Bibit siklon tropis 93S di selatan Jawa Barat memicu peningkatan suplai uap air sehingga berkontribusi terhadap terjadinya hujan di Jawa.
Oleh Ahmad Arif
JAKARTA, KOMPAS — Hujan intensitas sedang hingga lebat melanda Jakarta dan sekitarnya sejak Jumat (19/12/2025) pagi dan diperkirakan masih berpotensi terjadi hingga tiga hari mendatang. Bibit siklon tropis 93S yang berada di Samudra Hindia selatan Jawa Barat memicu peningkatan suplai uap air sehingga berkontribusi terhadap terjadinya hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah di Pulau Jawa.
”Bibit siklon tropis 93S terpantau berada di Samudra Hindia selatan Jawa Barat dengan tekanan minimum sekitar 998 hPa dan kecepatan angin maksimum 35 knot (sekitar 65 km per jam)," kata Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Andri Ramdhani.
Menurut Andri, posisi sistem yang berada di selatan Pulau Jawa tersebut memicu peningkatan suplai uap air sehingga turut berkontribusi terhadap potensi terjadinya hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah di Pulau Jawa, termasuk Jabodetabek. ”Dalam tiga hari ke depan, terdapat potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai angin kencang di sebagian besar wilayah Jabodetabek,” katanya.
Daerah lain yang terdampak secara tidak langsung akibat pergerakan bibit siklon ini meliputi Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Bibit siklon tropis 93S juga memberikan dampak tidak langsung berupa angin kencang di pesisir selatan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Bibit siklon ini berpotensi meningkatkan potensi gelombang tinggi di perairan selatan Pulau Jawa.
Andri menambahkan, selain bibit siklon, intensitas hujan yang meningkat saat ini juga dipicu fenomena atmosfer seperti gelombang Kelvin yang sedang aktif di wilayah Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Faktor lainnya, adanya aktivitas lokal seperti kelembaban yang tinggi dan adanya belokan angin juga dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Jabodetabek.
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Khusus BMKG Miming Saepudin, dalam laporannya, menyebutkan, dalam 24 jam ke depan intensitas bibit siklon tropis 93S diprakirakan akan meningkat perlahan. Bibit siklon ini mulai meluas dari barat daya hingga barat laut. Namun, sistem masih dalam kategori rendah.
Meski demikian, dalam 48-72 jam ke depan, intensitas bibit siklon tropis 93S diprakirakan akan terus meningkat seiring dengan peningkatan kecepatan angin maksimum mencapai 45 knot. ”Diprediksi sistem akan berkembang menjadi siklon tropis kategori 1 pada 21 Desember 2025 malam hari,” katanya.
Berdasarkan data ini, potensi bibit siklon tropis 93S untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan masih dalam kategori sedang hingga tinggi. Adapun dalam 48-72 jam ke depan dalam kategori tinggi.
Bibit siklon tropis 93S diketahui mulai terbentuk pada 11 Desember 2025 pukul 07.00 WIB di wilayah Samudra Hindia sebelah selatan Bali-Nusa Tenggara Barat. Sejak saat itu, bibit siklon ini bergerak di Samudra Hindia dan kini berada di sebelah selatan Jawa Barat.
Daerah banjir Sumatera
Berdasarkan analisis BMKG, pada 20-21 Desember 2025 fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) secara spasial diprakirakan aktif di wilayah Samudra Hindia barat Aceh dan Aceh. Selain itu, gelombang ekuator di wilayah Indonesia terpantau aktif di Samudra Hindia barat daya Sumatera dan barat Aceh, Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Laut China Selatan, Laut Natuna, dan Kalimantan Barat. Hal ini berpotensi menyebabkan meningkatnya pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.
Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG juga mendeteksi potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada periode 17-24 Desember 2025. Kondisi ini didukung oleh aktivitas MJO serta gelombang atmosfer yang masih aktif.
”Perlu kewaspadaan terhadap potensi peningkatan intensitas curah hujan terutama pada 18, 20, dan 23 Desember 2025,” ujar Andri.
Menurut dia, saat ini Operasi Modifikasi Cuaca masih disiagakan di wilayah terdampak banjir di Sumatera sebagai langkah mitigasi strategis untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi pada wilayah dengan potensi curah hujan tinggi.
”Koordinasi terus dilakukan antara BMKG, pemerintah daerah, dan instansi terkait guna memastikan kesiapsiagaan, pemantauan kondisi cuaca secara berkala, serta kelancaran pelaksanaan langkah mitigasi yang diperlukan,” katanya.