| Judul | Rupiah Tertekan, Mampukah Pariwisata Menjadi Penyelamat? |
| Tanggal | 08 Juni 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Pariwisata |
| AKD |
- Komisi VII |
| Isi Artikel | Momentum melemahnya rupiah seharusnya menjadi pendorong kreativitas ekonomi wisata yang besar agar sektor ”leisure” ini dapat menjadi mesin devisa yang andal. Oleh MB Dewi Pancawati Melemahnya rupiah memberikan daya tarik bagi kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Momentum ini seharusnya menjadi pendorong kreativitas ekonomi wisata yang besar agar sektor leisure ini dapat menjadi mesin devisa yang andal meskipun rupiah kembali menguat suatu hari nanti. Memasuki Juni 2026, rupiah mencapai rekor depresisasi hingga lebih dari Rp 18.000 per dolar AS. Mengutip data dari Bank Indonesia pada 8 Juni ini, nilai kurs tengah rupiah mencapai 18.039 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini merupakan yang tertinggi setelah trennya terus memburuk sejak menembus Rp 17.000 per dolar AS di awal April lalu. Secara year to date (ytd), rupiah tercatat telah melemah sekitar 7,44 persen terhadap dolar AS. Tertekannya rupiah tersebut tentu berdampak pada berbagai sektor ekonomi, terutama yang berhubungan dengan transaksi perdagangan internasional. Dengan demikian, risiko terhadap kenaikan biaya impor yang mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara umum kian besar. Hal ini berpotensi memberi tekanan pada perekonomian rumah tangga karena menurunkan daya beli masyarakat. Meskipun demikian, dalam situasi demikian, tetap ada peluang bagi sejumlah sektor domestik untuk mendorong kemajuan ekonomi nasional. Salah satunya adalah sektor pariwisata, khususnya sektor wisata, yang mengundang hadirnya turis mancanegara. Trading Economics
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah ke level Rp 17.800 jelang akhir Mei 2026. Dengan melemahnya rupiah, membuat sejumlah valuta asing turut menguat terhadap mata uang Indonesia. Harga barang dan jasa di dalam negeri menjadi kian murah bila disandingkan dengan sejumlah valuta asing. Hal ini berpotensi mengundang hadirnya wisatawan mancanegara (wisman) untuk berwisata ataupun berbelanja. Fenomena ini tentu saja menguntungkan bagi industri jasa wisata dan akomodasi nasional sehingga menghasilkan devisa serta memajukan perekonomian di wilayah destinasi bersangkutan. Hanya saja, dampak positif tersebut bergantung pada kemampuan Indonesia dalam menarik wisatawan asing dan mendorong belanja wisata yang lebih tinggi. Bila pelemahan rupiah ini dapat menjadi momentum yang menguntungkan, devisa wisata dapat mengurangi tekanan terhadap neraca pembayaran. Pertanyaannya, mampukah pariwisata menjadi penyelamat pada saat rupiah tertekan seperti saat ini? Potensi meningkatkan devisa Belum lenyap bayang-bayang lesunya kunjungan wisman akibat perang di Timur Tengah sehingga pemerintah menyiapkan mitigasi agar target wisman dan devisa tak tergerus gejolak geopolitik. Kini, tertekannya rupiah menjadi momentum untuk menarik devisa sebanyak-banyaknya dari kunjungan wisman. Saat rupiah melemah terhadap dolar AS atau mata uang asing lainnya, biaya berwisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan asing. Kondisi ini dapat meningkatkan daya tarik destinasi wisata Indonesia. Hotel, restoran, transportasi, dan atraksi wisata menjadi lebih murah jika dihitung dengan dolar AS. Dengan demikian, wisman akan berpotensi tinggal lebih lama dan berbelanja lebih banyak. Peluang inilah yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pemerintah dan pelaku usaha wisata Tanah Air. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), data kunjungan wisman per bulan pada 2026 memperlihatkan adanya kenaikan pada April dibandingkan Maret sebelumnya. Dari 1,09 juta kunjungan menjadi 1,25 juta kunjungan atau naik 14,75 persen. Jika dibandingkan April setahun silam yang mencatatkan 1,16 juta kunjungan, terjadi peningkatan 7,22 persen pada April tahun ini. Peningkatan itu seiring dengan depresiasi rupiah yang mulai menembus Rp 17.000 per dolar AS pada April lalu. INFOGRAFIK KOMPAS/PANDU/Infografik
