Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Ujian Resiliensi Ekspor Indonesia
Tanggal 08 Mei 2026
Surat Kabar Kompas
Halaman 10
Kata Kunci Ekspor
AKD - Komisi VI
Isi Artikel

Ekspor RI pada triwulan I-2026 tumbuh lesu. Di tengah kondisi itu, risiko perang di Timur Tengah masih berlanjut dan perjanjian ART AS-RI siap diimplementasikan.

Oleh Hendriyo Widi

Ketahanan keberlanjutan kinerja ekspor Indonesia tengah diuji. Pada triwulan I-2026, ekspor barang dan jasa Indonesia tumbuh lesu. Padahal, dalam dua tahun terakhir, yakni 2024 dan 2025, pertumbuhan tahunan dan triwulanannya cukup tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, rerata pertumbuhan tahunan ekspor barang dan jasa pada 2024 dan 2025 masing-masing sebesar 6,85 persen dan 7,03 persen. Kala itu, risiko dan tekanan konflik geopolitik terhadap perdagangan global belum terlalu besar.

Di sisi lain, kebijakan tarif resiprokal yang digulirkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada 2025 justru sedikit menguntungkan Indonesia. Ini berkat front loading perdagangan, yakni percepatan pembelian atau impor barang sebelum tarif yang lebih tinggi diberlakukan.

Sementara, pada triwulan I-2026, ekspor barang dan jasa hanya tumbuh 0,9 persen secara tahunan. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 21,22 persen. Tingkat pertumbuhan itu lebih rendah daripada triwulan I-2024 dan triwulan I-2025 yang masing-masing tumbuh 1,81 persen dan 5,91 persen secara tahunan.

<p>Distribusi dan pertumbuhan PDB menurut pengeluaran secara tahunan pada triwulan I-2026.</p>
Sumber: BPS/Distribusi dan pertumbuhan PDB menurut pengeluaran secara tahunan pada triwulan I-2026.

Terdapat dua faktor utama penyebab penurunan kinerja ekspor pada triwulan I-2026. Pertama, faktor domestik, yakni libur panjang hari raya Idul Fitri pada Maret 2026. Kedua, hambatan perdagangan dan penurunan permintaan global akibat dampak eskalasi perang AS-Israel versus Iran.

Konflik geopolitik di Timur Tengah itu meletus sejak 28 Februari 2026. Konflik itu juga memicu penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan sejumlah komoditas global, terutama migas.

Penurunan pertumbuhan ekspor pada triwulan I-2026 terutama tecermin dari kontraksi ekspor pada Maret 2026. Kendati begitu, nilai ekspor migas dan nonmigas Indonesia pada Januari-Maret 2026 masih naik tipis. Indonesia juga masih mampu membukukan surplus neraca perdagangan.

Merujuk data BPS, nilai ekspor migas dan nonmigas pada Maret 2026 turun 3,01 persen secara tahunan menjadi 22,53 miliar dolar AS. Dalam perbandingan yang sama, nilai ekspor migas anjlok 11,84 persen dan nonmigas turun 2,52 persen.

Pada bulan tersebut, kinerja ekspor sejumlah komoditas utama Indonesia juga jeblok secara tahunan. Beberapa di antaranya adalah lemak dan minyak hewan/nabati, termasuk produk turunan sawit (-27,02 persen); alas kaki (-15,55 persen); kendaraan dan bagiannya (-14,71 persen); kemudian mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (-9,8 persen).

Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke sejumlah negara dan kawasan mitra dagang utama juga turun. Pada Maret 2026, ekspor ke AS terkontraksi atau turun 12,83 persen secara tahunan. Dalam perbandingan yang sama, nilai ekspor ke Uni Eropa, India, dan Korea Selatan juga turun masing-masing sebesar 17,63 persen, 1,28 persen, dan 25,36 persen secara tahunan.

Nilai ekspor Indonesia ke sejumlah negara di Timur Tengah juga turun. Misalnya, nilai ekspor ke Uni Emirat Arab (UEA) turun dari 33,95 juta dolar AS pada Maret 2025 menjadi 26,37 juta dolar AS pada Maret 2026.

