Sudah berulang kali Trump menyiratkan alasan utamanya mengincar wilayah itu. Ia khawatir dengan menguatnya kehadiran Rusia dan China di Arktik.

Oleh Fransisca Romana Ninik W

Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?

Bagaimana posisi dan status Greenland saat ini?

Greenland adalah pulau luas berlapis es. Posisinya strategis, antara Eropa dan Amerika Utara. Populasinya saat ini sekitar 56.000 jiwa, mayoritas penduduk asli Inuit.

Greenland merupakan bekas koloni Denmark selama 300 tahun. Pada 1953 pulau ini menjadi bagian dari Kerajaan Denmark. Rakyat Greenland menjadi warga negara Denmark. Pada 1979, mereka memperoleh status semiotonom dan memiliki pemerintahan sendiri meskipun sektor pertahanan dan luar negeri tetap dipegang Denmark.

Sebagian besar penduduk Greenland tinggal di ibu kotanya, yakni Nuuk. Secara geografis, Nuuk lebih dekat ke Washington DC, ibu kota Amerika Serikat (AS), yang berjarak 3.252 kilometer dibandingkan ke Kopenhagen, ibu kota Denmark, berjarak 3.500 km.

AS telah lama ingin mendapatkan Greenland. BBC mencatat, pada 1867 Menteri Luar Negeri AS William H Seward memimpin negosiasi untuk membeli Greenland dari Denmark. Namun, ia gagal.

Pada 1946, AS kembali menawarkan 100 juta dolar AS untuk membeli Greenland, tetapi Denmark menolak. Presiden AS Donald Trump pada masa jabatan pertamanya (2017-2021) kembali mencoba membeli Greenland. Lagi-lagi upaya itu gagal.

Mengapa Trump sangat ingin menguasai Greenland?

Ambisi Trump menguasai Greenland sudah terlontar sejak 2019, di masa jabatan pertamanya. Saat terpilih kembali pada 2025, ia mengulangi kembali keinginannya. Setelah serangan militer AS ke Venezuela, 3 Januari 2026, keinginan mengusasi kian tak terbendung.

Sebenarnya alasan utama Trump mengincar Greenland telah ia siratkan berkali-kali. Trump cemas akan menguatnya kehadiran China dan Rusia di kawasan Kutub Utara itu.

”Saat ini Greenland dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China. Kami membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional,” kata Trump kepada wartawan saat berada di pesawat Air Force One, 4 Januari 2026.

Infografik Trump Ancam Kuasai Greenland
ANDRI/Infografik Trump Ancam Kuasai Greenland

AS telah lama memiliki kepentingan di Greenland. Setelah Perang Dunia II, AS hadir di Greenland melalui pangkalan militer Pituffik. Wakil Presiden AS JD Vance berkunjung ke sana pada Maret 2025 dan mengulangi kembali keinginan AS mengambil Greenland. Menurut AS, Denmark tidak akan mampu menjaga Greenland.

”Jika Rusia mengirim rudal ke arah AS, rute terpendek adalah melalui Kutub Utara dan Greenland. Itulah mengapa Pangkalan Luar Angkasa Pituffik sangat penting mendukung AS,” kata Guru Besar Madya di Royal Danish Defense College Marc Jacobsen.

Selain itu, Greenland dikenal memiliki kekayaan mineral berupa logam tanah jarang. Mineral ini penting bagi industri berteknologi tinggi, seperti kendaraan listrik, turbin angin, ponsel pintar, dan sistem rudal.

Apa nilai pertahanan dan ekonomi Greenland?

Dalam lanskap keamanan Atlantik Utara saat ini, Greenland terkait dengan GIUK Gap (Greenland-Eslandia-Inggris). GIUK Gap adalah koridor laut strategis di Atlantik Utara.

Posisi Greenland di barat, Eslandia di tengah, dan Inggris di timur membentuk gerbang alami yang dipakai NATO sebagai zona pemantauan untuk melacak pergerakan kapal perang serta kapal selam Rusia dari Arktik menuju Atlantik.

Nilai pertahanan Greenland bagi AS terutama bertumpu pada Pangkalan Ruang Angkasa Pituffik. Pangkalan itu dibangun berdasarkan perjanjian pertahanan Denmark–AS pada 1951. Pituffik menopang tiga fungsi kunci, yaitu peringatan dini serangan rudal, dukungan pertahanan rudal, dan pengawasan ruang angkasa.

