Oleh Budiawan Sidik A
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini:
1. Menkeu Purbaya dan BI yakin ekonomi tumbuh di atas 5 persen
Pertumbuhan ekonomi nasional diproyeksikan mampu menembus angka 5 persen pada 2025. Pemerintah beranggapan capaian itu terutama akan didorong oleh dua kebijakan utama. Pertama, penempatan dana pemerintah ke sistem perbankan. Kedua, paket stimulus ekonomi yang digelontorkan oleh pemerintah.
Demikian proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) ke-4 di Jakarta, Senin, 3 November 2025.
Purbaya menyampaikan, berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah diharapkan mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi. Salah satunya kebijakan penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah ke sistem perbankan sebesar Rp 200 triliun sejak September 2025.
Selain itu, ada pula gelontoran bantuan langsung tunai sementara (BLTS) serta paket stimulus pemerintah. Pemerintah sudah mengucurkan beragam paket stimulus sejak awal 2025 dan menambahnya lagi pada September 2025 melalui delapan paket stimulus.
”Taruhan saya adalah triwulan IV ini kita harapkan pertumbuhan ekonominya bisa di atas 5,5 persen, dengan stimulus (SAL) yang Rp 200 triliun ditambah dengan stimulus-stimulus BLTS dan lain-lain,” katanya.
Capaian tersebut sejalan dengan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan menguat dan sesuai target pemerintah. Momentum ini utamanya didukung oleh terjaganya konsumsi rumah tangga, tingkat keyakinan konsumen, kinerja penjualan ritel, serta aktivitas manufaktur.
Di sisi lain, penempatan kas pemerintah sebesar Rp 200 triliun dianggap telah meningkatkan likuiditas perekonomian, tecermin dari pertumbuhan uang primer (M0) sebesar 13,2 persen secara tahunan. Lebih lanjut, belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pun turut diarahkan untuk mendukung aktivitas konsumsi dan produksi.
2. Apindo Wanti-wanti risiko 2026 di tengah proyeksi ekonomi 5 persen
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memproyeksikan perekonomian nasional pada 2026 tumbuh di kisaran 5-5,4 persen secara tahunan. Dunia usaha menyatakan tetap optimistis, tetapi bersikap hati-hati dalam menghadapi kondisi tahun depan.
Proyeksi tersebut disampaikan Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani dalam rilis Outlook Perekonomian Indonesia 2026, Senin, 8 Desember 2025. Shinta menjelaskan, sepanjang 2025 ekonomi Indonesia menunjukkan daya tahan yang kuat dengan tren perbaikan triwulanan yang konsisten. Pada triwulan pertama ekonomi tumbuh 4,78 persen, kemudian 5,12 persen pada triwulan kedua, dan 5,04 persen pada triwulan ketiga.
Dengan dukungan faktor musiman Natal dan Tahun Baru, percepatan belanja pemerintah serta pencairan SAL dan sisa lebih pembiayaan anggaran (silpa) sebesar Rp 276 triliun, pertumbuhan triwulan IV-2025 diperkirakan berada pada 5,1-5,3 persen.
”Kami tidak seoptimistis pemerintah yang mematok 5,6 persen. Menurut kami, pertumbuhan yang lebih mungkin berada di kisaran 5,1-5,3 persen. Untuk 2026, Apindo masih memandang proyeksinya berada pada angka yang hampir serupa, yakni 5-5,4 persen,” tutur Shinta.
Pertumbuhan ekonomi 5-5,4 persen itu menggambarkan prospek positif. Namun, lanjut Shinta, tetap diperlukan kewaspadaan terhadap berbagai potensi risiko. Apindo memproyeksi triwulan I-2026 menjadi periode dengan momentum terkuat, ditopang oleh seasonal drivers, seperti Tahun Baru, Imlek, Ramadhan, dan Idul Fitri, yang diyakini memberikan multiplier effect signifikan pada sektor perdagangan, logistik, akomodasi, pariwisata, dan industri konsumsi.
Namun, Apindo mengingatkan adanya potensi perlambatan (growth deceleration) pada triwulan II dan III menyusul meredanya pengaruh musiman dan jika tidak ada kebijakan pendukung pertumbuhan.
3. Mungkinkah target pertumbuhan ekonomi 2026 akan terwujud?
Tahapan menuju pertumbuhan ekonomi tinggi di Indonesia masih sulit tercapai hingga saat ini. Pertumbuhan ekonomi masih stagnan di kisaran 5 persen. Karena itu, untuk melonjak di atas 6 persen sepertinya mustahil diwujudkan dalam tempo singkat. Bila target tahap awal pada tahun 2025 masih sulit direalisasikan, sepertinya sasaran pertumbuhan pada 2026 hingga 2029 akan semakin berat dihadirkan.
Berdasarkan skenario RPJMN 2025-2029, Bappenas menyebutkan, tahapan pertumbuhan ekonomi tinggi hingga 8 persen ditargetkan akan tercapai pada 2029.
Rinciannya, tahun 2025 target pertumbuhan mencapai 5,3 persen dan berikutnya naik menjadi 6,3 persen pada 2026. Tahun selanjutnya, pertumbuhan sudah bertengger di atas 7 persen. Tahun 2027 sebesar 7,5 persen, tahun 2028 sebesar 7,7 persen, dan pada akhir pemerintahan Prabowo-Gibran tahun 2029 sudah bertengger di angka 8,0 persen.
Lantas, apakah target pertumbuhan tersebut secara riil dapat diwujudkan secara bertahap seperti yang diproyeksikan?
