| Isi Artikel |
JAKARTA, KOMPAS — Teknologi masih menjadi kendala dalam pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia. Biaya penyimpanan tenaga listrik yang mahal membuat energi terbarukan di Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal.
Fakta itu mengemuka dalam diskusi bertema "Peluang dan Tantangan Pengembangan Energi Terbarukan", Kamis (9/6), di Jakarta. Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Tri Mumpuni, pengamat energi terbarukan Luluk Soemiarso, pelaku bisnis sektor energi terbarukan Sugiarto Thamrin, dan Presiden Direktur PT UBM Pameran Niaga Christopher Eve hadir sebagai narasumber.
Tri mengatakan, sumber daya energi terbarukan di Indonesia, seperti tenaga mikrohidro, bayu, matahari, dan arus laut, melimpah. Namun, pengembangan energi terbarukan itu masih terkendala keterbatasan teknologi.
Ia mencontohkan, biaya penyimpanan tenaga listrik dari pembangkit tenaga bayu atau matahari yang sangat mahal menyebabkan pemanfaatannya belum optimal.
"Teknologi tersebut harus menyesuaikan dengan kondisi alam di Indonesia. Kekuatan angin ataupun pancaran sinar matahari di Indonesia berbeda kapasitasnya dengan negara lain, dalam hal pemanfaatan energi terbarukan," ujar Tri.
Pengembangan energi terbarukan, lanjut Tri, harus melibatkan masyarakat lokal di lokasi energi tersebut dihasilkan. Masyarakat hendaknya diberdayakan, dididik, dan dilatih mengenai cara mengelola energi agar pemanfaatan energi terbarukan secara berkesinambungan.
"Jangan model lama yang diterapkan, yaitu proyek APBN, diresmikan, lalu ditinggalkan. Akibatnya, banyak proyek ketenagalistrikan dari energi terbarukan yang dibiayai APBN jadi mangkrak," kata Tri.
Sugiarto menambahkan, pemanfaatan energi terbarukan jauh lebih murah, efisien, dan berkesinambungan dibandingkan dengan energi dari fosil, yaitu bahan bakar minyak. Energi terbarukan tidak menghasilkan polusi dan ramah lingkungan.
"Misalnya, ada teknologi untuk menggerakkan mesin pendingin udara, pemanas air, dan pemanas ruangan tanpa listrik, yaitu dari alat yang memanfaatkan gas buang mesin genset atau pembuangan uap turbin. Penghematannya bisa sampai 70-80 persen dibandingkan dengan menggunakan minyak solar," ujar Sugiarto.
Pencapaian target bauran energi 23 persen dari energi terbarukan pada 2025, menurut Luluk, bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan. Saat ini, porsi energi terbarukan dalam bauran energi masih sekitar 6 persen.
"Potensi energi terbarukan di Indonesia sangat melimpah. Demikian pula permintaannya terbilang tinggi. Jadi, saya optimistis target 23 persen bisa tercapai," kata Luluk.
PT UBM Pameran Niaga menjadi penyelenggara pameran energi terbarukan di Jakarta pada 29-31 Maret 2017. Pameran bertaraf internasional tersebut akan diikuti sejumlah negara.
(APO)
|