| Judul | 28 Tahun Reformasi, Bagaimana Jejak Pergerakan Rupiah? |
| Tanggal | 26 April 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Keuangan |
| AKD |
- Komisi XI |
| Isi Artikel | Nilai tukar rupiah terus melemah sejak konflik Timur Tengah semakin memanas. Kurs rupiah menembus Rp 17.300 per dolar AS, melampaui puncak krisis ekonomi 1998. Oleh Dwi Erianto, Karina Isna Irawan Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak serta-merta terjadi. Secara historis, kurs rupiah dalam 28 tahun terakhir telah menunjukkan tren pelemahan dengan pemicu dan pola yang berbeda pada setiap momennya. Nilai tukar rupiah bertahan di atas Rp 17.000 per dolar AS sepanjang April 2026. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (23/4/2026) ditutup di level Rp 17.308 per dolar AS, menembus level terendah sepanjang sejarah Indonesia. Mengutip sumber yang sama, nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (24/4/2026) ditutup di level Rp 17.278 per dolar AS. Meski menguat 30 poin dari hari sebelumnya, rupiah telah terdepresiasi 3,3 persen secara tahun kalender berjalan. Kurs rupiah saat memasuki tahun 2026 masih berada pada level Rp 16.670 per dolar AS (2/2/2026). Rupiah bergerak fluktuatif dalam rentang Rp 16.600-Rp 16.800 per dolar AS, dengan tren terus melemah selama tiga bulan pertama (Januari-Maret). Baru awal April 2026, kurs rupiah menyentuh Rp 17.000 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global yang turut menekan mata uang di kawasan Asia. Bank Indonesia menyoroti konflik Timur Tengah sebagai salah satu faktor yang memperbesar tekanan di pasar keuangan global dan mendorong penguatan dolar AS. Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini berdampak ke aktivitas ekonomi makro ataupun mikro. Dari sisi makro, beban fiskal akan semakin berat karena kurs rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dipatok di kisaran Rp 16.500 per dolar AS. GUNAWAN Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hasil kalkulasi sensitivitas APBN 2026 oleh Kementerian Keuangan, setiap rupiah melemah Rp 100 per dolar AS akan menambah penerimaan negara Rp 5,3 triliun, tetapi pada saat yang sama belanja negara juga membengkak Rp 6,1 triliun. Dengan demikian, defisit anggaran akan bertambah sekitar Rp 800 miliar. Mengacu kalkulasi sensitivitas APBN 2026 di atas, jika kurs rupiah melemah menjadi di kisaran Rp 17.300 per dolar AS, dari asumsi Rp 16.500 per dolar AS, berarti tambahan defisit anggaran telah mencapai Rp 3,6 triliun. Estimasi tambahan defisit ini baru sampai April, dan bisa jadi semakin besar jika kurs rupiah terus melemah. Sementara dari sisi mikro, harga-harga barang dan bahan impor akan merangkak naik jika depresiasi rupiah tidak segera tertangani. Akibatnya, masyarakat akan merasakan dampak langsung berupa kenaikan biaya hidup. Efek rambatan depresiasi rupiah akan semakin cepat terasa jika konflik Timur Tengah semakin memanas. Eskalasi konflik mendorong kenaikan harga minyak dan energi dunia yang cepat merambat ke kenaikan biaya transportasi dan logistik. Kondisi ini akan memperdalam tekanan terhadap harga barang-barang di pasar tradisional ataupun retail modern. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO Karyawan menyiapkan uang dolar AS di tempat penukaran valuta asing Dolarindo di Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kemarin, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah Rp 16.879 per dolar AS. Menguat 95 poin dibandingkan sehari sebelumnya. Masyarakat kelas menengah dan bawah menjadi kelompok paling tertekan. Sebab, sebagian besar porsi belanja mereka adalah makanan dan transportasi. Di tengah daya beli yang sedang melemah, porsi belanja kelompok ini berpotensi semakin tergerus seiring kenaikan harga-harga sebagai dampak pelemahan kurs rupiah dan eskalasi konflik geopolitik. Depresiasi rupiah ini bukan peristiwa yang terjadi tiba-tiba terjadi. Ada beragam faktor internal ataupun eksternal penyebab kurs rupiah terhadap dolar AS melemah. Meski demikian, secara historis tren rupiah memang cenderung melemah pada setiap masa pemerintahan, dengan pola pergerakan yang berbeda-beda. Pergerakan rupiah Ketika awal pemerintahan Prabowo Subianto, kurs rupiah tercatat Rp 15.503 per dolar AS pada 21 Oktober 2024. Rupiah tercatat melemah 22,5 poin atau sekitar 0,15 persen dibandingkan penutupan sebelumnya, yang juga bertepatan dengan pengumuman susunan Kabinet Merah Putih. Setahun berselang, tren kurs rupiah terus melemah di tengah dinamika gejolak global. Jika dicermati, memasuki kuartal IV-2024, rupiah mulai kehilangan momentum penguatannya hingga menembus level psikologis Rp 16.025 per dolar AS pada 14 Desember 2024. Kondisi ini dipicu fundamental ekonomi AS yang solid serta ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang cenderung ketat. Rupiah kembali ”tersungkur” setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif