| Judul | Memupuk Harapan dari Kawasan Industri Pupuk Fakfak |
| Tanggal | 23 April 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | 13 |
| Kata Kunci | Industri |
| AKD |
- Komisi VI |
| Isi Artikel | Kehadiran Kawasan Industri Pupuk Fakfak di Papua Barat memberikan harapan bagi warga. Ada yang berharap usahanya bertumbuh hingga mendapatkan pekerjaan. Oleh Abdullah Fikri Ashri Pengembangan Kawasan Industri Pupuk Fakfak di Papua Barat menghadirkan asa bagi warga untuk kehidupan yang lebih sejahtera. Ada yang mendambakan usahanya semakin tumbuh hingga mendapatkan pekerjaan. Dari industri di Fakfak, mereka pun memupuk harapan. Tasfiyanti Irianjati, Ketua Koperasi Myristica Fakfak, masih ingat kala rombongan Wakil Presiden Ma’ruf Amin berkunjung ke daerahnya pada Juli 2023. Kunjungan kerja Wapres saat itu antara lain untuk meninjau pembangunan Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak. Kedatangan rombongan pejabat itu membawa berkah bagi koperasi yang dipimpin Tasfiyanti. Aneka produk buah pala (Myristica fragrans) yang diproduksi koperasi, seperti manisan pala, sirup pala, hingga sabun pala, ramai dipesan. Buah yang disebut henggi itu menjadi buah tangan. ”Saat Pak Wapres datang, produk kami ditampilkan. Jadi, kami terima banyak orderan. Kami bahkan sampai produksi lagi. Kalau untungnya, lumayan, ha-ha-ha,” kenang Tasfiyanti saat dihubungi dari Jakarta, Senin (20/4/2026). Produknya kembali memperoleh panggung saat Presiden Joko Widodo meresmikan Bandar Udara Siboru di Fakfak, November 2023. ”Waktu Pak Presiden ke sini, kami mendapat kesempatan jualan di bandara. Saat itu, beliau juga datang ke kawasan industri pupuk,” ujarnya. Penggalan kisah Tasfiyanti merupakan contoh kecil berkah dari pengembangan kawasan industri. Baginya, kehadiran KIP Fakfak menjadi gerbang untuk produknya melangkah lebih jauh. Apalagi, sekitar 50 anggota, umumnya ibu-ibu, mengandalkan hasil penjualan produk. ”Jujur, anak muda sekarang kurang suka dengan pala. Mereka lebih suka makanan dan minuman kekinian. Makanya, rata-rata konsumen kami adalah tamu dari luar (Papua). Kami sangat berharap, investasi pabrik pupuk di Fakfak ini menjadi pasar baru kami dan UMKM lainnya,” ujarnya. KIP Fakfak merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN). Penetapan itu berdasarkan Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Nomor 21 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua atas Permenko Perekonomian No 7/2021 tentang Perubahan Daftar PSN. Pemerintah menugaskan PT Pupuk Kalimantan Timur, anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero), sebagai pelaksana proyek tersebut. Menurut rencana, pabrik pupuk di Fakfak memiliki kapasitas produksi pupuk Urea 1.150.000 ton per tahun dan amonia 825.000 ton setiap tahun. KIP ini merupakan yang pertama di Papua, bahkan untuk kawasan Indonesia timur. Selama empat dekade terakhir, industri pupuk menumpuk di wilayah barat, terutama Jawa. KIP Fakfak, yang akan memanfaatkan kekayaan gas alam Papua Barat, pun ditargetkan beroperasi 2028. PT Pupuk Indonesia memproyeksikan, penyerapan tenaga kerja untuk KIP Fakfak mencapai 10.000 orang selama masa konstruksi dan 400 orang ketika beroperasi. Potensi kontribusi pertumbuhan ekonomi domestik melalui penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) berkisar Rp 10 triliun. Adapun kontribusi proyek ini bagi pendapatan asli daerah (PAD) diperkirakan mencapai Rp 15 miliar per tahun. Angka ini dapat mendongkrak PAD yang berkisar Rp 50 miliar per tahun. Kehadiran KIP Fakfak juga bakal mendorong tumbuhnya bisnis pendukung di sekitar kawasan. ”Kehadiran industri pupuk ini menjadi peluang bagi pasar kami. Jika setiap karyawan yang bekerja di industri ini bisa memakai produk turunan pala atau produk UMKM lainnya, bayangkan