Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul AMRO: Gejolak Global Tak Sepenuhnya Koreksi Pasar Keuangan Indonesia
Tanggal 06 Oktober 2026
Surat Kabar Kompas
Halaman 9
Kata Kunci Pasar keuangan
AKD - Komisi XI
Isi Artikel

AMRO menilai faktor regional dan faktor spesifik setiap negara semakin berperan dalam menentukan kondisi keuangan kawasan.

Oleh Dimas Waraditya Nugraha

JAKARTA, KOMPAS — Pasar keuangan Indonesia mengalami koreksi cukup besar pada pertengahan 2026 akibat arus keluar modal asing dan ketidakpastian terkait klasifikasi pasar Indonesia dalam indeks MSCI.

Namun, ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) menilai, pergerakan pasar di kawasan semakin banyak dipengaruhi kondisi dan fundamental setiap negara, bukan semata-mata sentimen global.

Group Head and Lead Economist AMRO Runchana Pongsaparn mengatakan, pasar saham dan obligasi ASEAN+3 secara umum tetap berfungsi dengan baik meskipun menghadapi berbagai guncangan eksternal. Namun, respons pasar semakin beragam antarnegara.

”Hal ini mencerminkan fundamental yang spesifik pada masing-masing perekonomian, bukan sekadar penghindaran risiko yang terjadi secara luas,” kata Runchana dalam konferensi pers peluncuran ASEAN+3 Financial Stability Report 2026 secara hibrida di Singapura, Senin (5/10/2026).

Menurut dia, di pasar saham, Indonesia termasuk negara yang mengalami koreksi cukup besar. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi arus keluar modal asing pada awal periode dan ketidakpastian mengenai klasifikasi pasar Indonesia dalam indeks MSCI.

Pergerakan pasar obligasi juga menunjukkan pengaruh kondisi domestik setiap negara. Di Jepang, misalnya, imbal hasil obligasi meningkat seiring menguatnya inflasi dan ekspektasi normalisasi kebijakan moneter.

Sebaliknya, imbal hasil obligasi di Singapura, Malaysia, dan Thailand tidak meningkat secara signifikan karena inflasi di negara-negara tersebut relatif terkendali.

Di Filipina, imbal hasil obligasi meningkat lebih tinggi karena pasar memperhitungkan risiko inflasi yang berasal dari kenaikan harga energi dan kemungkinan kenaikan suku bunga kebijakan.

Perbedaan respons tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa pasar keuangan ASEAN+3 semakin tidak bergerak dalam satu pola ketika menghadapi perubahan kondisi global. Temuan tersebut juga terlihat dari kajian AMRO mengenai hubungan siklus keuangan kawasan dengan siklus keuangan global dalam jangka menengah.

Grafik perbandingan tren kebijakan suku bunga The Fed AS dan Bank Indonesia sejak Januari 2024 hingga September 2026.
Samuel Sekuritas Indonesia

Grafik perbandingan tren kebijakan suku bunga The Fed AS dan Bank Indonesia sejak Januari 2024 hingga September 2026.

Secara historis, pasar ASEAN+3 sangat sensitif terhadap perubahan kondisi keuangan Amerika Serikat. Namun, sensitivitas tersebut menurun dalam jangka menengah. ”Sekarang, siklus keuangan ASEAN+3 semakin tidak tersinkronisasi dengan siklus keuangan global, kecuali pada periode tekanan yang besar,” ujarnya.

Runchana menyebutkan, sinkronisasi dengan siklus keuangan global meningkat ketika terjadi tekanan besar, seperti pandemi Covid-19 dan krisis keuangan global. Namun, dalam tren jangka panjang, pengaruh tersebut semakin berkurang.

Sebaliknya, faktor regional dan faktor spesifik setiap negara semakin berperan dalam menentukan kondisi keuangan kawasan. Perubahan tersebut memberikan ruang lebih besar bagi otoritas di ASEAN+3 untuk menjalankan kebijakan moneter sesuai dengan kondisi domestiknya.

Sorotan utama laporan ASEAN+3 Financial Stability Report 2026
AMRO

Sorotan utama laporan ASEAN+3 Financial Stability Report 2026

Risiko dolar dan AI

Sementara itu, dalam konferensi pers rapat Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berlangsung secara hibrida di Jakarta, Senin, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mewaspadai tekanan di pasar keuangan global seiring kenaikan inflasi yang mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. 