Pada kenyataannya, untuk meraih target itu tidaklah mudah. Pada tahap awal saja tampaknya mencapai pertumbuhan 5,3 persen di tahun 2025 sepertinya sulit dihadirkan. Hingga triwulan III-2025, laporan Badan Pusat Statistik menyebutkan, pertumbuhan ekonomi nasional secara YOY (year on year) sebesar 5,04 persen. Besaran ini relatif masih terpaut cukup jauh dengan skenario pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen pada akhir 2025.
Meskipun demikian, optimisme untuk meraih pertumbuhan yang mendekati target tersebut masih terbuka. Salah satu indikasinya terlihat dari survei Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia yang menunjukkan peningkatan menjelang akhir tahun 2025.
Setelah menurun cukup dalam pada September 2025, dengan besaran IKK senilai 109,1, indeks tersebut menguat cukup signifikan pada bulan-bulan berikutnya. Pada Oktober 2025, IKK melonjak 121,2 dan sebulan berikutnya pada November 2025 kembali naik menjadi 124,0. Kondisi ini mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap perekonomian pada akhir tahun meningkat.
4. Tahun 2026, pasar kerja masih akan lesu seperti 2025
Pasar kerja memasuki tahun 2026 dengan kekhawatiran. Meski perekonomian tumbuh, belum tentu diikuti dengan pembukaan lowongan pekerjaan yang layak dan masif.
Kekhawatiran ini tampaknya berkembang di luar dan dalam negeri. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, sejumlah media internasional, seperti The Wall Street Journal, menyebut, perusahaan-perusahaan sedang menyusun rencana untuk tahun 2026, tetapi perekrutan bukan salah satunya. Mereka tampaknya berupaya untuk tetap efisien hingga 2026 sambil mengandalkan teknologi untuk menangani lebih banyak tugas.
Senada dengan hal itu, Business Insider menggunakan istilah jobless boom untuk memproyeksikan cerita pasar kerja pada 2026.
Kepala Ekonom KPMG (jaringan firma jasa profesional global independen yang menyediakan layanan audit, pajak, dan konsultasi) Diane Swonk, yang diwawancarai, mengatakan, semua mata tertuju pada akal imitasi yang investasinya mendorong sebagian pertumbuhan ekonomi AS.
Investor akal imitasi biasanya perusahaan skala besar, termasuk perusahaan yang telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pekerja kerah putih. Tingkat pengangguran telah meningkat menjadi 4,6 persen atau tertinggi sejak 2021.
Di Indonesia, pendiri dan Direktur Pelaksana Headhunter Indonesia Haryo Suryosumarto, Kamis (1/1/2026), di Jakarta, berpendapat, tahun 2026 masih akan menjadi tahun bertahan bagi angkatan kerja. Situasi pasar kerja dia perkirakan belum banyak berubah dibandingkan dengan 2025.
Berdasarkan laporan riset Bank Dunia, ”Indonesia Economic Prospects: Fondasi Digital untuk Pertumbuhan (16 Desember 2025)”, kaum muda di Indonesia menghadapi transisi yang sulit dari pendidikan ke dunia kerja dengan kesenjangan jender yang tajam. Pada usia sekitar 19 tahun, proporsi perempuan muda yang berstatus tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mendapat pelatihan kerja (NEET ) mencapai lebih dari dua kali lipat ketimbang laki-laki.
5. Prabowo mau ekonomi RI berdikari, pertumbuhan 2026-2027 diyakini lebih baik
Kemandirian akan menjadi modal dasar bagi Indonesia untuk tumbuh di tengah ketidakpastian global selama beberapa tahun ke depan. Di sisi lain, kebijakan moneter akan terus diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sembari tetap menjaga stabilitas.
Demikian benang merah Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 yang bertajuk ”Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan”, di Gedung Bank Indonesia (BI), Jakarta, Jumat malam, 28 November 2025.
Hadir memberikan pidato sambutan Presiden RI Prabowo Subianto, Gubernur BI Perry Warjiyo, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Hadir pula para pejabat kementerian/lembaga, anggota parlemen, kepala daerah, pelaku industri keuangan, serta akademisi.
Presiden Prabowo mengatakan, kondisi global saat ini dipenuhi oleh ketidakpastian akibat perang dagang ekonomi dan hegemoni politik. Meski demikian, perekonomian Indonesia dinilainya masih berdaya tahan dan cukup menjanjikan.
”Saya merasa bahwa satu tahun pemerintahan yang saya pimpin ternyata di akhir satu tahun kita telah membuktikan kepada seluruh rakyat Indonesia hasil-hasil nyata, prestasi-prestasi yang cukup bisa kita banggakan,” katanya.
Capaian tersebut, Presiden melanjutkan, merupakan hasil dari sinergi dan kerja sama dari para pemangku kebijakan di bidang perekonomian. Menurut Presiden, ini tidak lepas dari komitmen pemerintah menjalankan pemerintahan yang bersih, adil, serta bebas dari penyelewengan dan korupsi.
Di sisi lain, Perry menyampaikan, perekonomian global telah berubah dan masih diselimuti oleh ketidakpastian akibat kebijakan proteksionis Amerika Serikat (AS). Namun, prospek ekonomi India, Eropa, serta Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan di tengah perlambatan AS dan China.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional pada 2025 mencapai 4,7-5,5 persen. Pertumbuhan ini akan meningkat menjadi 4,9-5,7 persen pada 2026 dan lebih tinggi lagi sebesar 5,1-5,9 persen di 2027.