Tanpa ada fenomena ”supermoon”, banjir rob akan terjadi di sejumlah daerah, terutama Jakarta. Penurunan muka air tanah yang tak terkendali adalah penyebab utama rob.

Oleh Muchamad Zaid Wahyudi

Fenomena bulan purnama di perige atau biasa disebut supermoon sering dituding sebagai pemicu utama banjir rob di Jakarta. Bulan super memang mendorong pasang maksimum air laut. Namun, faktor penurunan muka air tanahlah yang jadi pemicu utama rob. Perubahan tata guna lahan dan cuaca ekstrem yang terjadi berbarengan dengan fenomena supermoon bisa makin memperparah rob yang terjadi.

Puncak bulan purnama kali ini, sesuai data Time and Date, terjadi pada Jumat (5/12/2025) pukul 06.14 WIB alias Bulan sudah tenggelam di Jakarta. Sementara Bulan berada di perige atau jarak terdekatnya dengan Bumi pada Kamis (4/12/2025) pukul 18.09 WIB. Saat itu, Bulan berada pada jarak 356.965 kilometer atau 92 persen dari jarak rata-rata Bumi-Bulan. Gabungan dua peristiwa itu, bulan purnama dan Bulan di perige, memicu terjadinya fenomena yang populer disebut supermoon.

Sementara di Jakarta, potensi banjir rob sudah diumumkan akan terjadi pada rentang 1-10 Desember 2025. Puncak pasang diperkirakan terjadi pada pukul 07.00-13.00 WIB setiap hari. Wilayah yang termasuk zona waspada rob itu antara lain Ancol, Pluit, Penjaringan, Tanjung Priok, Cilincing, Muara Angke, Kamal Muara, hingga Kepulauan Seribu.

Kamis kemarin, banjir rob menggenangi sejumlah jalan utama di Tanjung Priok, Jakarta Utara, seperti di Jalan RE Martadinata dan kawasan sekitar Jakarta International Stadium dengan tinggi air 40 sentimeter. Rob juga terjadi di sejumlah tempat di beberapa pulau di Kepulauan Seribu, seperti Pulau Untung Jawa dan Pulau Harapan.

Profesor riset astronomi dan astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Jumat, mengatakan, secara astronomis, faktor utama pemicu banjir rob adalah pasang maksimum air laut. Pasang maksimum itu dipicu oleh fase bulan purnama yang bersifat reguler dan posisi Bulan yang berada di dekat perige. Kedua peristiwa ini membuat tarikan gravitasi Bulan terhadap air laut menjadi maksimum.

Namun, khusus untuk Jakarta, berdasarkan penelitian Thomas dan rekan terhadap banjir rob di pantai utara (pantura) Jawa dan dipublikasikan di AIP Conference Proceedings, 11 Desember 2023, faktor penentu utama pasang maksimum itu adalah deklinasi Bulan maksimum.

Deklinasi Bulan menggambarkan posisi sudut Bulan terhadap ekuator langit. Bulan akan mencapai deklinasi maksimum pada 6 Desember 2025, yaitu saat posisi Bulan berada paling utara terhadap ekuator langit yang merupakan perpanjangan dari ekuator Bumi.

”Dari data fase Bulan, jarak Bulan ke Bumi, dan deklinasi Bulan, maka puncak potensi banjir rob tertinggi akan terjadi pada 5 Desember 2025 dan biasanya berlangsung dua hari sebelum dan sesudah fase bulan purnama,” katanya.

Selain Bulan (moon), faktor astronomis lain yang menentukan pasang maksimum adalah posisi Matahari. Setiap bulan (month) Desember, Matahari akan berada di titik balik selatan sebagai konsekuensi dari gerak semu Matahari. Posisi terjauh Matahari dari khatulistiwa itu turut menambah ketinggian pasang maksimum air laut.

”Supermoon memang berkontribusi terhadap kenaikan pasang maksimum air laut,” tambah Thomas.

 

Namun, seperti dikutip dari Time and Date, kenaikan muka air laut akibat supermoon atau disebut spring tides itu hanya 5 sentimeter (cm) sehingga tidak terlalu dominan dalam memicu banjir rob. Karena itu, kehadiran sejumlah faktor penguat, seperti penurunan muka air tanah ataupun cuaca ekstrem yang terjadi saat supermoon, lebih berperan dalam memicu rob.

Air tanah

Sementara itu, peneliti pemodelan risiko banjir yang juga Ketua Kelompok Riset Kebencanaan Hidrometeorologi Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN Yus Budiyono menilai, penyebab utama banjir rob yang terus berulang terjadi adalah penurunan muka air tanah. Akibatnya, posisi beberapa wilayah di bagian utara Jakarta sudah lebih rendah dari muka air laut.

