| Judul | Beragam Langkah Diambil Maskapai demi Efisiensi |
| Tanggal | 06 Mei 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Industri |
| AKD |
- Komisi V - Komisi VI |
| Isi Artikel | Kenaikan harga sekaligus minimnya pasokan avtur mengganggu industri penerbangan global. Di Indonesia, sejumlah langkah strategis juga dilakukan maskapai penerbangan. Oleh Yosepha Debrina Ratih Pusparisa JAKARTA, KOMPAS — Maskapai penerbangan mulai melakukan efisiensi rute dan mengurangi frekuensi operasi. Rute dengan permintaan tinggi dioptimalkan, sedangkan ekspansi rute ke luar negeri juga dilakukan karena tak ada intervensi harga tiket. Kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur menekan maskapai penerbangan untuk mengefisienkan operasinya. Optimalisasi rute dan frekuensi penerbangan dilakukan. ”Beberapa maskapai sudah dan akan mengurangi frekuensi serta rute penerbangan. Selain karena memasuki periode low season, juga karena animo atau demand bepergian berkurang karena harga tiket yang naik sejalan dengan kenaikan harga avtur,” ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia (INACA) Bayu Sutanto saat dihubungi di Jakarta, Rabu (6/5/2026). Sebagai Direktur Utama PT TransNusa Aviation Mandiri, Bayu mengemukakan bahwa maskapainya turut melakukan langkah strategis. Pihaknya memaksimumkan rute-rute yang ada. ”Optimalisasi rute-rute yang permintaannya masih tinggi, mengurangi frekuensi sesuai penurunan demand, serta ekspansi ke rute-rute luar negeri yang tidak ada aturan pembatasan untuk harga tiket dan fuel surcharge,” tuturnya. Meski demikian, Bayu melanjutkan, animo penumpang masih terjaga sejak kenaikan harga tiket atau penyesuaian fuel surcharge hingga 38 persen pada April 2026. Penurunan jumlah penumpang secara signifikan belum terlihat, bahkan di beberapa rute padat peminat masih relatif kecil penurunannya. Namun, kondisi ini terjadi lebih karena faktor musiman, yakni April-Mei tergolong musim normal (low season). PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk salah satu maskapai yang hingga awal Mei 2026 masih mempertahankan rute-rute andalan tujuan wisata. Setidaknya ada enam rute dengan frekuensi penerbangan mingguan dominan dari Jakarta. Penerbangan itu tersebar dari Jakarta ke Bali (60 penerbangan), Medan (42 penerbangan), Surabaya (49 penerbangan), Lombok (14 penerbangan), Makassar (31 penerbangan), dan Sorong (7 penerbangan). Efisiensi yang dilakukan maskapai penerbangan ini dikonfirmasi Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Udara Lukman F Laisa. Ia mengemukakan, sejumlah maskapai telah mengurangi frekuensi dan rute penerbangannya. ”Dampak dari kenaikan harga avtur, beberapa operator penerbangan dalam dan luar negeri sudah ada yang mengurangi frekuensi penerbangannya,” kata Lukman. Thai AirAsia, misalnya, telah mengumumkan penyesuaian kapasitas strategis pada triwulan II-2026, khususnya Mei-Juni 2026. Pihaknya mengurangi semua kapasitas kursi sebanyak 30 persen secara keseluruhan. Upaya ini dilakukan menyikapi dampak lonjakan harga bahan bakar pesawat secara global dan penurunan musiman permintaan perjalanan pada pertengahan tahun. Untuk rute-rute domestik, maskapai akan mengoptimalkan frekuensi penerbangan secara hati-hati, tetapi tetap berkomitmen melayani penumpang secara maksimal.
