Tren ”job hugging” muncul ketika pasar tenaga kerja memburuk dan para pekerja tak lagi mendapatkan peningkatan pendapatan tinggi sekalipun berpindah kerjaan baru.

Oleh Antonius Purwanto

Tren job hugging muncul ketika pasar tenaga kerja memburuk dan para pekerja tak lagi mendapatkan peningkatan pendapatan yang tinggi sekalipun berpindah kerjaan baru. Perusahaan dan pekerja perlu menyikapinya dengan bijak situasi seperti ini.

Pernahkah Anda mendengar cerita dari rekan kerja yang merasa terjebak pada pekerjaan yang tidak disukai tetapi memutuskan untuk tetap bertahan? Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di depan meja kerja tetapi tidak menikmati apa yang dikerjakannya. Meski terasa berat, banyak pekerja memilih untuk tetap bertahan.

Dulu, berpindah-pindah pekerjaan dirayakan sebagai bukti ambisi, kemampuan beradaptasi, dan pasar kerja yang berkembang pesat yang memberikan penghargaan kepada para profesional yang menolak untuk stagnan. Namun, kini di tengah kondisi perekonomian global dan domestik yang ”tidak baik-baik saja”, para pekerja itu memilih untuk tetap bertahan kendati mengorbankan kesehatan mental mereka.

Fenomena tersebut kini dikenal sebagai job hugging atau memeluk pekerjaan. Istilah jenaka ini menggambarkan para profesional yang memeluk erat pekerjaan mereka saat ini, alih-alih mencari perubahan yang konstan.

Bagi para profesional di bidang ketenagakerjaan, fenomena job hugging ini sebagai tren baru. Bahkan, semakin umum diperbincangkan di dunia kerja global dan di berbagai industri. Setelah sebelumnya marak tren job hopping yang sempat populer di tahun 2021 dan 2022, tren job hugging kini banyak dialami oleh kalangan pekerja milenial dan gen Z.

Apa itu fenomena job hugging dan apa penyebabnya? Mengapa fenomena ini semakin marak dan apa dampaknya bagi para pekerja dan perusahaan? Bagaimana sebaiknya pekerja dan perusahaan menyikapi tren job hugging

Apa itu ”job hugging”?

Fenomena job hugging atau memeluk pekerjaan merupakan tren baru di dunia kerja, di mana karyawan atau pekerja bertahan pada pekerjaan mereka meskipun mereka merasa tidak puas, tidak berkembang, atau bahkan tidak menyukai pekerjaannya.

Istilah itu menggambarkan kecenderungan pekerja muda yang bertahan tanpa gairah dan inovasi. Alih-alih mencari tantangan baru, mereka justru memilih ”memeluk erat” pekerjaan yang ada karena dianggap lebih aman.

Sebelum fenomena job hugging muncul belakangan ini, tren job hopping telah lebih dulu menjadi tren di kalangan pekerja. Fenomena job hopping adalah kebiasaan seseorang berpindah pekerjaan dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya dalam durasi waktu relatif singkat. Biasanya, mereka beralasan karena ingin mencari pengalaman baru ataupun mencari pendapatan yang jauh lebih besar.

Disebut juga dengan ”kutu loncat” di dunia kerja, fenomena job hopping itu terbilang sangat kontras dibandingkan generasi sebelumnya, di mana generasi boomer dan baby boomer cenderung lebih memilih mengabdi lama untuk sebuah perusahaan saja sepanjang kariernya.

Ada beberapa tanda yang bisa menunjukkan seseorang sedang terjebak dalam job hugging seperti dinyatakan oleh Jennifer Schielke, CEO Summit Group Solutions, dalam laman Fortune. Tanda-tanda itu antara lain peningkatan stres yang memengaruhi perilaku dan suasana hati tim. Karyawan hanya berfokus pada area yang sudah dikuasai, bukan pada aspek yang krusial bagi tim.

Antusiasme untuk membantu peran tambahan, tetapi tetap berpegang pada posisi utama karena rasa takut kehilangan pekerjaan. Pekerja yang sebetulnya sudah melampaui perannya, tetapi enggan pindah karena khawatir kondisi pasar.

”Stabilitas tidak sama dengan komitmen. Pemimpin hebat akan menjadikan situasi ini sebagai peluang untuk membangun budaya kerja yang lebih kuat dan berkelanjutan,” tambah Schielke. 

Mengapa pekerja beralih mengikuti tren ”job hugging”?

Berbagai sumber menyebutkan bahwa fenomena job hugging muncul tidak terlepas dari ketidakpastian ekonomi dan struktur perusahaan yang lebih datar sehingga membuat pekerja lebih berhati-hati.

