Siklon yang dulu mustahil muncul di Indonesia kini bisa datang kapan saja. Tidak hanya Sumatera, dampaknya bisa dirasakan warga Sulawesi bila tidak siap.

Oleh Reny Sri Ayu

Ancaman siklon kini menjadi keniscayaan di Indonesia. Dampaknya, bencana hidrometeorologi yang menjadi normal baru di Indonesia. Sulawesi Selatan dengan bentang alam yang kompleks tak luput dari ancaman itu.

Kepala Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin Ilham Alimuddin mengatakan, jejak bencana hidrometeorologi beberapa tahun terakhir di Sulsel, termasuk di Sumatera, harus menjadi pelajaran berharga untuk langkah mitigasi.

Dia mengatakan, dalam kondisi seperti ini, rencana jangka pendek dan jangka panjang sebagai bentuk mitigasi adalah hal mendesak yang harus dilakukan.

”Dulu kita berpikir tak mungkin ada siklon ke Indonesia. Namun, sekarang itu bukan lagi sesuatu yang mustahil. Karena itu, dalam soal mitigasi, parameter siklon sudah harus masuk ke perhitungan dan manajemen  risiko bencana,” katanya di Makassar, Sabtu (13/12/2025).

Mitigasi bukan hanya perihal perangkat teknologi canggih untuk prakiraan cuaca, melainkan penting juga bagaimana agar informasi cuaca ini sampai ke masyarakat, terutama di daerah yang rentan.

”Selama ini BMKG rutin mengeluarkan prakiraan cuaca mulai dari harian hingga mingguan. Bahkan, untuk ancaman cuaca ekstrem ada peringatan dini. Namun, ternyata banyak masyarakat yang sulit mengakses. Ini menjadi tantangan BPBD untuk mempersiapkan sistem pendukung informasi di daerah,” kata Ilham.

Di tengah musim hujan di Sulsel dan intensitas curah hujan yang kian tinggi, pemerintah harus lebih siap. Selain soal informasi cuaca, jalur-jalur evakuasi juga harus disiapkan lebih cermat.

”Misalnya saat bencana terjadi, ke mana masyarakat harus mengamankan diri. Jika jalan dan jembatan putus atau terjadi tanah longsor, jalur mana yang menjadi alternatif. Sebenarnya ini bisa dilakukan karena sungai-sungai bisa dipetakan dengan mudah. Masyarakat pun tentu harus diedukasi. Dalam hal ini, BPBD yang menjadi ujung tombak penanggulangan bencana harus lebih siap,” tuturnya.

Normal baru bencana

Ahli geologi dan kebencanaan Unhas, Prof Adi Maulana, mengingatkan, saat ini, siklon yang terus membayangi Indonesia berdampak pada terjadinya ”normal baru hidrometeorologi”. Hal ini karena siklon di sekitar Indonesia menjadi variabel tetap. Kondisi ini juga membawa perubahan di Sulsel.

”Siklon dekat ekuator dapat tidak ’mendarat’, tetapi rain band-nya sangat mematikan. Dampaknya sampai ke Sulsel bisa berupa hujan ekstrem berhati-hari, gelombang tinggi, banjir pesisir, dan angin kuat dapat merusak permukiman di pesisir,” katanya.

Dia menyebut, berdasarkan data BMKG, di Sulsel hujan ekstrem dengan intensitas 150 milimeter per hari meningkat signifikan terutama pada Januari-April dan November-Desember. Kondisi ini bisa menimbulkan kejutan pada daerah aliran sungai (DAS) pendek. DAS seperti Bili-bili, Jeneberang, Walanae, dan Saddang dibayangi banjir ekstrem jika siklon tidak diantisipasi.

 

DAS pendek dan curam membuat respons hujan lebih cepat dan berpotensi menyebabkan banjir bandang tinggi. Selain itu, urbanisasi pesisir Makassar, seperti Gowa, Maros, Takalar, atau kawasan Mamminasata, membuat risiko banjir perkotaan terus meningkat.

Hal ini juga diperparah wilayah pesisir barat dan selatan yang  langsung berhadapan dengan Samudra Hindia. Hal ini sensitif terhadap pembentukan siklon dekat ekuator.

”Deforestasi hulu dan perubahan tutupan lahan mempercepat limpasan dan erosi. Hal ini menyebabkan Sulsel rentan menghadapi kombinasi dua hingga tiga bencana sekaligus mulai dari gelombang tinggi, banjir bandang dan banjir pesisir, hingga tanah longsor di hulu,” katanya.

Bencana tanah longsor ini juga berpotensi menyebabkan sedimentasi di waduk kian tinggi. Dampak terusannya pada infrastruktur juga kian kritis. Hal ini bisa berpengaruh pada konektivitas ekonomi, seperti bandara, Jalan Trans-Sulawesi, hingga pelabuhan.

Sebagai contoh di Bendungan Bili-bili, kapasitas tampung kian terbatas akibat sedimentasi kronis. Ini juga bisa berdampak pada pelabuhan Makassar dan mengganggu pergerakan logistik. Adapun Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menjadi rawan genangan.

Adi menyebut, ada beberapa pelajaran berharga dari Sumatera yang sangat relevan untuk Sulsel. Hal ini mengingat karakteristik geomorfologi dan kondisi sosial-ekonomi wilayah ini yang mirip dengan Su Ke depan, kata Adi, Pemerintah Provinsi Sulsel sudah seharusnya membuat perencanaan berbasis skenario ekstrem, bukan lagi historis. Selain itu, mengintegrasikan sistem peringatan dini siklon. Dalam hal ini, Sulsel perlu memiliki cyclone enhanced early warning, bukan hanya peringatan hujan biasa.

”Manajemen DAS harus berbasis risiko iklim. Rehabilitasi hulu tidak lagi sekadar program lingkungan, tetapi program ketahanan nasional. Pemerintah juga bisa melakukan adaptasi tata ruang, seperti redesign zona rawan banjir di kawasan Mamminasata,” jelas Adi.

Relokasi bertahap, kata Adi, juga perlu dilakukan pada koridor rawan banjir bandang, seperti Malino di Gowa, Enrekang, hingga Luwu. Adapun penataan infrastruktur dam dan bendungan wajib punya skenario menghadapi bencana yang sama seperti Sumatera di tahun ini.

Penguatan komunitas

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel Amaon Padolo mengatakan, belajar dari bencana Sumatera, ada berbagai langkah yang harus dilakukan di Sulsel.

Langkah ini di antaranya sistem peringatan dini inklusif dan penataan ruang berbasis risiko. Selain itu, penguatan komunitas tangguh dan mempersiapkan pemulihan jangka panjang. matera.

”Perlu ada kolaborasi multiaktor dan sektor, seperti dengan perguruan tinggi, masyarakat yang akan berkarya Laos aktif dalam mitigasi dan pemulihan bencana, aparat TNI/Polri, sukarelawan, dan lembaga swadaya masyarakat,” katanya.

Sulsel dengan jejak bencana hidrometeorologi dalam beberapa tahun terakhir yang menyebabkan ratusan nyawa melayang sudah seharusnya belajar dari Sumatera. Mitigasi dan kesiapsiagaan mutlak dilakukan untuk mencegah korban berjatuhan.