Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Harga Minyak Saudi Didiskon 5 Dolar AS, Apakah Harga BBM Indonesia Bisa Turun?
Tanggal 05 Oktober 2026
Surat Kabar Kompas
Halaman -
Kata Kunci Bahan Bakar Minyak
AKD - Komisi XII
Isi Artikel

Biaya angkut dan asuransi tetap mahal.

Oleh Nina Susilo

Harga minyak mentah dari Arab Saudi untuk pasar Asia mendapat diskon 5 dolar AS per barel. Namun, dengan tingginya biaya pengiriman dan asuransi di masa perang ini, para pakar menilai dampaknya kurang signifikan.

Arab Saudi menurunkan harga minyak mentah untuk pangsa pasar Asia pada pengiriman November 2026. Harga minyak mentah Arab light untuk pasar Asia turun 5 dolar AS di bawah rata-rata harga Oman dan Dubai. Harga ini 3 dolar AS di bawah harga bulan lalu.

Diskon ini, menurut Reuters, 5 Oktober 2026, menjadi yang terbesar dan membawa harga terendah sepanjang enam bulan terakhir. Padahal, dalam surveinya, Reuters memperkirakan ada kenaikan harga jual resmi.

Perusahaan minyak negara Saudi Aramco juga memangkas harga minyak dengan viskositas lebih tinggi. Arab medium dan Arab heavy juga dipotong 5 dolar AS per barel untuk pasar Asia.

Reuters mengaitkan diskon ini sebagai kompensasi atas tingginya biaya pengiriman dan upaya Arab mempertahankan pangsa pasar setelah terganggu konflik AS/Israel dengan Iran yang berdampak pada ekspor.

Bahkan, menurut sejumlah sumber Reuters, Aramco sedang mempertimbangkan untuk menawarkan diskon bagi minyak yang dimuat dari Oman. Konflik di kawasan membuat biaya pengiriman menjadi lebih mahal dan kurang efisien.

Secara umum, harga minyak dunia masih tetap tinggi. Harga minyak Brent, Senin (5/10/2026), misalnya masih di kisaran 102,7 dolar AS per barel, sedangkan harga minyak WTI di kisaran 89,7 dolar AS per barel.
Namun, diskon hanya diberikan untuk pasar Asia. Aramco memberikan harga tetap untuk Amerika Serikat, malah untuk pasar Eropa, harga naik 3 dolar AS per barel.

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis sekaligus pengamat energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menjelaskan, saat ini biaya pengiriman minyak mentah memang semakin tinggi. Biaya pengiriman via Oman dan Dubai menggunakan tanker saat ini naik 10-28 persen atau ditambah kenaikan premi asuransi setelah perang sekitar 2-7,5 dolar AS per barel.

”Jadi, kalau lihat hasil bersihnya, minyak dari Saudi 9-32 dolar AS lebih mahal daripada harga di masa normal. Dengan diskon harga, Pertamina masih bisa mendapat selisih karena harga crude bisa lebih murah sedikit,” katanya, Senin (5/10/2026) siang.

Petugsa memantau bahan bakar minyak (BBM) yang disalurkan melalui pipa dari Kilang Balongan di terminal BBM Pertamina, Plumpang, Jakarta, Jumat (17/4/2026). Di tengah konflik Timur tengah yang masih terjadi, PT Pertamina (Persero) berkomitmen menjaga stabilitas pasokan BBM dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal. Pertamina juga mengimbau agar masyarakat untuk bijak menggunakan energi.


TOTOK WIJAYANTO (TOK)
17-04-2026
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Petugas memantau BBM yang disalurkan melalui pipa dari Kilang Balongan di terminal BBM Pertamina, Plumpang, Jakarta, Jumat (17/4/2026). Di tengah konflik Timur tengah yang masih terjadi, PT Pertamina (Persero) berkomitmen menjaga stabilitas pasokan BBM dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal. Pertamina juga mengimbau agar masyarakat untuk bijak menggunakan energi.

Impor minyak mentah Indonesia dari Arab Saudi berkisar 16-18 persen dari keseluruhan impor minyak mentah. ”Ini masuk ke kilang Pertamina, jadi bukan berpengaruh ke harga BBM SPBU,” kata Yayan.

