| Judul | Mengapa Penyakit Tak Menular Meningkat di Indonesia? |
| Tanggal | 31 Agustus 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Kesehatan Masyarakat |
| AKD |
- Komisi IX |
| Isi Artikel | Berapa persen penyakit tak menular berkontribusi pada kematian di Indonesia? Penyakit tidak menular menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025, sebanyak 85,19 persen dari total 4,45 juta kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit tidak menular. Penyakit tersebut meliputi jantung, stroke, hipertensi, kanker, diabetes, penyakit ginjal, hingga paru obstruktif kronis. Kematian akibat penyakit tidak menular juga semakin banyak terjadi pada usia muda, mulai usia 35 tahun. Untuk menekan angka kematian tersebut, pemerintah mendorong pemeriksaan dan deteksi dini melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Sepanjang enam bulan pada 2026, program ini telah menjangkau sedikitnya 73 juta orang. Namun, pemeriksaan saja dinilai tidak cukup karena penyakit yang telah ditemukan harus segera mendapatkan pengobatan dan pengendalian agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih parah. Tindak lanjut pengobatan masih menjadi tantangan. Dari uji petik di tiga puskesmas, hanya 43-62 persen pasien yang terdeteksi hipertensi yang benar-benar mendapatkan obat. Sementara itu, hasil CKG terhadap 52 juta orang yang diperiksa tekanan darahnya menemukan 4,9 juta kasus hipertensi, 5,5 juta prehipertensi, 992.000 diabetes, 11 juta obesitas, dan 205.000 kolesterol tinggi. Penyakit-penyakit tersebut perlu dikendalikan agar tidak berkembang menjadi stroke, penyakit jantung, atau gagal ginjal. Pengendalian penyakit tidak menular juga berkaitan dengan target pemerintah meningkatkan usia harapan hidup dari 72 tahun menjadi 76 tahun dan usia harapan hidup sehat dari 60 tahun menjadi 65 tahun. Karena itu, keberhasilan CKG tidak hanya diukur dari banyaknya masyarakat yang diperiksa, tetapi juga dari keberlanjutan pengobatan dan kemampuan mengendalikan penyakit. Tujuannya adalah membuat masyarakat dapat hidup lebih lama sekaligus tetap sehat dan produktif. Penyakit tak menular apa saja yang berkontribusi pada kematian? Angka kematian global secara umum menurun seiring kemajuan medis dan meningkatnya usia harapan hidup, tetapi kondisi tersebut tidak sepenuhnya terjadi pada remaja dan dewasa muda. Di tingkat global, penyakit tidak menular (PTM) kini menjadi penyebab sekitar dua pertiga kematian dunia, terutama penyakit jantung iskemik, stroke, dan diabetes. Kecenderungan global tersebut juga terlihat di Indonesia. Data Riskesdas 2023 menunjukkan, PTM menyumbang lebih dari 70 persen penyebab kematian di Indonesia. Prevalensi diabetes meningkat dari 1,5 persen pada 2007 menjadi sekitar 3,2 persen pada 2023, hipertensi mencapai 34 persen populasi dewasa, sementara obesitas remaja meningkat dari 10,8 persen pada 2013 menjadi 23 persen pada 2023. Faktor risikonya antara lain pola makan tinggi gula, garam, dan lemak, konsumsi minuman berpemanis, kurang aktivitas fisik, serta merokok. Kondisi kesehatan remaja juga menunjukkan berbagai masalah. Berdasarkan GSHS-WHO 2022, hanya 16,4 persen siswa yang memenuhi rekomendasi aktivitas fisik minimal 60 menit per hari, sementara 40 persen rutin mengonsumsi minuman berpemanis dan 27 persen mengonsumsi makanan cepat saji lebih dari tiga kali seminggu. Masalah lainnya mencakup konsumsi rokok, alkohol, narkoba, paparan asap rokok, serta peningkatan penggunaan vape. Gaya hidup tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya kelebihan berat badan dan obesitas, sementara 1 dari 10 remaja mengalami gangguan depresi berat dan sekitar 15 persen pernah berpikir untuk bunuh diri, dengan hanya 9 persen remaja yang membutuhkan bantuan psikologis yang benar-benar mendapatkannya. Perubahan dari penyakit menular menuju PTM menunjukkan terjadinya transisi epidemiologi di Indonesia yang diperparah oleh polusi udara, makanan cepat saji, perilaku sedentari, dan faktor risiko lainnya. Hampir separuh kematian dan kecacatan global sebenarnya dapat dicegah dengan mengendalikan tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, obesitas, polusi