Selain aspek pertahanan, Greenland diincar karena nilai ekonomi. Di balik lapisan es yang mulai mencair, Greenland mengandung komponen penting bagi perangkat teknologi tinggi dan modern saat ini.

Es yang mencair juga membuka jalur pelayaran baru dan akses pada sumber daya alam Greenland. Sebelum mencair, akses ke Arktik hampir tak mungkin untuk eksploitasi ekonomi.

Kajian sumber daya pada 2023 menyebut Greenland berpotensi memiliki cadangan hingga 31 jenis dari sekitar 50 mineral tanah jarang, seperti litium dan grafit untuk baterai kendaraan listrik serta neodimium untuk magnet motor listrik.

Bagi Uni Eropa (UE), keberadaan Greenland penting untuk proses transisi energi. Pada 2023, UE menandatangani perjanjian pertambangan dengan Greenland untuk mengamankan pasokan bahan baku di masa depan. Greenland telah mempunyai perjanjian serupa dengan AS.

Mengapa negara-negara adidaya berebut hadir di kawasan Arktik?

Greenland kaya mineral tanah jarang, berada di dekat simpul jalur pelayaran Arktik, dan punya lokasi strategis untuk pertahanan. Tiga faktor ini menempatkan Greenland di jantung Arktik yang menjadi ajang persaingan kekuatan global saat ini.

AS telah lama khawatir tentang kemungkinan Arktik berubah menjadi arena persaingan yang semakin termiliterisasi. Pada Mei 2019, Menteri Luar Negeri AS saat itu, Mike Pompeo, mengungkap kekhawatiran bahwa Samudra Arktik berubah menjadi Laut China Selatan baru, yang sarat militerisasi dan klaim teritorial yang saling bersaing.

Menurut makalah dari Arctic Institute, China dan Rusia telah membangun kemampuan militer Arktik dalam beberapa tahun terakhir. Makalah tersebut menyerukan agar AS lebih mengembangkan kehadirannya di Arktik untuk melawan para pesaingnya.

Rusia hadir kuat di Arktik melalui pangkalan militer, armada laut, dan kapal selam, serta armada pemecah es bertenaga nuklir terbesar di dunia yang memungkinkan operasi sepanjang tahun. Moskwa menjadikan Rute Laut Utara sebagai jalur strategis nasional. Rusia juga menilai aktivitas NATO di kawasan itu sebagai ancaman sehingga berkomitmen memperkuat postur militernya di wilayah kutub.

Sementara China telah menegaskan ambisinya dengan menyebut diri sebagai negara dekat Arktik. Sejak 2018, China telah mendorong gagasan membangun jalan sutra di wilayah kutub, Polar Silk Road atau Ice Silk Road. Gagasan itu bagian dari kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI).

Dokumen kebijakan China di Arktik, yakni ”China’s Arctic Policy”, yang dirilis pada 2018, menyebut pengembangan rute pelayaran Arktik sebagai bagian dari strateginya. Pada 14 Oktober 2025 China merayakan pelayaran perdana yang berhasil menembus jalur pelayaran Arktik.

Bagaimana tanggapan rakyat Greenland dan Denmark?

Rakyat Greenland dan Pemerintah Denmark menolak mentah-mentah keinginan Trump. Mereka mengatakan, ”Greenland tidak untuk dijual!”

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan sama sekali tidak masuk akal AS mengambil alih Greenland. ”AS tidak berhak mencaplok salah satu dari tiga negara di Kerajaan Denmark. Saya mendesak AS menghentikan ancaman terhadap sekutu yang secara historis dekat dan terhadap negara atau bangsa lain yang sudah jelas-jelas mengatakan mereka tidak mau diambil alih,” ujarnya.

Klaim Trump bahwa Denmark tidak mampu melindungi Greenland ditentang oleh langkah konkret Kopenhagen. Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Denmark meningkatkan kehadiran militernya di Greenland dan Atlantik Utara. Denmark juga mengoperasikan pusat komando bersama, Joint Arctic Command, di Nuuk dengan mandat pengawasan, penegakan kedaulatan, dan pertahanan wilayah Greenland serta Kepulauan Faroe.

Lewat pernyataan bersama, sejumlah pemimpin Eropa menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Greenland. Lewat pernyataan bersama, mereka mengatakan, Greenland adalah milik rakyatnya. Hanya Denmark dan Greenland yang berhak memutuskan persoalan yang menyangkut Denmark dan Greenland.