Dengan adanya diskon, Pertamina akan mendapat selisih lebih besar karena harga bahan baku turun. ”Jadi, siapa yang menikmati diskon ini? Ya, pembeli minyak mentah seperti kilang Pertamina. Adapun harga BBM kita mengacu pada harga produk di Singapura. Jadi, Pertalite dan Pertamax tidak otomatis turun,” tambah Yayan.

Pengajar Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti, Pri Agung Rakhmanto, menilai penurunan harga berapa pun pasti bermanfaat untuk Indonesia. Namun, dia mengingatkan, negara yang memberikan diskon harga minyak dunia untuk pasar Asia bukan hanya Arab Saudi, tetapi ada pula Iran dan Rusia.

”Tapi, (diskon diberikan) melalui mekanisme apa, itu yang perlu ditindaklanjuti,” katanya kepada Kompas, Senin (5/10/2026).

Bagaimanapun, semakin banyak negara yang memberikan tawaran diskon harga minyak ke pasar Asia dinilai sangat baik. Bagi Indonesia, ini berarti memperbanyak potensi suplai dengan harga bersaing.

Namun, Agung menilai adanya diskon ini belum tentu berdampak signifikan pada fiskal Indonesia. ”Taksiran saya, untuk APBN kita itu, harga rata-rata minyak dunia 100 dolar AS per barel saja sudah berat,” katanya.

Antrean pembelian BBM subsidi jenis Pertalite di SPBU 24.302.175 di kawasan Plaju, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (1/8/2026). PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga sejumlah jenis BBM nonsubsidi per 1 Agustus 2026. Di Sumsel, harga Pertamax (RON 92) turun dari Rp 16.650 per liter menjadi Rp 16.300 dan harga Pertamax Turbo (RON 98) turun dari Rp 19.750 per liter menjadi Rp 18.700. Namun, karena penurunan harga tidak signifikan, masyarakat tetap bergantung kepada Pertalite. Akibatnya, antrean pembelian Pertalite tetap terjadi di sejumlah SPBU. Masyarakat berharap harga BBM nonsubsidi bisa kembali seperti semula agar daya beli mereka mampu menjangkau BBM tersebut, sebagai alternatif saat terjadi antrean pembelian Pertalite.
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Antrean pembelian BBM subsidi jenis Pertalite di SPBU 24.302.175 di kawasan Plaju, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (1/8/2026).

Pemerintah Indonesia awalnya menetapkan asumsi harga minyak di angka 70 dolar AS per barel untuk 2026. Namun, seiring kenaikan harga minyak dunia dan kondisi geopolitik, asumsi ini sempat direvisi dan terakhir ditetapkan di angka 89,43 dolar AS per barel di bulan Agustus 2026.

Oleh karena itu, jika harga rata-rata pembelian minyak mentah masih berkisar 100 dolar AS per barel, Agung menilai tekanan fiskal di APBN Indonesia masih berat. Selain itu, diskon yang diberikan Arab Saudi juga belum diketahui akan berlangsung berapa lama.

”Alasan (pemberian diskon)-nya belum permanen. Cenderung untuk merespons apa yang sedang berlangsung di pasar saja. Kalau kemudian jalur distribusi membaik, ujungnya tekanan lagi untuk fiskal kita,” tambah Agung.  

Selain itu, harga BBM nonsubsidi pun belum tentu akan merespons diskon harga minyak mentah ini. Sebab, masih ada variabel lain baik yang teknis, seperti nilai tukar rupiah yang masih tertekan dan variabel nonteknis, seperti kebijakan harga BBM bersubsidi dan berkompensasi.

Hal terpenting saat ini, menurut Agung, pemerintah perlu tetap memastikan ketersediaan BBM, baik yang bersubsidi, berkompensasi, maupun nonsubsidi.

”Pada aspek harga saja, masyarakat sudah merasakan tekanan, jadi sebaiknya (dari aspek) ketersediaannya, jangan menimbulkan tekanan lagi. Kalaupun masyarakat melakukan adjustment pada kegiatan ekonominya, biarkan saja. Namun, setidaknya ketersediaan BBM tidak boleh terganggu,” tambahnya.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu terbuka soal memang ketersediaan, perubahan komposisi, dan kualitas BBM.

  Kembali ke sebelumnya