Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Menjadi Negara Industri Maju dan Peran Nilai Tukar
Tanggal 18 Juni 2026
Surat Kabar Kompas
Halaman 6
Kata Kunci Ekonomi
AKD - Komisi XI
Isi Artikel

Sebagai negara manufaktur berkembang, kekuatan dan kestabilan ekonomi Indonesia ditentukan daya saing industri berbasis ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi.

Oleh Kiki Verico

Indonesia berkomitmen menjadi negara berpendapatan tinggi (high income country) pada 2045. Estimasi penulis menunjukkan rentang pendapatan per kapita pada 2045 antara 15.000 dolar AS hingga 30.000 dolar AS apabila pertumbuhan ekonomi nasional berada pada kisaran 5-8 persen.

Rentang pendapatan per kapita per tahun untuk kelas menengah adalah yang terpanjang. Nilai rentang meningkat mengikuti laju inflasi. Untuk saat ini, menurut Bank Dunia, kelas menengah berada dalam dua kategori. Pertama, menengah bawah dalam rentang 1.136-4.495 dolar AS dan menengah atas dalam rentang 4.496-13.935 dolar AS. Pendapatan per kapita di bawah 1.136 dolar AS masuk kategori rendah, sedangkan di atas 13.935 dolar AS masuk kategori tinggi. Panjangnya klasifikasi kelas menengah membuat kemungkinan sebuah negara berada lama di dalam kategori kelas menengah, sangat besar. Kondisi ini dikenal dengan istilah ”jebakan kelas menengah” atau middle income trap (MIT).

Ada empat variabel yang harus dijaga oleh setiap negara yang ingin lolos dari jebakan MIT: pertumbuhan ekonomi, laju inflasi, pertumbuhan jumlah penduduk, dan stabilitas nilai tukar. Saat kondisi ekonomi normal, output tumbuh positif dan nilai tukar bersifat stabil. Depresiasi mata uang domestik tidak akan menurunkan pendapatan per kapita. Namun, jika nilai tukar terus mengalami depresiasi, output akan cenderung turun karena biaya produksi meningkat sehingga menurunkan pendapatan per kapita. Kenaikan biaya produksi terjadi karena sebagian bahan mentah, bahan baku, dan mesin-mesin berasal dari impor. Fenomena ini disebut imported inflation.

Inflasi impor terjadi sebelum depresiasi mata uang domestik mampu mendorong kenaikan volume ekspor. Kondisi ini disebut Kurva-J—karena bentuknya seperti huruf J. Pelemahan mata uang domestik terlebih dahulu membuat neraca ekspor impor defisit sebelum menjadi surplus. Periode defisit ini menggambarkan tantangan ekonomi sektor riil dan ketika daya beli kelas menengah menurun, optimisme produksi menurun.

Sekitar 48 persen manufaktur menengah besar Indonesia melakukan impor bahan mentah, bahan baku, dan mesin namun penjualan output-nya dominan di pasar domestik. Manufaktur kendaraan bermotor, alat listrik, logam dasar, komputer, dan industri kimia termasuk dalam lima besar manufaktur di Indonesia dengan risiko tinggi ketika rupiah melemah karena orientasi pasar domestiknya berada di atas 60 persen. Jika pendapatan dalam rupiah, tetapi sebagian pengeluaran dalam dolar AS, pelemahan nilai tukar akan berdampak pada turunnya produksi. Untuk menghindari ini, langkah awal yang harus dilakukan adalah menstabilkan nilai tukar rupiah.

Mata uang asing tidak bisa dicetak kecuali oleh negara yang mencetak mata uang tersebut. Untuk meningkatkan jumlah dolar AS, Indonesia harus meningkatkan surplus, mulai dari perdagangan barang dan jasa, investasi fisik, investasi pasar uang, kunjungan wisatawan asing, hingga transfer pendapatan dari WNI yang bekerja di luar negeri. Semua sumber devisa ini membutuhkan kebijakan yang tidak hanya ”bersahabat” dengan pasar tetapi juga ”menarik” bagi investor. Kebijakan ekonomi Indonesia pun harus mampu bersaing dengan kebijakan serupa di negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam, karena pada dasarnya upaya mendatangkan devisa dilakukan oleh semua negara.

Nilai tukar memiliki dua bentuk: nominal dan riil. Kekuatan nilai tukar ”nominal” dipengaruhi oleh daya saing internasional sektor riil sementara kekuatan nilai tukar ”riil” dipengaruhi oleh laju inflasi domestik. Daya saing internasional sektor riil diukur dari kemampuan negara dalam menghasilkan devisa sehingga nilai tukar nominal sangat sensitif terhadap ekspektasi investor. Ketika daya saing sektor riil di panggung global menurun atau kebijakan pemerintah membebani pasar (crowding out) maka timbul ekspektasi pelemahan nilai tukar nominal atau depresiasi.

