Evakuasi korban pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulsel, masih berlangsung. Berikut deretan kecelakaan penerbangan selama lima tahun terakhir di Indonesia.

Oleh Kristian Oka Prasetyadi

Kabar duka kembali menghampiri dari sektor penerbangan Tanah Air. Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport, sebuah maskapai penerbangan di Jakarta yang menawarkan jasa carter, dipastikan jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, dengan nasib 10 korban hingga Minggu (18/1/2026) masih belum jelas.

Pesawat yang menempuh rute Yogyakarta-Makassar tersebut dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1) tengah hari ketika melintas di atas wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), tepatnya di area Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.

Pada Minggu pagi, Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Makassar menyatakan, pesawat yang dicarter oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu menabrak Gunung Bulusaraung setelah tim SAR gabungan menemukan serpihan badan, ekor, dan jendela pesawat di beberapa lokasi berbeda.

Meski penyebab kecelakaan belum dipastikan secara resmi, Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan, bukti-bukti yang ada ”1.000 persen” mengarah pada tabrakan dengan Gunung Bulusaraung. Ini dikuatkan oleh penemuan tiga serpihan besar dan beberapa serpihan.

”Fokus kami pada penemuan korban dan pengumpulan informasi yang ada. Termasuk terkait kotak hitam yang ada di bagian ekor pesawat,” kata Soerjanto.

Berkode registrasi PK-THT, pesawat berkapasitas 40 penumpang selain kru itu dibuat pada tahun 2000 dengan nomor seri 611. Indonesia Air Transport sebagai maskapai yang mengoperasikannya telah mengantongi Sertifikat Operator Udara (AOC) yang sesuai, sebagaimana dinyatakan pada situs resmi perusahaan.

Belakangan, direktur operasional maskapai tersebut, Capt Edwin, mengakui adanya ”kendala di mesin pesawat” sehari sebelum penerbangan yang berakhir naas itu. Ia menegaskan, masalah tersebut tidak berat, tetapi ia tak memberi penjelasan lebih lanjut.

Untuk sementara, tim SAR gabungan terus mencari kesepuluh korban, termasuk tiga orang pegawai KKP yang menjadi penumpang pesawat. Mereka adalah Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Nauval yang ditugaskan dalam pengawasan udara terhadap wilayah pengelolaan perikanan nasional. Adapun tujuh korban lain berstatus sebagai kru pesawat.

Dalam keterangan pers di Jakarta, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyatakan keprihatinannya akan musibah ini. ”Kami […] berdoa yang terbaik untuk para penumpang dan kru pesawat tersebut,” ujarnya.

Selepas penemuan potongan badan pesawat di lereng Bulusaraung, tim SAR gabungan pun segera berfokus mencari para korban. Hal ini seperti diungkapkan Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Mayor Jenderal Bangun Nawoko.

Bangun menegaskan, tim gabungan terdiri dari ribuan personel dan dibagi menjadi beberapa regu. ”Kalau nanti kita sudah menemukan korban, maka akan dilakukan evakuasi sesuai kondisi cuaca, sebab medan cukup terjal dan cuaca berubah-ubah,” kata Bangun.

Dalam lima tahun terakhir, sebelum tragedi pesawat ATR 42-500 di Bulusaraung Sulsel, Kompas mencatat terdapat sejumlah kecelakaan pesawat yang terjadi di Tanah Air. Kecelakaan ini berasal dari penerbangan pesawat penumpang komersial, militer, serta perintis dan carter.

Penerbangan penumpang komersial

Kecelakaan penerbangan penumpang komersial dalam lima tahun terakhir terjadi pada awal Januari 2021. Pesawat Boeing 737-500 yang dioperasikan Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 dan jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, sesaat setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Supadio di Kalimantan Barat.

Pesawat dengan kode registrasi PK-CLC itu mengangkut 62 orang yang terdiri dari 40 penumpang dewasa, tujuh anak, tiga bayi, serta 12 awak kapal. Pemerintah segera mengerahkan tim SAR gabungan yang mencakup TNI AL, AU, dan kepolisian. Di samping itu, kapal-kapal survei hidro-oseanografi negara juga dikerahkan, baik yang militer maupun sipil.

Tim identifikasi korban musibah (DVI) Polri membutuhkan sekitar tiga bulan untuk dapat mengidentifikasi 59 jenazah dari 62 korban akibat kondisi tubuh para korban yang terurai. Adapun perekam suara kokpit (CVR) baru ditemukan pada akhir Maret 2021.

Setelah investigasi selama lebih dari setahun, KNKT menyimpulkan adanya enam penyebab kecelakaan pesawat. Faktor-faktor tersebut meliputi sistem otomatis kendali pesawat yang belum tuntas, ketidakseimbangan daya mesin pesawat, dan keterlambatan sistem dalam menonaktifkan kendali otomatis.

Selain itu, terdapat faktor kesalahan manusia, seperti kepercayaan yang berlebihan kepada sistem otopilot, lemahnya respons pilot, serta ketiadaan aturan pelatihan menghadapi pesawat yang hilang kendali.