udara, dan merokok. Karena itu, Indonesia dinilai perlu mengubah paradigma sistem kesehatan dari kuratif menjadi preventif, antara lain melalui larangan iklan rokok, pajak minuman berpemanis, dan edukasi kesehatan mental di sekolah agar meningkatnya masalah kesehatan pada generasi muda tidak berubah menjadi beban demografi. Apa yang menyebabkan penyakit tak menular tinggi? Penyakit tidak menular di Indonesia terutama disebabkan oleh gaya hidup dan faktor lingkungan yang berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi berkembang akibat kebiasaan dan lingkungan yang terus meningkatkan risiko penyakit. Salah satu dampaknya terlihat pada tingginya kasus hipertensi, diabetes, obesitas, serta penyakit jantung, stroke, kanker, dan penyakit ginjal. Salah satu penyebab penting adalah lingkungan obesogenik, yaitu lingkungan yang secara tidak sadar mendorong seseorang mengalami kelebihan berat badan. Lingkungan ini ditandai dengan mudahnya akses terhadap makanan tinggi kalori, gula, garam, dan lemak, serta tingginya paparan iklan makanan tidak sehat. Kondisi tersebut membuat masyarakat lebih mudah mengonsumsi pangan yang kurang sehat dan sulit mempertahankan berat badan ideal. Selain pola konsumsi, minimnya lingkungan yang mendukung aktivitas fisik juga menjadi faktor penyebab. Lingkungan yang kekurangan ruang terbuka hijau, trotoar yang aman dan nyaman, serta fasilitas untuk berjalan kaki dan berolahraga dapat membuat masyarakat kurang bergerak. Dengan demikian, pola hidup kurang aktif berpadu dengan mudahnya akses terhadap makanan tidak sehat sehingga meningkatkan risiko obesitas dan penyakit tidak menular. Faktor lainnya adalah lingkungan pangan (food environment), yang meliputi distribusi, harga, ketersediaan, dan promosi makanan. Meningkatnya konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan juga menjadi perhatian karena sejalan dengan peningkatan kasus obesitas dan diabetes. Makanan sehat yang sulit diperoleh atau mahal, sementara makanan dan minuman tidak sehat mudah ditemukan serta gencar dipromosikan, dapat mempersulit masyarakat untuk mengubah perilakunya menjadi lebih sehat. Apa yang perlu dilakukan? Penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan kanker menjadi tantangan kesehatan besar di Indonesia. Salah satu upaya yang diperlukan adalah mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak melalui kebijakan pangan berbasis sains. Pengetahuan mengenai hubungan pola makan dan penyakit perlu diterjemahkan menjadi kebijakan yang efektif dan adil agar masyarakat lebih mudah memilih makanan sehat. Upaya utama yang disoroti adalah mengintervensi ekosistem pangan, bukan hanya mengandalkan edukasi individu. Langkah yang dapat dilakukan meliputi penerapan cukai pada makanan ultraolahan dan minuman manis, pemberian label pangan yang informatif dan mudah dipahami, serta pengaturan pemasaran makanan tidak sehat, terutama yang menyasar anak-anak. Penguatan program makanan bergizi di sekolah juga diperlukan untuk membentuk pola konsumsi yang lebih sehat. Penanganan juga perlu dilakukan melalui deteksi dini dan edukasi publik. Kementerian Kesehatan telah meluncurkan program cek kesehatan gratis untuk seluruh penduduk, yang dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan masalah kesehatan, termasuk obesitas. Setelah deteksi, masyarakat perlu mendapatkan edukasi mengenai makanan sehat melalui slogan ”Isi Piringku” sekaligus didukung perbaikan ekosistem dan kualitas makanan agar pilihan sehat lebih mudah diakses. Untuk mengatasi penyakit tidak menular secara berkelanjutan, diperlukan sinergi lintas sektor antara bidang pangan, kesehatan, pendidikan, dan perdagangan. Data dan hasil penelitian perlu diterjemahkan menjadi regulasi yang efektif serta dapat diterima masyarakat dan industri. Upaya tersebut juga harus memiliki keberpihakan kepada kelompok rentan sehingga ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai kajian, tetapi menghasilkan kebijakan dan tindakan kolaboratif untuk mengurangi beban penyakit tidak menular. Penulis: Madina Nusrat Editor: Madina Nusrat Penyelaras Bahasa: Hibar Himawan |
| Kembali ke sebelumnya |