Lebaran melahirkan tradisi yang unik di antara kota dan desa. Namun, silahturahmi tetap menjadi esensinya.
Oleh Vincentius Gitiyarko
Lebaran merupakan tradisi yang mengakar di masyarakat Indonesia. Bagaimana tradisi ini dihidupi mengalami dinamikanya yang unik antara di perdesaan dan di perkotaan.
Bagaimanapun bentuk perayaannya, Lebaran mengandung satu nilai budaya yang penting, yakni kebersamaan. Nilai ini melekat dalam budaya silaturahmi yang terus dihidupi dari satu tahun ke tahun berikutnya.
Apabila harus membagi bagaimana Lebaran dirayakan, menjadi menarik ketika memandang bagaimana masyarakat merayakannya di desa dan di kota. Perbedaan yang paling mencolok, dan menjadi ciri khas Indonesia, adalah mudik.
Menjelang Lebaran, warga perantau di kota akan berduyun-duyun kembali ke kampung halaman. Tahun ini, pemudik diperkirakan sekitar 123 juta orang. Artinya, empat dari sepuluh orang Indonesia akan mudik. Bagaimana yang enam?
Sisanya yang tidak mudik adalah mereka warga kampung halaman yang akan dituju para pemudik. Sebagian lainnya lagi akan tinggal di kota karena memang tanah kelahirannya di kota ataupun para perantau yang Lebaran kali ini tidak memutuskan pulang kampung.
Kendati Lebaran akan dirayakan dalam situasi sosial yang berbeda-beda, silaturahmi tidak akan ketinggalan. Baik yang merayakannya di desa maupun di kota punya caranya masing-masing untuk bersilaturahmi.
Lebaran di kota
Sudah menjadi cerita yang berulang bahwa warga kota, Jakarta, misalnya, akan menikmati lengangnya jalanan dan rendahnya polusi di hari-hari sekitar Idul fitri. Ritme di kota akan sangat jauh melambat dibandingkan dengan hari-hari biasa.
Hari pertama Idul fitri akan ditandai dengan shalat Id di lapangan-lapangan kompleks sekitar masjid. Setelahnya, silaturahmi sebentar seusai salat, tetapi tidak dengan waktu yang begitu lama.
Silaturahmi akan dirayakan dengan gelar griya (open house), biasanya mereka yang berpunya, termasuk pejabat. Akan tetapi, karena kota mengedepankan efisiensi, gelar griya atau buka pintu biasanya terjadwal dengan waktu yang relatif tepat. Sebagaimana acara pernikahan, waktu pintu dibuka dan ditutup akan ditentukan.
Saat buka pintu, makanan khas Lebaran, seperti ketupat, opor ayam, hingga sambal goreng, akan tersaji. Namun, lagi-lagi karena kota terbiasa praktis, makanan yang tersedia biasanya dipesan di katering-katering.
Tidak hanya untuk gelar griya di rumah orang-orang penting, kemudahan dan kepraktisan juga telah diadopsi di rumah-rumah warga kota biasa. Di pasar-pasar, ketupat yang sudah matang tinggal saji pun banyak dijual.
Bayangkan, menganyam janur menjadi ketupat lalu diisi beras dan dimasak membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebagian besar masyarakat kota akan merasa sangat repot melakukannya.
Di beberapa kalangan, terutama generasi lebih muda, silaturahmi menjadi lebih praktis. Dengan semangat egaliter dan modernitas, makan bersama lebih praktis di restoran dan menunya pun tidak harus ketupat dan opor.
Dalam perjumpaan ini pun, tidak ada ritual yang merepotkan, seperti sungkem. Esensinya adalah berkumpul, merayakan kebersamaan, dan memperat tali silaturahmi.
Jika di kota sisi praktis dan efisien menjadi pertimbangan, di desa lain soal. Dengan waktu leluasa yang tak diburu-buru, memasak bersama keluarga besar menjadi bagian dari menyambut Lebaran.
Baik itu saudara maupun tetangga akan berkumpul sejak hari terakhir puasa untuk memasak bersama. Prosesnya pun dari hulu sampai hilir jika memungkinkan dikerjakan bersama, seperti menganyam janur, menyembelih ayam, dan memarut kelapa untuk santan.
Pada hari raya Idul Fitri, masyarakat di desa pun mengadakan ”gelar griya”. Bedanya, tidak ada jadwal yang ketat. Ruang tamu di rumah, terutama bagi yang merasa dituakan, akan dibuka lebar-lebar bagi siapa pun yang datang.
Kunjung-mengunjungi ini dilakukan setelah shalat berjamaah pada pagi hari dan ziarah ke makam leluhur. Waktu berkunjung bisa kapan saja dan durasi bertamunya pun tidak terbatas. Kunjungan biasanya akan dilakukan oleh cucu ke kakek dan nenek, anak ke orangtua, adik ke kakak, dan seterusnya. Sesingkat apa pun kunjungan silaturahmi ini, ritual sungkem menjadi wajib. Yang muda biasanya akan bersimpuh di pangkuan yang lebih muda untuk mengaku salah. Dalam bahasa Jawa ngaku lepat. Itu mengapa orang Jawa sering menyebut kupat sebagai akronim dari ungkapan tersebut. Artinya, makanan, minuman, dan ”fitrah” di amplop merupakan pelengkap. Yang esensial adalah sungkem untuk menjaga dan menyambung kembali silaturahmi. Di desa, sungkem harus dilakukan dengan datang ke rumah. Ritual ini tidak tergantikan dengan kumpul bersama di luar seperti di tempat-tempat makan.
Mengapa bersilaturahmi?
Tentu banyak tafsir dari sisi agama mengapa silaturahmi harus dilakukan. Namun, menarik pula kebiasaan besilaturahmi dari sudut pandang sebagaimana dilihat oleh sosiolog, Emile Durkheim. Dalam buku The Division of Labor in Society (1983), Durkheim sempat menyinggung soal solidaritas mekanik.
Silaturahmi menjadi simbol dari rasa kesamaan dalam sebuah nilai. Selain itu, kebutuhan sebagai makhluk sosial untuk menjalin relasi yang harmonis. Momen Lebaran menjadi momen pengingat tersebut. Kembali pada modelnya di kota dan di desa, bagaimana pun bentuknya, esensinya adalah keinginan untuk mempererat hubungan dalam komunitas, dalam hal ini berbasis agama dan budaya. Solidaritas mekanik sebenarnya merupakan tradisi yang melekat dalam masyarakat tradisional. Artinya, bagi masyarakat kota yang seakan berjalan menjauh dari yang tradisional pun, momen Lebaran mengingatkan kepada yang paling hakiki dari kehidupan manusia. Akhirnya, beda atau sama kah Lebaran di kota dan di desa? Bentuknya mungkin berubah, tetapi isi pesan dan maknanya tetap mengedepankan silaturahmi sebagai perekat hidup sosial. (LITBANG KOMPAS)