Selamat datang di website E-PAPER PERPUSTAKAAN DPRRI.

Koleksi Perpustakaan DPR RI

Judul Bayang-bayang Karantina Standalone Market Masih Jadi Momok
Tanggal 22 Oktober 2026
Surat Kabar Kompas
Halaman 9
Kata Kunci Pasar modal
AKD - Komisi XI
Isi Artikel

Bank Indonesia kembali mempertahankan BI Rate di angka 5,75 persen. Sejumlah pakar menilai keputusan ini tidak berdampak signifikan terhadap pergerakan IHSG.

Oleh Fakhronaa Aziizah

JAKARTA, KOMPAS — Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan. Pakar menilai keputusan ini berpotensi memberikan sentimen positif pada pasar modal domestik, tetapi belum cukup membalikkan sentimen pasar saham secara jangka panjang.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada Rabu (21/10/2026) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen. Bunga deposit facility naik 25 basis poin menjadi 5 persen. Sementara suku bunga lending facility dipertahankan 6,5 persen.

Ekonom PT Panin Sekuritas, Muhammad Zaidan menilai, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan berpotensi memberikan sentimen positif terhadap thin margin, pergerakan naik turun dengan selisih sangat tipis bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

”Keputusan mempertahankan BI Rate memberi ruang untuk menjaga momentum kredit dan membatasi tambahan tekanan biaya pendanaan emiten meski pengaruhnya relatif terbatas di tengah isu MSCI,” ujarnya.

Sebelumnya, pasar modal Indonesia mengalami tekanan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI), Jumat (16/10/2026), mengisyaratkan akan mendongkel status pasar modal domestik dari kategori emerging market ke standalone market.

IHSG sempat merosot ke level terendah sepanjang 2026, yakni di level 4.996,61 pada penutupan perdagangan Senin (19/10/2026). Sehari kemudian, IHSG sempat menguat 5,65 persen ke 5.278,89 pada penutupan perdagangan.

Refleksi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantul pada dinding Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (23/6/2026). IHSG turun 15,36 poin atau 0,25 persen ke 6.101,33 pada penutupan perdagangan saham kemarin.


KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
23-06-2026 *** Local Caption ***
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Refleksi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantul di dinding Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (23/6/2026). IHSG turun 15,36 poin atau 0,25 persen ke 6.101,33 pada penutupan perdagangan saham kemarin.

Pada Rabu (21/10/2026), fluktuasi IHSG terlihat mengalami kenaikan setelah penutupan perdagangan sesi pertama. Pada perdagangan sesi pertama, IHSG sempat turun hingga ke level terendah harian, yakni 5.188,04, atau turun 1,72 persen dari penutupan hari sebelumnya, 5.278,89.

Setelah pembukaan sesi kedua, IHSG mulai merangkak naik hingga mencapai level harian tertinggi pada penutupan. Posisinya di 5.328,36 atau naik 0,94 persen dari penutupan hari sebelumnya.

Kendati begitu, Zaidan melihat keputusan BI tidak berpengaruh signifikan untuk membalikkan pasar saham secara berkelanjutan. Hal ini mengingat sumber guncangan utama terjadi pada tingkat kepercayaan pasar (confidence shock) yang berkaitan dengan risiko perubahan klasifikasi pasar modal domestik. 

”Besarnya pengaruh terhadap transaksi IHSG hari ini sulit dipisahkan dari perkembangan isu tersebut (MSCI) dan arus jual-beli asing. Pemulihan confidence shock tetap bergantung pada tindak lanjut isu MSCI,” tutur Zaidan.

Konferensi pers menanggapi kondisi pasar modal terkini di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Jumat (16/10/2026). Hadir Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi; Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, CEO Danantara Rosan Roeslani, Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria, dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Suyudi Ario Seto, dan jajaran pimpinan Self Regulatory Organization (SRO) Pasar Modal.
Kompas/Erika Kurnia

Konferensi pers menanggapi kondisi pasar modal terkini di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Jumat (16/10/2026). Hadir Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, CEO Danantara Rosan Roeslani, Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria, Kepala Polri Jenderal (Pol) Suyudi Ario Seto, dan jajaran pimpinan self regulatory organization (SRO) pasar modal.

Selain itu, menurut Zaidan, ekspektasi pasar masih mengarah ke pengetatan suku bunga acuan lanjutan. Investor masih memperkirakan suku bunga acuan akan naik lagi di masa mendatang. Ini sejalan dengan proyeksi bahwa akan ada kenaikan suku bunga sebesar 0,25 persen atau 25 bps sehingga suku bunga acuan mencapai 6 persen pada triwulan IV-2026.