global yang agresif. Kebijakan tarif resiprokal di kisaran 10-32 persen terhadap mitra dagang utama AS, termasuk Indonesia, memicu gejolak di pasar keuangan global. Pada 8 April 2025, rupiah anjlok 1,7 persen ke Rp 16.849 per dolar AS dalam sehari. Fluktuasi kurs rupiah juga didominasi konflik geopolitik yang dipicu operasi Rising Lion milik Israel ke fasilitas nuklir Iran pada 13 Juni 2025. Kondisi semakin memanas ketika Iran membalas dengan serangan rudal balistik dalam operasi True Promise III. Di sisi lain, fluktuasi kurs rupiah juga dipengaruhi kebijakan pelonggaran oleh Bank Sentral AS, The Fed. Dengan demikian, selama 1,5 tahun pemerintahan Presiden Prabowo, kurs rupiah telah terdepresiasi 11,04 persen dari Rp 15.560 per dolar AS (20/10/2024) menjadi Rp 17.278 per dolar AS (24/4/2026). Pelemahan kurs rupiah secara umum memang didominasi faktor eksternal dari dinamika geopolitik. Namun, bukan berarti kondisi dalam negeri baik-baik saja. DICKY infografik Kurs Rupiah Harian dan Cadangan Devisa RI Fluktuasi kurs rupiah acap kali dipengaruhi dinamika internal yang bersumber dari sentimen negatif terhadap independensi otoritas moneter, defisit anggaran dan kebijakan fiskal, kenaikan permintaan dolar, serta kinerja ekspor yang melambat. Perpaduan antara ketidakpastian politik dan ekonomi dalam negeri dan kebutuhan likuditas dolar AS yang tinggi menjadi beban berat rupiah. Pada era Presiden Joko Widodo, ketidakpastian ekonomi akibat perang dagang AS-China serta tingginya permintaan dolar AS di pasar domestik membuat rupiah melemah ke level di atas Rp 14.000 per dolar AS pada akhir periode kepemimpinannya. Kurs rupiah melemah sekitar 18 persen dibandingkan posisi 20 Oktober 2014 ketika Jokowi pertama kali dilantik, yakni Rp 12.085 per dolar AS. Selama Covid-19 kurs rupiah tertahan pada kisaran Rp 14.000 per dolar AS. Rupiah baru bergerak melemah ketika The Fed secara agresif menaikkan suku bunga acuan sebanyak total tujuh kali sepanjang tahun 2022. Kurs rupiah pada perdagangan terakhir tahun 2022 ditutup Rp 15.592 per dolar AS, atau melemah 9,31 persen dibandingkan akhir tahun 2021. Krisis ekonomi Kurs rupiah mengalami depresiasi paling tajam setidaknya ketika dua momentum krisis besar, yaitu krisis finansial global 2008 dan krisis moneter 1997-1998. Akibat krisis finansial global, rupiah melemah hingga 33 persen dari semula Rp 9.020 per dolar AS rata-rata tahunan pada 2006 menjadi Rp 12.020 per dolar AS pada 2009. Pelemahan nilai tukar rupiah terutama disebabkan penarikan modal besar-besaran oleh investor asing di pasar keuangan Indonesia ke negara asal mereka untuk menutup kerugian di sana (flight to quality). Kondisi ini menyebabkan indeks harga saham gabungan (IHSG) rontok sehingga permintaan terhadap dolar AS naik drastis. Nilai tukar rupiah berangsur membaik pascakrisis mereda. Rata-rata tahunan kurs rupiah pada 2010 sebesar Rp 9.277 per dolar AS, atau menguat 22,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, rupiah kembali terdepresiasi pada 2014 akibat kebijakan pengurangan stimulus moneter oleh The Fed atau dikenal dengan fenomena Taper Tantrum. Puncak jatuhnya kurs rupiah terjadi ketika krisis moneter. Saat itu nilai tukar rupiah anjlok 690 persen atau hampir tujuh kali lipat, dari Rp 2.441 per dolar AS pada Juni 1997 menjadi kisaran Rp 17.000 per dolar AS pada Januari-Juni 1998. Kondisi ekonomi yang karut-marut memicu ketidakpuasan publik terhadap pemerintah sehingga Presiden Soeharto lengser pada Mei 1998. Wakil Presiden BJ Habibie naik ke tampuk kekuasaan sebagai Presiden RI ketiga menggantikan Presiden Soeharto. Ia berhasil memulihkan kondisi perekonomian Indonesia yang tadinya minus 13,3 persen pada 1998 menjadi 0,79 persen pada 1999. Kurs rupiah juga menguat dari sebelumnya Rp 16.650 per dolar AS menjadi Rp 7.000 per dolar AS pada November 1998. Berbagai kebijakan dilakukan Presiden Habibie untuk mengendalikan krisis dan menjaga keseimbangan nilai rupiah agar tidak semakin jatuh. Salah satunya adalah restrukturisasi perbankan pada 21 Agustus 1998. Pada saat itu, beberapa bank digabung menjadi bank baru yang kuat dari sisi pendanaan, salah satunya Bank Mandiri. Kebijakan itu membuat investor asing mulai masuk ke Indonesia seiring munculnya kepercayaan kepada Pemerintah Indonesia. Kebijakan tersebut berhasil membuat nilai tukar rupiah semakin menguat hingga di angka Rp 6.500 per dolar AS. Berkaca dari pergerakan kurs rupiah selama 28 tahun terakhir, trennya memang terus melemah. Faktor pemicu dan polanya berbeda. Namun, dampaknya ke perekonomian sama. Belanja negara membengkak, dan harga-harga merangkak naik. Hal yang harus pemerintah dan otoritas moneter lakukan saat ini adalah menghambat agar dampak pelemahan rupiah tidak menjalar lebih jauh ke kantong-kantong rumah tangga. (LITBANG KOMPAS) |
| Kembali ke sebelumnya |