Survei yang dilakukan oleh Korn Ferry bertajuk ”Workforce 2025: Power Shifts” menemukan bahwa 41 persen karyawan mengalami pemangkasan lapisan manajemen di organisasi mereka, sementara 37 persen merasa kehilangan arah. Dengan sedikit mentor dan kurangnya kejelasan tentang perkembangan, banyak pekerja yang kemudian memilih stabilitas daripada mengambil risiko.

Selain pergeseran struktural, volatilitas ekonomi juga mengubah harga risiko. Pemutusan hubungan kerja (PHK), inflasi, dan anggaran perekrutan yang lebih ketat berarti bahwa berganti pekerjaan tidak lagi menjamin peningkatan karier. Bagi banyak profesional, bertahan di tempat kerja terasa lebih aman daripada mencoba hal-hal yang tidak pasti.

Laporan ”Inside Employees’ Minds 2024-2025” dari Mercer menunjukkan bahwa tekanan finansial dan inflasi kini menjadi kekhawatiran utama para pekerja. Kecemasan ekonomi ini mengubah keputusan karier sehingga membuat stabilitas terasa lebih menarik daripada ambisi.

Selain itu, kecemasan terhadap kecerdasan buatan (AI) juga memicu tren job hugging. Adopsi AI yang cepat di tempat kerja, yang didorong oleh tekanan organisasi untuk tetap kompetitif dan memangkas biaya, dianggap bisa menciptakan iklim yang tidak nyaman bagi para pencari kerja.

Tidak heran jika banyak karyawan memilih untuk tetap bekerja di tempat mereka selama periode perekrutan yang lambat. Kekhawatiran yang semakin meningkat akan tergantikannya AI menimbulkan lapisan kekhawatiran baru bagi karyawan.

Selain itu, meninggalkan pekerjaan saat ini sering kali berarti melepaskan ekuitas yang belum diinvestasikan, bonus, atau fleksibilitas yang membuat kehidupan sehari-hari berjalan lancar. Laporan ”Retension Report 2025” dari Work Institute memperkuat hal ini. Dalam laporannnya disebutkan bahwa pekerjaan jarak jauh dan hibrida kini dipandang sebagai praktik penting dan pengembangan karier melalui mobilitas internal tetap menjadi alasan utama orang bertahan. 

Seperti apa fenomena ”job hugging” di sejumlah negara?

Fenomena job hugging sedang melanda dunia, termasuk di negara maju seperti Amerika Serikat dan Singapura. Di AS, semakin banyak orang Amerika yang bertahan dengan pekerjaan mereka meskipun mereka tidak bahagia karena ketidakpastian ekonomi seperti dikutip dari The Wall Street Journal, Rabu (10/9/2025).

Menurut jajak pendapat dari Federal Reserve Bank of New York, keyakinan pekerja AS dalam mencari pekerjaan baru telah mencapai rekor terendah dalam survei yang dilakukan sejak tahun 2013. Penurunan ini mencakup semua kelompok usia, pendapatan, dan pendidikan, tetapi paling menonjol di kalangan mereka yang berpendidikan SMA.

Tingkat berhenti kerja AS juga anjlok menjadi hanya 2 persen pada tahun 2025, terendah sejak awal 2016. Sementara itu, pasar kerja AS jauh lebih lemah pada tahun 2024 dan awal tahun ini dibandingkan dengan laporan awal, menambah kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi negara tersebut.

Lowongan pekerjaan telah turun dari dua posisi per orang yang menganggur pada Maret 2022 menjadi hampir satu berbanding satu pada Juni 2025. Laporan Bank of America Institute (2025) menunjukkan kenaikan gaji buat job hoppers anjlok ke 7 persen.

Sementara itu, di Singapura, tren job hugging juga melanda negara berjuluk ”Negeri Singa” tersebut. Survei Bisnis Nasional (SBF) terbaru mengungkapkan bahwa sentimen prospek perekrutan hanya 57,7 dari 100 yang menunjukkan sebagian besar bisnis berencana untuk mempertahankan ukuran tenaga kerja mereka saat ini dari pada berkembang. Dengan 40 persen bisnis Singapura saat ini yang memprediksi kondisi ekonomi cenderung akan memburuk (naik dari hanya 22 persen di kuartal IV-2024), tidak heran karyawan berpegang teguh pada stabilitas yang mereka dapatkan sekarang.

Infografik riset Jumlah Pekerja yang Terkena PHK 2023-2024
 

Infografik

Bagaimana dengan di Indonesia? Fenomena job hugging tampaknya juga melanda Indonesia lantaran kondisi ekonomi yang tidak pasti, tingginya biaya hidup, ancaman PHK di berbagai sektor, dan pasar kerja yang kian kompetitif. Dalam kondisi itu, pekerja, terutama dari milenial dan gen Z, merasa lebih aman untuk bertahan pada pekerjaan saat ini daripada mengambil risiko pindah ke tempat kerja baru.

Apalagi belakangan ini, PHK di berbagai sektor ekonomi di Tanah Air marak terjadi. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah tenaga kerja terkena PHK sepanjang Januari-Agustus 2025 tercatat 43.586 orang.