Dalam perbandingan yang sama, nilai ekspor ke Oman turun dari 82,45 juta dolar AS menjadi 46,99 juta dolar AS. Begitu pula nilai ekspor ke Irak turun tipis dari 17,46 juta dolar AS menjadi 17,18 juta dolar AS.

Hal itu membuat kinerja ekspor pada Januari-Maret 2026 kurang optimal. Pada periode tersebut, nilai ekspor migas dan nonmigas meningkat tipis 0,34 persen menjadi 66,85 miliar dolar AS dibandingkan dengan Januari-Maret 2025.

Indonesia juga masih mampu membukukan surplus neraca perdagangan pada Maret dan Januari-Maret 2026. Surplus tersebut tercatat senilai 3,32 miliar dolar AS pada Maret 2026 dan 5,36 miliar dolar AS pada Januari-Maret 2026.

Menteri Perdagangan Budi Santoso, Rabu (6/5/2026), mengatakan, surplus neraca perdagangan masih berlanjut pada Maret 2026. Ini melanjutkan tren surplus neraca perdagangan Indonesia selama 71 bulan beruntun sejak 20 Mei 2020.

”Ini menunjukkan fundamental perdagangan Indonesia masih kuat lantaran keberlanjutan surplus neraca perdagangan bulanan tetap terjaga. Ekspor nonmigas, khususnya dari sektor industri pengolahan, menjadi penopangnya,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta.

Budi menjelaskan, pada Januari-Maret 2026, kinerja ekspor industri pengolahan naik 3,96 persen atau senilai 54,98 miliar dolar AS dibandingkan dengan Januari-Maret 2025. Dalam periode tersebut, industri pengolahan juga mendominasi struktur pangsa total ekspor, yakni sebesar 82,25 persen.

Komoditas unggulan yang menjadi penopangnya adalah produk turunan sawit serta besi dan baja. Pada Januari-Maret 2026, nilai ekspor produk turunan sawit serta besi dan baja masing-masing tumbuh 3,56 persen dan 0,56 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025.

Budi juga menegaskan, pemerintah akan terus menjaga momentum kinerja perdagangan dengan memperluas pasar ekspor nonmigas dan memperkuat ketahanan sektor domestik. Pemerintah juga memastikan kebijakan-kebijakan yang digulirkan bersifat adaptif terhadap dinamika global.

Infografik Runtuhnya Lalu Lintas Maritim di Selat Hormuz
Kompas
 
Dampak ART AS-RI
Ujian resiliensi kinerja ekspor Indonesia masih berlanjut atau tidak berhenti pada triwulan I-2026. Perang di Timur Tengah masih belum tuntas dan jalur perdagangan maritim di Selat Hormuz belum benar-benar pulih.

Di sisi lain, jika tidak ada halang rintang, Perjanjian Perdagangan Resiprokal (ART) AS-RI bakal mulai berlaku penuh pada Mei 2026. Ini lantaran AS dan Indonesia sepakat akan memberlakukan perjanjian itu setelah 90 hari sejak penandatanganan pada 19 Februari 2026.

Peneliti International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS) Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Sahara, menilai, perang di Timur Tengah dan ART AS-RI masih dan akan membawa risiko terhadap kinerja ekspor Indonesia hingga pengujung 2026. Hal itu disampaikan dalam webinar Tinjauan Ekonom Triwulan I-2026 Indonesia bertajuk ”Ujian Resiliensi Ekonomi” yang digelar Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia pada 29 April 2026.

Menurut Sahara, perang di Timur Tengah berpotensi menurunkan ekspor Indonesia ke negara-negara di kawasan tersebut. Dengan skenario Selat Hormuz masih ditutup, Indonesia berpotensi kehilangan nilai ekspor sebesar 1,4 juta dolar AS atau 0,59 persen dari total nilai ekspor pada 2025.