Dalam artikel untuk Kompas, ahli aviasi Chappy Hakim saat itu menggarisbawahi lemahnya kepercayaan Badan Penerbangan Federal AS (FAA) terhadap jenis pesawat Boeing 737 karena adanya potensi kegagalan mesin jika tidak diterbangkan selama lebih dari tujuh hari.

Kekhawatiran pada sektor aviasi saat itu diperkuat oleh kecelakaan Boeing 737 Max 8 yang dioperasikan Lion Air pada Oktober 2018. Kala itu, pesawat jatuh di perairan Karawang sesaat setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta.

Pesawat militer

Kecelakaan pesawat militer pertama dalam lima tahun terakhir pada Juli 2022. Pesawat latih milik TNI AU, T50i Golden Eagle, jatuh di daerah Blora, Jawa Tengah, ketika sedang berlatih manuver taktis tempur pada malam hari.

Pesawat dengan nomor ekor TT-5009 itu lepas landas dari Pangkalan TNI AU Iswahjudi di Magetan pada 18.24 WIB. Sejam kemudian, pesawat yang diterbangkan mendiang Lettu Pnb Allan Safitra itu tak dapat dikontak.

Pesawat tempur yang didatangkan ke Indonesia pada 2013 itu adalah satu dari 16 pesawat hasil kerja sama AS dan Korea Selatan. Sebelum kecelakaan di Blora, dua dari 16 pesawat tersebut telah mengalami kecelakaan dengan jumlah korban sebanyak tiga tentara, tepatnya pada 2015 dan 2020.

Kecelakaan pesawat militer kedua selama lima tahun terakhir juga menimpa pesawat latih jenis Bonanza G-36 T2503. Pesawat milik TNI AL tersebut jatuh di Selat Madura pada awal September 2022. Dua orang tentara gugur dalam kecelakaan itu.

Pesawat TNI AU T-50i Golden Eagle TT-5009 Jatuh di Blora
PANDU LAZUARDY PATRIARI/Pesawat TNI AU T-50i Golden Eagle TT-5009 Jatuh di Blora.

Hingga kini, penyebab kecelakaan belum diketahui. Namun, saat itu Komandan Pusat Penerbangan AL Laksamanan Muda Dwika Tjahja Setiawan mengatakan pesawat itu didatangkan pada 2013, sama seperti T50i Golden Eagle yang jatuh di Blora dua bulan sebelumnya. Ia menegaskan, pesawat tersebut laik terbang.

Pada November 2023, dua pesawat latih TNI AU, EMB 314 Super Tucano, yang dioperasikan di Malang juga jatuh di Pasuruan, Jawa Timur. Pola kecelakaan serupa, yaitu terjadi kehilangan komunikasi sekitar setengah jam setelah lepas landas. Kecelakaan itu menewaskan empat prajurit.

Pihak TNI AU menyatakan, penyebab kecelakaan saat itu murni cuaca buruk sehingga penerbang tidak bisa melihat situasi saat terbang di dekat gunung. Kendati demikian, kecelakaan pesawat produksi Brasil yang bermesin buatan Kanada ini sudah pernah terjadi pada 2016.

Pengamat penerbangan dan keamanan dari Institute for Security and Strategic Studies, Khairul Fahmi, saat itu meminta semua pesawat EMB 314 Super Tucano tidak diterbangkan untuk sementara sembari menunggu hasil investigasi.

Penerbangan perintis dan carter

Di sektor penerbangan perintis dan carter, kecelakaan pertama terjadi pada September 2021 pada pesawat Rimbun Air dengan kode registrasi PK-OTW. Kecelakaan terjadi di Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua. Lima orang tewas dalam peristiwa itu.

Pesawat itu lepas landas dari Nabire pada 15 September 2021 pagi untuk membawa kargo berupa bahan bangunan. Sekitar satu jam kemudian, petugas Airnav Bandara Sugapa kehilangan kontak dengan pesawat.

Nasib berbeda dialami tujuh korban kecelakaan pesawat Susi Air di pedalaman Paniai, Papua, pada Juni 2022. Pilot dan enam penumpang selamat dan dievakuasi oleh tim SAR gabungan, kemudian dikirim ke Timika untuk dirawat.

Pesawat jenis Pilatus yang mengalami kecelakaan bernomor registrasi PK BVM. Penerbangan saat itu ditempuh dari Kampung Duma menuju Timika. Kampung Duma terkenal minim akses darat sehingga bergantung pada penerbangan perintis.

Kecelakaan pesawat perintis atau carter ketiga selama lima tahun terakhir juga terjadi di Papua, tepatnya di pegunungan Distrik Welarek, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan. Kecelakaan yang terjadi pada Juni 2023 itu menimpa pesawat SAM Air dengan kode registrasi PK-SMW.

Pesawat jenis Cessna 208 Caravan itu membawa dua awak dan empat penumpang dengan tujuan Kampung Poik di distrik yang sama. Semua korban saat itu tewas, dengan kondisi badan pesawat yang hancur dan terbakar.