”Kenaikan suku bunga global juga diikuti dengan peningkatan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah yang telah menyentuh level tertinggi dalam satu dekade terakhir,” ujarnya.

Tekanan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah serta penerbitan obligasi jangka panjang oleh perusahaan teknologi raksasa (hyperscalers) untuk mendukung investasi terkait pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Senada dengan OJK, AMRO mengidentifikasi dua risiko utama terhadap stabilitas keuangan kawasan, yakni koreksi aset yang berkaitan dengan kecerdasan buatan dan pergerakan dollar AS yang tajam.

Runchana mengatakan, tingginya valuasi, meningkatnya leverage, serta konsentrasi eksposur pada aset AI meningkatkan risiko terjadinya koreksi pasar yang tidak teratur. Jika ekspektasi terhadap keuntungan dari investasi AI tidak terpenuhi, pengurangan leverage secara paksa dapat memperketat kondisi keuangan global.

ASEAN+3 dinilai memiliki eksposur cukup besar karena kawasan tersebut berada di pusat rantai pasok AI global. Korea Selatan, misalnya, memiliki eksposur besar melalui industri semikonduktor. Malaysia dan Singapura juga dapat terkena dampak melalui pelemahan ekspor, investasi, dan laba korporasi jika permintaan terkait AI melemah.

Risiko lain berasal dari pergerakan dolar AS yang semakin terkait dengan ketidakpastian geopolitik. Penguatan dolar AS secara tajam dapat meningkatkan biaya pembayaran utang bagi pelaku usaha yang memiliki kewajiban dalam mata uang dolar AS, tetapi tidak melakukan lindung nilai.

Infografik-Kurs Dolar AS terhadap Rupiah Januari-September 2026
Dimas

Infografik Kurs Dolar AS terhadap Rupiah Januari-September 2026

Kondisi tersebut juga dapat mendorong arus modal keluar dan menekan nilai tukar mata uang negara berkembang. Sebaliknya, pelemahan dolar AS yang tajam dapat menurunkan nilai aset berdenominasi dolar yang dimiliki investor kawasan jika dikonversikan ke mata uang lokal.

”Dampaknya akan berbeda antarnegara, bergantung pada eksposur eksternal, penyangga keuangan, dan kredibilitas kebijakan,” ujarnya.

Selain kedua risiko tersebut, AMRO menyoroti pertumbuhan lembaga keuangan nonbank dan digitalisasi keuangan. Kenaikan leverage NBFI serta keterkaitannya dengan perbankan dapat memperbesar tekanan ketika terjadi gangguan pendanaan atau penjualan aset secara bersamaan.

Untuk Indonesia dan Filipina, perhatian terutama diarahkan pada perkembangan pinjaman daring dan BNPL. Menurut AMRO, risiko pembiayaan kembali dapat meningkat ketika kondisi keuangan memburuk.

Bantalan keuangan

Runchana mengatakan, ketahanan pasar keuangan kawasan ditopang oleh sistem perbankan yang memiliki permodalan dan likuiditas kuat serta tetap menguntungkan. Rasio kredit bermasalah (nonperforming loan) juga secara umum rendah.

Selain itu, rasio utang rumah tangga dan korporasi terhadap produk domestik bruto secara bertahap menurun. Sebagian besar negara di kawasan juga memiliki cadangan devisa yang dapat menjadi bantalan ketika terjadi guncangan eksternal.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti risiko telah hilang. AMRO masih menemukan kerentanan yang berbeda di setiap negara.

Utang rumah tangga, misalnya, masih relatif tinggi di Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia. Di Vietnam, rasio utang rumah tangga meningkat cukup cepat. Sementara itu, di Indonesia dan Malaysia, perkembangan layanan paylater mendorong penguatan pengawasan dan perlindungan konsumen.

Di sektor korporasi, sebagian besar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki bantalan keuangan yang terbatas. Kondisi keuangan yang semakin ketat dapat meningkatkan tekanan pembiayaan kembali, terutama bagi perusahaan dengan kemampuan membayar bunga yang rendah.

”Risiko korporasi (di negara ASEAN+3) juga masih terkonsentrasi pada sektor dengan tingkat leverage tinggi, seperti properti dan konstruksi,” katanya.

  Kembali ke sebelumnya