Bencana hidrometeorologi di Aceh kali ini ibarat tsunami kecil. Derita yang dirasakan warga terdampak saat ini sangat berat seperti di awal-awal tsunami 2004.

Oleh Adrian Fajriansyah

Bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem yang dipicu siklon tropis Senyar yang melanda Aceh berdampak luar biasa bagi warga. Bencana ini mengingatkan warga Aceh pada tsunami yang menerjang provinsi Serambi Mekah ini pada 2004. Hanya saja skala bencananya lebih kecil.

Bencana kali ini menyebabkan akses jalan darat terputus karena genangan banjir masih sulit dilewati kendaraan. Infrasturuktur rusak parah, seperti jalan amblas dan jembatan ambruk. Jaringan listrik dan telekomunikasi juga lumpuh karena sebagian besar menara jaringannya ambruk. Akibatnya, jumlah korban jiwa dan terdampak bencana ini kemungkinan lebih besar tetapi masih luput dari pantauan.

Setelah empat hari tidak ada kabar atau sejak cuaca ekstrem melanda Aceh pada Selasa (25/11/2025), Fachri Zikrillah (27) tiba-tiba memberikan kabar melalui pesan di grup WA bahwa kondisi dia dan keluarganya aman. Fachri baru saja mendapatkan akses internet starlink di Kantor Reje/Kepala Kampung, Kampung Kute Lot, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah, Jumat (28/11/2025).

Kini, jaringan internet itu manjadi satu-satunya akses internet yang tersedia di Aceh Tengah. Dari foto yang dibagikan Fachri, tampak warga memadati Kantor Reje Kute Lot untuk memanfaatkan akses internet tersebut. Dengan internet itu, warga melepas dahaga saling berkabar dengan sanak keluarga dan kerabat di sesama wilayah Aceh Tengah maupun luar Aceh Tengah.

Fachri sendiri memastikan bahwa dia dan keluarganya baik-baik saja. Mereka tinggal di kawasan Kalanareh, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah, yang jauh dari sungai dan gunung. Karena itu, mereka terhindar dari dampak banjir dan longsor. Meski demikian, kalau tidak ada pertolongan hingga beberapa hari kemudian, mereka cemas kekurangan pasokan bahan bakar minyak (BBM), gas, dan logistik/sembako.

Fachri yang suaranya putus-putus karena jaringan internet yang tidak stabil bercerita kepada Kompas, saat ini, Aceh Tengah seperti terkurung di tengah-tengah pegunungan. Sebab, semua akses jalan dari dan menuju Aceh Tengah putus akibat masih tegenang air cukup tinggi, amblas akibat longsor, dan tertimbung longsor.

Situasi semakin parah karena jaringan telepon seluler maupun internet lumpuh. Informasi mengenai Aceh Tengah nyaris tidak diketahui. Praktis kabar mengenai Aceh Tengah baru tersiar setelah hujan rendah sejak Kamis (27/11/2025) petang. Warga mulai bisa berani berpergian keluar rumah dan mencari sumber jaringan internet yang bisa dimanfaatkan, salah satunya internet starlink di Kantor Reje Kute Lot.

”Sekarang stok BBM, gas, dan bahan pokok mulai menipis di seluruh Aceh Tengah. Kalau tidak segera dapat tambahan pasokan, kami akan semakin terisolasi dari komunikasi dan kelaparan dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya.

Fachri mengatakan, ponselnya menyala karena sempat dicas menggunakan genset yang dinyalakan dengan BBM. Internet stralink di Kantor Reje Kute Lot pun menyala karena genset. Jadi, kalau BBM habis, akses komunikasi akan putus total karena ponsel tidak bisa dicas dan internet starlink tidak bisa dinyalakan. Itu menjadi kabar terakhir dari Fachri dalam percakapan yang berlangsung sekitar 3 menit. Setelah itu, komunikasi kembali terputus.

Terparah sepanjang sejarah

Bencana hidrometeorologi di Aceh kali ini memang lebih buruk dari yang dibayangkan. Hal itu yang dirasakan Rahmat Mirza (33), warga Kampung Tambun Tunong, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara.