Persoalan ini juga banyak terjadi di sejumlah wilayah pantura Jawa. Namun, penurunan muka air tanah terbesar ada di Jakarta, 28 cm per tahun, dan di wilayah pantura Jawa lainnya, sekitar 15 cm per tahun. Besarnya penurunan muka air tanah di Jakarta itu membuat ketinggian sejumlah wilayah di Jakarta, seperti Cengkareng dan Kapuk, mencapai minus 3 meter di bawah permukaan laut.

Pemicu utama penurunan muka air tanah itu adalah pengambilan air tanah secara tidak terkendali. Kegagalan pemerintah daerah melalui perusahaan air minum daerah (PDAM) dalam menyediakan air bersih dan layak membuat masyarakat dan industri mencari solusi sendiri untuk memenuhi kebutuhannya akan air dengan mengebor air tanah secara mandiri.

”Karena muka air tanah turun, maka saat terjadi pasang air laut sekecil apa pun pasti akan menimbulkan limpasan air ke daratan hingga memicu rob,” katanya.

Penurunan muka air tanah ini sudah terjadi puluhan tahun. Di sejumlah daerah, seperti Demak, Jawa Tengah, penurunan muka air tanah itu telah membuat sejumlah wilayah hilang. Sementara di Jakarta, karena banyak aset masyarakat berdiri di wilayah yang tanahnya terus turun, maka pemerintah membangun tanggul raksasa.

Namun, proyek ini belum selesai semuanya sehingga beberapa wilayah pesisir Jakarta belum memiliki tanggul. Persoalannya, pembangunan tanggul raksasa ini tidak akan memberi manfaat optimal jika pengambilan air tanah terus dilakukan. Penurunan muka air tanah secara terus-menerus akan membuat tanggul laut ambles di masa depan. 

Selain penurunan muka air tanah, secara geologi, wilayah pantura Jawa merupakan tanah aluvial yang masih mengalami pemadatan alami. Meski demikian, penurunan tanah akibat pemadatan ini hanya 2 milimeter per tahun sehingga tidak signifikan dibandingkan penurunan akibat pengambilan air tanah berlebih.

”Jika terus menyalahkan alam, maka persoalan yang dihadapi tidak akan pernah selesai. Pasang naik dan supermoon adalah hal-hal yang tidak bisa dikontrol. Jadi, tidak perlu dipusingkan atau disalahkan,” ujar Yus.

Penurunan muka air tanah ini sebenarnya juga menjadi masalah yang dihadapi kota-kota besar dunia sebagai konsekuensi dari lonjakan penduduk. Akan tetapi, hal yang membedakan adalah bagaimana cara pemerintah kota-kota metropolitan dunia tersebut menanganinya.

Di Tokyo, Jepang, lanjut Yus, pemerintah setempat sudah menyadari dampak penurunan muka air tanah sejak tahun 1926. Setelah Perang Dunia II selesai atau tahun 1950-an, pencegahan mulai dilakukan dan pada 1975, penurunan muka air tanah di kota metropolitan terbesar di dunia itu akhirnya bisa diatasi.

Pemicu penurunan muka tanah lainnya adalah beban bangunan. Menurut Yus, faktor ini sulit diukur dan dibuktikan. Yang lebih berperan membuat penurunan tanah bukanlah beban bangunannya, tetapi karena bangunan yang berat tersebut dibangun di atas tanah yang lunak sehingga otomatis bangunan akan terus turun.

Di luar penurunan muka air tanah, banjir rob akan berdampak lebih parah jika terjadi bersamaan dengan banjir fluvial atau banjir akibat luapan sungai. Pemicu utama banjir fluvial adalah alih fungsi lahan serta tata guna lahan yang tidak semestinya sehingga air langsung terbuang ke sungai dan sungai tidak mampu menampung lonjakan debit air yang terjadi. Hal yang pasti, pemicu utama banjir fluvial dan banjir rob jelas berbeda.

Untuk mengatasi terus berulangnya banjir rob, Yus berharap pemerintah pusat mempertimbangkan kembali konsep pembangunan berbasis alam, bukan berbasis proyek infrastruktur semata. Pemerintah daerah juga perlu membangun sistem penyediaan air minum yang menjangkau seluruh masyarakat sehingga tidak ada lagi masyarakat yang mengambil air tanah secara serampangan.

Tidak hanya mengandalkan pemerintah, masyarakat pun bisa ikut andil mencegah rob dan banjir fluvial. Banyak hal sederhana bisa dilakukan, seperti menampung air hujan yang jatuh dari talang rumah, membuat sumur resapan, atau menanam pohon. Setiap upaya kecil dalam mencegah rob dan banjir fluvial akan berdampak besar bagi diri, masyarakat, dan Bumi kita.