanya 0,8 persen.

Kendati begitu, tren nilai impor plastik dan barang dari plastik Indonesia dalam lima tahun terakhir cenderung naik tipis. Kementerian Perdagangan mencatat, pada 2021-2025, tren pertumbuhan nilai impor plastik dan barang dari plastik sebesar 0,14 persen. Pada 2021 dan 2025, nilai impor komoditas itu masing-masing sebesar 10,18 miliar dolar AS dan 10,43 miliar dolar AS.

Selain dari Arab Saudi, impor plastik dan barang plastik dari Indonesia juga berasal dari China, Amerika Serikat, India, dan Afrika. Indonesia juga mengimpornya dari Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura.

Pertumbuhan pasar plastik Indonesia 2025-2030
Sumber: Mordor Intelligence/Pertumbuhan pasar plastik Indonesia 2025-2030

Namun, kendati Indonesia memiliki peluang impor itu, negara-negara produsen plastik selain kawasan Timur Tengah juga tengah mengalami kesulitan yang sama. Harga plastik dan bahan baku plastik di negara-negara sumber alternatif itu juga naik.

Di sisi lain, negara-negara tersebut juga membutuhkan plastik dan bahan baku plastik untuk memenuhi kebutuhan industri domestik. Hal itu berpotensi membuat negosiasi pembelian plastik atau bahan baku plastik berjalan cukup alot.

Kalaupun berhasil mendatangkannya, kenaikan harga plastik dan bahan baku plastik tetap tidak bisa dihindari. Selain itu, kenaikan biaya logistik dan lamanya waktu pengiriman juga menjadi tantangan tersendiri.

Tak mudah untuk menyubstitusi wadah dari plastik menjadi nonplastik dalam perdagangan pangan berskala besar, seperti beras. Karung goni, misalnya, selain harganya lebih mahal, karung itu rentan terhadap kelembapan dan hama.

Begitu pun dengan karung kertas dan kanvas. Selain lebih mahal dan rentan terhadap kelembapan dan hama, kedua jenis karung itu rentan terhadap air dan relatif mudah jebol.

Hingga kini, belum ada yang dapat memprediksi akhir dari perang di Timur Tengah. Namun, pastinya, kenaikan harga wadah dari plastik, termasuk untuk beras, perlu diatasi. Selain itu, jangan sampai beras-beras itu dibiarkan tanpa wadah. Itu baru beras, loh….

Infografik Harga Bahan Baku Plastik Nafta
novan/Infografik Harga Bahan Baku Plastik Nafta
 
 
  Kembali ke sebelumnya