IHSG turun hingga lebih dari 5 persen pada sesi 1 perdagangan Rabu (28/1/2026).
Oleh Erika Kurnia
JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan ambrol pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1/2026). Analis menilai tekanan datang dari sentimen global, khususnya keputusan Morgan Stanley Capital International yang membekukan penilaian ulang saham Indonesia, termasuk kebijakan terkait dengan penilaian free float.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di level 8.393, melemah dari level pembukaan hari sebelumnya 8.974. Sekitar sejak kemudian, IHSG turun bahkan hingga menyentuh penurunan level terendah di 8.349.
Pada pukul 10.00 WIB, IHSG melemah 5,32 persen ke posisi 8.502. Indeks kumpulan saham energi dan infrastruktur tercatat mengalami penurunan harga paling besar di atas 7 persen. Persentase penurunan hampir mendekati batas penghentian perdagangan saham (trading halt) harian di 8 persen.
Mengutip data RTI Business, lebih dari 700 saham mengalami penurunan harga, sementara kurang dari 50 saham mengalami kenaikan harga dan kurang dari 30 saham stagnan. Kapitalisasi pasar saham pun mengalami penurunan menjadi Rp 15.420 triliun dibandingkan saat penutupan bursa Selasa (28/1/2026), yakni Rp 16.380 triliun.
Ambrolnya IHSG bersamaan dengan keluarnya kebijakan baru perusahaan layanan keuangan global Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI menyediakan indeks saham yang memuat saham-saham dari banyak negara, termasuk Indonesia.
Indeks ini digunakan secara luas oleh manajer investasi, dana pensiun, dan pengelola dana indeks (exchange traded fund/ETF) sebagai acuan dalam pengalokasian portofolio.
MSCI secara rutin melakukan kajian terhadap saham-saham yang masuk dalam indeks mereka, yang dievaluasi tiga bulan sekali mulai Januari. Terbaru, pada Selasa (27/1/2026), MSCI mengumumkan hasil konsultasi global mengenai pasar Indonesia.
Mereka menerapkan perlakuan sementara berupa pembekuan seluruh kenaikan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS). Pelakuan lain berupa pembekuan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta penundaan perpindahan saham antarsegmen ukuran, termasuk dari kategori saham berkapitalisasi kecil (small cap) ke standar.
Mengutip keterangan resmi MSCI, langkah tersebut diambil untuk menekan perputaran indeks yang berlebihan sekaligus mengurangi risiko kelayakan investasi (investability).
Mereka juga hendak memberikan waktu kepada otoritas pasar Indonesia untuk memperbaiki transparansi struktur kepemilikan saham, termasuk struktur kepemilikan saham oleh publik (free float).
MSCI melihat, investor global menyoroti keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran potensi transaksi yang bersifat terkoordinasi, yang dinilai dapat mengganggu pembentukan harga yang wajar.
Menanggapi hal itu, pada Oktober 2025, MSCI mengumumkan, mereka meminta masukan para pelaku pasar mengenai rencana penggunaan Monthly Holding Composition Report yang dipublikasikan oleh Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sebagai tambahan referensi dalam menghitung free float saham emiten Indonesia.
Saat itu, MSCI menyatakan membuka konsultasi publik hingga 31 Desember 2025, dengan hasil final diumumkan paling lambat Januari 2026. Jika disetujui, metodologi baru ini akan mulai berlaku pada MSCI Index Review Mei 2026.
Begitu kabar ini muncul, investor di pasar saham dalam negeri langsung merespons negatif. Banyak investor menjual saham sehingga IHSG yang pada Jumat, 27 Oktober 2025, berada di level 8.355, rontok ke level 8.000 pada Senin, 27 Oktober 2025, siang.
Penurunan IHSG saat itu terutama disumbang saham konglomerasi besar yang sebelumnya telah naik tinggi karena katalis evaluasi indeks triwulanan oleh MSCI (Kompas.id, 30/10/2025).
Analis Pasar Modal Stocknow, Hendra Wardana, mengatakan, pengumuman MSCI konsisten dengan janji mereka sebelumnya, yakni akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia apabila hingga Mei 2026 tidak terdapat kemajuan signifikan dalam peningkatan transparansi pasar.
MSCI/Data kinerja indeks saham yang tercatat di Morgan Stanley Capital International per Januari 2025.
Opsi yang terbuka mencakup penurunan bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets, bahkan potensi reklasifikasi menjadi pasar frontier. Meski masih bersifat skenario, risiko tersebut mulai diperhitungkan pelaku pasar sejak dini sehingga memicu respons negatif pasar pada awal perdagangan.
”Pembekuan kenaikan bobot saham Indonesia di indeks MSCI berarti potensi aliran dana dari investor pasif global tertahan. Ini langsung memengaruhi sentimen, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar,” tutur Hendra.
Selain itu, saham-saham yang sebelumnya diharapkan naik kelas dalam indeks MSCI juga kehilangan katalis positif. Kondisi tersebut mendorong sebagian investor mengambil sikap wait and see sehingga tekanan jual lebih mudah muncul pada fase awal perdagangan.
Dari sisi teknikal, pelaku pasar mencermati batas bawah IHSG hanya di kisaran 8.846. Selama indeks mampu bertahan di atas level tersebut, pelemahan dinilai masih dalam batas koreksi wajar. Namun, apabila tekanan berlanjut dan level support tersebut ditembus, pasar berpotensi menguji level support berikutnya.
Adapun di sisi atas, area 9.047 dipandang sebagai resistance atau batas atas terdekat yang membatasi ruang penguatan IHSG dalam jangka pendek. Untuk menembus level tersebut, pasar membutuhkan katalis yang lebih kuat, baik dari sentimen global maupun langkah konkret otoritas pasar dalam menjawab kekhawatiran MSCI.
”Secara keseluruhan, pelemahan IHSG pada awal perdagangan hari ini lebih mencerminkan respons terhadap sentimen dan persepsi risiko, bukan perubahan fundamental ekonomi domestik,” ujar Hendra.
Di tengah kondisi tersebut, investor cenderung selektif dan mulai memfokuskan perhatian pada saham-saham berfundamental kuat, likuid, serta memiliki struktur kepemilikan yang relatif transparan.
Analisis Pilarmas Sekuritas Investindo kemarin juga sudah memprediksi potensi kecemasan pasar mengenai aturan baru free-float MSCI. Mereka mengutip Goldman Sachs yang memprediksi jika aturan baru tersebut diterapkan, hal itu akan berpotensi dana asing keluar dari pasar keuangan dalam negeri mencapai 2,3 miliar dolar AS.