| Judul | Haji di Arafah untuk Perubahan Lebih Baik di Tanah Air |
| Tanggal | 22 Juni 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Adopsi - Aspek agama - Islam |
| AKD |
- Komisi VIII |
| Isi Artikel | Semua terasa seperti mimpi, yang menjadi kenyataan. Datang ke Tanah Suci, hadir di Arafah menunaikan wukuf di tengah sengatan terik panas matahari saat puncak haji, berlanjut dengan mabit di Muzdalifah dan Mina, lalu melontar jamrah, dan menuntaskan tahalul awal sejak Selasa (26/5/2026) hingga Rabu (27/5/2026). Setelah menyelesaikan wukuf hari Selasa, jemaah bertolak ke Muzdalifah selepas shalat Maghrib dan Isya dengan dijamak-qasar. Mereka diangkut dengan bus-bus. Sebagian bus berhenti di Muzdalifah. Jemaah yang diangkut dengan bus itu melaksanakan mabit (bermalam) di Muzdalifah dan mengumpulkan batu kerikil untuk melempar jamrah di Jamarat, Mina. Sebagian bus tidak berhenti di Muzdalifah. Jemaah di bus-bus itu melakukan skema murur (melintas) dan tidak berhenti di Muzdalifah. Jemaah yang memilih skema murur sudah dibekali dengan kantong-kantong berisi kerikil untuk melontar jamrah. Di Mina, Rabu pagi jemaah melontarkan jamrah aqabah. Setelah menyelesaikan lontaran jamrah aqabah, jemaah melakukan tahalul awal (mencukur atau menggunting sebagian rambut) dan terlepas dari larangan ihram. Ada tiga rukun haji berikutnya: tawaf ifadah, sai, dan tahalul tsani.
POOL/MEDIA CENTER HAJI 2026 Jemaah berjalan kaki menuju lokasi melontar jamrah atau Jamarat di Mina, Arab Saudi, Rabu (27/5/2026) pagi. Jalan-jalan raya di Mina ditutup bagi kendaraan untuk digunakan jemaah berjalan kaki menuju Jamarat. Seluruh rangkaian perjalanan puncak spiritual itu menjadi bekal jemaah haji Indonesia untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. ”Terkait haji, kita kan bermasyarakat. Jangan sampai kita membawa gelar ’haji’ jadi sombong,” kata Edi Santoso (48), jemaah asal Malang di Kloter 65 Surabaya (SUB 65) ”Haji itu yang terpenting adalah mabrurnya, memanusiakan manusia. Jadi, habluminannas (hubungan sesama manusia) yang lebih ditegakkan,” lanjut Edi. Selasa sore, beberapa jam setelah ibadah wukuf, Edi dan istrinya melanjutkan doa di gang yang membelah tenda-tenda di area jemaah Indonesia di Arafah. Lalu-lalang jemaah sama sekali tak mengusik keduanya. Begitu pun cuaca panas dengan suhu sekitar 45 derajat celsius saat khotbah wukuf di tendanya berlangsung. Tenda Kloter SUB 65, tempat Edi tinggal, sudah dilengkapi mesin penyejuk ruangan. Namun, panasnya cuaca di Arafah—sekitar 23 kilometer tenggara Masjidil Haram—mengalahkan penyejuk ruangan itu hingga membuat jemaah kegerahan. ”Seperti di sauna, tetapi hati tetap gembira. Khotbah wukuf membuat kami terbawa emosi sampai sebagian kami menangis, menangisi semua kesalahan,” ujar Edi. Edi berangkat ke Tanah Suci bersama istrinya, menggantikan ibunya yang wafat, dua tahun lalu. Ia sebenarnya sudah mendaftar haji sendiri dan dijadwalkan berangkat tahun 2045. Ia berencana membadalkan ibunya saat kelak pergi ke Tanah Suci lagi. Dengan suara serak, karena energi yang terkuras dengan aktivitas ibadah, Edi menuturkan refleksinya. ”Hakikatnya orang beribadah haji itu bukan untuk