berapa banyak produk UMKM yang terserap,” ujar Tasfiyanti. Jika produk pala laris, katanya, petani yang memasok bahan baku ke koperasi turut menikmatinya. Apalagi, berdasarkan catatan Kompas, sekitar 4.600 petani di Fakfak membudidayakan pala di lahan 16.000 hektar dengan produksi 2.000 ton per tahun. Saat ini, koperasi rutin memproduksi makanan dan minuman berbahan pala. Setiap bulan, pihaknya bisa mengirim 25-50 kilogram manisan pala ke Jakarta. Namun, ongkos pengiriman menjadi salah satu kendala. ”Saya pernah kirim 1 kilogram pala, biaya kirimnya Rp 125.000. Padahal, harga produknya Rp 100.000,” ujarnya. Oleh karena itu, ia berharap pengembangan KIP Fakfak dapat menumbuhkan konsumen baru di daerah sekaligus memperluas pasar produknya. ”Tidak masalah lokasi (pabriknya) di mana, yang penting masih ada di Fakfak. Jadi, UMKM bisa hidup, produk kami dibeli, dan ada penyerapan tenaga kerja,” ujarnya. Berbagai harapan warga juga terekam dalam laporan Kompas. Jafar Gwasgwas (41), warga Distrik Arguni, misalnya, berharap anak dan cucunya di masa depan tidak hanya menjadi penonton ketika industri tersebut telah beroperasi penuh. Ia pun meminta agar warga lokal diberdayakan. ”Ada ketakutan seperti di tempat (kawasan industri) lain, anak-anaknya tidak punya keterampilan. Kami tidak mau seperti itu. Jadi, kami butuh ada pendampingan tentang itu. Dengan begitu, nanti ketika perusahaan sudah beroperasi di sana 4-5 tahun lagi, anak-anak kami sudah siap,” ujar Jafar (Kompas.id, 27/11/2023). Dalam catatan Kompas, pemerintah, PT Pupuk Indonesia, dan PT Pupuk Kaltim telah menggelar acara adat Gelar Tikar atau wewowo pada Juli 2023. Dalam kegiatan itu, pemerintah dan perusahaan duduk bersama dengan perwakilan masyarakat Fakfak untuk membahas rencana pembangunan KIP Fakfak. Sumber daya manusia Agus Sumule, akademisi Universitas Papua, Papua Barat, menilai, kehadiran industri, seperti KIP Fakfak, memberikan harapan dan kebanggaan bagi masyarakat. Namun, di sisi lainnya, terdapat kekhawatiran warga lokal tidak ikut terlibat, terutama karena terkendala jenjang pendidikan. Angka rata-rata lama sekolah (RLS) di Fakfak, menurut Badan Pusat Statistik pada 2025, misalnya, berkisar 9,35 tahun atau setara dengan kelas I sekolah menengah atas atau sederajat. Padahal, lanjutnya, industri umumnya membutuhkan tamatan SMA bahkan lulusan perguruan tinggi. Itu sebabnya, sumber daya manusia di Fakfak harus dipersiapkan. ”Kalau tidak dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin industri terbangun, tetapi masyarakat tidak bisa masuk. Kalaupun masuk, hanya untuk lapisan bawah,” ungkap Agus saat dihubungi Senin (20/4/2026). Menurut dia, penyiapan sumber daya manusia bisa dilakukan melalui pelatihan hingga pendidikan yang sesuai kebutuha industri. Agus juga mengingatkan agar kehadiran industri memperkuat kemampuan fiskal daerah dan memastikan kelestarian lingkungan untuk keberlanjutan. Agus juga mengusulkan adanya dana abadi terkait kompensasi lahan warga yang terdampak pembangunan industri. Dana abadi merupakan dana yang disisihkan dari biaya kompensasi penggantian lahan. Dana itu lalu disimpan di bank dan bunganya dapat dimanfaatkan warga. Menurut dia, pemberian semua dana secara tunai kerap tidak bertahan lama. ”Dengan dana abadi, (kompensasi) ini bisa berkesinambungan. Bisa digunakan untuk pendidikan, kesehatan, atau modal usaha. Jika begitu, orang asli Papua bisa jadi pilot, dokter, atau ahli teknik,” ujarnya. Dalam beberapa kesempatan, termasuk wawancara khusus Kompas pertengahan 2023, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi mengatakan, pengembangan KIP Fakfak akan melibatkan masyarakat lokal. ”Kami akan membangun industri yang inklusif, di mana partisipasi masyarakat sangat diharapkan,” ujarnya. |
| Kembali ke sebelumnya |