Program Work From Anywhere diharapkan turut berkontribusi memecah kepadatan arus lalu lintas mudik Lebaran 2026.
Oleh Debora Laksmi Indraswari
Kepadatan lalu lintas saat periode mudik Lebaran kemungkinan tidak lagi memuncak di hari-hari menjelang hari raya. Program Work From Anywhere atau WFA turut berkontribusi memecah kepadatan lalu lintas saat arus mudik.
Mudik Lebaran menjadi periode mobilitas warga terbesar di Indonesia. Sebagai tradisi jelang Idul Fitri, jutaan masyarakat Indonesia berbondong-bondong pulang ke kampung halamannya. Sebagian besar pemudik berangkat dari wilayah perkotaan menuju ke kampung halaman yang merupakan kota-kota kecil.
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan jumlah pemudik pada Lebaran tahun ini mencapai 143,9 juta orang. Daerah-daerah di Pulau Jawa menjadi tujuan utama dari mayoritas pemudik. Berdasarkan data Kemenhub, sebanyak 38,7 juta orang atau 26,9 persen pemudik akan menuju Jawa Tengah. Selanjutnya, 27,3 juta pemudik akan berangkat menuju ke Jawa Timur dan 25,1 juta pemudik lainnya mengarah ke Jawa Barat. Di luar Jawa, Sulawesi Selatan menjadi daerah tujuan utama dengan jumlah pemudik mencapai 5,36 juta orang.
Masifnya jumlah pemudik jelang Lebaran berpotensi besar menyebabkan berbagai ruas jalan dan arus lalu lintas meningkat kepadatannya secara signifikan. Tak jarang, hal ini kerap menimbulkan kemacetan di sejumlah titik. Kondisi demikian dikarenakan pemudik, yang jumlahnya mencapai ribuan hingga jutaan orang, mulai berangkat menuju ke sejumlah kampung halaman di waktu bersamaan. Dengan libur atau cuti yang terbatas, masyarakat harus menyesuaikan waktu mudiknya secara serempak.
Dimas/Infografik Proyeksi Jumlah Pemudik Lebaran 2014-2026
Cuti bersama untuk mudik
Oleh karena itu, untuk mengatur kepadatan lalu lintas, diperlukan pengaturan hari libur dan cuti bersama. Kebijakan cuti bersama yang muncul pada periode 2002-2003 cukup berdampak pada tingkat kepadatan lalu lintas semasa mudik Lebaran.
Menurut Jusuf Kalla yang pada 2004 menjabat sebagai Menko Kesra, keputusan pemerintah yang menetapkan hari libur Lebaran sebanyak 9 hari dengan 3 harinya adalah cuti bersama didasarkan pada hasil evaluasi positif dari kebijakan pemberian cuti bersama pada 2002 dan 2003 (Kompas, 18 Juli 2003).
Kebijakan cuti bersama terbukti dapat mengurangi tingkat kemacetan saat mudik. Selain itu, pemberian cuti bersama dinilai lebih efisien dan efektif karena tidak ada lagi pegawai yang absen bekerja. Sebagai gambaran, sebelum tahun 2003, periode libur Lebaran sangat pendek. Akibatnya, banyak pekerja membolos kerja lantaran masih berada di kampung halaman ataupun masih dalam perjalanan balik dari daerah asalnya (Kompas, 3/12/2002).
Meskipun cukup efektif mengurai kemacetan mudik Lebaran, kebijakan cuti bersama ternyata masih sulit untuk mengatasi kepadatan lalu lintas di jalur mudik. Jumlah pemudik yang cenderung meningkat membuat arus lalu lintas semakin padat. Berdasarkan data Kemenhub diproyeksikan bahwa jumlah pemudik setiap tahunnya terus meningkat. Pada tahun ini, diperkirakan jumlah pemudik bertambah hingga lebih dari delapan kali dibandingkan dengan sepuluh tahun silam. Pada 2016, Kemenhub memperkirakan jumlah pemudik secara nasional mencapai 17,7 juta orang.
Dengan jumlah pemudik yang semakin besar, risiko kepadatan arus lalu lintas jelang hari raya juga semakin tinggi. Misalnya saja pada 2024, pergerakan mobilitas pemudik mulai meningkat pesat pada H-4 Lebaran dan mencapai puncaknya pada H-2 Lebaran. Pada H-4, Kemenhub memperkirakan hampir 12 persen pemudik atau 23,19 juta orang mulai bergerak ke daerah tujuan mudiknya. Persentase tersebut terus meningkat hingga H-2 Lebaran dengan proporsi sebesar 13,74 persen dari total pemudik atau sebanyak 26,6 juta orang.
Dimas
Infografik Perbandingan Pola Pergerakan Arus Mudik dengan Skema WFA dan Tanpa WFA pada Lebaran 2026
Kondisi pada 2024 itu tidak jauh berbeda dari tahun 2023. Pada 2023, pergerakan pemudik semakin padat memasuki H-3 dan mencapai puncaknya pada H-1 Lebaran. Pada H-3 jumlah pemudik yang mulai bepergian sebanyak 10,4 juta orang atau 8,4 persen dari total pemudik. Jumlah tersebut meningkat dan memuncak pada H-1 Lebaran dengan 18,7 juta orang atau 15,1 persen total pemudik yang memadati jalan.