gaya-gayaan. Kita hanya untuk menjalankan syariatnya dan amanah dari Allah untuk menggenapkan rukun Islam. Di masyarakat (kelak setelah pulang), saya tidak akan menambah-nambahi dengan gelar ’haji’. Saya akan seperti apa adanya ini,” lanjutnya. Wukuf di Arafah sering disebut puncak haji. Tidak sah haji seorang jemaah jika tidak ikut wukuf. Wukuf dimulai sejak tergelincirnya matahari hingga terbit fajar, tetapi jemaah haji Indonesia digerakkan ke Muzdalifah mulai setelah maghrib. Ibadah wukuf diisi dengan khotbah, dilanjutkan dengan shalat Dzuhur-Ashar dijamak-qasar. Masing-masing tenda jemaah menggelar khotbah dan shalat berjemaah. Khotbah di tenda Misi Haji Indonesia disampaikan Guru Besar Sosiologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel KH Asep Saifuddin Chalim. Wukuf di tenda itu dihadiri, antara lain, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, Ketua Tim Pengawas DPR Cucun Ahmad Syamsurijal, Duta Besar RI untuk Arab Saudi Abdul Aziz Ahmad, dan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar. Asep menyampaikan, ibadah haji merupakan panggilan dan Allah SWT akan memberikan jamuan kepada tamu-tamunya. Disebutkan bahwa setiap anggota jemaah yang memohon ampun kepada Allah akan diampuni dosanya, sementara doa dan permohonan yang dipanjatkan selama menjalankan ibadah haji juga akan dikabulkan oleh Allah SWT. Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf menegaskan pentingnya mewujudkan tri sukses haji dalam penyelenggaraan ibadah haji 2026. Tiga pilar tersebut meliputi sukses ritual, sukses ekosistem ekonomi, serta sukses peradaban dan keadaban. KOMPAS/MCH 2026/MUHAMMAD SAMSUL HADI Amirul Hajj, yang juga Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (depan, ketiga dari kiri), berbicara dengan jemaah haji Indonesia di Arafah, Arab Saudi, Selasa (26/5/2026), sebelum pemberangkatan jemaah ke Muzdalifah. Dalam konsep tersebut, sukses ritual diarahkan agar seluruh jemaah dapat menjalankan rangkaian ibadah haji secara sah, sehat, tertib, dan sempurna. Kemudian, sukses ekosistem ekonomi ditujukan untuk memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan umat. Sementara sukses peradaban dan keadaban menekankan pembentukan karakter jemaah yang disiplin, toleran, dan mencerminkan nilai luhur bangsa selama berada di Tanah Suci. Momen wukuf di Arafah adalah salah satu momen paling berharga di antara seluruh rangkaian ibadah haji. Doa saat wukuf diyakini bakal terkabul. Namun, Abdul Kohar (50), jemaah asal Mojokerto di Kloter 64 Embarkasi Surabaya (SUB 64), bisa hadir saat wukuf di Arafah sudah anugerah yang sangat besar. ”Momen wukuf ini adalah sesuatu yang saya tunggu. Momennya benar-benar mungkin satu kali dalam hidup. Saya merasakan (wukuf) benar-benar sebagai karunia terbesar,” ujarnya. Seperti Edi dan istrinya, Abdul Kohar juga menghabiskan siang hingga sore dengan berdoa di gang antara tenda-tenda. ”Banyak sekali liku-likunya pada akhirnya (saya bisa) sampai titik ini,” ujarnya. KOMPAS/MCH 2026/MUHAMMAD SAMSUL HADI Jemaah haji Indonesia berdoa pada puncak ibadah haji, wukuf, di Arafah, Arab Saudi, Selasa (26/5/2026). Abdul Kohar lalu bercerita, ia mulai memancangkan niat