Ini mengingat delapan negara di Teluk Persia, yakni UEA, Arab Saudi, Qatar, Oman, Irak, Iran, Kuwait, dan Bahrain, menguasai 3,2 persen pangsa pasar ekspor Indonesia. Komoditas ekspor utama Indonesia ke negara-negara itu, antara lain, berupa produk turunan sawit, kendaraan dan suku cadangnya, logam mulia dan perhiasan, serta ekstrak kopi dan teh.

Selain itu, lanjut Sahara, ekspor Indonesia ke sejumlah negara mitra dagang utama di luar kawasan Timur Tengah juga berpotensi tergerus. Ini lantaran penutupan Selat Hormuz telah mengganggu arus ekspor dan impor negara-negara tersebut.

”Gangguan tersebut telah membuat Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia tumbuh melambat,” katanya.

PMI Manufaktur China tercatat melambat dari 52,1 pada Februari 2026 menjadi 50,8 pada Maret 2026. Dalam perbandingan yang sama, PMI Manufaktur negara-negara ASEAN turun dari 53,8 menjadi 51,8 dan India juga turun dari 56,9 menjadi 53,8.

Sementara itu, terkait perjanjian ART AS-RI, Sahara mengingatkan dampak impementasi perjanjian itu terhadap perekonomian Indonesia. Dampak tersebut dianalisis dengan dua skenario berdasarkan model keseimbangan umum multinegara Global Trade Analysis Project (GTAP).

Sahara menjelaskan, pada skenario pertama, ketika Indonesia dikenai tarif resiprokal sebesar 19 persen dengan pengecualian 10 produk, pertumbuhan ekonomi diperkirakan terkontraksi sekitar 0,4 persen. Pelemahan ekspor ke AS akibat kenaikan harga relatif sebesar 19 persen serta peningkatan impor menjadi faktor utama.

Dari sisi perdagangan, ekspor Indonesia ke dunia diproyeksikan turun hingga 1,86 persen. Adapun impor naik sekitar 1,5 persen sehingga neraca perdagangan berpotensi defisit sebesar 5,66 miliar dolar AS.

”Pada skenario kedua, dengan tarif lebih rendah di kisaran 15 persen, dampak yang ditimbulkan relatif moderat. Pertumbuhan ekonomi terkontraksi sekitar 0,2 persen, dengan impor meningkat 0,4 persen,” kata Sahara.

<p>Estimasi dampak implementasi Perjanjian Perdagangan Resiprokal (ART) Amerika Serikat-Indonesia.</p>
Sumber: Core Indonesia/Estimasi dampak implementasi Perjanjian Perdagangan Resiprokal (ART) Amerika Serikat-Indonesia.

Ia juga berpendapat, ART AS-RI berpotensi memicu retaliasi atau tindakan balasan dari negara mitra dagang lain. Salah satu contohnya adalah kewajiban impor daging sapi dari AS sebanyak 50.000 ton per tahun. Ini berpotensi menggeser impor daging sapi dari Australia.

Jika terjadi pengalihan pembelian, negara mitra dagang utama seperti Australia bisa saja merespons dengan tindakan balasan. Selain itu, harga sejumlah komoditas dari AS cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan negara pemasok utama lainnya, seperti China, Australia, dan Brasil.

”Hal ini berpotensi menambah beban impor Indonesia, apalagi jika pelemahan rupiah terus berlanjut,” ujar Sahara.

Oleh karena itu, ia menyarankan sejumlah langkah strategis kepada pemerintah untuk mengatasi dua tantangan tersebut. Pertama, pemerintah perlu menyusun strategi lanjutan untuk meminimalkan dampak negatif ART AS-RI terhadap perekonomian.

Kedua, pemerintah perlu memperkuat diversifikasi pasar ekspor ke pasar nontradisional. Langkah ini perlu dibarengi dengan peningkatan nilai tambah produk dan mengurangi ketergantungan impor bahan baku melalui penguatan industri domestik.

”Selain itu, efisiensi logistik dan energi serta stabilitas nilai tukar rupiah juga perlu dijaga untuk menjaga daya saing di tengah tekanan global,” kata Sahara.

Kesepakatan Perdagangan Resiprokal antara AS-RI
PANDU
  Kembali ke sebelumnya