Sebelum bencana terjadi pada Selasa, Rahmat membawa ibu dan adiknya rawat inap di Rumah Sakit Arun Kota Lhokseumawe pada Minggu (23/11/2025). Ibunya mengalami gangguan jantung sehingga harus dirawat di ruang ICU, sedangkan adiknya demam tinggi.

Pada Selasa, turun hujan esktrem yang membuat sejumlah wilayah Aceh Utara kebanjiran. Awalnya, Rahmat memperkirakan itu hanya banjir musiman biasa. Nyatanya, hujan ekstrem mengguyur sangat lama sehingga banjir semakin membesar.

Pada Rabu (26/11/2025), Rahmat mendapatkan kabar bahwa banjir menggenangi kampungnya hingga ketinggian 3 meter. Semua rumah warga yang berpenduduk sekitar 5.000 jiwa tegenang hingga bagian atap rumah. Itu menjadi banjir terbesar yang pernah terjadi di sana, setidaknya sepanjang usia Rahmat.

Karena tidak pernah memprediksi terjadi bencana tersebut, Rahmat tidak membawa bekal pakaian dan makanan yang cukup. Dia hanya membawa dua pakaian dan makanan seadanya. Kini, semua pakaiannya sudah kotor dan tidak bisa diganti dan makanan habis. Dia kebingunan mau makan apa karena warung-warung tutup. Beruntung, asupan makanan untuk ibu dan adiknya aman karena ada pasokan dari rumah sakit.

Suasana serbasusah itu mengingatkan Rahmat kepada tsunami yang melanda Aceh 21 tahun silam. Setidaknya, kedua bencana sama-sama berkaitan dengan air yang datang tanpa disangka-sangka dan terjadi di pengujung tahun. Bencana itu menyebabkan akses transportasi terputus dan komunikasi lumpuh.

Banyak warga yang terdampak tidak terpantau karena kesulitan mengakses tempat mereka berada. Kondisi kian sulit karena stok BBM dan sembako menipis. ”Bagi kami, bencana kali ini seperti tsunami kecil. Bencana ini memang tidak menyebabkan korban jiwa sebesar tsunami 2004, tetapi derita dari dampaknya sangat berat seperti di awal-awal tsunami 2004,” kata Rahmat.

Yang masih patut disyukuri, Rahmat mendapatkan akses listrik dari genset rumah sakit dan jaringan internet dari WIFI rumah sakit. Walau listrik dan internet itu tidak stabil, paling tidak, Rahmat bisa memanfaatnya untuk memantau perkembangan banjir yang melanda kampungnya dan wilayah di sekitarnya.

Dari informasi tim SAR di lapangan, hingga kini, banjir setinggi 2 meter masih melanda semua wilayah Dewantara. Meski hujan sudah reda sejak Kamis petang, banjir di hampir semua wilayah Aceh Utara belum sepenuhnya surut. Bahkan, warga khawatir banjir kembali tinggi kalau hujan kembali turun. Apalagi cuaca di hari Jumat siang terpantau mulai mendung.

Karena itu, walau nantinya kondisi ibu dan adiknya membaik serta banjir surut, Rahmat tidak akan membawa keluarganya kembali ke rumah dalam waktu dekat. Lagi pula, semua perabotan rumah, termasuk kasur diyakini sudah rusak karena terendam air berhari-hari.

”Kami beruntung sempat masuk rumah sakit sebelum bencana terjadi. Bagaimana dengan warga lain, mungkin banyak yang masih mengungsi seadanya di tempat tempat-tempat tinggi di sekitar kampung,” tutur Rahmat.

Perantau harap-harap cemas

Derita bukan hanya dirasakan oleh para warga yang terdampak langsung di lokasi bencana, warga Aceh yang berada di perantauan pun harap-harap cemas dengan kondisi keluarganya di kampung. Sebab, putusnya jaringan listrik dan telekomunikasi membuat warga perantau tidak bisa mengetahui kabar pasti keluarga mereka di kampung.

Salah satu yang cemas adalah warga Kota Langsa yang merantau di Tangerang Selatan sejak 2014, Lisa Fantina (46). Dia mengatakan, kedua orantua dan tiga saudara/saudarinya masih tinggal di tempat berbeda di Langsa. Saat keluarga memberikan kabar banjir mulai melanda Langsa pada Selasa malam akibat hujan ekstrem cukup lama, Lisa memprediksi dampaknya akan mirip dengan banjir musiman yang sering terjadi.