Riset LPEM FEB Universitas Indonesia mengungkap banyak korban PHK pindah ke gig economy dengan jam kerja ekstrem tapi tanpa jaminan sosial. Kondisi seperti ini bisa jadi memicu maraknya pekerja yang lebih memeluk pekerjaan daripada mengambil risiko mencari pekerjaan baru.

Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) umur muda masih tergolong tinggi di Indonesia yakni di atas 16 persen. Angka pengangguran kaum muda bahkan jauh di atas rata-rata nasional. Dilansir dari Booklet Sakernas Februari 2025, angka pengangguran umur muda bertahan pada angka 16,16 persen. 

Apa dampaknya terhadap karyawan dan perusahaan?

Meski sekilas terlihat aman, fenomena job hugging ini bisa berdampak serius baik untuk pekerja maupun perusahaan. Bagi pekerja, job hugging bisa berarti stagnasi karier. Mereka kehilangan peluang untuk belajar, berkembang, dan mendapatkan pengalaman baru.

Terlalu lama ”memeluk pekerjaan” hanya karena rasa takut dapat membuat karier mereka berjalan di tempat. Mereka melewatkan kesempatan emas untuk berkembang dan menemukan peran yang lebih sesuai dengan potensi diri. Dalam jangka panjang, hal ini bisa membuat mereka kalah saing ketika pasar kembali terbuka.

Lebih jauh lagi, bertahan dalam pekerjaan yang tidak memuaskan bisa memicu kelelahan mental. Laporan Gallup 2024 menyebut hanya 23 persen karyawan global yang merasa engaged dengan pekerjaannya, sementara 62 persen mengalami disengagement atau burnout tersembunyi. Angka itu selaras dengan meningkatnya gejala silent fatigue di banyak organisasi. Silent fatigue adalah kondisi kelelahan tersembunyi atau terpendam yang tidak tampak jelas dari luar, tetapi terus menumpuk dan memengaruhi kesehatan mental serta fisik seseorang secara perlahan

Sementara bagi perusahaan, job hugging juga bukan kabar baik. Meski mampu membuat tingkat turnover di sebuah perusahaan terlihat rendah, bukan berarti semua baik-baik saja. Jika karyawan tidak benar-benar engaged, kinerja bisa menurun ketika pasar kerja kembali pulih.

Talenta yang sebenarnya bisa bergerak ke atas terhambat karena posisi tetap ”dipeluk” oleh karyawan yang tidak mau pindah. Mobilitas internal menjadi tersendat, inovasi melemah, dan organisasi terjebak dalam stagnasi. 

Bagaimana sebaiknya pekerja dan perusahaan menyikapi ”job hugging”?

Pergeseran dari berpindah-pindah pekerjaan menjadi memeluk pekerjaan lebih dari sekadar tren sesaat. Hal ini merupakan redefinisi tentang arti ambisi dan keamanan di tempat kerja masa kini. Pekerja tidak lagi mengejar perubahan demi pencapaian tertinggi dari kualitas dan ambisi yang mereka miliki. Mereka cenderung mencari stabilitas, kedalaman, dan tempat kerja yang benar-benar berinvestasi dalam pertumbuhan mereka.

Fenomena job hugging dapat pula dipahami sebagai cerminan perubahan sikap dan strategi para pekerja di tengah ketidakpastian ekonomi dan kemajuan teknologi. Meski bertahan di satu pekerjaan bisa jadi strategi aman, tetapi juga penting bagi karyawan untuk tetap mencari perkembangan diri agar karier tidak stagnan.

Bagi perusahaan, fenomena itu berarti persaingan sesungguhnya bukan hanya tentang menarik bakat, melainkan juga tentang mendapatkan hak untuk mempertahankan. Penyesuaian strategi pengelolaan sumber daya manusia perlu dilakukan demi menjaga inovasi dan motivasi di tempat kerja. Dengan demikian, keseimbangan antara keamanan dan pertumbuhan karier akan tetap terjaga sesuai dengan dinamika zaman.

Perusahaan yang akan menang di tahun-tahun mendatang adalah perusahaan yang memperlakukan loyalitas sebagai jalan dua arah, yakni menciptakan lingkungan di mana pekerja bertahan bukan karena takut pergi, melainkan karena mereka melihat tujuan, kemungkinan, dan kebanggaan dalam bertahan.

Retensi tidak lagi bergantung pada keadaan kebetulan, tetapi lebih pada pilihan sadar, di mana komitmen dibangun atas kepercayaan, peluang, dan pengalaman yang bermakna. Dalam dunia yang dibentuk oleh ketidakpastian ekonomi dan disrupsi teknologi, loyalitas yang memiliki tujuan dapat menjadi keunggulan yang dapat dimiliki organisasi mana pun. (LITBANG KOMPAS)