berhaji saat menikah dengan istrinya tahun 2004. Sejak itu, ia menyisihkan pendapatan dan menabungnya khusus untuk berhaji. Baru pada 2012, tabungannya cukup untuk mendaftar haji. Setelah menunggu 14 tahun, ia dan istrinya benar-benar bisa naik haji. Butuh 22 tahun untuk mewujudkan impiannya menjadi kenyataan. ”Waktu menunggu itu kan tidak singkat. Dalam waktu 14 tahun setelah mendaftar, banyak hal terjadi, mulai persoalan ekonomi, (ujian) kesehatan, dan sebagainya. Jadi, saya merasa ini benar-benar sebuah anugerah,” kata Abdul Kohar. Sepulangnya di Tanah Air nanti, Abdul Kohar bertekad dirinya ingin lebih bermanfaat untuk keluarga dan sesama. ”Lebih bermanfaat untuk teman-teman, untuk orang-orang yang mengenal saya, untuk orang-orang yang mencintai saya, dan untuk masyarakat,” ujarnya. Pada Rabu pagi, setelah menyelesaikan mabit (atau sebagian jemaah melakukan murur) di Muzdalifah dan bergerak ke Mina, jemaah memadati area Jamarat untuk melontar jamrah aqabah. Jamrah aqabah merupakan salah satu rangkaian wajib haji, dengan melontarkan 7 kerikil ke tembok Jamrah Kubra. Melontar jamrah merupakan simbol menghalau godaan setan. Ritual ini meniru langkah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS saat keduanya akan melaksanakan perintah Allah SWT untuk berkurban dan di tengah perjalanan digoda setan agar tidak jadi berkurban. Lontaran batu ke tembok Jumrah Kubra merupakan simbol menghalau godaan setan yang selalu menghalangi orang beriman dalam menjalankan perintah Allah SWT. Dari lokasi mabit jemaah haji Indonesia di Mina, jarak menuju tembok Jamrah Kubra di Jamarat sekitar 4 kilometer. Artinya, bagi jemaah yang harus kembali ke tenda di Mina, jemaah harus berjalan kaki kira-kira sejauh 8 kilometer. Hal ini membuat sejumlah jamaah—terutama lansia—kelelahan dan tak mampu melanjutkan perjalanan. AP Photo/Altaf Qadri Seorang anggota paramedis (keempat dari kiri) menghampiri seorang anggota jemaah haji yang kelelahan di lokasi melempar jamrah, Jamarat, Mina, Arab Saudi, Rabu (27/5/2026). Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut fase Mina—setelah fase Arafah dan Muzdalifah—sebagai titik krusial yang lebih melelahkan. Durasi fase Mina lebih lama daripada fase Arafah dan Muzdalifah. Ia menemukan fakta di lapangan bahwa banyak jemaah belum memperoleh tenda. ”(Itu) karena tenda-tenda mereka diserobot, daftar nama yang sudah kita buat dicopot oleh beberapa pihak, baik pihak tidak bertanggung jawab dari syarikah maupun pihak-pihak lain yang tidak bertanggung jawab,” kata Dahnil. ”Tenda-tenda yang ada, AC-nya bermasalah sehingga beberapa jemaah harus tidur atau berdiam diri di luar tenda.” Menurut informasi jemaah, masalah tersebut antara lain terjadi di Maktab 12, yang dialami jemaah Kloter 2, 3, dan 5 embarkasi Jakarta-Bekasi. ”Dari datang jam 3 pagi dari Muzdalifah, sekarang 2 AC mati, jadi pada belum sempat istirahat, tidak bisa tidur, padahal harus lempar jamrah,” ujar seorang anggota jemaah. Terkait keluhan tersebut, Dahnil memerintahkan petugas haji, khususnya Satgas Mina, mengerahkan seluruh sumber daya guna memperbaiki situasi dan terus melayani kebutuhan jemaah. (MTK) |
| Kembali ke sebelumnya |