| Judul | Keracunan MBG di Pariaman, Bakteri Ditemukan pada Nasi dan Ayam |
| Tanggal | 21 September 2026 |
| Surat Kabar | Kompas |
| Halaman | - |
| Kata Kunci | Kesehatan Masyarakat |
| AKD |
- Komisi IX |
| Isi Artikel | PADANG, KOMPAS — Dinas Kesehatan Kota Pariaman mengungkapkan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dalam kasus keracunan menu Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kecamatan Pariaman Tengah pekan lalu. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus pada sampel makanan. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Pariaman Rudy Repenaldi Rilis, Senin (21/9/2026), mengatakan, pihaknya telah menerima hasil pemeriksaan laboratorium dari Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Padang. Hasilnya, nasi dan ayam pada menu MBG dinyatakan bermasalah. ”Nasi terkontaminasi bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus, sedangkan ayam terkontaminasi Staphylococcus aureus,” kata Rudy, Senin siang. Data BBPOM Padang menyebutkan, nasi putih mengandung Bacillus cereus sebanyak 6,7 x 10^6/kg dan Staphylococcus aureus 1,5 x 10^5/kg. Sementara itu, ayam tepung mengandung Staphylococcus aureus 1,8 x 10^5/kg. Angka-angka tersebut dinyatakan tidak memenuhi syarat atau melampaui ambang batas. Adapun komponen lain dalam menu MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasir Pariaman Tengah yang memicu keracunan massal tersebut, yakni tahu, saus lada hitam, sayur buncis-jagung, dan semangka kuning, dinyatakan aman atau memenuhi syarat. Belum diketahui secara pasti sumber cemaran kedua bakteri tersebut pada makanan MBG yang didistribusikan pada Senin (14/9/2026). ”Bisa jadi dari wadah, bisa jadi dari proses penyimpanan,” ujar Rudy.
Atas temuan tersebut, Dinas Kesehatan Kota Pariaman akan mengecek dan meninjau kembali Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang telah dikantongi SPPG Pasir Pariaman Tengah. Terkait korban, Rudy menyebut jumlah terakhir mencapai 127 orang. Mayoritas merupakan siswa MTsN 1 Kota Pariaman. Sebagian besar korban telah kembali ke rumah dan tinggal tiga orang yang masih menjalani perawatan. ”Dua orang yang dirawat di (Rumah Sakit Umum Pusat) M Djamil hari ini pulang. Satu orang yang dirawat di Sadikin kemungkinan hari ini juga bisa pulang,” kata Rudy. Kronologi keracunan Pada Senin pekan lalu, ratusan siswa setingkat SMP di Kota Pariaman mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi menu MBG. Mereka dilarikan ke RSUD Muhammad Yamin dan RSUD dr Sadikin di kota tersebut untuk mendapat perawatan. Sebagian korban bahkan dirujuk ke RSUP Dr M Djamil, Kota Padang. Sebelum kejadian, para siswa MTsN 1 Kota Pariaman mengonsumsi menu MBG sekitar pukul 10.00. Sekitar 15 menit kemudian, sejumlah siswa mulai mengalami gejala keracunan, antara lain sakit perut, pusing, mual, dan muntah. ”Dari pengakuan siswa, menu makanan itu aroma dan baunya tidak wajar, ada yang berbau busuk,” kata Kepala MTsN 1 Kota Pariaman Tarmizi, Selasa (15/9/2026).
Menurut Tarmizi, sebelum makanan dibagikan, guru penanggung jawab MBG sempat mencicipi makanan tersebut, tetapi tidak sampai habis. Makanan kemudian dibagikan kepada siswa hingga akhirnya muncul gejala keracunan. ”Guru yang mencicipi itu juga mengeluh pusing dan mual, tetapi tidak begitu berat. Guru ini masih bisa membantu membawa siswa ke rumah sakit,” ujar Tarmizi. Ia menambahkan, siswa penerima MBG di sekolahnya mencapai 838 orang. Karena reaksi keracunan muncul relatif cepat, baru sekitar separuh siswa yang sempat mengonsumsi menu tersebut. Sekolah kemudian segera meminta siswa lain tidak memakan makanan itu. Atas kejadian tersebut, distribusi MBG dari SPPG Pasir Pariaman Tengah dihentikan sementara. ”Kami berharap ada evaluasi supaya ke depan murid-murid tidak lagi mengalami hal seperti ini,” kata Tarmizi. Kasus berulang Kasus keracunan makanan dari menu MBG di Pariaman merupakan yang kedua di Sumatera Barat sepanjang September 2026. Sebelumnya, 344 orang yang terdiri atas siswa, guru, ibu menyusui, anak balita, dan warga lainnya di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, mengalami keracunan makanan pada Selasa dan Rabu (1-2/9/2026) setelah menyantap menu MBG pada Senin (31/8/2026). Mereka mengalami gejala sakit perut, mual, muntah, diare, dan pusing.
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan muntahan korban yang diumumkan pada Kamis (10/9/2026) menemukan bakteri Bacillus cereus pada cabai dan tahu semur dalam menu MBG (Kompas.id, 10/9/2026). Pada 1 Oktober 2025, keracunan massal setelah menyantap menu MBG juga terjadi di Kecamatan Lubuk Basung, Agam. Sebanyak 82 orang yang terdiri atas siswa TK dan SD, guru, serta orangtua siswa mengalami keracunan setelah menyantap nasi goreng MBG. Kejadian itu bermula ketika siswa dari sejumlah sekolah di Kecamatan Lubuk Basung menyantap menu MBG sekitar pukul 10.00 WIB. Siangnya, sekitar pukul 14.00 WIB, mulai muncul keluhan dari anak-anak tersebut sehingga mereka dibawa ke puskesmas terdekat. Sebagian korban kemudian dirujuk ke RSUD Lubuk Basung. Atas kejadian tersebut, Pemerintah Kabupaten Agam menetapkan keracunan massal di Lubuk Basung sebagai kejadian luar biasa (KLB). Kepala Dinas Kesehatan Agam Hendri Rusdian menyebutkan, kesimpulan dari kasus keracunan massal di Lubuk Basung tahun lalu adalah ditemukannya bakteri dalam nasi goreng yang dikonsumsi penerima manfaat MBG. ”Nasi goreng terpapar bakteri Staphylococcus aureus. Makanan bisa terpapar bakteri itu dari pekerja, peralatan yang tidak bersih, atau dari pengemasan atau pendistribusian,” katanya. Penulis: Yola Sastra Editor: Mukhamad Kurniawan Penyelaras Bahasa: Nur Adji |
| Kembali ke sebelumnya |