Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Antrean dan Kelangkaan BBM Berulang, Pemerintah Bisa Apa?
Tanggal 22 Oktober 2026
Surat Kabar Kompas
Halaman 9
Kata Kunci Bahan bakar
AKD - Komisi XII
Isi Artikel

Pemerintah masih memiliki potensi untuk menambah ruang fiskal melalui penerapan bea keluar batubara. Sayangnya hal ini belum juga diterapkan.

Oleh Nina Susilo

JAKARTA, KOMPAS — Berulang dan berlarut-larutnya masalah pasokan bahan bakar minyak yang menyebabkan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di berbagai wilayah di Indonesia diyakini bukan masalah distribusi semata. Ada masalah lain mulai manajemen hingga peralihan konsumen dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi.

Pemerintah diharapkan bisa membenahi kebijakan subsidi BBM dan kapasitas fiskalnya.

Kelangkaan BBM berulang-ulang umumnya terjadi di luar Jawa. Hal ini seakan menjauhkan masalah dari sorotan. ”Jawa dan Bali sepertinya betul-betul dijaga, tetapi akhirnya tak berhasil,” ujar pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, Rabu (21/10/2026).

Pertengahan Juli, harga beberapa BBM nonsubsidi dinaikkan akibat tingginya harga minyak dunia imbas konflik Amerika Serikat/Israel dan Iran. Sebaliknya, harga BBM bersubsidi, solar, dan BBM berkompensasi, Pertalite, masing-masing tetap Rp 6.800 dan Rp 10.000 per liter. Akibatnya, permintaan solar dan Pertalite meningkat.

Sopir truk menunggu antrean pembelian BBM solar bersubsidi di SPBU kawasan Jalan Lingkar Selatan, Pipa Putih, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, sejak Senin (21/9/2026) dini hari tetapi belum dapat hingga sekitar pukul 11.30 WIB. Antrean BBM solar kembali memakan korban. Berdasarkan laporan polisi, sopir bernama Dana Nurhuda (26) di tengah antrean BBM solar di SPBU kawasan Desa Pulau Semambu, Kecamatan Indralaya Utara, Ogan Ilir, Kamis (17/9/2026). Itu menjadi peristiwa keempat sopir tewas saat antrean BBM. Sebelum, seorang sopir tewas karena sakit saat antrean solar di Kabupaten Banyuasin, serta dua sopir tewas karena cekcok ketika antrean solar di dua SPBU berbeda di Palembang. Selain memicu petakan, antrean solar pun menimbulkan kerugian materi dan waktu di antara sopir. Mereka harus mengeluarkan uang lebih untuk makan dan minum selama mengantre yang bisa memakan waktu berjam-jam, bahkan belasan jam.
KOMPAS/ADRIAN FAJRIANSYAH

Sopir truk menunggu antrean pembelian BBM solar bersubsidi di SPBU kawasan Jalan Lingkar Selatan, Pipa Putih, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, sejak Senin (21/9/2026) dini hari, tetapi belum dapat hingga sekitar pukul 11.30 WIB.

Antrean pun terjadi di berbagai wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Antrean di SPBU di wilayah Sumatera Utara terjadi pada Juni-Juli 2026. Hal serupa terjadi di Sulawesi Selatan pada Maret 2026 dan kembali mengalami masalah yang sama pertengahan September 2026.

Masyarakat di Bali dan Nusa Tenggara mesti antre BBM bersubdisi sejak pertengahan Oktober. Sementara itu, Sulawesi Utara pun mulai mengalami kelangkaan Pertalite. 

Beberapa hari ini, Jawa Timur mengalami persoalan yang sama. Antrean panjang terjadi di sejumlah SPBU, terutama di Jember, Malang, dan Blitar. 

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Dardak pun menyambangi kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Jakarta, Selasa (20/10/2026). Keduanya diterima Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM serta Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Laode Sulaeman.

Sejauh ini, menurut Khofifah, 51 dari 972 SPBU di Jatim rawan antrean panjang. Untuk itu, Laode menjanjikan masalah di Jatim akan tuntas dalam satu atau dua hari.

Sebelum ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia beberapa kali menyebutkan stok BBM nasional aman kendati persediaan bensin Ron 90 (Pertalite) menurun ke 16-18 hari.

Menteri ESDM Bahlil Lahaladia memberi keterangan kepada wartawan di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Kompas/Nina Susilo

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan kepada wartawan di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Selain itu, seusai memimpin rapat koordinasi di Bali, Senin (19/10/2026), Bahlil memerintahkan penambahan armada distribusi ke Bali sebanyak tujuh kapal serta penambahan cadangan BBM Bali dari 11 hari menjadi 15 hari.

Akibat berlarut dan berulang kasus serupa di wilayah yang berbeda, Fahmy menduga ada masalah dengan cadangan minyak Indonesia kendati pemerintah mengklaim cadangan aman. ”Mungkin dalam kondisi normal aman, tapi setelah stok dipakai, kan, harus diisi dan pengisian bergantung pada (konsistensi) pasokan dari impor,” ujarnya.