Nyatanya, dampak banjir terus semakin parah setiap kali ada informasi baru yang disampaikan kedua orangtua dan tiga saudara/saudarinya melalui grup WA keluarga. Bahkan, tempat tinggal kedua orangtuanya yang berada di Kampung Seuriget, Kecamatan Langsa Barat, yang tidak pernah banjir justru kebanjiran.

Banjir yang biasanya hanya terjadi beberapa sentimeter di rumah saudarinya di sekitar Jalan TM Bahrum, Kampung Paya Bujok Teungoh, Langsa Barat pun menggenang jauh lebih tinggi. Bahkan, banjir di sana menenggelamkan rumah-rumah.

Kendati dampak banjir mulai parah, semula, Lisa masih tenang karena masih bisa berkomunikasi dengan keluarga di kampung dan keluarganya dalam kondisi aman. Akan tetapi, pada Rabu sekitar pukul 13.55 WIB, komunikasi itu terputus. Keluarganya tidak lagi memberikan kabar melalui pesan WA grup. Sebaliknya, saat Lisa mengirim pesan WA grup, tidak ada yang membacanya. Telepon ke keluarganya pun tidak tersambung.

Lisa melakukan berbagai cara untuk mendapatkan informasi mengenai keluarganya. Dia coba menghubungi jejaring teman di sekitar Langsa, tetapi hasilnya nihil. Semuanya pun tidak bisa dihubungi. Situasi itu membuat kalut karena dihantui rasa khawatir.

Keadaan semakin kacau saat Lisa mendapatkan kabar akses jalan dari dan menuju Langsa putus, baik rute Medan (Sumatera Utara)-Langsa maupun Banda Aceh-Langsa. Sejumlah ruas jalan dari dan menuju Langsa tidak bisa dilalui karena masih tergenang banjir besar dan ada pula jembatan yang ambruk.

Bahkan, adik Lisa yang ingin pulang dari Jakarta ke Langsa kebingungan. Adiknya berencana terbang dari Jakarta ke Kualanamu (Sumatera Utara) sebelum meneruskan perjalanan darat Medan-Langsa pada Sabtu (29/11/2025). Akan tetapi, dia mendapatkan kabar jalur darat kemungkinan masih belum bisa dilalui hingga Sabtu.

”Kondisi ini mirip seperti saat tsunami karena akses transportasi dan komunikasi terputus selama berhari-hari. Kita jadi bingung harus bagaimana. Mau ke sana tidak bisa, mau menghubungi juga tidak tersambung,” ujar Lisa.

Sekarang, Lisa hanya bisa pasrah dan terus memanjatkan doa terbaik bagi keluarganya di kampung. Dia pun berharap bencana segera teratasi agar warga terdampak bisa segera mendapatkan akses pertolongan dan bisa berkomunikasi dengan keluarga di luar daerah. ”Dalam situasi darurat seperti ini, yang paling utama bisa mendapatkan kepastian kabar bahwa keluarga kita baik-baik saja,” ujar Lisa.

Jauh lebih besar

Koordinator Relawan Peduli Bencana Aceh, Fachrul Razi, memprediksi dampak bencana kali ini jauh lebih besar dibandingkan informasi yang disampaikan pemerintah. Sebab, ada banyak daerah yang masih terisolir dari akses transporasi maupun telekomunikasi.

Wilayah yang terdampak parah, meliputi pedalaman Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang. Selain di wilayah pesisir timur tersebut, wilayah lain yang terdampak parah berada di pegunungan, seperti Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara.

Setelah jaringan listrik dan komunikasi berangsur pulih di sebagian wilayah Banda Aceh mulai Kamis petang, banyak warga yang saling bertanya melalui akses grup WA dan media sosial milik Relawan Peduli Bencana Aceh. Mereka saling meminta tolong untuk memastikan kabar keluarganya di wilayah-wilayah yang belum bisa dijamah transportasi maupun komunikasi. Sebagian besar yang bertanya-tanya itu adalah warga Aceh di perantauan.