”Bahan bakar pesawat menjadi konstitusi pengeluaran operasional primer kami, dan dengan kenaikan harga avtur yang mencapai lebih dari tiga kali lipat, kami harus mengoptimalkan rencana operasional dengan mengurangi frekuensi penerbangan dan membekukan sejumlah rute yang tidak layak,” tutur Chief Executive Officer of Thai AirAsia Phairat Pornpathananangoon dikutip dari siaran persnya. Penerbangan Thai AirAsia ke Indonesia juga terdampak. Maskapai itu melakukan penyesuaian untuk penerbangan dari Bandara Internasional Don Mueang, Bangkok, Thailand (DMK), ke Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Indonesia (DPS). Penyesuaian pengurangan kapasitas kursi ini berlaku pada 1 Mei 2026 hingga 30 Juni 2026. Mengutip Asia News Network, secara global, maskapai-maskapai penerbangan dunia telah memangkas 2 juta kursi untuk keberangkatan Mei 2026 selama dua pekan terakhir. Masakapai-maskapai itu masih menaruh perhatian terhadap persoalan pasokan dan harga avtur. Berdasarkan data perusahaan analitik aviasi dan perjalanan global, Cirium, ribuan penerbangan telah dibatalkan, sedangkan sejumlah maskapai mengalihkan pesawatnya ke ukuran lebih kecil. Sebab, pesawat tersebut mengonsumsi bahan bakar secara lebih efisien sebagai upaya menghadapi gangguan pasokan. Data Cirium menunjukkan bahwa maskapai-maskapai Teluk, seperti Emirates, Etihad, dan Qatar Airways, yang masih dalam proses pemulihan dari gangguan pada awal konflik, kini merevisi jadwal-jadwal perjalanan Mei. Hal itu termasuk pula membatalkan sejumlah layanan. Total tempat duduk tersedia dari semua maskapai turun. Secara global, ada 132 juta kursi pada pertengahan-akhir April 2026 menjadi 130 juta kursi pada Mei 2026. Asia menjadi kawasan yang paling parah terdampak gangguan pasokan avtur karena ketergantungannya pada kiriman bahan bakar dari Selat Hormuz. Hingga kini, jalur perdagangan hampir sepenuhnya masih terganggu karena ancaman serangan Iran dan blokade tentara Amerika Serikat (AS). ”Tidak ada maskapai penerbangan Eropa yang akan mengirimkan pesawatnya ke Asia untuk memenuhi permintaan dari Teluk, hanya untuk menghadapi risiko armada-armadanya tertahan di sana karena kekurangan bahan bakar untuk kembali,” ujar analis aviasi John Strickland dilansir dari Asia News Network. Ismawadi/Infografik Pengalihan Jalur Penerbangan di Timur Tengah
Dilema maskapai Menanggapi masih padatnya penumpang pada rute-rute favorit di Indonesia, Wakil Ketua Forum Transportasi Udara Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Sri Sardjananto mengatakan, penerbangan merupakan kebutuhan karena Indonesia merupakan negara kepulauan. Pemerintah yang sudah menaikkan fuel surcharge dan memberlakukan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) selama 60 hari sejak awal April 2026 dinilai mampu menopang mobilitas masyarakat. Namun, maskapai yang belum memangkas rute dan frekuensi penerbangan sebenarnya bersifat dilematis. ”Itu dilema buat maskapai karena utilisasi rendah, atau bahkan pesawat tidak diterbangkan, maka biaya sewa tetap ada. Setidaknya harus dinegosiasikan dengan lessor (penyewa) pesawat,” ujar Sardjananto. Ketika ditanya soal strategi efisiensi yang lain, Sardjananto mengemukakan bahwa rute sepi dapat dialihkan ke rute gemuk hanya ketika permintaan masih ada. Langkah terakhir, maskapai penerbangan dapat mengurangi frekuensi hingga menutup sementara rute-rute yang dianggap tidak menguntungkan. ”Hal ini terjadi kalau terbang malah merugi, ya, mending enggak terbang,” ucapnya. Selain itu, maskapai penerbangan tetap perlu meningkatkan pendapatan nontiket. Dua di antaranya dengan optimalisasi kargo serta negosiasi sewa sistem penjualan tiket. Pemerintah tetap perlu mengontrol jalur-jalur perintis dan subsidi. Konsumen perlu mendapat perlindungan ketika maskapai terlambat terbang, maka peraturan berlaku harus ditegakkan. Adaptasi bisa dilakukan pula dengan penyesuaian harga tiket, tetapi harus selaras dengan pelayanan yang dijaga.
|
| Kembali ke sebelumnya |