Selain itu, kesenjangan harga antara Pertalite dan solar dengan BBM nonsubsidi yang cukup lebar diakui mendorong migrasi pengguna. Lonjakan permintaan terjadi dan hal ini sesungguhnya sudah diakui.

Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR, 26 Agustus lalu, menyebutkan, rata-rata penyaluran Pertalite harian pada awal 2026 adalah 75.735 kiloliter (kl). Namun, setelah kenaikan harga Pertamax Rp 12.300 menjadi Rp 16.250, Pertamax Green Rp 12.900 menjadi Rp 17.000, dan Pertamax Turbo Rp 20.750 pada 10 Juni 2026, konsumsi harian Pertalite naik menjadi 82.700 kl.

Pada 1 Juli 2026, konsumsi Pertalite naik lagi menjadi 85.589 kl. Adapun pada 1 Agustus 2026, konsumsi harian Pertalite turun sedikit menjadi 84.368 kl. ”Ini memang shifting dari sisi konsumsi Pertamax menjadi Pertalite,” ujarnya saat itu.

Kendaraan mengantre mengisi bahan bakar minyak di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Jalan Cemara, Medan, Sumatera Utara, Rabu (15/7/2026). Setelah berbulan-bulan krisis solar bersubsidi, tiga hari ini Sumut juga mengalami kelangkaan Pertalite dan Pertamax.
KOMPAS/NIKSON SINAGA

Kendaraan mengantre mengisi bahan bakar minyak di SPBU Jalan Cemara, Medan, Sumatera Utara, Rabu (15/7/2026). Setelah berbulan-bulan krisis solar bersubsidi, tiga hari ini Sumut juga mengalami kelangkaan Pertalite dan Pertamax.

Dengan kondisi ini, menurut Fahmy, memang kuota Pertalite dan solar bersubsidi perlu ditambah. Tanpa penambahan, tentu persediaan akan lebih sedikit ketimbang permintaan.

Namun, Fahmy menilai, pemerintah menghadapi dilema. Jika kuota Pertalite dan solar bersubsidi ditambah, beban biaya kompensasi dan subsidi akan bertambah, apalagi harga kedua komoditas itu ditahan sampai akhir tahun. Pelemahan fiskal pasti terjadi.

Untuk itu, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah merealokasi anggaran yang memakan biaya sangat besar, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Opsi lainnya, tambah Fahmy, adalah mencabut subsidi. Namun, hal ini akan berakibat inflasi tak terkendali dan penurunan daya beli. Bila hal ini terjadi bersamaan dengan terus menurunnya nilai tukar rupiah, krisis pun bisa terjadi.

Direktur Eksekutif Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (SUSTAIN) Tata Mustasya sepakat, salah satu opsi yang bisa diambil pemerintah adalah merealokasi sebagian anggaran MBG dan KDKMP. Program-program ini bisa diperbesar lagi pada tahun depan.

”Urusan BBM lebih urgen sebab berkaitan dengan kebutuhan semua warga,” katanya.

Tren realisasi penyaluran pertalite, solar, minyak tanah, dan LPG tabung 3 kg dalam catatan PT Pertamina (Persero) yang disampaikan dalam rapat dengar pendapat Komisi XII DPR dengan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Kepala SKK Migas, Kepala BPH Migas, dan Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Tangkapan layar

Tren realisasi penyaluran Pertalite, solar, minyak tanah, dan LPG tabung 3 kg dalam catatan PT Pertamina (Persero) yang disampaikan dalam rapat dengar pendapat Komisi XII DPR dengan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Kepala SKK Migas, Kepala BPH Migas, dan Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Opsi lainnya adalah mencabut subsidi dan mengalihkannya pada bantuan langsung tunai. Namun, hal ini diakui akan sangat memberatkan masyarakat kelas menengah bawah yang kondisi ekonominya sudah sangat tidak baik-baik saja.

”Cost of living, baik food maupun energy, naik lebih cepat daripada gaji. Karena itu, skema ini (pencabutan subsidi dan pengalihan ke bantuan langsung tunai) mungkin bisa sukses pada pemerintahan Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) dan Presiden Jokowi (Joko Widodo), tetapi sepertinya kondisi saat ini berbeda. Masyarakat kelas menengah bawah sangat kesulitan sekarang ini,” tuturnya.

Tata pun mengingatkan, masih ada satu opsi bagi pemerintah untuk menambah penerimaan negara, yakni dari windfall profit atau bea keluar batubara. Hal ini bisa diperoleh ketika harga batubara dunia tinggi seiring dengan kenaikan harga minyak dunia. Apalagi, saat ini harga batubara dunia mencapai 154 dolar AS per ton. 

Masalahnya, pengaturan bea keluar batubara tidak juga diterbitkan. Karena itu, peluang pemerintah mendapatkan tambahan penerimaan menjadi tidak jelas.

SUSTAIN pernah menghitung potensi dari bea keluar batubara pada 2024 saja berkisar Rp 84 triliun sampai Rp 353 triliun. Angka ini bisa lebih tinggi dengan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS dan kenaikan harga batubara.

  Kembali ke sebelumnya