WFA mengurai kepadatan arus mudik
Tahun lalu pemerintah mencoba pendekatan baru untuk melandaikan kurva puncak mobilitas mudik, yakni dengan Program Work From Anywhere. Dengan WFA, para pekerja dapat menyelesaikan pekerjaanya dari mana saja termasuk saat melakukan perjalanan mudik atau ketika berada di kampung halaman. Fleksibilitas ini memberikan pilihan lebih banyak bagi masyarakat untuk mulai berangkat mudik lebih awal. Dengan demikian, arus lalu lintas tidak menumpuk mendekati Lebaran.
Kebijakan tersebut berhasil membuat arus kepadatan mobilitas mudik lebih tersebar. Arus pergerakan pemudik lebih merata, terlihat dari mobilitas tinggi pada periode H-10 hingga H-3 (Kompas, 29 Maret 2025). Analisis Kompas mencatat mobilitas kendaraan pada H-10 hingga H-8 lebih banyak dibandingkan dengan periode yang sama pada Lebaran 2024.
Keberhasilan tersebut diharapkan juga dapat tercapai pada Lebaran tahun ini. Berdasarkan Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 2 Tahun 2026, pada arus mudik, WFA ditetapkan dua hari, yaitu pada 16 dan 17 Maret 2026. Sementara pada arus balik, WFA ditetapkan tiga hari, yakni pada 25, 26, dan 27 Maret 2026.
Dengan skema itu, pemerintah melalui Kemenhub memperkirakan puncak arus mudik akan tersebar pada H-8 hingga H-3 Lebaran. Berdasarkan data Kemenhub, pergerakan pemudik akan mulai terlihat padat pada H-8 dengan jumlah sebanyak 8,9 juta pergerakan. Jumlah ini berangsur meningkat menjadi 15 juta pada H-7; 10,4 juta pada H-6; 18,9 juta pada H-5; 11,2 juta pada H-4; dan 15,6 juta pada H-3. Pada H-2, jumlah pergerakan pemudik diperkirakan sudah menurun.
Sementara itu, apabila kebijakan WFA tidak diterapkan, puncak arus mudik akan terjadi pada H-5 hingga H-3 Lebaran. Menurut proyeksi Kemenhub, tanpa skema WFA jumlah pergerakan selama H-8 hingga H-6 memang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah mobilitas pemudik apabila menggunakan skema WFA. Dalam periode kali ini terdapat 20,8 juta pergerakan ketika WFA tidak diterapkan. Namun, jika kebijakan WFA diterapkan, total terdapat 34,3 juta pergerakan.
Pada puncak mudik tanpa skema WFA, pergerakan pemudik bisa mencapai 21,2 juta pada H-5; 12,3 juta pada H-4; dan 22 juta pada H-3. Pada skema ini, total pergerakan bisa mencapai 55,5 juta selama tiga hari. Menggunakan skema penerapan WFA, total jumlah pergerakan pemudik dalam periode yang sama hanya 45,7 juta.
Adanya kebijakan WFA tersebut menjadi angin segar bagi pemudik. Dengan fleksibilitas waktu, pemudik dapat mengatur waktu mudiknya lebih adaptif dengan kondisinya masing-masing. Selain itu, pemudik juga dapat menikmati waktu longgar lebih di kampung halaman sembari bekerja.
Kebijakan cuti bersama hingga WFA menunjukkan bahwa pemberian fleksibilitas waktu bagi masyarakat menjadi faktor penting yang menentukan kelancaran arus lalu lintas saat mudik Lebaran. Namun, perlu diperhatikan juga bahwa kematangan perencanaan rekayasa lalu lintas serta kesiapan infrastruktur sarana dan prasarana mudik juga turut menunjang kelancaran arus mudik Lebaran.
Di tengah jumlah pemudik yang cenderung meningkat setiap tahunnya, manajemen waktu hingga kesiapan infrastruktur menjadi harapan bagi jutaan pemudik agar tradisi pulang kampung ini dapat terus berlangsung secara aman dan nyaman.
(Litbang Kompas)
Dimas
Infografik Perbandingan Pola Pergerakan Arus Balik dengan Skema WFA dan Tanpa WFA pada Lebaran 2026
Kebijakan cuti bersama hingga WFA menunjukkan bahwa pemberian fleksibilitas waktu bagi masyarakat menjadi faktor penting yang menentukan kelancaran arus lalu lintas saat mudik Lebaran. Namun, perlu diperhatikan juga bahwa kematangan perencanaan rekayasa lalu lintas serta kesiapan infrastruktur sarana dan prasarana mudik juga turut menunjang kelancaran arus mudik Lebaran.
Di tengah jumlah pemudik yang cenderung meningkat setiap tahunnya, manajemen waktu hingga kesiapan infrastruktur menjadi harapan bagi jutaan pemudik agar tradisi pulang kampung ini dapat terus berlangsung secara aman dan nyaman.
(Litbang Kompas)