Dengan demikian, keputusan bank sentral untuk menahan suku bunga saat ini tidak serta-merta menandakan bahwa tren kenaikan suku bunga sudah berakhir. Pasar melihat kondisi suku bunga masih berada di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher-for-longer).

”Menahan suku bunga sekarang hanyalah penundaan sementara sebelum naik lagi, bukan sinyal akan ada penurunan suku bunga. Transmisinya terhadap pembalikan sentimen IHSG masih terbatas,” kata Zaidan.

Sementara itu, analis pasar modal Mega Capital Sekuritas, Revo Gilang Firdaus, juga menilai keputusan BI belum berpengaruh signifikan terhadap transaksi IHSG hari ini. Kenaikan yang sempat terjadi pada sesi perdagangan kedua Rabu (21/10/2026) dominan dipicu oleh penguatan saham-saham badan usaha milik negara (BUMN).

”Kenaikan yang sempat terjadi siang ini lebih didorong oleh kenaikan (saham) BUMN, seperti BBRI dan TLKM, serta sentimen Danantara yang ingin menambah kepemilikan saham BUMN,” ucapnya ketika dihubungi, Rabu (21/10/2026).

Layar menampilkan grafik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). IHSG Bursa Efek Indonesia ditutup anjlok sebesar 678,68 poin atau 11,57% persen ke level 5.185,11. Hal ini dipicu sentimen negatif dari proposal konsultasi terbaru lembaga penyedia indeks global MSCI yang mengancam akan mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market ke stand alone market.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
16-10-2026
KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA

Layar menampilkan grafik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). IHSG Bursa Efek Indonesia ditutup anjlok sebesar 678,68 poin atau 11,57 persen ke level 5.185,11. Hal ini dipicu sentimen negatif dari proposal konsultasi terbaru lembaga penyedia indeks global MSCI yang mengancam akan mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market ke standalone market.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) merupakan emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) sangat besar dan bobot signifikan terhadap IHSG. Penguatan pada kedua saham ini secara teknis menopang pergerakan indeks ke zona hijau.

Saham BBRI pada penutupan sesi kedua Rabu (21/10/2026) menguat ke level 2.810 atau naik 0,72 persen dibandingkan dengan sesi penutupan hari sebelumnya. Tren positif ini sekaligus mendongkrak nilai kapitalisasi pasarnya menjadi Rp 423 triliun-Rp 428 triliun.

Sementara itu, TLKM turut menjaga stabilitas indeks di sektor infrastruktur dengan bergerak di kisaran Rp 2.120 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 210,01 triliun pada penutupan sesi kedua Rabu (21/10/2026). Angka ini naik 2,91 persen dibandingkan dengan sesi penutupan hari sebelumnya.

Deretan saham dengan persentase kenaikan harga tertinggi dan penurunan harga terbesar dalam sesi perdagangan dari layar megatron Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan pada Rabu (21/10/2026)
FAKHRONAA AZIIZAH UNTUK KOMPAS

Deretan saham dengan kenaikan harga tertinggi dan penurunan harga terbesar pada sesi perdagangan Rabu (21/10/2026) dari layar megatron Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan.

Revo juga berpendapat, wacana Badan Pengelola Investasi Danantara yang berencana menambah kepemilikan saham di BUMN turut memberikan dorongan kepercayaan bagi investor. Rencana intervensi atau penambahan modal ini ditangkap oleh pasar sebagai sinyal positif untuk penilaian harga (valuation) jangka panjang saham-saham pelat merah.

Danantara menyiapkan alokasi dana hingga 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 18 triliun untuk berinvestasi dan menambah porsi kepemilikan saham pada BUMN berfundamental kuat. Rencana aksi korporasi ini disampaikan Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria dan CEO Danantara Rosan Roeslani di Istana Kepresidenan, Senin (19/10/2026).

Pembelian saham tersebut akan dilakukan melalui mekanisme pasar (open market) dengan seleksi ketat berdasarkan kinerja fundamental emiten.

Pandangan sebaliknya disampaikan pengajar di Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin. Ia berpendapat, rencana Danantara masuk ke pasar modal bisa menjadi ancaman terhadap independensi bursa.

Jika ini terjadi, ia khawatir, sentimen pasar makin negatif. Ujung-ujungnya, MSCI dan sejumlah lembaga penyedia indeks pasar modal bisa menurunkan klasifikasi pasar modal nasional.

  Kembali ke sebelumnya