Sejumlah warga yang di wilayah terdampak yang mulai mendapatkan akses komunikasi pun sempat mengirimkan beberapa foto dan video mengenai kondisi di tempat mereka. Ada yang mengabarkan bahwa daerahnya masih terdampak banjir cukup tinggi. Ada pula yang menunjukkan bahwa banjir di daerahnya mulai surut, tetapi dampaknya sangat parah karena ada rumah yang ambruk dan ada rumah yang tertimbun lumpur yang terbawa banjir.  

Banyak warga yang meminta tolong karena warga mulai sakit dan kelaparan. Kondisi warga lansia dan balita paling rentan mengalami demam karena berhari-hari dilanda hujan ekstrem dan banjir. Penyakit kulit pun mulai menjangkiti warga.

Situasi kian parah karena stok makanan sudah mulai kosong. Mereka tidak bisa membeli karena tidak ada warung yang buka. Kalau buka, stok pun sangat terbatas dan harganya sudah melambung tinggi. Warga juga mesti rebutan untuk mendapatkan sisa stok tersebut.

Hampir semua akses pendistribusian bahan pokok terputus, seperti telur yang mayoritas dari Sumatera Utara, ikan dari pesisir Aceh, dan sayur-mayur dari Aceh Tengah. Sekarang, stok telur di pasaran langka karena tidak ada yang distribusikan ke Aceh akibat akses jalan darat Aceh-Sumatera Utara lumpuh.

Ikan nyaris kosong karena tidak ada nelayan yang melaut akibat cuaca masih tidak bersahabat. Sayur mayur juga kosong karena lahan-lahan pertanian di Aceh Tengah terdampak banjir dan longsor.

”Bencana kali ini bukan bencana biasa. Ini adalah tsunami kecil. Seharusnya, pemerintah pusat menetapkan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Baat sebagai bencana nasional agar penanganan lebih dipercepat. Jangan sampai korban berjatuhan lebih banyak karena penanganan lambat,” kata Fachrul.

Korban terus bertambah

Berdasarkan data aktual Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh (BPBA) per 28 November 2025 pukul 09.30, bencana hidrometeorologi di Aceh menyebabkan 126.655 jiwa terdampak dan 28.631 jiwa mengungsi yang tersebar di 17 kabupaten/kota. Bencana itu pun menyebabkan dua orang tewas dan satu hilang di Aceh Tenggara, satu tewas dan dua hilang di Gayo Lues, serta satu hilang di Bener Meriah.

Data itu kemungkinan akan terus bertambah karena ada sejumlah daerah yang masih dalam pendataan. Di sisi lain, banjir di sebagian besar wilayah terdampak masih belum surut. Ketinggian banjir beragam, dari rata-rata sekitar 60 sentimeter hingga tertinggi mencapai 2 meter.

Selain menyebabkan ribuan rumah warga rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan, sejumlah infrastruktur umum juga rusak parah, khususnya akses jalan darat dan jembatan. Selain itu, dilansir berita Kompas.com, 27 November 2025, ada 12 menara jalur transmisi listrik Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 Kilovolt (KV) mengalami kerusakan. 

Gangguan aliran listrik itu menyebabkan transmisi telekomunikasi seluler ikut terputus. Berita Kompas.id, 27 November 2025 menyebutkan, ada 799 site atau fasilitas pemancar telekomuniasi di Aceh yang mati akibat imbas gangguan kelistrikan tersebut. Operator seluler berupaya melakukan pemulihan tetapi terkendala akses menuju lokasi terdampak.

Dengan dampak luar biasa tersebut, Anggota DPD asal Aceh Azhari Cage menuturkan, sudah sepatunya pemerintah pusat menetapkan bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebagai bencana nasional. Itu sangat penting agar penanganan tanggap darurat bencana lebih cepat, akurat, dan holistik.

”Dampak dari musibah ini sangat besar. Bukan hanya fasilitas umum, dampaknya dialami oleh banyak masyarakat. Kalau hanya diserahkan kepada provinsi, penanganannya akan lambat. Belum lagi akses transportasi dan komunikasi masih terganggu. Jadi, kami harap Presiden Prabowo Subianto meningkan status bencana ini sebagai bencana nasional agar penangannya lebih cepat, akurat, dan didukung oleh semua instansi terkait,” kata Azhari.

Semoga bencana hidrometeorologi di Aceh segera berlalu dan dampak bencana segera teratasi. Semoga lekas pulih Aceh loen sayang.