Skala demonstrasi hingga respons pemerintah menunjukkan situasi di Iran sangat mencekam. Dunia pun teringat pada peristiwa Revolusi Islam 1979.
Oleh Elsa Emiria Leba
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
Mengapa terjadi gelombang protes besar-besaran di Iran?
Rakyat Iran dilanda frustrasi atas situasi ekonomi yang kian memburuk. Mata uang rial Iran anjlok menjadi 1,4 juta rial terhadap 1 dolar AS. Faktor utama yang menyebabkan kehancuran ekonomi Iran adalah sanksi ekonomi yang diterapkan Amerika Serikat serta dunia internasional selama bertahun-tahun atas program nuklir Iran.
Kemarahan atas meningkatnya biaya hidup memicu rakyat Iran turun ke jalan dan memprotes pemerintah sejak akhir 28 Desember 2025. Gelombang unjuk rasa ini juga mendorong harga barang-barang kebutuhan semakin meroket. Harga daging, misalnya, berlipat ganda sejak awal unjuk rasa.
Aparat pemerintah merespons pengunjuk rasa dengan keras. Selain menurunkan aparat keamanan, negara sampai memutus layanan telekomunikasi dan internet sejak 8 Januari 2026. Jurnalis menghadapi tantangan dalam liputan. Sulit untuk memverifikasi jumlah korban dan situasi terkini.
Apa yang membuat protes kali ini berbeda?
Iran mengalami perubahan luar biasa saat Revolusi Islam 1979 terjadi. Revolusi itu menandai tergulingnya kepemimpinan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang digantikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini. Sejak itu, Iran mengalami sejumlah protes besar, termasuk protes Gerakan Hijau tahun 2009 dan protes atas kematian Mahsa Amini tahun 2022.
Gelombang kemarahan publik pada 1978-1979 yang membawa pergantian rezim terjadi karena masyarakat Iran gerah dengan situasi politik serta korupsi dan pelanggaran HAM yang dilakukan rezim pemerintahan Shah. Unjuk rasa yang awalnya kecil berubah menjadi besar dan merata di seluruh wilayah Iran.
Unjuk rasa yang mulai berlangsung tahun 1978 berlangsung berbulan-bulan hingga memasuki tahun 1979. Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang berada di pengasingan selama 14 tahun, menjadi salah satu motor penggerak unjuk rasa dari Paris, Perancis.
Setelah 37 tahun berkuasa, Shah diam-diam meninggalkan Iran pada 16 Januari 1979. Sementara Khomeini kembali dari pengasingan dan memimpin pergantian rezim serta perubahan mendasar struktur politik.
Adapun gelombang protes kali ini dilatari ketidakpuasan terhadap situasi perekonomian yang terjadi karena sanksi ekonomi dan tekanan lain dari negara-negara Barat terhadap Iran.
Apakah ada potensi pergantian rezim?
Antropolog AS, Narges Bajoghli, mengatakan, warga Iran terdampak parah atas situasi ekonomi di Iran. Teheran benar-benar merangkak akibat sanksi ekonomi, serangan siber, serta pengeboman AS.
Namun, Bajoghli tidak yakin akan terjadi pergantian rezim. Sebab, aparat bersenjata loyal kepada pemerintah. Dulu, militer di Iran mendukung Revolusi 1979.
Selain itu, warga melihat calon pengganti pemerintah juga bermasalah. Reza Pahlavi, putra mahkota dari Raja Iran yang lengser, Shah Mohammad Reza Pahlavi, hidup dalam pengasingan di AS. Oposisi pemerintah juga tidak kompak.
Pilihan Barat untuk berkomunikasi dengan Pahlavi memperburuk peluang oposisi Iran. Media Israel, N12, melaporkan bahwa Pahlavi bertemu Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Steve Witkoff, Selasa (13/1/2026).
Apakah Amerika Serikat akan melakukan intervensi militer?
Krisis politik di Iran kembali dibayangi ancaman serangan Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump selama berminggu-minggu mengancam akan menyerang jika Pemerintah Iran masih bersikap represif kepada para pengunjuk rasa. Namun, retorika Trump sedikit melunak setelah mengklaim situasi di Iran membaik walau semua opsi masih terbuka.
Saat ini, tak ada kapal induk di sekitar Iran dan Israel. CNN melaporkan, gugus tempur laut USS Abraham Lincoln serta kapal-kapal lain bergerak dari Laut China Selatan ke sekitar Teluk Persia. Kapal-kapal induk AS ditaksir paling cepat sampai di dekat Teluk Persia awal pekan depan.
Peneliti Institute for National Security Studies (INSS) Israel, Danny Citrinowicz, menyebutkan, serangan AS ke Iran menghadapi sejumlah dilema. AS harus terlebih dahulu bertanya: apa tujuan yang akan dicapai? Sulit untuk mendorong pergantian rezim dalam sekali serangan. Jika untuk mendorong perundingan nuklir, AS tidak perlu melanjutkan serangan.
Serangan ke Iran dapat membuat kawasan bergejolak. Selain itu, kata Citrinowicz, perubahan pemerintahan secara mendadak di Iran belum tentu baik. Ada risiko faksi-faksi militer tak terkendali serta oposisi yang lemah.
Bagaimana sikap dunia internasional?
Pertemuan darurat AS-Iran di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, Kamis (15/1/2026), berjalan alot. AS kembali melontarkan ancaman serangan, sedangkan Iran mengecam AS bahwa serangan itu hanya dalih untuk mengintervensi Iran. Jika Washington menyerang, Teheran berpotensi balik menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan.
Pada Kamis, muncul kabar bahwa Arab Saudi, Qatar, dan Oman membujuk Presiden AS Donald Trump untuk tidak menyerang Iran. Sebab, serangan AS ke Iran akan berdampak buruk pada kawasan.
Pada saat yang bersamaan, para pejabat negara Arab mendesak Iran untuk segera mengakhiri aksi brutal terhadap para pengunjuk rasa. Mereka memperingatkan, setiap tanggapan Iran terhadap AS atau target lain di kawasan itu akan berdampak signifikan bagi Iran.
Adapun negara-negara Barat lain mengkritik aksi represif Pemerintah Iran, termasuk Kanada, Perancis, dan Italia. Sementara itu, Rusia mendukung Iran serta mengecam rencana serangan AS. China menyatakan penentangan terhadap penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional dan harapan agar situasi di Iran stabil.