Bila ekspektasi depresiasi mendorong kenaikan harga impor bahan mentah, bahan baku, dan mesin maka ekonomi akan menemui dua situasi yang tidak menguntungkan yaitu inflasi naik dan output turun. Pertemuan ini bisa dicegah dengan cara meningkatkan kepercayaan investor untuk melakukan investasi. Kepercayaan investor membutuhkan institusi yang berkualitas berlandaskan hukum dan regulasi yang berstandar global dengan pelaksanaan yang adil. Institusi yang baik adalah institusi yang mendorong daya saing dan menumbuhkan pasar.

Setelah memiliki institusi ekonomi yang berkualitas, beberapa hal lain yang harus dilakukan agar nilai tukar stabil dalam jangka panjang adalah: pertama, memastikan ekonomi nasional bersifat agile dengan aggregate supply yang elastis. Hal ini dapat diukur melalui ”efisiensi investasi” dengan indikator incremental capital output ratio (ICOR).

Ibarat lari, ICOR adalah pace sementara pertumbuhan ekonomi adalah kecepatan. Sama seperti kecepatan, pertumbuhan ekonomi adalah ”akibat” sementara pace ekonomi atau ICOR adalah ”sebab”. Setiap negara harus menurunkan ICOR bila ingin pertumbuhan ekonominya naik. Upaya meningkatkan efisiensi investasi termasuk tentang bagaimana anggaran pemerintah efektif meningkatkan multiplier output ekonomi.

Kedua, memiliki orientasi untuk menjadi bagian dari jaringan manufaktur dunia. Di samping meningkatkan devisa, menjadi bagian dari jaringan manufaktur dunia akan meningkatkan jaringan pengusaha dan keahlian pekerja nasional. Ukuran yang umum dipakai adalah menjadi bagian dari basis produksi dunia (backward participation/BP) dan menjadi bangsa yang ikut memproduksi atau tidak hanya menjual produk negara lain (backward linkage/BL).

Ketiga, menyusun strategi efektif untuk mendorong daya saing internasional Indonesia. Berdasarkan pengalaman negara Asia yang lolos dari jebakan kelas menengah seperti Jepang dan Korea Selatan, strategi pendorong daya saing internasional ditentukan oleh kemampuan pemerintah mengidentifikasi mitra ekonomi dan produk unggulan ekspor. Indikator yang umum dipakai adalah posisi negara dalam jaringan nilai tambah produksi dan perdagangan dunia (global value chains/GVCs).

Ilustrasi Penghematan APBN
Kompas/Supriyanto

Ilustrasi Penghematan APBN

Semakin baik posisi sebuah negara di dalam GVCs, semakin besar devisa atau mata uang asing yang bisa dihasilkan oleh negara tersebut. Semakin besar devisa, semakin stabil nilai tukar nominal dan nilai tukar riil. Kestabilan nilai tukar adalah syarat ekonomi terutama manufaktur dapat bekerja dengan baik dan produktif.

Kombinasi analisis daya saing makro negara mitra dengan V-Index dan analisis daya saing produk dengan Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Constant Market Share Analysis (CMSA) dapat menemukan potensi jaringan produksi dan perdagangan untuk Indonesia (Verico, Indonesia’s International Economic Strategies, Palgrave Macmillan, 2023). Salah satu potensi jaringan perdagangan dan investasi di Asia Tenggara untuk produk manufaktur yang penting di masa depan adalah electronic integrated circuits (HS-8542). Potensi jaringan produk ini terlihat pada Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Indonesia. Dibutuhkan kebijakan yang detail dan tepat untuk meningkatkan peran Indonesia di dalam jaringan produksi global BP dan BL produk ini.

Namun, sebelum membuat kebijakan ekonomi yang lebih detail, setiap perancang kebijakan harus memahami dengan baik bagaimana mekanisme pasar bekerja. Salah satu cara menghasikan kebijakan ekonomi yang baik adalah belajar melalui lembaga ekonomi internasional, mulai dari tingkat sub-kawasan, kawasan, mega-kawasan hingga dunia.

Untuk melengkapi, diperlukan juga belajar dari kerja sama bilateral khususnya yang mengaitkan antara perdagangan dan investasi fisik jangka panjang. Berbagai kerja sama ekonomi tidak hanya akan meningkatkan jangkauan pasar dan kapasitas produksi tetapi juga kesempatan bagi semua negara untuk saling bertukar pengalaman di dalam membuat kebijakan ekonomi berkualitas global.

Peningkatan peran dalam jaringan produksi global membutuhkan investasi fisik jangka panjang. Investasi membutuhkan institusi berkualitas global baik dari sisi regulasi maupun penegakkan hukum. Regulasi investasi harus dihasilkan dari proses politik yang baik berbasis ekonomi yang kuat dan stabil. Sebagai negara manufaktur berkembang, kekuatan dan kestabilan ekonomi Indonesia ditentukan oleh daya saing industri berbasis ilmu pengetahuan eksakta dan penguasaan teknologi.

Kebijakan ekonomi internasional harus mengaitkan tiga hal sekaligus: investasi fisik, daya saing ekspor dan kualitas sumber daya manusia. Keterkaitan tiga hal ini akan membuat nilai tukar stabil sehingga manufaktur dapat bekerja dan lapangan kerja terbuka.

Kiki Verico Dosen Ekonomi Internasional dan Wakil Dekan FEB UI

  Kembali ke sebelumnya