| Judul | Mengapa Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Bisa Mencapai Area Begitu Luas? |
| Tanggal | 07 September 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Gunung berapi |
| AKD |
- Komisi V |
| Isi Artikel | Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau kali ini sangat luas, bahkan lebih luas dampaknya dibandingkan dengan erupsi pada tahun 2018. Bagaimana kronologi terjadinya erupsi Gunung Anak Krakatau? Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi beruntun sejak Jumat hingga Minggu (4-6/9/2026). Erupsi pertama terjadi pada Jumat pukul 22.03 WIB dengan amplitudo maksimum 19 milimeter dan durasi 29 detik. Erupsi pada malam hari itu menyebabkan kolom abu tidak teramati dari pos pantau. Anak Krakatau kembali erupsi pada pukul 22.42 selama 56 detik. Teramati letusan strombolian dengan lontaran material pijar. Selanjutnya, pada pukul 22.53 dan pukul 23.07, erupsi terjadi disertai letusan strombolian secara meneru dan dengan durasi yang semakin panjang. Pada Sabtu, erupsi terjadi pukul 00.01. Erupsi itu berlangsung menerus selama 1 jam 13 menit dan menghasilkan lava fountain atau air mancur lava serta membentuk aliran lava. Hingga pukul 18.00, Anak Krakatau terus mengalami erupsi dengan amplitudo 70 milimeter dan durasi 21.600 detik atau berlangsung selama enam jam. Pada Minggu, erupsi terjadi dua kali, yakni pukul 03.53 selama 30 detik. Erupsi kedua terjadi pukul 07.10 selama 16 detik. Seberapa jauh paparan abu vulkanik pada rangkaian erupsi kali ini? Hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau semula dilaporkan terjadi di Lampung Selatan, Pringsewu, hingga Kota Bandar Lampung. Abu vulkanik lantas menyebar ke sejumlah wilayah di Lampung mulai dari Bandar Lampung, Tanggamus, Pesawaran, Lampung Barat, hingga Pesisir Barat. Sebaran abu menyebar ke wilayah Banten, Jakarta, dan Jawa Barat serta perairan di sekitarnya. Di Sumatera, sebaran abu vulkanik bahkan menjangkau hingga ujung barat Bengkulu, yakni di Pulau Enggano yang berjarak 350 kilometer dari Anak Krakatau. Infografik
Sebaran yang luas itu turut berdampak pada penutupan sejumlah bandar udara, seperti Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Raden Inten II, Hussein Sastranegara, Budiarto, Pondok Cabe, Atung Bungsu, dan Bandara Taufiq Kiemas. Penutupan Bandara Soekarno-Hatta telah berdampak pada pembatalan berbagai penerbangan nasional dan internasional. Mengapa dampaknya bisa menjangkau area yang begitu luas? Erupsi Anak Krakatau yang beruntun memiliki karakter letusan strombolian dengan lontaran material pijar. Letusan ini menghasilkan lontaran batu pijar serta abu vulkanik yang terbawa angin dan memicu hujan abu meluas di wilayah sekitarnya. Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andri Ramdhani menyebut sebaran abu vulkanik Anak Krakatau kali ini sangat luas, bahkan lebih luas dampaknya dibandingkan dengan erupsi pada tahun 2018. Karakter sebaran abu kali ini juga berbeda. Selain besarnya volume abu yang dikeluarkan, ia menyebut ada kemungkinan karena erupsi kali ini juga terjadi bersamaan puncak kemarau sehingga ada kecenderungan sebarannya lebih meluas. Luasnya sebaran abu tidak hanya berkaitan dengan aktivitas erupsi, tetapi juga kondisi atmosfer. Perbedaan arah sebaran pada lapisan hingga 20.000 kaki dan hingga 50.000 kaki menunjukkan abu terbawa oleh pola angin yang berbeda pada ketinggian berbeda. Dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki, abu vulkanik bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sebaran ini mencakup sebagian Banten, Jawa Barat, Jakarta, dan perairan di sekitarnya. Dari permukaan hingga 50.000 kaki, sebaran abu menuju ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat wilayah tersebut. Apa saja yang patut diwaspadai dari paparan abu vulkanik? Abu vulkanik berbeda dengan debu biasa karena partikelnya sangat halus. Paparan abu vulkanik mengandung silika dan material kaca yang tajam serta abrasif. Jika terhirup atau mengenai tubuh, berisiko menimbulkan gangguan pernapasan, iritasi mata, dan masalah kulit. Partikel halusnya dapat mengiritasi saluran pernapasan dan menjadi masalah khusus bagi kelompok rentan, seperti penderita asma dan penyakit paru dan jantung. Partikelnya yang kerap tidak terlihat ini juga berpotensi merusak fasilitas mekanik dan elektronik jika terpapar dalam jangka panjang. Abu mengandung material silikat yang dapat meleleh pada suhu tinggi di dalam mesin jet. Pada penerbangan, endapan yang terjadi dapat mengganggu aliran gas dan menyebabkan penurunan kinerja mesin pesawat hingga kegagalan alias mesin mati tiba-tiba. Itu sebabnya, pada erupsi Anak Krakatau ini, begitu banyak penerbangan dibatalkan demi alasan keselamatan penumpang maupun kru penerbangan. Tindakan preventif apa saja yang bisa kita lakukan dalam mengedepankan keselamatan di tengah bencana Yang paling penting, masyarakat tidak perlu panik. Tetap tenang, tetapi tingkatkan kewaspadaan. Untuk mengurangi paparan abu vulkanik, warga agar kurangi aktivitas di luar rumah. Saat berada di dalam rumah, warga sebaiknya menutup pintu, jendela, dan ventilasi untuk membatasi masuknya abu. Jika terpaksa beraktivitas di luar, selalu gunakan masker dan pelindung mata. Sekembalinya pulang, agar segera mandi, keramas, dan mengganti pakaian. Pakaian yang terkena abu sebaiknya dicuci terpisah, sedangkan mata dan hidung dapat dibilas dengan air bersih jika terasa teriritasi. Jika terdapat abu di sekitar rumah, warga diminta membasahinya terlebih dahulu sebelum membersihkannya. Abu sebaiknya tidak disapu dalam kondisi kering karena dapat kembali beterbangan dan terhirup. Selain itu, makanan dan minuman perlu dilindungi dari paparan abu. Warga disarankan menutup tempat penyimpanan makanan serta sumber air bersih. Makanan atau air yang telah tercemar abu vulkanik sebaiknya tidak dikonsumsi. Pembatalan penerbangan di sekitar zona merah merupakan upaya preventif demi menjaga keselamatan nyawa manusia. Bagi warga yang hendak bepergian, untuk sementara dapat mengalihkan perjalanan di jalur darat maupun laut. Sejauh ini penyeberangan dari Pelabuhan Bakauheni dan Merak masih dibuka. Namun, warga agar terus memantau perkembangan terkini status Gunung Anak Krakatau.
|
| Kembali ke sebelumnya |