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga April 2026, jumlah wisman mencapai 4,68 juta kunjungan atau tumbuh 8,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang 4,33 juta kunjungan. Data April 2026, Malaysia tercatat menjadi negara asal wisman terbesar ke Indonesia dengan 207.957 kunjungan. Selanjutnya diikuti Australia sebanyak 157.960 kunjungan, China 133.986 kunjungan, Singapura 111.439 kunjungan, dan Timor Leste 75.477 kunjungan. Kunjungan wisman asal Malaysia dan Singapura terpotret melonjak di Batam dan membuat sejumlah pusat perbelanjaan, kawasan kuliner, hingga toko oleh-oleh dipadati pengunjung dalam beberapa pekan terakhir. Peningkatan tersebut semakin terasa pada Mei hingga Juni 2026, bertepatan dengan periode libur umum (public holiday) di Singapura dan Malaysia. Kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi perkembangan pariwisata nasional. Peningkatan kunjungan wisman itu turut memberikan dampak positif terhadap penerimaan devisa negara. Untuk mengukur capaian nilai devisa dari sektor ini, Kementerian Pariwisata mengacu pada data penerimaan (ekspor) jasa perjalanan wisatawan mancanegara (travel inbound) yang tercatat dalam transaksi berjalan pada komponen jasa-jasa dalam laporan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang diterbitkan Bank Indonesia. BI mencatat devisa pariwisata pada kuartal I-2026 mencapai 4,05 miliar dolar AS atau naik 6,30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,81 miliar dolar AS. Jika dilihat dari total penerimaan devisa, terlihat tren yang terus meningkat dalam empat tahun terakhir. Secara kumulatif, total penerimaan devisa dari sektor pariwisata sepanjang tahun 2025 mencapai 18,28 miliar dolar AS atau tumbuh 9,41 persen dibandingkan tahun 2024. Jumlah ini naik tiga kali lipat dibandingkan tahun 2022. ANDRI/Infografik Kunjungan Wisatawan Mancanegara Menurut Kawasan Kebangsaan, 2024-2025
Tantangan menciptakan manfaat ekonomi Meskipun demikian, melemahnya rupiah tidak cukup diatasi hanya dengan mengejar jumlah wisatawan mancanegara. Terpenting adalah meningkatkan nilai belanja per wisatawan. Dengan membelanjakan lebih banyak uang, akan membawa dampak ekonomi dan menghasilkan devisa lebih besar. Oleh karena itu, perlu upaya mendorong wisatawan agar tinggal lebih lama tinggal di Indonesia. Dengan demikian, akan semakin besar pengeluarannya untuk hotel, makanan, transportasi, dan aktivitas wisata lainnya. Jika rata-rata lama tinggal naik dari 7 hari menjadi 10 hari, belanja wisatawan berpotensi meningkat hingga kisaran 30-40 persen. Ada sejumlah cara yang dapat dilakukan oleh regulator dan juga para pelaku wisata, misalnya mengembangkan paket wisata lintas destinasi (misalnya Bali-Labuan Bajo-Lombok) dengan penerbangan penghubung yang lebih mudah dan murah. Bisa pula mengembangkan wisata berbasis pengalaman agar wisman menjadi membutuhkan waktu tinggal lebih panjang dan berkenan membayar mahal untuk aktivitasnya. Belajar membatik, menenun, atau membuat kerajinan dapat menjadi alternatif yang dapat ditawarkan kepada para wisman. Memperbanyak aktivitas wisata berbayar juga bisa menjadi pilihan. Indonesia kaya akan atraksi budaya yang bisa menjadi daya tarik wisman untuk mengeluarkan uang lebih banyak. Selain pertunjukan seni, dapat pula memperbanyak paket ekowisata, wisata kuliner, atau wisata olahraga, dan sebagainya. Bahkan, wisata kesehatan pun dapat menjadi pilihan yang ditawarkan. Indonesia dapat menarik wisatawan asing untuk layanan kesehatan seperti medical check-up, spa dan kebugaran, atau perawatan lansia. Segmen ini berpotensi memiliki pengeluaran tinggi dan masa tinggal lebih lama. Selain itu, yang tidak boleh ditinggalkan adalah memperkuat industri kreatif dan UMKM. Belanja produk lokal pun juga berpotensi menarik para wisatawan. Indonesia kaya produk kerajinan yang tidak ditemukan di negara lain sehingga menawarkan suvenir oleh-oleh ataupun produk dagangan yang dapat diekspor. Pemerintah perlu mendukung kemajuan sentra kerajinan berkualitas, mengurasi produk UMKM yang memenuhi standar ekspor, dan mempermudah transaksi dengan digitalisasi pembayaran bagi UMKM. Harapannya, belanja wisatawan meningkat dan memberikan multiplier effect ekonomi bagi daerah bersangkutan. Oleh karena itu, meningkatnya kembali kunjungan wisman di awal triwulan II-2026 ini harus dijaga supaya trennya terus meningkat sehingga berpotensi menghasilkan devisa bagi negara. Namun, terpenting adalah menjaga kualitas layanan wisata yang andal bagi para turis agar kenangan indah di Indonesia akan terus diulang di lain waktu. Dengan kepuasan yang optimal terhadap pelayanan dan akomodasi wisata, daya tarik destinasi kunjungan, serta kualitas cendera mata bermutu tinggi niscaya para turis asing akan berkenan lagi mengunjungi Indonesia. Meskipun kelak rupiah akan menguat kembali, dengan citra positif yang telah tersemat bagi wisata Indonesia, negeri ini akan terus menjadi salah satu destinasi wisata favorit di dunia. (LITBANG KOMPAS) |
| Kembali ke sebelumnya |